Benturan Budaya Timur dan Barat dalam Penokohan pada Novel Student Hidjo

Mahasiswa Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia, Fakultas Ilmu Tarbiyah dan Keguruan, UIN Syarif Hidayatullah Jakarta.
·waktu baca 11 menit
Tulisan dari Alya Nuraini tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Novel Student Hidjo diterbitkan oleh Mas Marco Kartodikromo dan terbit pada masa prakemerdekaan. Pada tahun 1919, Student Hidjo pertama kali diterbitkan dalam bentuk novel oleh Masman dan Stroin di Semarang. Sebelumnya, Student Hidjo pertama kali diterbitkan di harian Sinar Hindia pada tahun 1918. Pemerintah kolonial Belanda menganggap bahwa novel Student Hidjo sebagai “bacaan liar”, sehingga peredaran novel ini dilarang. Novel Student Hidjo karya Mas Marco Kartodikromo mengambil tema kebudayaan dalam kehidupan, seperti budaya Timur dan Barat melalui tokoh yang digambarkan dalam cerita.
Novel ini menceritakan tentang tokoh utama bernama Hidjo yang mendapatkan dorongan melalui kedua orang tuanya untuk melanjutkan sekolah ke Belanda dan mendapatkan gelar ingenieur atau insinyur. Keluarga Hidjo hanya sebagai saudagar yang dipandang rendah oleh pemerintah kolonial dan masyarakat pribumi yang tergabung dalam pemerintah kolonial. Pada masa itu, sistem pendidikan kolonial hanya diperbolehkan untuk lapisan masyarakat kelas atas, seperti bangsawan pribumi dan bangsawan Eropa. Oleh karena itu, ayah Hidjo ingin menyekolahkan anaknya ke Belanda untuk mengangkat derajat keluarganya serta para kaum tani. Selain itu, novel Student Hidjo juga menceritakan mengenai perkawinan dengan menegaskan bahwa Barat tetap menjadi Barat dan Timur tetap menjadi Timur, hal ini dapat dikaitkan dengan tema yang diangkat dalam novel ini.
Dalam buku “Teori Pengkajian Fiksi” karya Burhan Nurgiyantoro, terdapat salah satu unsur intrinsik berupa tokoh yang terbagi menjadi unsur penokohan dalam fiksi, pembedaan tokoh, dan teknik pelukisan tokoh. Dalam unsur penokohan dalam fiksi, salah satunya terdapat penokohan dan unsur cerita yang lain, maka tulisan ini akan mengkaji novel Student Hidjo berdasarkan penokohan dan tema. Unsur tema penokohan memiliki hubungan yang erat dan menjadi unsur pembangun yang penting dalam cerita fiksi untuk dikaji dan dianalisis. Dalam buku Burhan Nurgiyantoro dijelaskan bahwa pengarang memilih tokoh-tokoh tertentu yang dipertimbangkan paling sesuai untuk mendukung tema.
Tulisan ini akan membahas mengenai penokohan dan tema dalam novel Student Hidjo karya Mas Marco Kartodikromo. Penokohan yang dibahas hanya meliputi tokoh Hidjo, Raden Mas Wardojo, Raden Ajeng Biroe, Raden Ajeng Woengoe, dan Betje. Tokoh-tokoh tersebut menarik untuk dibahas karena sesuai dengan tema. Menurut Shipley dalam buku Burhan Nurgiyantoro, jika dilihat dari tingkatan tema, novel Student Hidjo termasuk pada golongan tingkatan ketiga dengan tema “tingkat sosial.” Manusia merupakan makhluk sosial dan kehidupan bermasyarakat menjadi tempat manusia dalam melakukan kegiatan, seperti beraksi-berinteraksi dengan sesama dan lingkungan alam yang mengandung dan memunculkan konflik yang menjadi objek pencarian tema. Masalah-masalah sosial tersebut dapat berupa masalah ekonomi, sosial, politik, pendidikan, kebudayaan, perjuangan, cinta kasih antar sesama, hubungan atasan-bawahan, dan berbagai masalah dan hubungan sosial lainnya yang muncul dalam karya sastra. Tulisan ini akan menyajikan beberapa masalah-masalah sosial tersebut dalam novel Student Hidjo karya Mas Marco Kartodikromo. Selamat membaca!
Penokohan
1. Hidjo
Hidjo digambarkan sebagai seorang pelajar pribumi yang maju, berpikir kritis, cerdas, suka membaca buku, pendiam, memiliki sikap yang santun, penurut, tidak nakal, sopan, menghormati orang-orang di sekitarnya termasuk kedua orang tuanya, mudah dalam bergaul bahkan mudah terpengaruh oleh hal-hal baru. Gambaran tersebut dapat dilihat melalui beberapa kutipan berikut.
“...Benar, Hidjo sudah tamat belajarnya di HBS, tetapi karena rupanya dia sangat maju dalam belajarnya dan pikirannya yang tajam, maka sebaiknya dia saya suruh meneruskan belajarnya agar menjadi ingenieur di Negeri Belanda...” (halaman 1)
Kutipan tersebut menggambarkan bahwa Hidjo merupakan anak yang sangat cerdas dan berpikir kritis. Ayah Hidjo berpendapat bahwa ia dapat menyekolahkan anaknya hingga memiliki kecerdasan yang setara bahkan lebih tinggi dibandingkan dengan pangeran atau regent, walaupun ia bukan dari kalangan bangsawan atau kalangan masyarakat yang tergabung dalam pemerintah kolonial. Kutipan ini akan membuktikan bahwa anggapan pemerintahan kolonial terhadap pribumi kalangan saudagar tidak serendah bayangan mereka. Kecerdasan yang dimiliki Hidjo meyakinkan ayahnya agar Hidjo pergi ke Negeri Belanda untuk melanjutkan pendidikan dan mengangkat derajat keluarganya.
...Selama dia sudah tidak sekolah lagi, dia masih terusan belajar sendiri, yaitu membaca buku-buku yang disukainya... (halaman 5)
“Apakah kamu sudah tidak suka dengan buku-bukumu?” tanya Raden Ajeng Biroe tampak senang. “Ah Tidak” jawabnya pendek. (halaman 10)
Selama Hidjo menunggu Raden Ajeng Biroe yang sedang mandi, ia tak lupa mengambil buku Raden Ajeng untuk dibaca sambil menunggu tunangannya. (halaman 10)
“Ya, dia lebih suka membaca bukunya daripada menulis,” (halaman 43)
Narasi dan kutipan di atas menunjukkan bahwa Hidjo adalah seseorang yang memiliki kecintaan terhadap buku dan kegiatan membaca, walaupun sudah tamat sekolah dari HBS. Membaca buku tidak hanya sekadar aktivitas, melainkan bagian dari kebiasaan dan gaya hidupnya.
“Biar, lebih baik diam daripada berkata yang tidak ada gunanya.” (halaman 6)
“Ayah, ibu, dan saudara lelaki saya cinta sekali sama Tuan Hidjo. Sebab dia pintar dan halus budi bahasanya. Kalau tidak ditanya, dia tidak berkata. Dia pendiam sekali.” (halaman 42)
Kutipan tersebut menggambarkan bahwa Hidjo adalah seseorang yang pendiam dan bijak dalam berbicara. Hidjo menunjukkan pribadi yang santun dan tidak suka membicarakan hal yang tidak perlu. Sikap ini mencerminkan budaya Timur yang menjunjung tinggi sikap menghormati orang lain dan berbicara dengan hati-hati.
“Jangan menangis, Bu!” bujuk Hidjo membujuk ibunya supaya tidak menangis. “Kalau begitu saya tidak mau pergi ke Negeri Belanda saja!” (halaman 7)
Kutipan tersebut menggambarkan bahwa Hidjo memiliki sikap santun yang menunjukkan kepedulian dan kasih sayang terhadap ibunya yang sedang bersedih karena perpisahan. Sikap santun tersebut mencerminkan tutur kata yang lembut dan keputusan yang menunjukkan rasa hormat dan cinta kepada ibunya.
“Kalau kamu pergi ke Negeri Belanda jangan sampai nakal seperti anak-anak Jawa yang ada di Negeri Belanda lainnya, kamu saya tinggal mati,” kata Raden Nganten. “Tidak, Bu!” jawab anaknya. (halaman 8)
“Kamu juga harus ingat, di Negeri Belanda itu godaan perempuan sangat besar!” lanjut ibunya lagi “Jadi harus hati-hati, jangan sampai kena godaan perempuan.” “Tidak, Bu!” jawab anaknya pendek. (halaman 8)
Kutipan dialog tersebut menggambarkan bahwa Hidjo adalah anak yang penurut dan tidak nakal yang juga menunjukkan konflik batin seorang anak muda yang hendak menempuh pendidikan ke Negeri Belanda untuk tetap menjaga nilai-nilai moral dan budaya yang ditanamkan oleh keluarganya. Sikap Hidjo menjawab pertanyaan ibunya dengan singkat menunjukkan bahwa dirinya tidak hanya mendengarkan, tetapi juga bersungguh-sungguh untuk berjanji dalam menjaga sikap di negeri orang. Hidjo merupakan gambaran pemuda terpelajar pribumi yang modern dan tetap berpijak pada nilai-nilai etika dengan menunjukkan keberanian menjaga diri di tengah budaya kolonial.
“Maukah Tuan mengantarkan kita melihat-lihat panorama?” tanya seorang dari perempuan itu. “Dengan senang hati!” jawab Hidjo sopan. (halaman 27)
Kutipan dialog tersebut menggambarkan bahwa Hidjo sebagai seseorang yang mudah bergaul dan memiliki sikap sopan. Demi kesopanan tersebut, Hidjo menuruti permintaan tiga perempuan Belanda. Menurut adat Eropa, semua laki-laki harus menghormati semua perempuan. Sikap Hidjo menunjukkan pertemuan budaya antara Timur dan Barat yang mencerminkan pemuda pribumi terdidik di tengah percampuran budaya kolonial.
“Kalau perbuatanku ini terus-teruskan, tentu di belakang hari akan menyusahkan kedua orang tuaku sendiri. Dan... dan... akhirnya... Bagaimana akalku supaya lepas dari bahaya ini? Apa yang akan didapat dari Betje dan diriku sendiri...? O, parah!” (halaman 111)
Kutipan tersebut menggambarkan Hidjo yang mudah terpengaruh. Di Negeri Belanda, Hidjo bermain dengan perempuan Belanda di belakang tunangannya, yaitu Raden Ajeng Biroe yang tinggal jauh di tanah air. Akan tetapi, dalam kutipan ini Hidjo telah menyadari bahwa hubungan kedekatannya dengan Betje dapat menimbulkan penyesalan bagi dirinya sendiri bahkan bagi kehormatan keluarganya di tanah air, sebab Hidjo berasal dari keluarga pribumi yang menjunjung nilai-nilai kebudayaan. Oleh karena itu, Hidjo mempertanyakan langkah berikutnya dan ia menyadari bahwa hubungan tersebut tidak baik untuk dilanjutkan. Hidjo merasa terjebak dalam dilema cinta dan norma sosial yang berlaku di masyarakat kolonial.
2. Raden Mas Wardojo
Raden Mas Wardojo merupakan saudara kandung Raden Ajeng Woengoe yang digambarkan menaruh rasa secara diam-diam kepada Raden Ajeng Biroe, Wardojo memiliki sikap yang sopan dan berbudi baik. Hal tersebut dibuktikan melalui beberapa kutipan berikut.
Sewaktu saudara lelaki Woengoe sedang saling berkenalan dengan famili-familinya Hidjo, dia merasa gugup melihat wajah Biroe. (halaman 67)
Raden Mas Wardojo yang di dalamnya terbayang wajah Raden Ajeng Biroe, selalu ngobrol silih berganti seolah mereka sedang sama-sama menunjukkan rasa hatinya masing-masing yang masih dirahasiakan terhadap Raden Ajeng Woengoe. (halaman 74)
Narasi-narasi tersebut menunjukkan perasaan khusus Raden Mas Wardojo terhadap Raden Ajeng Biroe meskipun belum bisa mengungkapkan perasaan tersebut. Rasa gugup tersebut menggambarkan bahwa Wardojo menyimpan rasa suka yang tulus dalam menjaga perasaan yang baik dengan cara tidak menunjukkan rasa cinta secara terbuka. Dalam budaya Jawa, sikap Raden Mas Wardojo ini menjunjung tinggi tata krama. Narasi berikutnya menunjukkan bahwa antara Raden Mas Wardojo dan Raden Ajeng Biroe terdapat ketertarikan satu sama lain, namun keduanya belum mengungkapkan secara langsung perasaan tersebut. Mereka masih menyimpan rasa itu dalam diam, baik Raden Mas Wardojo maupun Raden Ajeng Biroe masih belum berani secara terbuka untuk menyatakan isi hati mereka.
“Barangkali tidak aneh, jika pada hari perkawinanku nanti, saya akan mendapatkan kehormatan semacam ini. Tetapi kalau istriku, wajahnya tidak persis seperti Biroe, tentu saya tidak merasakan hidup,” (halaman 79)
Kutipan tersebut menggambarkan angan-angan Raden Mas Wardojo kepada Raden Ajeng Biroe tentang masa depan, khususnya mengenai perkawinan. Raden Mas Wardojo membayangkan bahwa pernikahan mereka adalah sebuah kehormatan, namun kehormatan itu akan hilang jika kelak pendamping hidupnya bukan Raden Ajeng Biroe. Kutipan ini menunjukkan bahwa cinta dalam kalangan priyayi tidak selalu diungkapkan kebebasan, melainkan dibatasi oleh etika, status sosial, dan budaya. Dalam keluarga bangsawan Jawa, perkawinan sering kali ditentukan oleh pertimbangan keluarga dan status, bukan semata-mata karena cinta, walaupun perkawinan itu membutuhkan dasar saling cinta mencintai.
“Di mana saya musti duduk?” tanya Raden Mas kepada saudara perempuannya, waktu dia masih berdiri di depannya. (halaman 69)
Kutipan tersebut menggambarkan Raden Mas Wardojo memiliki sikap sopan dan berbudi baik yang menjunjung tinggi adat dan etika dalam kehidupan sehari-hari, walaupun dalam hal-hal kecil seperti posisi duduk. Sikap ini menunjukkan nilai-nilai budaya Jawa atas kehormatan dan kesopanan, terutama di kalangan bangsawan.
3. Raden Ajeng Biroe
Raden Ajeng Biroe merupakan tunangan Hidjo yang digambarkan sebagai salah seorang anak bangsawan yang memiliki sikap mudah percaya, penuh perasaan, lemah lembut, pasrah terhadap takdir. Hal ini dibuktikan dalam kutipan berikut.
...Baju sutra kuning Raden Ajeng Biroe tampak berkilauan diterpa sinar lampu. Selendang sutra yang teramat kuning menghiasi leher Raden Ajeng Biroe berkibar-kibar laksana bendera gula klapa yang dipasang dipanggung Hingkang Sinuhun. Selop model baru yang dipakai di kaki Raden Ajeng yang juga kuning menambah keelokan Kebon Raja pada malam itu. (halaman 13)
Narasi tersebut menggambarkan Raden Ajeng Biroe sebagai salah seorang anak bangsawan dan lekat dengan kemewahan dan estetika. Pakaian yang dikenakan Raden Ajeng Biroe menjadi salah satu tanda status sosial sebagai kelas atas dalam struktur masyarakat kolonial saat itu. Dalam kebudayaan Jawa, warna kuning digambarkan sebagai kemuliaan dan kebangsawanan.
“Ah, tidak (mungkin) toh semua orang sudah tahu bahwa kamu tunangan saya!” (halaman 15)
Kutipan tersebut adalah penegasan yang disampaikan oleh Hidjo bahwa Raden Ajeng Biroe merupakan tunangannya. Hidjo menegaskan bahwa status hubungan mereka dilandasi cinta atau kesetaraan pemikiran.
“Memang, saya sudah percaya kepadamu!”
“Begitu juga kamu tentunya juga percaya kepadaku, bahwa saya tidak bisa hidup jika tidak bersama-sama denganmu.” (halaman 17)
Kutipan tersebut menggambarkan Raden Ajeng Biroe sebagai perempuan bangsawan yang lemah lembut, namun menggantungkan kebahagiaan kepada tunangannya dengan menunjukkan bahwa Raden Ajeng Biroe begitu terikat akan kehadiran Hidjo sehingga merasa tidak dapat hidup tanpanya. Dalam struktur sosial kolonial dan budaya Jawa, gambaran perempuan seperti Raden Ajeng Biroe sebaiknya lebih dihargai karena kelembutan dan kesetiaannya, bukan karena keberanian dan kemandiriannya.
“Betapa senangnya hatiku, jika kelak saya bisa melihat suasana begini rupa dan di sisiku ada, suamiku. Hidjo atau Wardojo” (halaman 79)
Kutipan tersebut menggambarkan Raden Ajeng Biroe sebagai perempuan bangsawan yang memiliki sifat pasrah kepada takdir. Penyebutan dua nama, yaitu Hidjo dan Raden Mas Wardojo menunjukkan bahwa ia menyerahkan keputusan akhir kepada keadaan, keluarga, atau kehendak sosial yang mengatur hidupnya.
4. Raden Ajeng Woengoe
Raden Ajeng Woengoe digambarkan sebagai salah seorang anak bangsawan yang mencintai Hidjo, lemah lembut, dan mudah bergaul. Hal ini dibuktikan pada kutipan berikut.
“.... setiap sore saya melancong dengan teman sekolah saya dan saudara perempuannya yang cantik wajahnya itu. ...saudara perempuan teman saya yaitu, Raden Ajeng Woengoe kebiasaan dan sikapnya sangat halus sekali.....” (halaman 31)
Kutipan tersebut menggambarkan Raden Ajeng Woengoe sebagai perempuan bangsawan yang cantik dan berperilaku halus penuh kesopanan. Hal ini membuka ruang terhadap pembaca yang kritis terhadap posisi perempuan bangsawan.
Pakaian Raden Ajeng Woengoe yang serba sutra melekat di badannya yang kuning itu, sudah menunjukkan bahwa hatinya senang dan badannya sehat. Kalung zamrud dan cincin berlian yang dipakainya semakin membikin elok paras wajahnya. (halaman 40)
Narasi tersebut menunjukkan bahwa Raden Ajeng Woengoe sebagai seorang bangsawan yang tampil mewah, elegan, dan sangat memperhatikan penampilan. Narasi ini tidak hanya menekankan kecantikan, tetapi juga kekayaan serta status sosial yang tinggi melalui pakaian sutra dan perhiasan mahal seperti kalung zamrud dan cincin berlian. Hal ini menggambarkan kelas bangsawan Hindia Belanda hidup dalam kemewahan.
5. Betje
Betje digambarkan sebagai salah seorang anak keturunan Belanda yang memiliki sifat agresif, genit, dan suka menggoda. Hal tersebut dibuktikan melalui beberapa kutipan berikut.
“Biarin saya lebih suka jadi perempuan Hindia daripada jadi perempuan Belanda!” (halaman 59)
Kutipan tersebut menggambarkan Betje sebagai seseorang yang berani, suka menggoda, dan tidak malu menunjukkan perasaannya, termasuk kepada laki-laki pribumi seperti Hidjo. Kutipan tersebut menunjukkan bahwa Betje kagum pada budaya Hindia dan tampak ingin lebih dekat dengan kehidupan masyarakat pribumi melalui Hidjo. Betje menjadi simbol bahwa budaya dapat saling memengaruhi dan ras tidak selalu menjadi penghalang dalam hubungan antar manusia. perkataan Betje membuat kaget kedua orang tuanya karena kata-kata tersebut menunjukkan bahwa Betje menaruh hati kepada Hidjo.
“Nee, saya lebih suka pergi berdua saja dengan Tuan!” (halaman 99)
Kutipan tersebut menggambarkan bahwa Betje berani dan terbuka dalam mengungkapkan perasaan. Ia tidak ragu mengajak Hidjo sebagai seorang pribumi untuk pergi hanya berdua tanpa ditemani orang lain. Pengaruh budaya Barat dapat memengaruhi kehidupan dan cara berpikir seseorang, bahkan Hidjo terjebak dalam hubungan hingga mengalihkan fokus pendidikan dan cita-citanya untuk menjadi seorang ingenieur.
“Apakah akhirnya Tuan hendak berbuat seperti Faust itu? Sebab sekarang tuan suka belajar. Tetapi.. akhirnya..” (halaman 95)
Sejak waktu itu, pergaulan Hidjo dan Betje semakin intim. Adat dan sikap hormat yang biasanya dilakukan kedua anak muda itu telah hilang. Juga karena mata Betje yang rupa-rupanya tidak ingin kehilangan wajah Hidjo (barang sesaat pun). Terpaksa, waktunya untuk belajar sering digunakan untuk melayani kehendak Betje. (halaman 107)
Kutipan dan narasi tersebut menggambarkan Betje yang genit, bahkan perbuatannya itu sempat ditegur oleh orang tuanya agar tidak selalu menggoda Hidjo. Betje sebagai perempuan Belanda tampak mendominasi hubungan dengan sikap agresif terhadap Hidjo, bahkan sikap tersebut mengganggu konsentrasi Hidjo dalam belajar. Kutipan ini menunjukkan perbedaan antara budaya Timur yang dikenal dengan sopan santun, batasan pergaulan, dan penghormatan terhadap adat. Berbeda dengan budaya Barat yang lebih bebas dan terbuka. Kehilangan adat dan hormat menandakan bahwa hubungan tersebut menyimpang dari adat yang berlaku, terutama bagi seorang pemuda pribumi seperti Hidjo yang seharusnya fokus pada tujuan pendidikan dan menjaga martabat. Hidjo sebagai pemuda pribumi telah kehilangan arah karena terlarut dalam gaya hidup budaya Barat.
“Mari kita pergi melancong lebih dulu, toh sekarang baru jam setengah sebelas.”
“Mari kita pergi ke hotel Scheveningen?” (halaman 103)
Kutipan tersebut menggambarkan bahwa Betje berani mengambil langkah. Ia mengajak Hidjo untuk pergi melancong meskipun waktu sudah cukup malam dan tidak pantas bagi seorang perempuan. Ajakan pergi ke hotel secara langsung menimbulkan pemikiran negatif karena tempat tersebut dapat dikaitkan dengan aktivitas pribadi yang lebih intim. Sikap Betje menggambarkan bahwa ia tidak peduli dengan aturan dan norma sopan santun yang berlaku bagi perempuan Hindia, hal ini juga menjadi bukti bahwa pengaruh budaya Barat terlalu bebas dan menjadi tantangan bagi Hidjo. Pada saat itu, Hidjo tekah terbawa arus pada hal negatif.
Tema
1. Tema Ekonomi dan Sosial
“Saya ini hanya seorang saudagar. Kamu tahu sendiri. Waktu itu, orang seperti saya masih dipandang rendah oleh orang-orang yang menjadi gouvernement. Kadang-kadang saudara kita sendiri yang turut menjadi pegawai gouvernement, dia tidak mau kumpul dengan kita. Sebab dia pikir derajatnya lebih tinggi daripada kita yang hanya menjadi saudagar atau petani. Maksud saya mengirimkan Hidjo ke Negeri Belanda itu, tidak lain supaya orang-orang yang merendahkan kita bisa mengerti bahwa manusia itu sama saja. Buktinya anak kita juga bisa belajar seperti regent-regent dan pangeran-pangeran.” (halaman 2&3)
Kutipan tersebut menggambarkan ketidakadilan dalam kehidupan ekonomi dan sosial pada masa kolonial. Ayah Hidjo adalah seorang saudagar yang dipandang rendah. Dalam konteks ekonomi, kutipan ini menjelaskan bahwa orang kaya belum tentu dihormati jika mempunyai jabatan. Jika dilihat dalam konteks sosial, masyarakat terbagi dalam kelas-kelas atau tingkatan sosial. Ayah Hidjo ingin menyampaikan bahwa semua orang itu sama dan tidak harus dibeda-bedakan, tidak peduli apa pekerjaan atau status sosialnya. Ayah Hidjo mengirim anaknya ke Belanda untuk sekolah sebagai bentuk perlawanan ketidakadilan sosial terhadap anggapan bahwa tidak hanya anak bangsawan atau pejabat yang pantas mendapatkan pendidikan, hal ini menunjukkan bahwa keluarga saudagar juga bisa maju dan berpendidikan.
2. Tema Perkawinan
“Dan lagi, dia kita suruh bersumpah, supaya tidak mau kawin dengan gadis Belanda.” (halaman 4)
“Tidak, Adinda! Jangan takut kalau anakmu akhirnya kawin dengan gadis Belanda. Kamu toh sudah mengerti, Hidjo sudah mempunyai tunangan dengan Jeng Biroe, anaknya Mbakyu Mantri Polisi.” (halaman 4)
Kutipan-kutipan tersebut menggambarkan bahwa orang tua Hidjo sangat khawatir terhadap pengaruh budaya Barat saat menjalankan pendidikan di Belanda. Ibu Hidjo takut jika anaknya jatuh cinta dan menikah dengan perempuan Belanda, karena hal itu dianggap melupakan budaya Timur. Di sisi lain, ayah Hidjo menenangkan hati istrinya. Pertunangan antara Hidjo dan Raden Ajeng Biroe menjadi bentuk penjagaan terhadap nilai-nilai budaya Timur yang dijadikan sebagai pengikat moral agar Hidjo tidak melupakan asal-usulnya.
“Umpamanya Raden Ajeng Woengoe dengan Hidjo dan Biroe dengan Raden Mas Wardojo, apa Raden setuju?” (halaman 147)
Kutipan tersebut menggambarkan pertanyaan atau usulan yang menantang aturan sosial, namun bagi keluarga Raden Ajeng Woengoe dan Raden Mas Wardojo berpendapat bahwa pernikahan itu bukan tentang siapa yang pantas untuk siapa, melainkan semua manusia sama saja asal yang menjalaninya suka. Kutipan ini menjadi gambaran bahwa perkawinan Barat tetap menjadi Barat dan Timur tetap menjadi Timur.
3. Tema Kebudayaan
Kalau mengikuti adat Eropa, jika ada seorang lelaki bersama-sama dua orang perempuan, yang lelaki mesti berjalan di tengah dan kanan kirinya diapit perempuan. (halaman 27)
Begitu juga Hidjo, bertambah hilang kesopanannya, lantaran gadis-gadis Belanda yang tidak begitu memedulikan adat kesopanan itu. (halaman 49)
“Bolehkah Raden Ajeng, saudara saya duduk di sini,” (halaman 69)
Narasi-narasi tersebut menunjukkan kebiasaan yang mencerminkan kebudayaan Eropa yang lebih terbuka dalam pergaulan. Dalam budaya Timur, laki-laki dan perempuan sering kali tidak berjalan berdekatan. Kutipan tersebut menunjukkan bahwa interaksi dengan budaya Barat membawa perubahan dalam cara berpikir dan bertindak salah satunya melalui cara berjalan sebagai bentuk tata krama budaya Eropa. Narasi berikutnya menunjukkan Hidjo yang sebelumnya menjunjung tinggi tata krama mulai terpengaruh oleh gaya hidup Eropa, hal tersebut menyampaikan bahwa perubahan tidak selalu membawa dampak positif jika tidak disaring dengan bijak. Di sisi lain, kutipan tersebut menggambarkan adat kesopanan Eropa yaitu laki-laki berada di tengah dan diapit oleh dua perempuan di bagian kiri dan kanan, hal ini menunjukkan sama halnya narasi pada bagian pertama.
“Sebab kalau harus belajar di Negeri Belanda ini, barangkali tidak mustahil kalau saya harus menjadi orang Belanda, karena tentu saya akan menikah dengan gadis Belanda, kalau saya sampai melakukan hal itu, saya sama artinya dengan meninggalkan sanak famili dan bangsaku. Bah!......Europeesche beschaving!” (halaman 113)
Kutipan tersebut menggambarkan tokoh Hidjo yang dihadapkan oleh pergaulan dan cara hidup orang Eropa. Pendidikan Barat memang memberikan kemajuan, tetapi dapat menjadikan kaum terpelajar lupa dengan asal-usul dan tanggung jawab terhadap bangsanya.
Percampuran bangsa itu bisa jadi memang baik, kalau bangsa yang satu dan bangsa yang lainnya sama derajatnya, sama kekuatannya, sama kepercayaannya dan lain-lain. Kalau tidak begitu, saya kira akan amat susah bisa menjadi baik perkara associatie (persaudaraan) itu? Lebih-lebih bagi kita orang bumi-putera. Itu sangat susah untuk melakukan associatie dengan bangsa Eropa. Karena kebanyakan bangsa Eropa memandang kita sebagai budaknya, kalau menurut pikiran saya. Associatie itu merupakan suatu usaha supaya kita bumiputera selamanya tetap senang sebagai budak. Sebab orang yang memerintah mau mengaku sebagai saudara kepada kita. Barangkali akan lebih jelas kalau saya sebut associatie-nya antara majikan dan budaknya.” (halaman 117)
Kutipan tersebut menunjukkan bahwa kenyataan dari hubungan antara Belanda dengan bumiputera sangat timpang, karena bangsa Eropa masih memandang pribumi sebagai budak. Hal ini menunjukkan bahwa kebijakan kolonial seperti associatie hanya dijadikan alat kekuasaan Belanda dengan membujuk kaum terpelajar bumiputera agar merasa menjadi bagian dari sistem kolonial, padahal tetap dilakukan tidak setara.
“Orang Jawa kotor, orang Jawa bodoh, orang Jawa malas, orang Jawa tidak beschaaf. Pendeknya orang Jawa atau orang Hindia itu adalah bangsa paling busuk sendiri.” (halaman 155)
Kutipan tersebut menggambarkan kolonialisme menghancurkan kepercayaan diri dan martabat budaya lokal. Orang Jawa dan lebih luas lagi orang Hindia digambarkan oleh kaum kolonial tidak beradab. Hidjo mengalami bahwa kebudayaan diremehkan secara tidak adil, dan budaya Eropa dianggap lebih unggul. Kutipan ini juga menunjukkan bahwa budaya dijadikan alat politik untuk menundukkan bangsa jajahan. Novel ini membangkitkan kesadaran budaya sebagai bentuk perlawanan terhadap kolonialisme.
4. Tema Percintaan
“Bagaimana saya musti memberitahu kepada Betje tentang surat dari ayah ini. Saya disuruh ayah pulang ke Tanah Jawa dan akan dikawinkan dengan Woengoe, seorang gadis bangsawan yang telah kukenang-kenang-kan, sejak saya pertama kali melihatnya. Sudah tentu saya merasa hidup senang di dunia. Dan Woengoe pun akan menjadi istriku sampai mati. Begitu juga Biroe, tunanganku sejak kecil, namun sesungguhnya saya tidak mencintainya, dia akan dikawinkan dengan Wardojo, teman sekolah saya dan saudara lelaki dari bakal istriku. Memang betul-betul senang hidupku kelak. Tetapi nasib apakah yang bakal menimpa Betje, kalau dia kutinggal? O, susah!” (halaman 178)
Kutipan tersebut menggambarkan konflik yang menjadikan Hidjo terjebak dalam dilema percintaan. Hidjo merasa senang karena dipanggil pulang oleh ayahnya ke Tanah Jawa untuk menikahi Raden Ajeng Woengoe, yaitu seorang gadis bangsawan yang telah lama ia kagumi dan ia cintai. Di sisi lain ia juga merasa bersalah terhadap Betje, gadis Belanda yang menjalin hubungan dengannya saat ia berada di negeri Belanda. Hubungan antara Hidjo dengan Betje menggambarkan perbedaan budaya Timur dan Barat, meskipun Hidjo memiliki perasaan terhadap Betje, namun ia kembali pada budaya Timur yang ada di hadapannya. Hal ini menimbulkan luka dan pengorbanan.
“Jangan, besok saya akan kembali ke Negeri Belanda sini lagi dan kita bisa bertemu dan...” (halaman 184)
Kutipan ini menggambarkan bahwa perpisahan ini bukan akhir. Akan tetapi, hal ini tidak hanya tentang janji pertemuan di masa depan, tetapi sulit untuk dipersatukan sepenuhnya.
Daftar Pustaka
Kartodikromo, Mas Marco. (2023). Student Hidjo. Yogyakarta: Penerbit Narasi.
Nurgiyantoro, Burhan. (2018). Teori Pengkajian Fiksi. Yogyakarta: Gadjah Mada University Press.
