Kecerdasan Kognitif atau Kecenderungan Adiksi?: Melamun dan Maladaptive Daydream

Mahasiswa S1 Psikologi Universitas Brawijaya
·waktu baca 5 menit
Tulisan dari Alya Annisa Kumala tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Setiap manusia pastinya memiliki pengalaman di mana mereka merasa ‘terputus’ dari lingkungan sekitarnya dan tenggelam dalam pikiran masing-masing setidaknya sekali dalam hidup mereka. Keadaan ini sering disebut dengan melamun, melamun merupakan suatu kondisi di mana fokus seseorang hilang sesaat. Kondisi tersebut membuat seseorang terlepas dari kesadaran realitas dan terikat pada skenario imajinatif (Yazhini, 2021). Melamun merupakan hal yang sering dialami oleh manusia tanpa terkecuali, disebutkan bahwa 50-70% waktu jaga kita dipakai untuk melamun. Dalam lamunan, seseorang rentan untuk memikirkan banyak hal mulai yang pernah terjadi seperti pengalaman masa lalu, kemungkinan terjadinya sesuatu yang belum tentu, hingga khayalan yang tidak ada kejelasannya. Khayalan yang tercipta tidak lepas dari pemrosesan memori dan cara berpikir, hal tersebut terjadi karena melamun merupakan proses mental yang berkaitan dengan fungsi kerja otak.
Ketika melamun, default network atau jaringan default berperan aktif. Jaringan default adalah salah satu bagian yang terletak di prefrontal cortex, korteks yang bertanggung jawab atas kemampuan kognitif. Fungsi utama jaringan default adalah untuk memfokuskan atensi seseorang ke arah dalam pikiran. Ketika seseorang tidak fokus atau mulai larut dalam keadaan melamun, kinerja dari bagian jaringan default meningkat dan jika atensinya sudah terfokus, seseorang akan rentan untuk tenggelam dalam khayalan, pengalaman, atau ide-ide yang muncul dalam pikirannya. Berkaitan dengan hal tersebut, bagian otak lain seperti occipital cortex juga bekerja dan berperan dalam memberikan visualisasi. Ketika seseorang mendapatkan stimulus untuk berkhayal, neuron di korteks visual aktif dan membentuk pola tertentu yang kemudian akan berproses. Emosi dan memori juga berperan dalam pemrosesan khayalan dalam lamunan. Seperti ketika seseorang menciptakan skenario lalu merasa terbawa perasaan, seperti sedih atau gembira hanya karena khayalan yang diciptakan sendiri. Hal ini dapat terjadi karena khayalan yang tercipta tidak luput dari peran emosi yang dikelola oleh fungsi bagian medial temporal lobe. Pada hal ini, neurotransmitter seperti dopamine dan serotonine juga dilepaskan berdasarkan emosi yang dirasakan.
Dari pemaparan cara kerja otak yang mencakup banyak aspek termasuk aspek kognitif, ada banyak pihak yang mengatakan bahwa berkhayal ketika melamun dapat mempengaruhi kecerdasan kognitif salah satunya berkaitan dengan kemampuan berimajinasi. Berimajinasi merupakan kegiatan yang melibatkan kemampuan atau tindakan dalam pikiran untuk menciptakan ide, gambaran, atau konsep baru yang saat ini tidak dirasakan melalui indra (Pelaprat & Cole, 2011). Ketika melamun dan memikirkan skenario, khayalan atau karangan imaji yang tercipta pastinya tidak muncul secara acak namun, sering kali terstruktur dan bernarasi. Dari hal tersebut, ditampakkan bahwa imajinasi berhubungan dengan koordinasi kognitif dan gambaran mental serta imaji berkaitan satu sama lain yang kemudian membentuk alur dalam khayalan.
Proses kognitif yang terjadi ketika berimajinasi membuat aktivitas tersebut memiliki banyak dampak positif untuk perkembangan kognitif dalam diri seseorang seperti meningkatkan kreativitas, kemampuan untuk memecahkan masalah, dan keterampilan sosial. Namun, aktivitas melamun yang dilakukan secara terus menerus justru memungkinkan seseorang mengalami ketergantungan atau bahkan menggunakannya sebagai coping mechanism yang kerap memberikan dampak negatif pada fungsi kognitif dan kehidupan sehari-hari seseorang. Kondisi tersebut marak dikenal dengan nama maladaptive daydream.
Maladaptive daydream adalah kondisi berkhayal atau berfantasi berlebih yang dapat membuat seseorang menyampingkan interaksi dengan manusia lain dan dapat mempengaruhi kemampuan sosial seseorang (Somer, 2002). Kondisi ini ditandai dengan beberapa hal seperti rentannya melamun dalam kurun waktu yang sangat lama, khayalan yang detail dan kompleks, hingga merelakan kepentingan dunia nyata hanya karena terlarut dalam fantasinya. Maladaptive daydream kerap digunakan sebagai mekanisme pelarian berbagai orang dengan faktor-faktor tertentu. Salah satunya adalah orang memiliki trauma, mekanisme ini digunakan dengan tujuan mengalihkan kenyataan yang mereka hadapi dengan larut dalam khayalan ciptaan mereka. Seringnya hal ini dilakukan dapat menyebabkan menurunnya fungsi kognitif seseorang seperti kesulitan dalam berkonsentrasi, menurunnya produktivitas sehari-hari, hingga isolasi dari dunia luar yang dapat menghambat aktivitas sosial.
Mengenal mekanisme ini menyebabkan seseorang bergantung pada aktivitas yang dilakukan secara terus menerus, hal ini menimbulkan pertanyaan: Apakah maladaptive daydream merupakan bentuk kecenderungan adiksi?
Adiksi atau kecanduan adalah ketika perilaku seseorang mengalami peningkatan hingga ditahap menyampingkan kegiatan lain serta ketidakmampuan seseorang untuk mengendalikannya (Hatimah & Hamid, 2023). Adiksi dapat dikategorikan menjadi dua jenis yaitu adiksi zat dan adiksi perilaku. Meski memiliki banyak kecenderungan yang sama dengan gejala adiksi, belum ada yang mengatakan secara pasti jika maladaptive daydream termasuk perilaku adiksi dan lebih mengarah pada perilaku kompulsif yang masih bisa dikontrol. Meski begitu, hal ini tidak menutupi fakta bahwa kegiatan melamun berlebih ini tidak membawa dampak negatif pada pribadi seseorang.
Melamun merupakan suatu aktivitas yang lumrah terjadi dalam kehidupan sehari-hari, tidak jarang juga memberikan manfaat dalam ranah berpikir kreatif dan kecerdasan kognitif. Akan tetapi, perlu diingat untuk tidak melakukan hal tersebut secara berlebihan untuk menghindari dampak negatif yang dapat mengganggu kehidupan realitas. Hindarilah coping mechanism yang tidak sehat, sebaliknya kembangkan hal tersebut ke arah yang positif dan produktif untuk keberlangsungan hidup yang lebih baik. Sejatinya tidak ada yang salah dengan mekanisme yang kita lakukan selama kita bisa mengontrol dan mengendalikannya dengan baik.
DAFTAR PUSTAKA
Hatimah, N. A., & Hamid, A. N. (2023). Pemberian edukasi tentang adiksi dalam perspektif psikologi melalui kegiatan webinar How to Deal with Addiction?. Jurnal Kebajikan: Jurnal Pengabdian Masyarakat, 1(2), 1–13.
Pelaprat, E., & Cole, M. (2011). “Minding the gap”: Imagination, creativity and human cognition. Integrative Psychological and Behavioral Science. https://doi.org/10.1007/s12124-011-9176-5
Somer, E. (2002). Maladaptive daydreaming: A qualitative inquiry. Journal of Contemporary Psychotherapy, 32(2/3), 197–212. https://doi.org/10.1023/A:1020597026919
Yazhini, C. S. (2021). Statistical analysis of impact on daydreaming. International Journal of Research and Analytical Reviews (IJRAR).
