Menjawab Mitos: Apakah Kidal Itu Penyakit, Cacat, atau Sekadar Keunikan Otak?

Mahasiswa Ilmu Komunikasi Universitas Pancasila
·waktu baca 3 menit
Tulisan dari Alya Ansdhiya tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Di Indonesia, ungkapan "Pakai tangan bagus, dong!" tentu sudah tak asing lagi di telinga. Sejak kecil, anak-anak diajarkan untuk menyapa, makan, dan memberi barang menggunakan tangan kanan. Lantas, bagaimana dengan mereka yang lahir dan tumbuh dominan menggunakan tangan kiri alias kidal?
Tak sedikit masyarakat yang masih menyimpan stigmatisasi menganggap kidal sebagai bentuk kelainan, cacat perkembangan, atau bahkan penyakit saraf. Namun, benarkah pandangan tersebut secara medis dan ilmiah?
Kidal Bukan Penyakit apalagi Cacat Fisik
Secara tegas, dunia medis dan pakar kesehatan menyatakan bahwa kidal (left-handedness) bukanlah sebuah penyakit, gangguan mental, maupun cacat fisik.
Kidal adalah variasi biologis alami dari preferensi motorik tubuh manusia. Menurut data medis, sekitar 10% dari populasi dunia terlahir sebagai orang kidal.
Praktisi kesehatan dan jurnal ilmiah menjelaskan bahwa kebiasaan menggunakan tangan kiri sangat berkaitan dengan kerja belahan otak (hemisfer). Pada orang yang dominan tangan kanan, belahan otak kiri berperan lebih dominan. Sebaliknya, pada orang kidal, belahan otak kanan atau kombinasi kerja kedua belahan otak bekerja lebih aktif dalam mengontrol pergerakan tubuh bagian kiri.
Mengapa Seseorang Bisa Terlahir Kidal?
Hingga saat ini, para ilmuwan mengategorikan faktor penyebab kidal ke dalam beberapa hal ilmiah:
Faktor Genetik : Jika orang tua atau anggota keluarga memiliki riwayat kidal, kemungkinan anak terlahir kidal jauh lebih tinggi.
Perkembangan Janin dalam Kandungan: Penelitian menunjukkan bahwa kecenderungan kidal sudah terlihat sejak janin berusia 9–10 minggu di dalam rahim.
Konektivitas Saraf Otak: Otak orang kidal memiliki corpus callosum (jembatan penghubung otak kiri dan kanan) yang cenderung lebih aktif dan terhubung dengan baik.
Tantangan Budaya "Tangan Bagus" di Indonesia
Jika secara medis kidal adalah hal normal, mengapa di Indonesia kidal kerap dianggap bermasalah?
Di Indonesia, norma sosial dan budaya memegang teguh konsep kesopanan berbasis tangan. Tangan kanan diasosiasikan dengan kebersihan dan kesopanan, sedangkan tangan kiri dianggap untuk urusan sanitasi/bersuci. Akibatnya, banyak orang tua di Indonesia yang memaksa anak kidal untuk berpindah menggunakan tangan kanan secara paksa.
Padahal, menurut dokter anak dan psikolog, memaksa anak kidal mengubah kebiasaan tangan secara drastis justru berisiko memicu stres, menurunkan rasa percaya diri, hingga mengganggu koordinasi motorik anak.
Keunikan dan Potensi di Balik Si Tangan Kidal
Bukannya membawa kelemahan, orang kidal justru memiliki sejumlah keunikan yang terbukti secara ilmiah:
Cara Berpikir Kreatif & Solutif: Karena terbiasa tinggal di dunia yang didesain untuk orang bertangan kanan (seperti gunting, meja belajar, pintu), orang kidal terlatih memiliki kemampuan divergent thinking atau mencari jalan keluar secara kreatif.
Keunggulan dalam Olahraga: Dalam olahraga seperti bulu tangkis, tenis, atau tinju, atlet kidal sering kali sulit diprediksi oleh lawan yang terbiasa menghadapi pemain bertangan kanan.
Fungsi Otak yang Adaptif: Penelitian kesehatan menunjukkan bahwa proses pemulihan fungsi kognitif pasca-cedera otak pada orang kidal terkadang bisa berlangsung lebih fleksibel.
Kidal bukanlah sebuah kecatatan yang harus disembuhkan, apalagi penyakit yang menular. Kidal adalah bukti betapa beragam dan uniknya cara kerja otak manusia.
Sudah saatnya masyarakat Indonesia menghentikan stigma negatif terhadap anak atau orang dewasa yang kidal. Mendidik anak tentang kesopanan tentu penting, tetapi membiarkan fungsi alami tubuh mereka berkembang sesuai fitrah biologisnya adalah langkah terbaik bagi kesehatan tumbuh kembang anak.
