Alih Wahana: Perjalanan Sastra yang Tak Pernah Usai

Mahasiswa Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia, Fakultas Ilmu Tarbiyah dan Keguruan, UIN Syarif Hidayatullah Jakarta.
·waktu baca 10 menit
Tulisan dari Alya Nuraini tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Alih wahana adalah perubahan dari satu jenis kesenian ke jenis kesenian lain. Selain dapat diterjemahkan dari satu bahasa ke bahasa lain, karya sastra juga dapat dialihwahanakan menjadi bentuk kesenian yang berbeda. Misalnya, cerita rekaan bisa diubah menjadi tari, drama, atau film, sedangkan puisi dapat diubah menjadi lagu atau lukisan. Sebaliknya, proses ini juga bisa berjalan dari arah yang lain. Sebuah novel dapat ditulis berdasarkan film atau drama, sementara puisi bisa lahir dari inspirasi lukisan atau lagu. Alih wahana menunjukkan bahwa setiap bentuk seni memiliki keterkaitan dan dapat saling menghidupkan, menghadirkan makna baru tanpa menghilangkan esensi karya aslinya. Membandingkan benda budaya yang mengalami alih wahana merupakan kegiatan yang sah dan bermanfaat untuk memperdalam pemahaman tentang hakikat sastra. Melalui penelitian di bidang ini, dapat diketahui bahwa sastra bersifat dinamis, mampu bergerak dan menyesuaikan diri dengan berbagai bentuk wahana baru. Unsur-unsur di dalamnya dapat berubah agar selaras dengan bentuk yang menjadi tempat baru bagi ekspresinya. Untuk memahami hal ini lebih jauh, dapat dimulai dengan membandingkan karya sastra dengan seni pertunjukan tradisional, karena keduanya menjadi cerminan kreativitas manusia dalam mengolah makna dan keindahan. Fenomena ini menunjukkan bahwa sastra senantiasa beradaptasi dengan perubahan zaman, menjembatani tradisi dan modernitas, serta memperluas cara manusia menikmati dan memahami seni.
Bentuk-bentuk Alih Wahana
1. Novel menjadi Film
Banyak hal yang menyebabkan perubahan harus dilakukan ketika sebuah karya sastra dialihwahanakan menjadi media lain, seperti film atau sinetron. Novel pada dasarnya adalah karya yang hidup dalam kata-kata, disusun melalui rangkaian bahasa yang tercetak di atas lembaran kertas dan bisa dinikmati kapan saja sesuai keinginan pembaca. Kebebasan itulah yang menjadi kekuatan utama novel, yakni pembaca dapat menentukan waktu, tempat, bahkan suasana hati saat membacanya. Sebaliknya, film dan pertunjukan memiliki batasan yang jelas, baik dari segi durasi maupun cara penikmatannya. Misalnya, menonton film di bioskop, menuntut waktu dan suasana khusus yang berbeda dengan pengalaman membaca buku. Sekalipun teknologi kini memungkinkan kita menonton film di rumah, tetap saja ada perbedaan atmosfer antara menikmati tontonan di layar lebar dan di ruang pribadi. Perbedaan ini menunjukkan bahwa setiap media memiliki karakter dan cara kerja sendiri, sehingga ketika sebuah karya dialihkan dari teks ke visual, pasti terjadi penyesuaian besar.
Salah satu perbedaan paling mencolok antara karya sastra dan film terletak pada cara keduanya membangun imajinasi. Misalnya, membaca Sitti Nurbaya, memberi ruang bagi setiap pembaca untuk membayangkan sendiri sosok Sitti Nurbaya sesuai dengan khayalan mereka. Namun, ketika cerita itu diangkat ke layar lebar, sutradara harus membuat keputusan konkret, yakni menentukan satu wajah, satu tubuh, satu ekspresi untuk mewakili tokoh yang selama ini hidup bebas dalam benak pembaca. Tidak jarang, keputusan ini menimbulkan kekecewaan karena bayangan penonton tidak selalu sejalan dengan tafsir pembuat film. Di sinilah letak tantangan alih wahana, film menuntut bentuk visual yang pasti, sedangkan sastra hidup dari kebebasan imajinasi. Kata-kata dalam novel memaksa pembaca menciptakan dunia mereka sendiri, dan justru di situlah keindahan pengalaman membaca dan setiap orang punya “versi” berbeda dari kisah yang sama.
Selain itu, unsur dialog juga menjadi hal penting yang sering kali berubah drastis dalam proses adaptasi. Novel bisa menampung dialog panjang, penuh refleksi, bahkan berbentuk syair, karena kekuatannya terletak pada bahasa. Namun, film menuntut dialog yang ringkas, efisien, dan sesuai dengan ritme visual. Terlalu banyak kata justru bisa menghambat alur dan mengurangi kekuatan gambar. Oleh karena itu, pengalihan dari karya sastra ke film bukan soal memindahkan cerita, tetapi juga tentang memahami ulang cara bercerita itu sendiri. Adaptasi yang baik tidak sebatas meniru teks aslinya, melainkan menafsirkan kembali maknanya agar tetap hidup dalam bentuk baru. Oleh karena itu, alih wahana bukan dianggap sebagai pengkhianatan terhadap karya asli, melainkan sebagai upaya kreatif untuk memperpanjang napas sebuah cerita di ruang seni yang berbeda.
2. Film menjadi Novel
Dalam perkembangan dunia sastra dan perfilman di Indonesia akhir-akhir ini, muncul kecenderungan menarik, yaitu usaha membukukan film. Beberapa film populer diubah bentuknya menjadi novel agar dapat dinikmati dalam bentuk bacaan. Penulis novel yang mengerjakan tugas ini biasanya mendasarkan karyanya pada naskah skenario, sambil mempertimbangkan hasil filmnya. Hal ini penting karena antara skenario dan film sering kali tidak sepenuhnya sama. Bahasa gambar yang digunakan dalam film memiliki cara penyampaian yang berbeda dengan bahasa verbal dalam tulisan.
Ketika sebuah film diubah kembali menjadi karya sastra, proses yang terjadi seolah berbalik arah. Gambar-gambar di layar diterjemahkan kembali menjadi kata-kata. Dalam proses ini, penulis dibantu oleh skenario yang menjadi panduan utama, meskipun biasanya skenario tersebut bukan ditulis oleh sutradara. Terjadi semacam proses bolak-balik yang menarik, yakni sutradara menafsirkan kata menjadi gambar, lalu penulis novel menafsirkan gambar-gambar hasil tafsiran sutradara itu kembali menjadi kata. Siklus kreatif ini menunjukkan betapa erat hubungan antara film dan sastra, dua dunia yang saling menerjemahkan dan memperkaya satu sama lain melalui cara ungkap yang berbeda.
Film pemenang Piala Citra berjudul Cinta dalam Sepotong Roti karya sutradara Garin Nugroho menjadi salah satu contoh menarik dari proses alih wahana di Indonesia. Film tersebut diadaptasi menjadi novel dengan judul yang sama. Menariknya, skenario film itu ditulis sendiri oleh Garin Nugroho, namun dalam proses penyutradaraan, ia tetap harus menafsirkan naskah tulisannya menjadi rangkaian gambar yang hidup di layar. Setelah itu, penulis novel kembali memindahkan hasil tafsiran visual Garin ke dalam bentuk tulisan, sehingga kisah yang semula disajikan lewat gambar dapat dinikmati sebagai bacaan.
Contoh lain dapat dilihat pada karya Melly Goeslaw berjudul Tentang Dia yang awalnya berupa cerpen, kemudian diadaptasi menjadi film oleh sutradara Rudy Soedjarwo, dan akhirnya ditulis ulang sebagai novel oleh Moamar Emka. Proses berlapis seperti ini menunjukkan betapa dinamisnya hubungan antara sastra dan film. Setiap tahap adaptasi menuntut penyesuaian berulang, baik dari segi adegan, dialog, penokohan, maupun latar. Justru dalam perbedaan dan persamaan itulah letak daya tariknya, karena bisa menjadi bahan kajian yang kaya dalam sastra bandingan. Melalui pembacaan kritis terhadap perubahan-perubahan tersebut, kita bisa menelusuri ideologi, sudut pandang, dan nilai-nilai yang memengaruhi setiap bentuk karya dalam perjalanannya dari teks ke layar, lalu kembali lagi ke teks.
3. Cerita Rakyat menjadi Komik
Di Indonesia, banyak cerita rakyat yang telah dialih wahana menjadi cerita anak-anak dalam berbagai bentuk, seperti fiksi dan komik. Komik yang kini berkembang pesat, ternyata juga menjadikan cerita rakyat dan karya fiksi sebagai sumber inspirasi yang penting. Pada tahun 1950-an, misalnya, muncul komik legendaris karya R.A. Kosasih yang mengisahkan Ramayana dan Mahabharata. Karya-karya tersebut menjadi bukti bahwa cerita klasik bisa hidup kembali melalui bentuk visual yang lebih ringan dan mudah diterima berbagai kalangan, terutama generasi muda.
Alih wahana dari karya sastra ke bentuk komik membuka peluang besar bagi perkembangan sastra bandingan di Indonesia. Melalui bentuk baru ini, pembaca dapat menikmati kembali kisah lama dengan cara yang berbeda, tanpa kehilangan nilai budaya dan pesan moralnya. Perpindahan bentuk dari teks naratif ke visual juga memungkinkan interpretasi yang lebih luas, karena setiap goresan gambar membawa tafsir baru terhadap cerita. Berbagai teori sastra modern kini telah berkembang untuk menjelaskan proses ini, menunjukkan bahwa alih wahana memuat perubahan bentuk, yakni bentuk dialog kreatif antara tradisi dan inovasi dalam dunia kesenian.
4. Karya Sastra menjadi Nyanyian
Di Indonesia dikenal istilah musikalisasi puisi, yaitu upaya mengubah puisi menjadi karya musik. Kegiatan ini sebenarnya sudah lama dilakukan, baik dalam bentuk lagu populer maupun musik klasik. Beberapa puisi Indonesia seperti Kemuning karya Sanusi Pane, Aku karya Chairil Anwar, dan Puisi Rumah Bambu karya Kirdjomuljo pernah dijadikan lagu seriosa pada tahun 1950-an. Kemudian, pada tahun 1970-an, grup musik Bimbo melanjutkan tradisi ini dengan mengubah sajak-sajak karya Taufiq Ismail, Ramadhan K.H., dan Wing Kardjo menjadi lagu-lagu yang dikenal luas oleh masyarakat. Fenomena ini menunjukkan bahwa puisi tidak hanya hidup dalam kata, tetapi juga bisa bernyanyi melalui nada.
Sastra bandingan dapat meneliti proses penciptaan lagu yang terinspirasi dari karya sastra dengan pandangan bahwa hasil akhirnya merupakan bentuk seni baru. Lagu yang tercipta menjadi bagian dari seni musik yang dapat dinikmati dengan atau tanpa liriknya, sementara liriknya sendiri tetap berstatus sebagai puisi jika dipisahkan dari musiknya. Kajian semacam ini membuka ruang pemahaman bahwa pertemuan antara puisi dan musik bukan sekadar kolaborasi, tetapi juga bentuk transformasi kreatif yang memperluas makna dan daya hidup karya sastra.
Selain itu, sastra bandingan juga dapat meneliti hubungan antara unsur bunyi dalam puisi dan musik. Dalam puisi, unsur seperti onomatope, aliterasi, asonansi, paralelisme, repetisi, dan rima memiliki peranan penting dalam membangun irama dan keindahan bunyi. Unsur-unsur ini dapat dianalisis melalui konsep-konsep musik agar hubungan antara makna dan bunyi dalam karya sastra lebih mudah dipahami. Menariknya, hubungan serupa juga dapat ditemukan antara sastra dan seni lukis. Dalam puisi, citraan visual menjadi salah satu unsur penting yang menuntun pembaca membayangkan gambar atau suasana tertentu. Dari citraan itulah pembaca diajak menelusuri makna yang lebih dalam, menemukan pengalaman batin dan penghayatan yang tersirat di balik keindahan kata.
5. Drama Pentas ke Drama Radio
Radio juga memiliki peran penting dalam proses alih wahana karya sastra. Penyaduran karya sastra ke bentuk baru yang hampir serupa dengan sumber aslinya menuntut penyesuaian unsur-unsur sastra agar sesuai dengan budaya tempat karya itu berkembang. Dalam kesenian Jawa modern, misalnya, banyak dilakukan penyaduran lakon asing ke dalam lakon Jawa, dari drama panggung menjadi drama radio. Bentuk adaptasi ini menunjukkan bagaimana karya sastra mampu bertransformasi tanpa kehilangan rohnya, justru memperluas jangkauan dan maknanya melalui medium yang berbeda.
Penyaduran karya sastra ke bentuk yang benar-benar berbeda juga banyak terjadi dalam kebudayaan Jawa. Tak terhitung jumlah naskah asing, baik novel maupun drama yang disadur menjadi sandiwara radio, cerita bersambung, hingga cerita pendek. Proses ini dapat memperkaya khazanah kesusastraan Jawa dan membuktikan kelenturan budaya lokal dalam menyerap dan mengolah pengaruh luar menjadi karya baru yang relevan bagi masyarakatnya.
Selain itu, penyaduran dari tradisi lisan ke bentuk sastra tulis juga sering dilakukan dengan tetap mempertahankan unsur latar, penokohan, dan alur cerita. Dalam sastra Jawa modern, tradisi lisan yang berasal dari kebudayaan lain, seperti Melayu, Sunda, Bali, Asia, dan Barat sering diolah menjadi cerita rakyat atau cerita pendek untuk mengisi halaman majalah dan buku bacaan anak-anak. Peminjaman unsur tertentu, seperti motif atau tema, dari budaya asing lalu dikembangkan menjadi karya sastra Jawa menunjukkan dinamika kreatif yang kuat. Fenomena ini menjadi bukti bahwa sastra tidak pernah berdiri sendiri, melainkan terus bergerak, menyesuaikan diri, dan berinteraksi dengan kebudayaan lain tanpa kehilangan jati dirinya.
Simpulan
Alih wahana memperlihatkan bahwa sastra merupakan entitas yang hidup dan lentur, selalu bergerak seiring perubahan zaman. Alih wahana tidak berhenti sebagai rangkaian kata dalam lembaran teks, tetapi terus berevolusi, menembus batas, dan menjelma dalam berbagai bentuk seni seperti film, komik, musik, hingga drama radio. Perubahan bentuk ini merupakan proses teknis memindahkan cerita dan menjadi sebuah tafsir kreatif yang memperkaya makna dan membuka ruang baru bagi penikmat seni untuk berinteraksi dengan karya sastra dari sudut pandang yang berbeda.
Melalui alih wahana, sastra membangun dialog lintas medium antara kata, gambar, bunyi, dan gerak. Dari teks ke layar, dari bait ke nada, sastra terus menjembatani tradisi dan modernitas tanpa kehilangan akar nilai estetik serta kulturalnya. Transformasi ini menunjukkan bahwa sastra tidak hanya hidup di ranah akademis, tetapi juga di tengah kehidupan masyarakat yang dinamis. Selain itu, mampu menyesuaikan diri dengan selera zaman sekaligus mempertahankan roh dan pesan yang dikandungnya.
Alih wahana memperlihatkan bahwa seni bukanlah wilayah yang kaku dan terpisah-pisah, melainkan ruang dialog yang saling memperkaya. Ketika sebuah puisi bernyanyi, novel menjelma film, atau cerita rakyat hidup kembali lewat komik, di situlah sastra memperluas daya hidupnya. Fenomena ini menegaskan bahwa memahami alih wahana berarti memahami bagaimana manusia terus mencari cara baru untuk menyampaikan gagasan, emosi, dan nilai budaya. Dalam setiap perubahan medium, selalu ada upaya mempertahankan esensi sambil menyesuaikan bentuk, dan terletak keindahan sejati dari dinamika sastra.
Daftar Pustaka
Damono, Sapardi. Djoko. (2018). AlihWahana. Jakarta: PT Gramedia PustakaUtama.
Damono, Sapardi Djoko. (2015). SastraBandingan. Ciputat: Editum.
