Memahami Anak 'Nakal': Tanda Kebutuhan Perhatian dalam Pengasuhan Positif

Mahasiswi Universitas Islam Negeri Raden Fatah Palembang. Program Studi Pendidikan Guru Madrasah Ibtidaiyah.
·waktu baca 2 menit
Tulisan dari Alya khoirunnisah tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan
Menurut psikologi, anak yang dianggap nakal sebenarnya sering kali memiliki otak yang cerdas dan kreatif. Anak-anak ini cenderung memiliki keberanian untuk mencoba hal baru dan bereksplorasi dalam memecahkan masalah di lingkungan sekitar mereka.
Kenakalan yang dimaksud di sini adalah perilaku yang masih dalam batas wajar dan tidak melanggar norma sosial, seperti menangis keras saat tidak mendapatkan mainan yang diinginkan. Dengan kata lain, sifat "nakal" ini bisa menjadi tanda kecerdasan dan kreativitas anak.

Namun, perilaku yang dianggap nakal juga bisa dipengaruhi oleh faktor-faktor seperti rasa tidak nyaman, lapar, kelelahan, atau ketidakmampuan anak untuk berkomunikasi dengan baik. Oleh karena itu, penting bagi orang tua untuk memahami penyebab di balik perilaku tersebut dan menanganinya dengan tepat.
Dari sisi pengasuhan, memberi label "anak nakal" kepada anak justru dapat berdampak negatif pada perkembangan mental dan emosional mereka. Label tersebut bisa membuat anak merasa minder, kehilangan rasa percaya diri, dan bahkan mengalami stres hingga depresi.
Anak yang terus-menerus disebut nakal bisa merasa tidak dihargai dan tidak disayangi, sehingga perilaku agresif atau pemberontakan bisa muncul sebagai bentuk ekspresi ketidaknyamanan tersebut.
Pendekatan pengasuhan yang lebih positif seperti positive discipline menekankan pentingnya memahami alasan di balik perilaku anak. Anak yang tampak nakal sering kali sebenarnya sedang mencari perhatian atau merasa kesepian ketika tidak mendapat cukup perhatian dari orang tua.
Oleh karena itu, orang tua disarankan untuk lebih sabar, konsisten, dan menciptakan lingkungan yang aman serta mendukung agar anak dapat mengatur stres dan emosinya dengan lebih baik. Dengan demikian, tidak ada yang namanya "anak nakal" secara mutlak, melainkan perilaku anak yang perlu dipahami dan diarahkan dengan tepat.
Secara keseluruhan, pandangan bahwa semua anak itu nakal perlu dilihat dengan hati-hati dan pemahaman yang mendalam. Anak-anak pada dasarnya memiliki fitrah baik, dan perilaku yang dianggap nakal sering kali merupakan bentuk ekspresi kebutuhan atau respons terhadap lingkungan.
Oleh karena itu, peran orang tua dan pendamping sangat penting dalam membimbing dan mendukung perkembangan anak agar perilaku tersebut dapat diarahkan ke hal yang positif. Label negatif sebaiknya dihindari agar tidak merusak mental dan kepercayaan diri anak.
