Konten dari Pengguna

Epigon, Pengaruh, dan Plagiat: Menimbang Kreativitas dan Orisinalitas Sastra

Alya Nuraini

Alya Nuraini

Mahasiswa Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia, Fakultas Ilmu Tarbiyah dan Keguruan, UIN Syarif Hidayatullah Jakarta.

·waktu baca 9 menit

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Alya Nuraini tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Ilustrasi Mengintip Dari Balik Jendela. Sumber: https://www.pexels.com.
zoom-in-whitePerbesar
Ilustrasi Mengintip Dari Balik Jendela. Sumber: https://www.pexels.com.

Dalam dunia sastra, orisinalitas sering dianggap sebagai tolok ukur keaslian sebuah karya. Namun di balik setiap karya besar, selalu ada jejak pengaruh dari karya lain. Tidak ada pengarang yang benar-benar menulis dari ruang hampa karena setiap ide, gaya, dan diksi biasanya lahir dari pembacaan serta perenungan terhadap karya sebelumnya. Oleh karena itu, muncul tiga istilah penting dalam kajian sastra bandingan yang sulit dihindari, yaitu epigon, pengaruh, dan plagiat. Ketiganya sering diperdebatkan karena memiliki batas yang tipis, tetapi sesungguhnya tetap berbeda. Di satu sisi, pengaruh dapat menjadi sumber kreativitas baru, namun tanpa kesadaran etis dan intelektual, pengaruh itu bisa berubah menjadi bentuk peniruan yang menyalahkan nilai kejujuran dalam berkarya.

Epigon

Kecenderungan karya sastra yang menjadi epigon dari karya lain dapat dipahami melalui pendekatan generik dan genetik. Biasanya, karya yang muncul lebih dahulu dianggap sebagai induk, sedangkan karya berikutnya disebut epigon, plagiat, atau terjemahan. Secara etimologis, istilah epigon berasal dari bahasa Latin epigonos atau epigignestai, yang berarti “terlahir kemudian”, namun penulis tidak sepenuhnya sependapat dengan KBBI (Kamus Besar Bahasa Indonesia) yang mendefinisikan epigon sebagai orang yang tidak memiliki gagasan baru dan hanya mengikuti jejak seniman sebelumnya. Bagi penulis, sastrawan sejati adalah kreator yang hidup dari imajinasi. Dari imajinasi itulah lahir pembaruan, penolakan terhadap yang lama, dan bahkan inovasi. Maka, apa pun bentuknya, kemampuan mencipta harus tetap dihargai sebagai wujud kreativitas.

Meniru dalam sastra pada dasarnya bukan dosa. Damono (2005:18–20) memberi batasan bahwa sastra bandingan perlu mencermati tiga hal, yakni (1) karya asli, (2) pinjaman, dan (3) tradisi. Ketiganya berhubungan erat dengan epigonistik. Karya asli sering menjadi sumber inspirasi bagi epigon. Istilah “pinjaman” di sini lebih tepat dimaknai sebagai serapan, sebab dalam dunia sastra, hubungan estetis antar karya tidak bisa dibendung. Hal yang terpenting, pengarang tidak berhenti sebagai peniru, tetapi mampu membangun tradisi baru dari hasil serapan tersebut, meski menciptakan tradisi baru bukan hal mudah karena setiap pengarang, bagaimanapun juga, selalu berangkat dari karya orang lain.

Melakukan epigon sebenarnya sah-sah saja, asalkan tidak berhenti pada peniruan, melainkan menjadikannya sebagai jalan menemukan jati diri dan ciri khas dalam berkarya. Inilah yang disebut sebagai epigon kreatif, yakni sebuah proses meniru yang justru melahirkan karya baru dengan identitas segar. Sebaliknya, jika epigon dilakukan dengan menjiplak karya orang lain secara mentah, maka hal itu berubah menjadi plagiat, sebuah tindakan yang mencederai hak cipta dan merendahkan nilai intelektual. Pada akhirnya, epigon dapat dipahami bukan sebagai bentuk kelemahan, melainkan sebagai cermin bahwa pengarang sedang berproses, takluk, terinspirasi, atau bahkan jatuh cinta pada karya yang lebih dulu hadir, lalu menumbuhkan sesuatu yang baru dari sana.

Pengaruh

Dalam proses kreatifnya, pengarang tidak mungkin benar-benar bebas dari bayang-bayang teks lain, sebab setiap ide besar sering kali lahir dari kekaguman pada karya sebelumnya. Pengaruh seperti ini tampak nyata dalam karya sastrawan Indonesia. Cerpen Abracadabra karya Danarto, misalnya, terinspirasi dari puisi-puisi A.A. Cummings yang dikenal eksperimental dan absurd. Gaya itu kemudian memengaruhi cara berpikir dan penciptaan puisi-puisi Sutardji Calzoum Bachri serta Sapardi Djoko Damono, yang masing-masing melahirkan corak khas dalam puisi modern Indonesia, bahkan bentuk tipografi puisi mereka pun menunjukkan pengaruh dari karya asing yang lebih dulu hadir. Menariknya, gagasan para penyair modern ini turut memberi warna pada perkembangan cerpen berbahasa Jawa seperti Wek Gedhabyah Wek Jleg karya Andi Casiyem Sudin, Radikal karya Keliek Eswe, Mripat karya Suwardi Endraswara, hingga Petruk karya Jayus Pete. Jejak saling memengaruhi ini menegaskan bahwa sastra tidak mengenal batas bahasa maupun wilayah. Pengaruhnya menembus lintas genre dan ruang, membentuk rantai panjang kreativitas yang saling menghidupi.

Pengaruh tidak selalu bersifat langsung atau disadari. Dalam banyak kasus, ia muncul secara halus melalui gaya penulisan, pembentukan karakter, atau pengelolaan konflik. Menulis dengan terinspirasi pada gaya pengarang lain sejatinya bukan hal yang keliru, terutama bagi penulis pemula, hal yang menjadi masalah adalah ketika seseorang menulis dengan meniru mentah-mentah hingga melahirkan karya yang “sejenis” tanpa keaslian gagasan. Dalam dunia penerbitan, persoalan ini menjadi perhatian serius bagi editor, terutama editor akuisisi yang bertugas mencari naskah untuk diterbitkan. Editor jenis ini harus mampu membedakan antara karya yang sekadar mengikuti tren dengan karya yang benar-benar punya identitas. Penulis yang sudah terkenal tentu lebih mudah diterbitkan dan mendapat bayaran tinggi, sementara bagi penulis baru, tantangan terbesar adalah membuktikan bahwa karyanya bukan hasil pengaruh yang berlebihan. Fenomena ini dapat dilihat pada platform seperti Wattpad, di mana banyak penulis muda menawarkan tema-tema serupa tanpa inovasi yang berarti. Di sinilah pentingnya kepekaan editor untuk menemukan penulis yang orisinal, bukan yang terjebak dalam bayang-bayang karya lain. Oleh karena itu, pengaruh dalam sastra tidak selalu harus dihindari, tetapi perlu dikelola dengan kesadaran dan kejujuran intelektual. Pengarang boleh terinspirasi, tetapi ia harus mampu mengolah pengaruh itu menjadi sesuatu yang baru, segar, dan mencerminkan suaranya sendiri. Karena pada akhirnya, kekuatan sastra terletak bukan pada siapa yang lebih dulu, melainkan pada siapa yang mampu memberi makna baru bagi pembaca melalui hasil olah pikir dan kreativitas yang jujur.

Plagiat

Dalam dunia kesusastraan, plagiat sering dianggap sebagai bentuk pencurian intelektual. Menurut penulis, plagiat adalah tindakan sastrawan yang meniru atau mengambil karya orang lain tanpa memberikan pengakuan yang semestinya. Fenomena ini muncul dalam lingkup sastra daerah dan meluas hingga pada hubungan antara sastra nasional dan sastra mancanegara. Menariknya, produk kesusastraan dari wilayah atau negara yang berjauhan menunjukkan kemiripan alur dan tema, meskipun lahir dari latar budaya yang berbeda. Di sisi lain, persoalan serupa juga muncul dalam konteks sastra terjemahan. Gifford (1993:138) menyebut bahwa karya terjemahan kerap menjadi perdebatan dalam sastra bandingan. Meskipun istilah “terjemahan” terdengar lebih elegan daripada “plagiat” atau “epigon”, karya hasil terjemahan sering kali masih dipandang lebih rendah daripada karya asli. Padahal, di balik proses penerjemahan terdapat usaha kreatif untuk menjembatani dua budaya dan memperluas cakrawala pembaca lintas bahasa. Di sinilah perbincangan tentang orisinalitas dan interpretasi kembali menjadi penting, bahwa dalam sastra, batas antara meniru dan menginspirasi sering kali begitu tipis.

HB Jassin, yang dikenal sebagai “Paus Sastra Indonesia” yang berarti pimpinan tertinggi. Ia memainkan peran penting dalam membela dua tokoh besar sastra Indonesia, Hamka dan Chairil Anwar, dari tuduhan plagiat. Kedua sastrawan ini sempat menjadi sorotan karena karya mereka dianggap menjiplak karya asing. Hamka, misalnya, dituduh meniru karya pengarang Mesir, Musthafa Luthfi Al Manfaluthi, dalam novel terkenalnya Tenggelamnya Kapal Van der Wijck. Sementara itu, Chairil Anwar dikritik karena sejumlah puisinya dinilai menyalin karya penyair mancanegara, salah satunya puisi “Karawang Bekasi” yang dituduh meniru puisi “The Young Dead Soldiers.” Chairil Amwar memberi ruang dan tokoh, sedangkan karya sastra satunya tidak menyebutkan secara khusus, melainkan dalam gambaran umum saja. Melalui pendekatan sastra bandingan, HB Jassin menegaskan bahwa tuduhan tersebut tidak berdasar. Menurutnya, Hamka bukanlah plagiator, melainkan pengarang yang mengadaptasi gagasan Al Manfaluthi dan mengolahnya dengan latar budaya Indonesia. Begitu pula dengan Chairil Anwar yang dinilai tidak meniru, tetapi menyadur dan menerjemahkan karya sastra asing dengan sentuhan khasnya sendiri. Puisi “Kawarang-Bekasi” sudah menjadi ikon. Dalam pandangan Jassin, karya-karya itu justru menunjukkan kemampuan sastrawan Indonesia menyerap pengaruh global tanpa kehilangan jati diri nasionalnya.

Jassin menilai tuduhan plagiat terhadap Hamka dan Chairil tidak hanya persoalan etika sastra, melainkan juga bernuansa politik. Serangan tersebut berasal dari kelompok di bawah Lembaga Kebudayaan Rakyat (Lekra), organisasi berafiliasi dengan ideologi komunis yang kerap menyerang kaum nasionalis. Setelah partai komunis dilarang di Indonesia, Lekra pun dibubarkan. Dalam konteks ini, pembelaan Jassin untuk melindungi dua sastrawan besar, serta memperjuangkan kebebasan sastra dari tekanan ideologis. Kisah ini mengingatkan bahwa sastra tidak pernah lahir di ruang hampa. Ia tumbuh bersama sejarah, ideologi, dan pergulatan identitas. Apa yang dilakukan HB Jassin merupakan bentuk pembelaan terhadap nama baik dan upaya menjaga marwah sastra Indonesia agar tetap berlandaskan kejujuran intelektual dan kebebasan kreatif.

Menariknya, perdebatan soal orisinalitas kini muncul dalam bentuk baru, yakni kehadiran kecerdasan buatan (AI) dalam dunia tulis-menulis. Kekhawatiran terhadap penggunaannya berakar pada satu hal mendasar, AI tidak benar-benar memiliki kemampuan berkreasi secara orisinal. Sistem ini hanya dilatih dari data yang sudah ada, kemudian mengulang dan merangkai informasi berdasarkan perintah pengguna. AI memang mampu membaca cepat melalui kata kunci, tetapi kehilangan kedalaman emosional dan intuisi, dua hal yang menjadi inti dari karya sastra. Jika dalam ilmu pengetahuan AI dapat berfungsi sebagai alat bantu yang efisien, maka dalam sastra, kehadirannya justru berpotensi mengikis keunikan ekspresi manusia. Ia tidak mampu memahami nuansa, rasa, dan pergulatan batin yang hanya bisa lahir dari pengalaman personal seorang pengarang.

Di titik inilah peran manusia sebagai pencipta menjadi sangat penting. Kreativitas sejati bukan hasil penggabungan data, melainkan lahir dari perasaan, pengalaman, dan pergulatan ide. Ketika AI mulai digunakan untuk menulis puisi atau cerpen, pertanyaan tentang orisinalitas menjadi semakin relevan mengenai “apakah karya itu masih bisa disebut sastra jika tidak melibatkan jiwa penciptanya?” Persoalan ini sejatinya sejalan dengan pembelaan HB Jassin terhadap Hamka dan Chairil Anwar, bahwa dalam berkarya, yang terpenting bukanlah siapa meniru siapa, melainkan seberapa dalam makna dan kejujuran yang dihadirkan dalam karya tersebut.

Simpulan

Dalam dunia sastra, orisinalitas dan kreativitas tidak pernah benar-benar berdiri sendiri karena setiap karya selalu memiliki jejak pengaruh dari karya lain. Epigon, pengaruh, dan plagiat merupakan tiga istilah yang sering kali tampak serupa, tetapi memiliki perbedaan mendasar. Epigon dapat menjadi bagian dari proses kreatif selama tidak berhenti pada peniruan, melainkan melahirkan pembaruan dan identitas baru. Pengaruh adalah sesuatu yang wajar karena setiap pengarang pasti terinspirasi oleh karya sebelumnya, namun harus diolah dengan kejujuran agar tidak kehilangan jati diri. Sementara itu, plagiat merupakan bentuk pelanggaran moral dan intelektual karena mengambil karya orang lain tanpa pengakuan.

Kasus yang dialami Hamka dan Chairil Anwar menunjukkan bahwa meniru tidak selalu berarti menjiplak, melainkan bisa menjadi proses adaptasi yang justru memperkaya sastra Indonesia. Pada masa kini, muncul tantangan baru melalui kehadiran kecerdasan buatan (AI) yang menimbulkan pertanyaan tentang batas orisinalitas dalam berkarya. Namun, pada akhirnya, keaslian dalam sastra bukan terletak pada seberapa baru sebuah ide, melainkan pada ketulusan, kejujuran, dan kedalaman makna yang dihadirkan oleh pengarang. Hanya karya yang lahir dari hati dan pengalaman manusia yang akan bertahan dan memberi makna bagi pembacanya.

Daftar Pustaka

Damono, Sapardi Djoko. (2015). Sastra Bandingan. Ciputat: Editum.

Endraswara, Suwardi. (2011). Metodologi Penelitian Sastra Bandingan. Jakarta: Bukupop.