Konten dari Pengguna

Mendengar dengan Hati: Cara Membangun Komunikasi Terbuka dalam Keluarga

Alya khoirunnisah

Alya khoirunnisah

Mahasiswi Universitas Islam Negeri Raden Fatah Palembang. Program Studi Pendidikan Guru Madrasah Ibtidaiyah.

·waktu baca 2 menit

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Alya khoirunnisah tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Di era modern seperti sekarang, komunikasi antara anak dan orang tua sering kali mengalami kendala yang cukup signifikan. Banyak orang tua yang sibuk dengan pekerjaan dan aktivitas sehari-hari sehingga waktu untuk berbincang dengan anak menjadi sangat terbatas. Akibatnya, anak merasa kurang diperhatikan dan kurang memiliki ruang untuk berbagi cerita atau keluh kesahnya. Ketika hubungan komunikasi ini tidak terjaga dengan baik, dinding pemisah emosional mulai terbentuk, yang pada akhirnya membuat anak merasa kesepian meskipun berada dalam satu rumah.

Foto: Canva/Studioroman
zoom-in-whitePerbesar
Foto: Canva/Studioroman

Selain faktor waktu, gaya komunikasi orang tua yang cenderung formal dan penuh aturan juga membuat anak enggan membuka diri. Anak-anak, terutama remaja, membutuhkan ruang yang aman untuk mengekspresikan pikiran dan perasaan mereka tanpa takut dihakimi atau dimarahi. Namun, sering kali orang tua kurang peka terhadap kebutuhan ini dan malah menuntut anak untuk selalu patuh tanpa memberikan kesempatan untuk berdialog secara terbuka. Hal ini membuat anak lebih memilih berkomunikasi dengan teman sebaya atau dunia maya yang dianggap lebih mudah dan menyenangkan.

Teknologi juga menjadi tantangan tersendiri dalam membangun komunikasi keluarga. Anak-anak yang terlalu asyik dengan gadget dan media sosial cenderung mengabaikan interaksi langsung dengan orang tua. Padahal, komunikasi tatap muka sangat penting untuk membangun ikatan emosional yang kuat. Oleh karena itu, orang tua perlu berusaha menciptakan suasana yang nyaman dan menyenangkan saat berkomunikasi dengan anak, misalnya dengan mengurangi penggunaan gadget saat bersama, mendengarkan dengan penuh perhatian, dan menunjukkan empati terhadap apa yang anak rasakan.

Dengan membangun komunikasi yang hangat dan terbuka, hubungan antara anak dan orang tua dapat menjadi lebih erat dan harmonis. Anak akan merasa didukung dan dimengerti, sementara orang tua dapat lebih memahami kebutuhan dan tantangan yang dihadapi anak. Pada akhirnya, komunikasi yang baik adalah fondasi utama untuk menciptakan keluarga yang bahagia dan sehat secara emosional.