Konten dari Pengguna

Begini Cara Mahasiswa KKN Undip Sulap Desa Pule Jadi Desa Wisata

Kegiatan mahasiswa KKN Undip bersama Dinas Pariwisata Wonogiri, Tenaga Ahli Kecamatan Selogiri, Perangkat Desa Pule, dan Masyarakat Desa Pule dalam rangka pelaksanaan program KKN "Desa Wisata". Kegiatan ini menjadi bagian dari upaya membangun kolaborasi dan pemberdayaan masyarakat menuju Desa Pule Berkarya, Desa Wisata Berjaya.
zoom-in-whitePerbesar
Kegiatan mahasiswa KKN Undip bersama Dinas Pariwisata Wonogiri, Tenaga Ahli Kecamatan Selogiri, Perangkat Desa Pule, dan Masyarakat Desa Pule dalam rangka pelaksanaan program KKN "Desa Wisata". Kegiatan ini menjadi bagian dari upaya membangun kolaborasi dan pemberdayaan masyarakat menuju Desa Pule Berkarya, Desa Wisata Berjaya.

Di balik wajah sederhananya, Desa Pule menyimpan cerita besar. Desa yang terletak di Kecamatan Selogiri, Kabupaten Wonogiri, diyakini sebagai cikal bakal berdirinya Kabupaten Wonogiri sendiri. Buktinya masih berdiri kokoh hingga sekarang Prasasti Watu Gilang atau lebih dikenal sebagai Prasasti Nglaroh yang setiap tahun diperingati lewat tradisi napak tilas.

Sayangnya, cerita tersebut lebih banyak "hidup" di lisan warga ketimbang di linimasa media sosial. Hal itulah yang coba diubah oleh Tim II KKN Universitas Diponegoro Tahun Akademik 2025/2026 lewat program multidisiplin bertajuk "Desa Wisata", dengan tagline: Desa Pule Berkarya, Desa Wisata Berjaya.

Desa Mandiri yang Masih "Sepi" di Dunia Maya

Berdasarkan Indeks Desa Membangun (IDM), Desa Pule tercatat sebagai desa dengan skor tertinggi di antara seluruh desa se-Kecamatan Selogiri dan telah menyandang status Desa Mandiri dengan klasifikasi tertinggi dalam pengukuran kemajuan pembangunan desa di Indonesia.

Potensinya Desa Pule pun tak sedikit. Selain nilai sejarahnya, perekonomian warga ditopang sektor pertanian dengan komoditas padi dan perkebunan. Di sisi UMKM, terdapat kerajinan mebel, produk olahan perikanan, makanan atau jajanan, dan jamu tradisional. Kesenian seperti karawitan, tari, dan wayang kulit pun masih lestari di tengah delapan dusun yang membentuk Desa Pule: Sayangan, Jetak, Pule, Marekan, Gemutren, Nglaroh, Ngricik, dan Ngledok.

Namun, dari hasil survei dan observasi lapangan selama satu minggu, tim KKN menemukan satu benang merah, yaitu potensi besar itu belum banyak "terlihat" secara digital. Promosi Desa Wisata Pule di media sosial masih minim, sehingga jangkauan informasinya ke calon wisatawan pun terbatas.

Bukan Sekadar Bikin Konten, tetapi Juga Soal Hukum dan Etika

Menjawab persoalan itu, pada Rabu, 29 Juli 2026 pukul 19.30 WIB, bertempat di Ruang Data Balai Desa Pule, tim KKN menggelar Diskusi dan Sosialisasi bertema "Desa Wisata" dengan sasaran Karang Taruna dan perangkat desa — dua kelompok yang kini didorong berperan sebagai content creator bagi desanya sendiri.

Menariknya, materi yang disampaikan tidak berhenti di soal teknis membuat konten menarik. Tim KKN juga membekali warga dengan pemahaman etika digital dan kerangka hukum yang sering luput diperhatikan saat membuat konten promosi, di antaranya:

• UU ITE (UU No. 1 Tahun 2024)

• UU Perlindungan Data Pribadi/PDP (UU No. 27 Tahun 2022)

• UU Hak Cipta (UU No. 28 Tahun 2014)

• Etika Pariwisata Indonesia (EPI)

Alasannya sederhana tapi penting, yaitu kebebasan di dunia digital tetap ada batasnya. Ketidaktahuan terhadap aturan main ini, menurut pemaparan tim KKN, bisa berujung pada sengketa hak cipta, pelanggaran privasi, bahkan jerat pidana. Hal ini merupakan risiko yang jarang disadari saat warga sekadar ingin memotret keindahan desanya untuk diunggah ke media sosial.

Sejumlah netiket dasar pun diperkenalkan, mulai dari think before posting, menghormati privasi orang yang terekam kamera, memastikan informasi yang disebarkan akurat, menghargai hak cipta musik atau footage orang lain, hingga tanggung jawab penuh atas akun yang dikelola.

Belajar "Bahasa" Algoritma: Instagram dan TikTok

Salah satu bagian paling relate dari sosialisasi ini adalah saat tim KKN menjelaskan cara kerja algoritma media sosial dengan analogi yang mudah dicerna warga: Instagram sebagai media sosial untuk membangun loyalitas, sedangkan TikTok untuk membangun awareness.

Logika dasar promosi di media sosial pun disederhanakan lewat tiga tahap, yaitu menarik perhatian audiens lewat unggahan (attention), membuat mereka penasaran (interest), hingga akhirnya mengajak mereka bertindak dengan berkunjung, membeli produk UMKM, atau sekadar membagikan konten (action).

Sebagai bekal praktis, warga juga dikenalkan aplikasi edit foto dan video yang mudah diakses lewat ponsel seperti, CapCut, Canva, dan VN Editor dengan edukasi tentang mengevaluasi performa konten lewat metrik watch time, like, comment, share, dan save di TikTok maupun Instagram.

Sebagai gambaran nyata, tim KKN turut menampilkan hasil unggahan salah satu konten promosi Desa Pule di TikTok yang telah ditonton lebih dari 208 ribu kali dan mendatangkan puluhan pengikut baru. Hal ini menjadi bukti bahwa dengan strategi yang tepat, konten dari desa kecil pun bisa menjangkau audiens luas.

Sepuluh Mahasiswa, Sepuluh Peran dalam Satu Ekosistem Desa Wisata

Program "Desa Wisata" ini dibersamai oleh sepuluh anggota Tim II KKN Undip Desa Pule yang berasal dari lintas fakultas, masing-masing membawa keahliannya sendiri, Mohammad Ridho Yanuardi (Ilmu Hukum) menangani penyuluhan etika dan aturan bermedia sosial, Tanaya Helga Fidelya (Teknologi Hasil Perikanan) fokus pada digitalisasi promosi produk perikanan UMKM, Irfan Riski Wijaya (Ilmu Komunikasi) merancang sosialisasi dan strategi promosi konten, Montana Ester Ayomi (Ilmu Keperawatan) mengisi sisi penyuluhan pola hidup bersih dan sehat, Alya Nabila Putri Larasati (Bioteknologi) menggarap sosialisasi pengelolaan sampah ramah lingkungan, Indah Dhita Sari Sitorus (Akuntansi Perpajakan) membantu sosialisasi QRIS untuk UMKM dan tempat wisata, Gabriel Adriano Dwi Putra (Manajemen dan Administrasi Logistik) mengurus penataan logistik untuk event desa, Nevin Aldora Kayana (Teknik Komputer) bertanggung jawab atas pembuatan dan pengelolaan akun media sosial resmi, Valentina Melani Putri (Antropologi Sosial) menyusun peta wisata sejarah Desa Pule, dan Zahra Octavia Ramadani (Sastra Inggris) melengkapi dengan peta wisata dwibahasa Indonesia–Inggris.

Kolaborasi lintas disiplin ini membuat program tidak hanya terhenti di membuat konten viral, tetapi juga menyentuh sisi hukum, kesehatan, lingkungan, hingga sistem pembayaran digital UMKM.

Kini, akun resmi Instagram dan TikTok @desapuleofficial telah aktif menjadi akun digital Desa Pule yang menampilkan kekayaan alam, budaya, gotong royong warga, hingga potensi kulinernya.