Melawan Ketidakadilan: Feminisme dan Sosial dalam Novel Kehilangan Mestika

Mahasiswa Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia, Fakultas Ilmu Tarbiyah dan Keguruan, UIN Syarif Hidayatullah Jakarta.
·waktu baca 18 menit
Tulisan dari Alya Nuraini tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Novel Kehilangan Mestika diterbitkan oleh Balai Pustaka oleh penulis Hamidah dan diterbitkan pada tahun 1935 dengan mengisahkan nasib dan duka derita seorang gadis bernama Hamidah yang selalu kehilangan pria yang dicintainya. Tidak hanya pria yang pergi meninggalkan ia untuk selama-lamanya. Ibu yang ia cintai untuk menjaga dan mendidik dirinya terpaksa menutup mata untuk selama-lamanya karena menderita sakit sejak ia berusia 4 tahun. Terkadang ia terkenang dengan ibunya, karena dari kecil tidak pernah mendapatkan didikan ibu, bercumbu dengan ibu, mendengar nyanyian ibu. Hamidah sejak kecil dijaga oleh bapaknya, tentu saja didikan yang diterima kurang lemah lembut. Tidak hanya itu, Hamidah juga ditinggal untuk selama-lamanya oleh bapaknya yang diserang oleh semacam penyakit perut yang mesti dibedah. Bapaknya tak dapat menahan selera dan mengonsumsi makanan yang dipantang dokter, kemudian penyakitnya bertambah keras sampai kepala ajalnya.
Dalam buku “Teori Pengkajian Fiksi” karya Burhan Nurgiyantoro terdapat pembahasan kajian fiksi yang bertujuan untuk memahami secara lebih baik karya sastra yang bersangkutan. Selain itu, terdapat kritik sastra dimaksudkan untuk membantu menjelaskan kepada pembaca agar dapat memahami karya itu secara lebih baik dan lebih penuh. Dalam kajian fiksi terdapat pendekatan kajian teks kesastraan, teori dan atau pendekatan yang dimaksud salah satunya feminisme. Selain itu, dalam buku Teori Pengkajian Fiksi karya Burhan Nurgiyantoro juga membahas mengenai tema menurut Shipley yang memiliki beberapa tingkatan, mulai dari tingkatan satu sampai tingkatan kelima.
Tulisan ini akan membahas mengenai pendekatan feminisme dalam novel Kehilangan Mestika karya Hamidah yang menggali mengenai perlawanan simbolis terhadap tradisi pingitan dengan pendidikan kaum perempuan. Dalam beberapa cerita fiksi kedudukan tokoh perempuan sering diperlakukan, dipandang, atau diposisikan lebih rendah daripada tokoh laki-laki, bahkan masyarakat menganggap hal tersebut sebagai sesuatu yang sudah semestinya begitu, hal diartikan sebagai kodrat alam dan tugas manusia tinggal melaksanakannya. Dalam novel Kehilangan Mestika, tokoh Hamidah justru membantah ketidakadilan terhadap perempuan sekaligus menuntun persamaan hak dengan laki-laki, karena tokoh perempuan dicitrakan sebagai sosok yang lemah, tidak dapat mandiri, tidak mampu tampil di muka umum, tidak mampu melakukan pekerjaan laki-laki, dan tidak dapat bekerja sebaik laki-laki.
Selain membahas pendekatan feminisme, tulisan ini juga membahas mengenai tema. Menurut Shipley dalam buku Burhan Nurgiyantoro, jika dilihat dari tingkatan tema, novel Kehilangan Mestika terdapat pada golongan tingkatan ketiga dengan tema “tingkat sosial.” Dalam tingkat sosial terdapat masalah-masalah sosial, novel Kehilangan Mestika ini akan membahas mengenai masalah kebudayaan (adat istiadat), ekonomi, perjuangan, dan cinta kasih antar sesama. Tulisan ini membahas dua pokok permasalahan terkait pendekatan feminisme dan tema dalam novel Kehilangan Mestika karya Hamidah. Selamat membaca!
Pendekatan Feminisme
Dalam pendekatan feminisme, tokoh Hamidah digambarkan sebagai sosok perempuan yang berjuang keras menghadapi tantangan dari lingkungan, adat, dan pandangan laki-laki terhadap perempuan. Hamidah menunjukkan bahwa perempuan berpotensi besar untuk berkembang jika diberi kesempatan yang adil. Hal ini menjadi seruan agar perempuan diberi ruang untuk tumbuh, bebas menentukan jalan hidup, dan dihargai sebagaimana mestinya. Hamidah melihat bahwa perempuan sering kali hanya dianggap sebagai objek dan mudah dipermainkan oleh laki-laki yang tidak bertanggung jawab. Di sisi lain, Hamidah menunjukkan bahwa perempuan bukan makhluk lemah seperti anggapan umum, bahkan ada kekuatan tersendiri dalam kelembutan dan kasih sayang perempuan yang justru bisa memengaruhi dan bahkan mengalahkan laki-laki. Pembahasan mengenai pendekatan feminisme dibuktikan pada kutipan di bawah ini.
Keterbatasan Perempuan dalam Mencari Nafkah
Beberapa kali sudah aku menerima tawaran dari salah sebuah perguruan partikulir di Palembang untuk bekerja di situ. Bergantung pada diriku sendiri sudah lama kuterima. Tetapi familiku berkeras melarang. (halaman 9)
Dengan tak disangka-sangka aku mendapat surat, bahwa aku dipindahkan ke Palembang. Kaum keluargaku tak seorang pun yang menyetujui...Lagi pula mereka takut mendapat hinaan dari orang kampung kami membiarkan seorang gadis mencari nafkahnya di rantau orang. (halaman 18)
Aku khawatir nanti akan tersesat, sehingga rusak kebatinanku, karena dari pagi sampai petang bergaul dengan laki-laki saja. Lain perkara kalau aku telah berumur, telah banyak pengalaman. (halaman 41)
Alangkah susahnya bagi seorang gadis akan mencari nafkah yang halal dengan menghindar mulut orang luar. Melihat keadaan yang begini kadang-kadang aku menyesali diriku, mengapa aku dahulu dilahirkan Tuhan ke dunia dengan bersifat perempuan. (halaman 41 & 42)
Kutipan-kutipan tersebut menunjukkan perjuangan Hamidah untuk menjadi perempuan yang mandiri. Ketika mendapat tawaran kerja yang baik dan ingin menerimanya demi masa depan, ia tetap dihadapkan pada penolakan dari keluarganya. Penolakan ini bukan karena alasan pribadi, tetapi karena rasa takut akan pandangan negatif masyarakat yang menganggap tidak pantas jika seorang perempuan bekerja jauh dari rumah, apalagi merantau seorang diri. Hal ini menggambarkan kuatnya pengaruh adat dan budaya patriarki yang membatasi ruang gerak perempuan, bahkan untuk hal-hal positif seperti bekerja. Beban sosial yang dirasakan begitu berat, karena setiap langkahnya selalu dinilai dan dibicarakan orang. Selain itu, terdapat pula kekuatan tekanan sosial terhadap perempuan dalam memperjuangkan untuk hidup mandiri sering kali tidak mendapat dukungan. Hamidah mewakili suara perempuan yang ingin maju, namun terhambat oleh sistem sosial yang tidak adil dan penuh prasangka. Perubahan cara pandang masyarakat terhadap peran perempuan dalam kehidupan menjadi langkah utama menuju keadilan dan kesetaraan gender.
Batasan Sosial terhadap Perempuan dalam Masyarakat
“Tahukah kamu, bahwa hina di muka umum di sini, manakala seorang bujang membawa seorang gadis ke rumahnya? Gadis itu bukan keluargamu, bukan muhrim bagimu.” (halaman 11)
“Bukankah tidak sepatutnya seorang gadis yang telah dewasa berjalan ke sana kemari, padahal tempat untuk mereka telah tersedia? Bukankah lapangan mereka bekerja hanya di rumah saja? Apalagi gadis seperti yang kaubawa ini, gadis yang telah lerak ke mana-mana.” (halaman 13)
Kutipan-kutipan tersebut menunjukkan bagaimana masyarakat pada zaman itu membatasi kebebasan perempuan. Terdapat pandangan bahwa membawa seorang gadis ke rumah seorang bujang adalah hal yang melanggar adat-istiadat. Masyarakat percaya bahwa perempuan seharusnya tidak bepergian jauh atau bekerja di luar rumah, karena tempat mereka hanya di rumah saja sesuai dengan peraturan yang diterapkan pada gadis perempuan yang seharusnya berdiam diri di rumah dan tidak boleh berjumpa dengan laki-laki. Kutipan-kutipan tersebut perempuan pada masa itu sering kali dibatasi dan tidak diberikan kebebasan untuk berkembang.
Perjuangan Hamidah dalam Mempertahankan Kebebasan Perempuan
Karena di negeriku akulah pertama sekali membuka pintu pingitan bagi gadis-gadis, maka bermacamlah cacian yang sampai ke telinga kaum keluargaku. Orang negeriku pada masa itu terlalu bodoh dan kuno. Tak tahu mereka membedakan yang mana dikatakan adat dan yang mana pula agama. (halaman 15)
Pada permulaannya, kami dikatakan orang perempuan “kafir”, sebab sudah berjalan ke sana kemari, tidak pula berselendang yang akan menutup kepala. (halaman 17)
Suatu kali aku dipanggil bapakku, diceritakannya sekalian itu kepadaku. Dimintanya kepadaku, berbuat sesuatu pekerjaan yang tak layak, yang melanggar kesopanan umum. (halaman 16)
Anak-anak ini nanti tentu akan menjadi ibu yang lebih sempurna dari mereka dan akan lebih banyak berjasa kepada tanah air dan bangsanya. Hal inilah yang mendorongku akan mendirikan sebuah perkumpulan bagi kaum ibu. (halaman 17)
Kutipan-kutipan tersebut menggambarkan perjuangan dalam menghadapi pandangan masyarakat yang cenderung mempertahankan tradisi terhadap peran perempuan. Hamidah berusaha memberikan kebebasan bagi perempuan, meskipun harus menghadapi banyak cacian dan penolakan dari masyarakat dan keluarganya yang masih memegang teguh tradisi. Hamidah menjadi orang pertama yang berani melawan kebiasaan membatasi kebebasan perempuan. Ia membuka “pintu pingitan” bagi gadis-gadis di negerinya untuk hidup lebih bebas. Akan tetapi, tindakannya justru membuatnya dihina oleh masyarakat yang beranggapan bahwa perempuan seharusnya tidak keluar rumah dan hanya berperan di dalam rumah. Hamidah merasa dibatasi oleh pandangan masyarakat yang menganggap pergerakannya sebagai penyimpangan. Hamidah harus menghadapi banyak rintangan dan penolakan dengan tetap optimis dengan berencana mendirikan sebuah perkumpulan untuk kaum ibu dengan tujuan pemberdayaan perempuan agar mereka bisa melampaui peran tradisional yang sempit dan memberi dampak positif bagi dunia.
Pandangan Masyarakat tentang Peran Perempuan
Disangkanya aku seorang gadis, yang dengan mudah saja dapat dipermainkannya. Maklumlah seorang anak kapal yang masih muda remaja, barangkali perbuatan demikian sering dilakukannya terhadap kepada perempuan lain. Sesungguhnya engkau makhluk yang lemah, hai kaumku perempuan. Engkau menjadi permainan saja bagi laki-laki yang bengis. Tetapi, ya bagi seorang laki-laki seperti klerk kapal itu tak dapat kita sesalkan. Ia tak lagi mempunyai rasa kehormatan. Di muka seorang perempuan berani ia mengeluarkan perkataan yang kurang layak. (halaman 20)
“...Dah! Kukatakan kepadamu, bahwa apabila seorang laki-laki mengkehendaki seorang perempuan, ia tak takut merugi dalam hal apa saja; asal yang dimaksudnya itu sampai. Kemudian apabila telah puas, matanya memandang lagi kepada perempuan lain.” (halaman 22)
Perempuan! Perempuan yang berhati, berpikiran dan berkelakuan secara perempuan! Yang menghendaki lemah lembut! Yang pandai menanam kasih sayang! Jauh berbeda dari laki-laki. (halaman 41)
Perempuan-perempuan telah mendapat kemerdekaan sedikit demi sedikit keluar dari kurungan di rumah untuk mendapatkan udara luar. (halaman 44)
Ya, perempuan kata orang perempuan itu makhluk yang lemah. Laki-laki ialah yang kuat... Bukan sedikit orang yang ternama gagah, berani dan sebagainya bertakluk, ada kalanya binasa oleh perempuan. Kekuasaan perempuan atas laki-laki amat besar. (halaman 46)
Kutipan-kutipan tersebut menunjukkan bahwa perempuan dianggap lemah dan bisa dipermainkan, karena masyarakat sering menganggap mereka tidak berdaya. Hal ini menggambarkan pandangan yang berlaku pada masyarakat dengan memosisikan perempuan lebih rendah daripada laki-laki. Tidak hanya itu, perempuan sering kali hanya dianggap sebagai alat untuk memenuhi keinginan laki-laki, tanpa memperhitungkan perasaan atau kehormatan mereka. Perempuan dalam pandangan ini tidak diberi ruang untuk memiliki kontrol atas hidup mereka, meskipun masyarakat sering menganggap perempuan sebagai makhluk lemah. Sebenarnya, perempuan memiliki kekuatan besar, terutama dalam hal menjaga hubungan dan merawat orang-orang di sekitar mereka. Terdapat perubahan dalam cara pandang terhadap perempuan, karena mereka mulai memperoleh hak untuk hidup lebih bebas dan tidak hanya terpaku pada adat pingitan. Perlu diketahui bahwa perempuan bukan hanya makhluk lemah, tetapi memiliki kekuatan untuk mengubah banyak hal dalam masyarakat.
Tema
Masalah Kebudayaan
Dalam masyarakat yang masih sangat menjunjung tinggi adat, perubahan sering kali dianggap sebagai ancaman terhadap nilai-nilai yang dianggap suci dan tak tergantikan. Hal ini dapat dilihat dalam berbagai kebiasaan yang berkembang, seperti adat pingitan bagi perempuan, di mana mereka dibatasi ruang geraknya dan dilarang untuk tampil di ruang publik. Adat semacam ini, meskipun sering dikaitkan dengan nilai agama, sebenarnya lebih didorong oleh tradisi sosial yang membatasi kebebasan individu, khususnya perempuan. Di sisi lain, generasi muda yang mendapat pengaruh dengan perkembangan zaman dan pendidikan modern mulai menyadari pentingnya perubahan, untuk memberi ruang bagi perempuan agar memiliki kebebasan yang lebih besar dalam beraktivitas dan berperan dalam masyarakat. Namun, ketegangan ini sering kali menimbulkan konflik antara mereka yang berpegang pada adat istiadat dan mereka yang menginginkan pembaruan untuk menyesuaikan dengan kemajuan zaman. Hal tersebut dibuktikan melalui kutipan berikut.
“Perbuatanmu ini melanggar kesopanan adat istiadat negerimu sendiri. Adakah adat kita memperkenankan seorang bujang membawa gadis ke rumahnya?”
“Adakah perbuatan kami yang melanggar kesopanan umum? Bukankah ia kubawa kemari ditemani oleh seorang bibinya?”
“Melanggar kesopanan umum atau tidak, aku tak peduli. Tetapi, adat-istiadat di sini tak membiarkan perbuatanmu itu.” (halaman 11)
Kutipan ini menunjukkan pandangan paman Ridhan terhadap pelanggaran kesopanan adat. Dalam adat yang berlaku, seorang gadis tidak boleh sembarangan pergi ke rumah laki-laki yang bukan keluarganya, meskipun terdapat pendamping yang menjaga agar perbuatan mereka tetap sopan. Hal yang paling penting adalah tindakan tersebut sesuai dengan adat yang berlaku dan melawan pandangan masyarakat yang sangat terikat pada adat.
“Hai Ridhan, inikah yang dapat kaupelajari bertahun-tahun di Jakarta dahulu? Yang menelan ongkos bukan sedikit? Ah, ya sesungguhnya engkau telah rusak Ridhan. Engkau telah berani melanggar dan menghina adat negeri kita.”
“Saya menghormati dan menjalankan adat kita yang sepadan dengan waktu sekarang, Pak Ngah, tetapi ya, kita di Bangka ini memang belum mengetahui perubahan zaman,”
“Apa katamu? Kami di sini tak mengetahui pertukaran zaman? Zaman yang mana? Sungguh berani betul engkau melawan perkataan orang tua. Inilah kalau anak telah disekolahkan.” (halaman 13)
Kutipan-kutipan tersebut menggambarkan ketegangan antara generasi tua yang masih mempertahankan adat setempat dan generasi muda yang mulai menerima perubahan zaman. Ridhan mencoba menjelaskan bahwa ia tetap menghormati adat yang sesuai dengan zaman sekarang dan berusaha untuk menyampaikan bahwa ada perbedaan cara pandang yang perlu dimengerti, tetapi pamannya justru menganggap sebagai tindakan melawan orang tua dan budaya yang ada. Ridhan memiliki pemikiran lebih terbuka dan berkembang dengan melihat adanya kebutuhan untuk menyesuaikan adat dengan perkembangan zaman. Sementara itu, Pak Ngah mewakili pandangan masyarakat yang merasa bahwa mempertahankan adat yang ada adalah cara untuk menjaga kehormatan.
Terdapat banyak adat yang disangka sebagai bagian dari syariat agama, padahal sebenarnya tidak. Salah satunya adalah adat pingitan, yaitu kebiasaan yang mengharuskan gadis-gadis untuk dipingit atau dikurung di rumah dan tidak boleh terlihat oleh laki-laki yang bukan keluarga. Hamidah memperjuangkan perubahan terhadap adat ini dengan harapan agar perempuan bisa hidup lebih bebas, seperti saudara-saudara di tanah Jawa yang lebih maju dalam hal kebebasan perempuan. Hamidah menyadari bahwa adat pingitan ini telah membelenggu perempuan dan kebiasaan seperti ini harus diubah. Ia merasa bahwa tidak adil jika perempuan yang sudah dewasa tidak boleh keluar rumah atau tampil di depan umum. Ia ingin memperjuangkan hak-hak perempuan untuk mendapatkan kebebasan lebih, sehingga mereka bisa memiliki kesempatan yang sama seperti laki-laki untuk beraktivitas di luar rumah. Hal tersebut dibuktikan melalui kutipan berikut.
Kebanyakan daripada adat yang diadatkan disangkakan mereka sebagian juga daripada syariat agama. Gadis-gadis mesti dipingit, tak boleh kelihatan oleh orang yang bukan sekeluarga lebih-lebih oleh laki-laki. Adat inilah yang mesti aku perangi. Inilah yang kucita-citakan. Aku ingin saudara-saudaraku senegeri berkeadaan seperti saudara-saudaraku di tanah Jawa. (halaman 15)
Mendengar ini insaflah kami akan kesalahan kami. Kami lupa bahasa anak-anak perempuan di negeri kami, manakala sudah besar sedikit, tak boleh lagi keluar rumah. Usahakan berjalan, memperlihatkan diri dari jalan saja tidak boleh. Adat pingitan....! (halaman 42)
Selain itu, kutipan lainnya juga menggambarkan masalah kebudayaan yang dibuktikan melalui kutipan berikut.
Karena bapakku tiap-tiap hari mengantar dan menjemputku ke sekolah, ia dipandang orang kebelanda-belandaan, sebab menurut pengetahuan orang-orang itu hanya orang kulit putih saja yang beradat demikian. (halaman 16)
Tak pula jarang kedengaran oleh kami mereka memperkatakan bapakku, sebab selalu membawa aku menonton bioskop. (halaman 16)
Kutipan-kutipan ini menggambarkan ayah Hamidah yang selalu mengantar dan menjemputnya ke sekolah dipandang oleh masyarakat sekitar sebagai orang yang “kebelanda-belandaan.” Hal ini menunjukkan betapa kuatnya pengaruh adat dan budaya setempat dalam menilai perilaku seseorang. Pada masa itu, kebiasaan seperti ini dianggap tidak sesuai dengan adat setempat. Masyarakat menganggap bahwa hanya orang Belanda saja yang dapat bersekolah. Selain itu, masyarakat menganggap menonton bioskop adalah aktivitas yang tidak pantas untuk dilakukan oleh perempuan. Hal ini digambarkan bahwa perempuan dianggap tidak pantas untuk menikmati hiburan yang lebih bebas atau publik. Adat yang berlaku menganggap perempuan harus tetap berada di rumah, jauh dari tempat-tempat umum yang dianggap tidak sesuai dengan peran mereka.
Masalah Ekonomi
Dalam novel Kehilangan Mestika karya Hamidah, masalah ekonomi menjadi tema yang sangat penting dalam perjalanan hidup. Kesulitan ekonomi mempengaruhi kualitas hidup dan keputusan yang diambil, namun juga menunjukkan bahwa melalui ketekunan dan usaha yang tidak kenal menyerah. Hamidah dan keluarganya mampu mengatasi tantangan ekonomi dan mencapai keberhasilan atas tekad dan kerja keras. Hal tersebut dibuktikan oleh beberapa kutipan di bawah ini.
Karena uangku tak banyak, terpaksa aku menumpang di dek saja. Sambil berbaring di kursi lipat yang kusewa, melihat-lihat keadaan tempat yang kami lalui, macam-macamnya angan-angan yang datang. (halaman 39)
Kutipan ini menggambarkan kesulitan ekonomi bisa membatasi pilihan hidup seseorang, bahkan untuk hal-hal yang biasanya bisa dinikmati oleh orang lain. Adanya keterbatasan finansial Hamidah tidak bisa menikmati perjalanan dengan nyaman, hal ini menggambarkan usaha untuk bertahan dan memiliki harapan meskipun dalam keadaan sulit.
Di tengah perputaran ekonomi yang penuh tantangan, hidup tidak selalu menawarkan kemudahan. Seiring berjalannya waktu, di tengah ketidakpastian dan ketegangan, ada momen-momen yang mengubah arah hidup, memberi pelajaran tentang pentingnya adaptasi dan tekad. Begitu juga dengan perjalanan hidup keluarga Hamidah, meskipun dihadapkan dengan berbagai rintangan, mampu menemukan kembali cahaya di tengah kegelapan. Dari kegagalan yang mendera, mereka belajar untuk terus berusaha dan akhirnya meraih keberhasilan yang tak terduga.
Perusahaan kami di Palembang jauh lebih maju daripada di Jakarta, negeri yang tak terdesak oleh segala mata pencaharian, sedang Palembang negeri dagang yang kayaraya. (halaman 78)
Untuk menambah pendapatan, aku bekerja pada sebuah perguruan partikelir. Beberapa lamanya kami hidup begitu dalam kerukunan dan kesenangan, musim malaise bertambah hebat juga. Bukan sedikit perusahaan yang jatuh. Ribuan kaum buruh jadi menganggur. Perusahaan ipar dan suamiku luput pula... Akhir-akhirnya terpaksa ditutup saja. Suamiku menjadi seorang penganggur. Mertuaku selalu saja sakit-sakit hingga ongkos dokter dan obat amat besar. Sebab suamiku ada juga mempunyai ijazah untuk mengajar, kuminta kepada pengurus perguruan tempatku bekerja supaya aku digantikan saja oleh suamiku. Permintaanku itu diperkenankan...suamiku bekerjalah sebagai seorang guru dengan gaji lima puluh rupiah. Uang ini tentu saja jauh dari kata cukup. (halaman 79)
Dengan uang itu, kami coba lagi membuka perusahaan baru rupanya bintang kami masih terang. Perusahaan itu maju. Di dalam waktu beberapa tahun saja, kami sudah boleh dikatakan menjadi orang yang berada. (halaman 80)
Kutipan-kutipan ini menggambarkan Hamidah dan keluarganya menghadapi tantangan besar dalam kehidupan mereka, terutama dalam hal ekonomi. Di awal, mereka merasakan kemajuan dengan perusahaan yang sukses, namun seiring waktu, krisis ekonomi datang dan menghancurkan banyak usaha, termasuk usaha keluarga mereka. Suami Hamidah menjadi pengangguran, dan mertuanya sering sakit sehingga menambah beban finansial mereka. Hamidah dengan bijak mencari solusi dengan meminta agar suaminya menggantikan posisinya di tempat kerja, meskipun gaji yang diterima sangat kecil dan tidak cukup untuk memenuhi kebutuhan, mereka tetap mencoba untuk bertahan. Akhirnya, mereka memutuskan untuk membuka usaha baru. Dengan kerja keras dan ketekunan, perusahaan baru mereka mulai berkembang dan berhasil. Dalam waktu singkat, mereka kembali mencapai kesuksesan.
Kutipan ini menggambarkan semangat untuk terus berusaha meskipun menghadapi kegagalan dan kesulitan. Ketika satu pintu tertutup, mereka berusaha mencari jalan lain, dan melalui tekad serta kerja keras, mereka bisa bangkit dan meraih sukses kembali. Ini menunjukkan bahwa dalam hidup tidak ada yang mudah, tetapi dengan usaha yang tak kenal putus asa, kita bisa menemukan jalan menuju keberhasilan.
Masalah Perjuangan
Perjuangan untuk mengubah keadaan sering dimulai dengan niat yang kuat untuk memberikan kesempatan yang lebih baik bagi orang lain, terutama dalam hal pendidikan. Dahulu, perempuan sering kali tidak mendapat akses yang sama untuk belajar. Akan tetapi, dengan tekad dan usaha keras, perubahan perlahan-lahan bisa terjadi. Dalam novel ini, Hamidah berjuang untuk mengajarkan perempuan agar bisa membaca, menulis, dan memiliki keterampilan yang berguna. Berkat kerja keras dan kesabaran, ia berhasil mendirikan perguruan yang membuka kesempatan bagi perempuan untuk belajar dan mengubah hidup mereka. Perjuangan ini menunjukkan betapa pentingnya pendidikan dalam memberi peluang dan menciptakan perubahan positif bagi masyarakat. Hal ini dibuktikan melalui kutipan berikut.
Hampir setiap malam aku didatangi orang yang mengajak berunding mencari daya upaya, supaya saudara-saudaraku yang tidak mengenal mata surat diberi kesempatan untuk belajar. Ya sungguh mulia cita-cita mereka! Mereka menyuruh aku berusaha sedapat-dapatnya dan di dalam segala pekerjaan mereka sanggup menolongku. Pada sangkaku apabila akan memperbaiki sesuatu bangsa mestilah dimulai dengan putri-putri bakal ibu. (halaman 16 & 17)
Berkat giatnya kami bekerja maka perkumpulan itu pun makin hari makin maju juga. Kursus segera diadakan dan diutamakan sekali yaitu membaca dan menulis. Kerja tangan dan memasak pun tak ketinggalan. (halaman 17)
Setelah kupikir, terkenanglah olehku, bahwa orang di negeriku boleh dihitung yang pandai membaca dan menulis. Sebab itu kutetapkan hatiku, akan mendirikan sebuah perguruan bagi anak-anak perempuan, untuk mengajar membaca, menulis, berhitung, bahasa Belanda sedikit-sedikit, begitu pula sekalian keperluan rumah tangga. (halaman 42)
Jadi sekarang cara kami bekerja terpaksa ditukar. Kami berganti-ganti pergi mengunjungi orang yang berhajat pertolongan kami untuk menerangi buta huruf. Dengan berkat rajin dan sabar, berhasillah pekerjaan kami. Bukan sedikit gadis-gadis dan ibu-ibu yang telah pandai membaca dan menulis. (halaman 43)
Pada waktu inilah bintangku bersinar seterang-terangnya. Aku boleh dikatakan dikenal oleh tiap-tiap orang negeriku. Aku dihormati oleh sekaliannya. Di mana saja ada orang mengadakan keramaian aku tetap dipanggil orang. Dan... dalam hal demikian, tak kurang pula aku menerima surat dari pemuda-pemuda yang ingin hendak berkenal-kenalan dengan daku. (halaman 43)
Kutipan-kutipan tersebut menggambarkan Hamidah yang memperjuangkan perubahan sosial melalui pendidikan untuk perempuan. Dalam konteks masyarakat yang masih terbelakang terutama dalam hal pendidikan perempuan. Hamidah melihat bahwa untuk memajukan bangsa, perempuan harus mendapatkan akses yang sama untuk belajar. Melalui tekadnya, ia berusaha menghapuskan kebodohan yang banyak mengikat perempuan pada saat itu. Ia percaya bahwa jika perempuan diberi kesempatan untuk belajar, mereka tidak hanya dapat meningkatkan kualitas hidup pribadi, tetapi juga berkontribusi pada kemajuan masyarakat secara keseluruhan.
Melalui pendirian perguruan untuk perempuan, Hamidah ingin memberikan kesempatan kepada mereka yang sebelumnya terhalang oleh adat dan kondisi sosial untuk memperoleh pengetahuan dasar, seperti membaca, menulis, dan berhitung. Usahanya tidak hanya terbatas pada pendidikan formal, tetapi juga pada keterampilan rumah tangga yang pada masa itu dianggap penting bagi perempuan. Akan tetapi, perjuangannya menghadapi banyak tantangan, mulai dari keterbatasan sumber daya hingga penolakan dari mereka yang berpegang pada adat istiadat.
Atas kerja keras dan ketekunan, Hamidah berhasil membawa perubahan. Kursus yang ia dirikan berkembang pesat, dan banyak perempuan yang sebelumnya buta huruf akhirnya mendapatkan kesempatan untuk belajar. Keberhasilannya ini tidak hanya membuatnya dihormati oleh masyarakat, tetapi juga menginspirasi banyak orang untuk menghargai pentingnya pendidikan bagi perempuan. Hamidah menjadi contoh nyata dari perjuangan yang membawa dampak positif bagi kehidupan perempuan dan masyarakat secara luas dengan menunjukkan perubahan sosial bisa dimulai dari langkah kecil yaitu pendidikan.
Masalah Cinta Kasih Antar Sesama
Tokoh Ridhan
Kisah cinta antara Hamidah dengan Ridhan yang penuh dengan perasaan dan konflik internal. Ketika Ridhan menolak kehendak pamannya yang ingin menjodohkannya dengan saudara kandungnya, Hamidah menjadi salah satu sosok yang ikut terlibat dalam perjuangan Ridhan untuk menentukan jalan hidupnya. Cinta antara Hamidah dan Ridhan pun tidak hanya sekadar hubungan emosional, tetapi juga penuh dengan pengorbanan, di mana keduanya harus menghadapi tekanan dari luar, termasuk keluarga dan lingkungan sekitar. Namun, kisah cinta mereka menunjukkan bagaimana perasaan yang tulus dapat terhalang oleh keadaan dan takdir yang tak bisa dikendalikan. Hal tersebut dibuktikan dalam kutipan berikut.
Pamannya itu akan mengkawinkan dia dengan anaknya sendiri, misan kandung Ridhan. Beberapa bulan lagi pertunangan itu akan diumumkan dan tak lama kemudian akan disusul pula dengan perkawinan. Tetapi Ridhan berkata, bahwa ia sekali-kali tak mau dikawinkan sedemikian itu... Dimintanya kepadaku akan menolong di dalam hal ini. Aku pun berjanji dengan ikhlas akan berbuat segala sesuatu pekerjaan yang dapat menyelamatkan dirinya. (halaman 13 & 14)
“Sudah lupakah engkau dengan janjimu itu, Dah?”
“Aku kawin dengan engkau. Jawablah Dah! Maukah engkau menjadi istriku?” (halaman 25)
“Ya Ridhan, baiklah! Aku serahkan diriku kepadamu.” (halaman 27)
“Terimalah ini sebagai pemberianku kepadamu,” (halaman 28)
“...Dah, jangan engkau berjanji demikian. Aku tak pula mau membuat perjanjian yang seperti itu terhadap dirimu, manakala engkau terpaksa pula membiarkan daku hidup sebatang kara.” (halaman 33)
Kutipan-kutipan tersebut menggambarkan konflik yang dialami oleh tokoh Ridhan. Pamannya berusaha menjodohkan Ridhan dengan sepupunya, yang merupakan anak kandung pamannya. Namun, Ridhan menolak keputusan tersebut karena merasa bahwa perkawinan itu bukanlah pilihan yang dia inginkan. Dalam situasi tersebut, Ridhan meminta bantuan Hamidah yang diharapkan bisa menolongnya keluar dari tekanan keluarga yang memaksakan kehendak tersebut. Keputusan Ridhan untuk menolak dijodohkan menggambarkan perjuangannya dalam mencari kebebasan pribadi dan hak untuk memilih pasangan hidup. Dia tidak ingin dipaksa untuk menikah hanya demi kepentingan keluarga.
Ridhan mengambil keputusan besar untuk menikahi Hamidah sebagai bentuk pengorbanan dan komitmen. Hal ini menggambarkan adanya dilema dalam cinta dan hubungan antara individu dengan keluarga, di mana sering kali seseorang harus memilih antara kebebasan pribadi dan kewajiban terhadap keluarga atau tradisi. Ridhan dan Hamidah saling memberikan pengertian dan pengorbanan, namun di sisi lain, pengorbanan ini justru semakin mengikat mereka dalam sebuah perjanjian.
Surat-surat dari Ridhan tak dapat tiada ditahannya dan entah dipengapakannyalah agaknya menurut sekehendak hatinya, ataupun perintah yang diterimanya... Penghabisan sekali dikatakan oleh Ahyar, bahwa Ridhan pada waktu itu sedang dioperasi di Rumah Sakit Umum di Jakarta.
Tak berapa hari kemudian datanglah pula Akhyar kepadaku membawa sehelai telegram yang diterimanya dari Singapura, mengatakan bahasa Ridhan pada hari tersebut dalam telegram itu sudah meninggal dunia dengan tiba-tiba. Mendengar itu telingaku mendesing, badanku menjadi lemah, akhirnya, ya, apa yang terjadi sesudah itu taklah kuketahui. (halaman 36)
Terasa-rasa olehku itu, bahwa matinya itu tak lain daripada dianiaya orang saja. Cobalah! Bapaknya dahulu seorang yang kaya raya. Ketika ia meninggal sekaliannya dipercayakannya kepada saudaranya itu, yaitu paman Ridhan yang hanya seorang itu saja. Bukankah ialah yang menghendaki supaya Ridhan kawin dengan anaknya? Ridhan menolak... Kemudian waktu Ridhan baru saja sembuh dibedah, dikehendakinya supaya ia pergi ke Singapura untuk sesuatu perkara. Dan... beberapa hari saja ia di situ datang kawat mengatakan ia meninggal. (halaman 38)
... Pada saat itulah ia mengaku kesalahannya. Ialah yang seolah-olah membunuh Ridhan, sebab karena perbuatannyalah maka Ridhan, meninggal... Di dalamnya tersebut, bahwa sekalian peninggalan Ridhan diserahkannya kepadaku.” (halaman 80)
Kutipan-kutipan tersebut menggambarkan perasaan dan kecurigaan yang muncul setelah kematian Ridhan. Diceritakan bahwa Ridhan mengalami perawatan medis di Jakarta setelah suatu operasi, tetapi beberapa hari setelah itu, datang kabar bahwa ia meninggal mendadak di Singapura. Kematian Ridhan yang mendadak dan tanpa penjelasan yang jelas menimbulkan rasa curiga, Hamidah merasa ada pihak yang sengaja menyebabkan kematian Ridhan. Paman Ridhan sebelumnya berusaha menjodohkan Ridhan dengan anaknya, namun Ridhan menolak. Hal ini menambah kecurigaan bahwa mungkin ada hubungan antara penolakan Ridhan terhadap perjodohan dan kematiannya. Kemudian, setelah Ridhan meninggal, pamannya mengakui bahwa perbuatannya mungkin menyebabkan kematian Ridhan, dan akhirnya menyerahkan semua harta peninggalan Ridhan kepada Hamidah sebagai bentuk penebusan dosa.
Kematian Ridhan yang mendadak ini menggambarkan betapa perasaan tertekan dan konflik dalam keluarga bisa berujung pada tragedi. Selain itu, pengakuan pamannya menunjukkan adanya rasa bersalah yang mendalam, bahkan meskipun ia mungkin tidak secara langsung menyebabkan kematian Ridhan. Ini juga mencerminkan tema tentang pengorbanan, kesalahan, dan keadilan dalam kehidupan keluarga yang rumit dan penuh intrik. Kematian Ridhan menjadi simbol dari ketidakadilan yang terjadi dalam keluarga, serta pengaruh kuat dari kekuasaan dan kepentingan pribadi.
Tokoh Anwar
Cinta sering kali datang dengan berbagai perasaan dan tantangan. Tokoh Anwar menunjukkan sisi lain dari cinta, yaitu persaingan dan perasaan ingin memiliki seseorang. Dalam kisahnya, Anwar harus menerima kenyataan bahwa cinta tidak selalu sesuai dengan harapannya. Terkadang, kita harus merelakan orang yang kita cintai agar mereka bisa bahagia dengan orang lain. Hal ini menggambarkan betapa rumitnya perasaan manusia dalam menghadapi cinta yang melibatkan banyak orang, serta membuat keputusan yang sulit demi kebahagiaan orang lain. Hal tersebut dibuktikan kutipan berikut.
“Dekat-dekatkah kepadaku, supaya perkataan kita tak dapat didengar orang lain.” (halaman 47)
“Aku dan Idrus telah lama sudah lama memperebutkan engkau, meskipun perbuatan itu baru sekarang kentara benar. Kini kami tak dapat dan tak mau berlindung-lindung lagi. Salah seorang di antara kami mesti kecewa melihat engkau di dapat oleh orang yang beruntung. Kami masing-masing tak mau mengalah begitu saja. Kami menunggu keputusan akan engkau sendiri. Siapakah di antara kami yang engkau pilih menjadi kawanmu sehidup semati, yang dapat memberi cinta daripadamu?” (halaman 48)
Akan kupilih Idrus terbayang-bayang pula olehku Anwar yang bagus dan sehat. Alangkah tangkasnya dia melompat dan berlari! Terlihat-lihat olehku kesigapannya terjun menolongku tempoh hari, ketika aku hampir tewas tergelincir di pantai Tanjung Kalian, ketika kami pada suatu hari pergi berjalan ke tempat itu. Gajinya lebih besar daripada Idrus, bapaknya orang berada pula, tetapi ia sendiri sekarang yang pemboros. Kelakuannya terhadap orang tua-tua, kerap tak berkenan di hatiku. (halaman 51)
Kutipan tersebut menggambarkan konflik cinta yang terjadi antara Anwar dan Idrus, sama-sama ingin memenangkan hati Hamidah. Keduanya tidak mau mengalah dan terus berusaha menarik perhatian Hamidah. Dalam hal ini, Hamidah berada dalam posisi yang sulit karena harus memilih antara Anwar yang tampak lebih kaya dan berstatus sosial tinggi, namun memiliki sifat pemboros dan kurang menghormati orang tua, serta Idrus yang lebih sederhana tetapi mungkin lebih bisa diandalkan.
Konflik ini menunjukkan bahwa dalam cinta, tidak hanya perasaan atau penampilan yang penting, tetapi juga karakter dan sikap seseorang. Anwar tampak lebih menguntungkan secara materi, namun sifat buruknya membuat Hamidah ragu. Ini mengajarkan bahwa dalam memilih pasangan, kita perlu mempertimbangkan lebih dari sekadar kekayaan atau penampilan, tetapi juga cara seseorang menghargai nilai-nilai kehidupan yang lebih dalam.
... Akan kuikhtiar sedapat-dapatnya supaya hati Anwar jangan rusak. Aku akan mencarikan baginya seorang perempuan lain... Tetapi akhirnya, terkenang olehku, bahwa Anwar dekat juga persahabatannya dengan Rukiah seorang kawanku. Dan aku bermaksud akan merapatkan dan mengubah persahabatan itu menjadi hubungan yang lain... (halaman 51 & 53)
Dari jauh kulihat orang yang kutunggu-tunggu. Ia berjalan dengan Anwar yang pada waktu itu sudah menjadi suami istri yang beruntung dengan Rukiah. (halaman 74)
Kutipan-kutipan tersebut menggambarkan sosok Hamidah yang merasa harus bertanggung jawab atas hati Anwar dan berusaha untuk melindunginya agar tidak terluka. Awalnya, dia berencana untuk mencari pasangan lain bagi Anwar, mungkin untuk mengalihkan perhatiannya agar tidak terfokus pada perempuan yang ia cintai. Akan tetapi, setelah mengetahui bahwa Anwar memiliki kedekatan dengan Rukiah sahabatnya, ia mulai merencanakan untuk memperkenalkan keduanya agar menjadi pasangan.
Pada akhirnya, Anwar dan Rukiah benar-benar menjadi pasangan hidup. Hal ini menunjukkan Hamidah yang memiliki niat baik untuk menjaga hati Anwar, akhirnya menyadari bahwa cinta dan hubungan tidak bisa dipaksakan. Walaupun niat awalnya adalah untuk melindungi, ternyata semua berjalan sesuai takdir, Rukiah serta Anwar akhirnya menikah. Hal ini mengajarkan bahwa dalam hubungan, terkadang kita harus membiarkan segala sesuatunya mengalir secara alami dan menerima kenyataan yang ada, meskipun awalnya kita mungkin merasa khawatir atau ragu.
Tokoh Idrus
Perjalanan cinta yang penuh dengan pilihan sulit dan pengorbanan. Hamidah harus memilih antara Anwar dan Idrus. Meskipun Anwar lebih tampan dan kaya, Hamidah memilih Idrus karena kebaikan hati dan kesabarannya. Namun, hubungan mereka tidak berjalan lancar. Setelah bercerai, mereka berjanji untuk tetap berkomunikasi lewat surat, tetapi surat-surat Idrus tidak sampai ke Hamidah karena disembunyikan oleh saudaranya. Akhirnya, Hamidah mengetahui bahwa Idrus menyesal dan ingin meminta maaf, tetapi pada saat itu, Hamidah sudah memilih jalan hidupnya sendiri. Cerita ini menunjukkan bahwa meskipun cinta kuat, keputusan hidup sering dipengaruhi oleh keluarga dan lingkungan. Hal ini dibuktikan melalui kutipan berikut.
Perhubunganku dengan Idrus telah sampai kepada orang tua kami masing-masing. Meskipun kaum keluarga Idrus kurang setuju kepadaku, tetapi untuk menjaga keselamatan Idrus orang tuanya pura-pura berkenan mengambil aku menjadi menantu mereka. (halaman 57)
Kutipan tersebut menggambarkan Hamidah yang sedang berada di persimpangan dalam memilih antara dua pria, Anwar dan Idrus. Anwar tampak lebih sempurna secara fisik dan material, namun Hamidah akhirnya memilih Idrus karena sifat-sifatnya yang lebih mendalam dan tulus. Idrus mungkin tidak memiliki kekayaan, namun kebaikan hatinya, ketulusan, dan kemampuan musiknya membuat Hamidah terkesan. Idrus juga sabar dan selalu membantu Hamidah meskipun tanpa diminta.
Hal ini menunjukkan bahwa Hamidah lebih menghargai kualitas batin dan kepribadian seseorang dibandingkan dengan faktor luar seperti kekayaan atau penampilan fisik, meskipun sudah memilih Idrus, Hamidah tetap merasa tidak ingin mengecewakan Anwar yang mungkin juga memiliki perasaan terhadapnya. Konflik ini menunjukkan bahwa meskipun Hamidah sudah memutuskan, ia tetap mempertimbangkan perasaan orang lain dan tidak ingin menyakiti siapa pun.
Perceraianku dengan Idrus amat berat rasanya, tetapi kami berjanji akan berkiriman surat. (halaman 58)
Telah sebulan aku di Jakarta, tetapi beluk sekali pun juga aku menerima surat dari Idrus, walaupun aku sendiri telah pernah berkirim surat kepadanya, menceritakan hal ihwalku... Heran aku memikirkan hal ini. Sakitkah ia? Sudah kena pengaruh bibinyakah ia? Bibinya yang dalam segala hal benci kepadaku? Atau... disengajakannyalah akan mempermain-mainkan daku? Tetapi, biarlah aku sabar. Aku tunggu barang seminggu lagi. Kalai tak juga ada, akan kuusahakan mencari keterangan. (halaman 59)
Rupa-rupanya ia sudah mengirim surat kepadaku, tetapi surat itu tak sampai ke tanganku, sehingga ia tak mendapat balasan.
Tentu surat itu dipegang oleh saudaraku. Sengaja tak diberikannya kepadaku. Sekarang aku mulai mengerti. Pantas ia selalu bertanya kepadaku tentang Idrus. Menilik pada perkataannya ia benci kepada kekasihku itu. (halaman 61)
Ingat-ingatlah engkau. Jangan berkawan terlalu rapat dengan Idrus, seorang yang berkelakuan kurang baik itu. Aku telah lebih dahulu mengenalnya daripada engkau. Kepadamu dan di mukaku tentu saja ia akan berlaku sebaik-baiknya, karena ada yang diharapkannya. Engkau tabu! Kaini tidak mau mendapatkan malu. (halaman 62)
Surat ini besok akan kumasukkan ke pos. Sekiranya saudaraku tak mengizinkan aku pergi, akan kuminta pertolongan Rosia.
Sebulan telah lalu! Aku belum juga mendapat surat dadi Idrus. Hatiku mulai cemas. (halaman 66)
...Surat Idrus tak juga datang-datang. Setiap hari Rosia lalu tak singgah-singgah ke rumah. (halaman 70)
Mengapa engkau tak membalas suratku? (halaman 74)
“Cobalah baca, dari mana kau dapat surat ini? Masih adakah yang lain?”
“Surat-surat itu buatan saudaraku sendiri ataupun orang lain... Tak ada orang lain daripada engkau sendiri... Akan sekarang aku telah menjadi istri orang. Sambutlah tanganku ini sebagai permintaan maaf dan biarlah kini kuta bercerai.”
“Perkataanmu itu kupercayai. Cuma saja anggapanmu tentang cintaku sekali-kali tak benar. Karena kebesaran cintaku padamulah makanya aku menarik diri, makanya suratmu aku diamkan. Sebabnya aku insaf-seinsafnya akan kata saudaramu itu, aku hanyalah orang miskin, bergaji kecil...” (halaman 75)
Kutipan-kutipan tersebut menggambarkan perjalanan emosional Hamidah setelah ia berpisah dengan Idrus, serta kekeliruan dan kekecewaan yang ia rasakan karena tidak mendapat balasan surat dari Idrus. Setelah berpisah, meskipun keduanya berjanji untuk tetap saling berkomunikasi, Hamidah merasa kebingungannya karena Idrus tidak mengirim surat. Ia mulai meragukan apakah Idrus sengaja mengabaikannya atau ada pengaruh dari orang lain, seperti bibinya yang tidak menyukainya. Ketika Hamidah mengetahui bahwa surat dari Idrus sebenarnya sudah dikirimkan tetapi tidak sampai kepadanya, ia merasa semakin kecewa dan bingung.
Faktor eksternal yang memengaruhi hubungan mereka, seperti campur tangan keluarga, terutama sikap negatif saudara Hamidah terhadap Idrus, sangat berperan dalam menambah konflik. Saudara Hamidah yang tidak menyukai Idrus bahkan menasihati Hamidah untuk menjauh dari Idrus, menciptakan rasa ketidakpercayaan dan semakin mempersulit komunikasi antara mereka. Meskipun Hamidah berusaha sabar dan menunggu, ketidakhadiran surat dari Idrus membuatnya merasa cemas dan semakin tertekan.
Ketika surat akhirnya datang, isi surat tersebut menunjukkan bahwa Idrus tidak sepenuhnya menyalahkan Hamidah, melainkan ia merasa bahwa cintanya ditarik karena masalah ekonomi dan status sosialnya yang rendah, sesuai dengan pandangan saudara Hamidah. Hubungan Hamidah dengan Idrus terhambat oleh perbedaan sosial, tekanan dari keluarga, dan ketidaktahuan satu sama lain tentang perasaan yang sebenarnya. Hal ini menggambarkan ketidakmampuan mereka untuk saling memahami dan komunikasi yang terganggu oleh faktor luar, yang pada akhirnya memicu keputusan untuk berpisah, meskipun cinta antara keduanya masih ada.
Sebelas hari aku di Mentok, pada suatu petang Jumat suami Aniah datang kepadaku mengatakan bahasa Idrus, kekasihku yang dahulu, yang waktu ini tinggal membujang sedang sakit keras dan ingin bertemu dengan daku. (halaman 86)
“Dah! A...ku merasa amat beruntung dapat meninggal di hadapanmu. Aku tahu! Aku mesti mati. Maafkan kelalaianku dahulu menyia-nyiakan cintamu yang suci. Cukuplah aku menderita, aku menghukum diriku. Maafkan akan daku, terima kasih banyak.” (halaman 87)
Kutipan-kutipan tersebut menggambarkan momen terakhir antara Hamidah dan Idrus yang penuh dengan penyesalan dan permintaan maaf. Setelah sekian lama berpisah, Hamidah menerima kabar bahwa Idrus, kekasihnya yang dulu, sedang sakit keras dan ingin bertemu dengannya. Pada pertemuan tersebut, Idrus mengungkapkan penyesalannya yang mendalam atas kesalahan-kesalahan yang telah ia buat di masa lalu. Ia merasa bahwa dirinya tidak pantas mendapatkan cinta Hamidah karena telah menyia-nyiakan hubungan yang suci dan penuh pengorbanan. Ia juga mengungkapkan bahwa ia telah menjalani penderitaan sebagai bentuk hukuman atas kesalahan tersebut, dan berterima kasih kepada Hamidah atas cinta yang pernah diberikan.
Hal ini menggambarkan bahwa sering kali manusia baru menyadari pentingnya sesuatu setelah kehilangannya, meskipun penyesalan itu ada, tidak selalu ada kesempatan untuk memperbaikinya. Konflik internal yang dialami Hamidah juga terlihat jelas, ia harus menerima kenyataan bahwa hubungan yang penuh harapan tersebut harus berakhir dengan cara yang sangat menyakitkan. Ini juga menggambarkan betapa kuatnya pengaruh sosial dan keluarga dalam menentukan arah hubungan dan pilihan hidup seseorang, meskipun cinta sejati itu ada.
Tokoh Rusli
Dalam kehidupan Hamidah, cinta sering kali dipengaruhi oleh tekanan dari keluarga dan lingkungan sekitar. Cinta yang seharusnya menjadi hubungan pribadi dan emosional, kadang terpaksa dipengaruhi oleh keputusan-keputusan yang lebih praktis. Begitu juga dengan hubungan Hamidah dan suaminya Rusli, meskipun mereka sudah lama menikah dan tampak bahagia, kenyataan hidup membawa masalah baru, yaitu ketidakmampuan mereka untuk memiliki anak. Keputusan Rusli untuk menikah lagi dengan tujuan mendapatkan keturunan membuat Hamidah merasa cemas dan sedih. Perasaan Hamidah semakin rumit karena perhatian suaminya mulai terbagi dengan istri mudanya yang baru melahirkan anak. Perubahan ini membuat Hamidah merasa terabaikan dan cemburu. Hal ini dibuktikan melalui kutipan berikut.
“Engkau telah kupandang sebagai adik kandungku sendiri. Engkau sudah menjadi isi rumah kami, sebagian daripada darah daging kami... Ada seorang pemuda yang menghendaki engkau. Siapa dirinya dan di mana diamnya sekarang belum perlu engkau ketahui. Ia seorang yang berperangai baik, pelajarannya mencukupi, jauh lebih tinggi dari engkau sendiri. (halaman 71)
“...Lekaslah berikan jawaban itu. Seboleh-bolehnya sekarang juga.”
“pikirlah dahulu barang seminggu. Tetapi biasanya siapa diam tanda setuju. Bukankah begitu?” (halaman 72)
Jawaban “ya” daripadaku telah kuberikan. Tak lama lagi itu akan dilangsungkan... sekaliannya telah demikian diatur oleh saudaraku, sehingga tak sampai sejam kemudian penghulu telah melakukan kewajibannya mengikatkan daku kepada Rusli. (halaman 74)
Kutipan ini menggambarkan sosok Hamidah yang mengalami tekanan dari pihak keluarga dalam hal keputusan pernikahan. Keputusan tersebut tidak sepenuhnya berasal dari kehendaknya sendiri, tetapi lebih kepada keputusan yang sudah diatur oleh keluarganya. Dalam hal ini, Hamidah keluarganya merasa berhak menentukan masa depan pribadinya, termasuk soal pernikahan. Pemuda yang disebutkan dalam kutipan ini adalah Rusli yang dianggap sebagai pilihan baik karena memiliki sifat yang baik dan pendidikan yang lebih tinggi daripada Hamidah. Hamidah diberi waktu yang sangat singkat untuk mempertimbangkan keputusan tersebut, bahkan dalam waktu yang singkat, ia sudah dipaksa untuk memberikan jawaban.
Ini menunjukkan betapa kurangnya kebebasan yang dimiliki Hamidah untuk menentukan pilihan hidupnya sendiri. Hamidah merasa tertekan oleh keluarga yang lebih mengutamakan status sosial dan kesejahteraan materi daripada mempertimbangkan keinginannya sendiri, meskipun ia mungkin belum sepenuhnya siap, Hamidah merasa terpaksa memberi jawaban “ya” dan menikah dengan Rusli. Kejadian ini mencerminkan betapa sulitnya bagi Hamidah untuk mendapatkan kendali atas kehidupannya, terutama dalam konteks sosial yang sangat memengaruhi keputusan pribadinya.
Telah lebih sepuluh tahun kami hidup secara suami istri. Tetapi biar bagaimanapun keinginan kami akan mendapat keturunan, tidak juga disampaikan Tuhan.
Pada suatu hari, ia datang kepadaku. Diceritakannya bagaimana susahnya nanti, apabila kita tak ada keturunan. Sebab itu ia meminta kepadaku akan kawin lagi dengan maksud akan mendapatkan anak... dua belah pihak setuju dan tak lama kemudian kawinlah suamiku sekali lagi, dengan seorang gadis yang baru berumur tujuh belas tahun. (halaman 81)
Lebih kurang setahun setelah perkawinan, ia melahirkan seorang anak laki-laki yang amat sehat. (halaman 81)
Suamiku, meskipun ia berumah dua, tetapi ia bersifat adil... Tetapi sekali-kali manakala ia pergi ke rumah maduku, aku merasa sedih yang amat sangat. Lama-kelamaan sebab suamiku sudah tak memedulikan daku lagi , kupandang maduku itu sebagai perempuan yang bengis, tak tahu akan keadilan, tamak, suka merampas hak orang lain... (halaman 82)
“...Esok pagi aku pergi kepada penghulu menceritakan hal ini. Bagaimana? Setujukah engkau?”
Keesokan harinya sesudah surat cerai kuterima, berkemaslah aku, sebab aku mengambil putusan akan kembali saja ke negeriku. (halaman 84)
Kutipan-kutipan tersebut menggambarkan perasaan Hamidah setelah lebih dari sepuluh tahun menikah dengan Rusli dan belum memiliki anak. Adanya keinginan untuk memiliki anak, suami Hamidah memutuskan untuk menikah lagi dengan seorang gadis muda yang diharapkan bisa memberinya keturunan, meskipun Hamidah setuju dengan keputusan suaminya, perasaannya semakin terabaikan setelah suaminya melahirkan seorang anak dari istri muda tersebut.
Rusli berusaha berlaku adil, namun Hamidah merasa sedih dan kesepian karena suaminya lebih memperhatikan istri mudanya. Lama kelamaan Hamidah merasa kesal terhadap istri muda suaminya yang dianggapnya tamak dan tidak adil. Perasaan ini semakin membuat Hamidah merasa tidak dihargai, hingga akhirnya ia memutuskan untuk bercerai dan kembali ke kampung halamannya. Keputusan ini menunjukkan betapa ketidakpedulian dan ketidakadilan dalam hubungan bisa menghancurkan kebahagiaan seseorang.
Daftar Pustaka
Hamidah. (2011). Kehilangan Mestika. Jakarta: PT. Balai Pustaka (Persero).
Nurgiyantoro, Burhan. (2018). Teori Pengkajian Fiksi. Yogyakarta: Gadjah Mada University Press.
