Peran Pola Asuh dalam Pembentukan Karakter Tokoh pada Novel Salah Asuhan

Mahasiswa Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia, Fakultas Ilmu Tarbiyah dan Keguruan, UIN Syarif Hidayatullah Jakarta.
·waktu baca 21 menit
Tulisan dari Alya Nuraini tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Novel Salah Asuhan karya Abdoel Moeis pertama kali diterbitkan oleh Balai Pustaka pada tahun 1928. Novel ini tidak hanya menampilkan persoalan cinta, tetapi juga tentang benturan budaya, pencarian jati diri, dan dampak pola asuh yang keliru. Novel ini menampilkan tokoh utama, yaitu Hanafi yang merupakan seorang pemuda pribumi yang disekolahkan secara Barat oleh ibunya dengan tujuan mulia, agar Hanafi tumbuh menjadi orang modern dan berpendidikan tinggi. Tapi ternyata, pendidikan itu justru membuat Hanafi berubah menjadi pribadi yang sombong, kebarat-baratan, bahkan memandang rendah bangsanya sendiri. Semua berawal dari sikap Hanafi yang kehilangan arah karena salah didik. Salah Asuhan pun menjadi pengingat bahwa cara orang tua mendidik anak akan sangat menentukan cara anak memandang dunia, dan juga dirinya sendiri.
Dalam buku “Teori Pengkajian Fiksi” karya Burhan Nurgiyantoro terdapat hakikat tema, merupakan gagasan dasar umum yang menopang sebuah karya sastra dan yang terkandung di dalam teks sebagai struktur semantis dan bersifat abstrak yang secara berulang-ulang dimunculkan melalui motif-motif dan biasanya dilakukan secara implisit. Tema disaring dari motif-motif yang terdapat dalam karya sastra yang bersangkutan dan menentukan peristiwa-peristiwa, konflik, dan situasi tertentu. Tema menjadi dasar pengembangan keseluruhan cerita dan bersifat menjiwai seluruh bagian cerita. Penafsiran tema (utama) diprasyarat oleh pemahaman cerita secara keseluruhan.
Selain tema, buku Teori Pengkajian Fiksi karya Burhan Nurgiyantoro juga membahas mengenai tokoh. Dalam buku ini, tokoh dibagi menjadi tiga bagian yaitu, unsur penokohan dalam fiksi, pembedaan tokoh, dan teknik pelukisan tokoh. Tulisan ini akan membahas mengenai hakikat tema yang terdiri dari tema pokok yang mengandung makna utama dan makna lain yang hanya sebagian kecil dari keseluruhan peristiwa, makna lain yang tidak tersiratkan, atau makna lain yang tidak tercakup di dalamnya. Kesalahan mendidik anak dapat berakibat fatal, menjadi bagian dari tema utama. Hal itu memunculkan berbagai peristiwa dan konflik yang berawal dan disebabkan oleh sikap Hanafi yang kebarat-baratan dan memandang rendah bangsanya. Atas sikap dan perbuatannya, ia memperlakukan istri dan ibunya layaknya seorang budak, dan rela mencampakkan kebangsaannya sendiri yang dianggap sebagai suatu hal kurang baik.
Selain membahas hakikat tema, tulisan ini juga akan membahas teknik pelukisan tokoh yang dikategorikan menjadi dua, yaitu teknik ekspositori dan teknik dramatik. Tulisan ini akan berfokus pada teknik dramatik yang meliputi teknik cakapan, teknik tingkah laku, serta teknik pikiran dan perasaan. Teknik cakapan dapat menggambarkan sifat-sifat tokoh yang bersangkutan; teknik tingkah laku menggambarkan tokoh melalui tindakan yang menunjukkan reaksi, tanggapan, sifat, dan sikap yang mencerminkan perwatakannya; serta teknik pikiran dan perasaan dapat ditemukan melalui teknik cakapan dan teknik tingkah laku, pembaca yang baik mampu menafsirkan perwatakan tokoh yang terlukis dalam pikiran dan perasaan tersebut. Melalui tiga teknik tersebut, tulisan ini akan menyajikan teknik pelukisan tokoh dalam novel Salah Asuhan karya Abdoel Moeis melalui tokoh Hanafi, Rapiah, dan Corrie du Bussee. Selamat membaca!
Hakikat Tema
1. Kesalahan Mendidik Anak Dapat Berakibat Fatal
Dalam kehidupan sehari-hari, setiap orang tua pasti ingin anaknya tumbuh menjadi orang yang pintar, berhasil, dan membanggakan. Tanpa disadari, cara mendidik yang keliru justru membawa anak ke jalan yang jauh dari harapan. Sejak kecil, Hanafi mendapatkan pendidikan yang tinggi dan modern, namun ia tumbuh tanpa fondasi agama dan nilai-nilai dari lingkungan dan budaya aslinya. Ia diasuh oleh orang lain, jauh dari pelukan ibu dan kasih sayang yang hangat. Seiring berjalannya waktu, Hanafi berubah menjadi sosok yang durhaka, sombong, dan kehilangan arah hidup. Hal ini disebabkan dari kesalahan dalam pola asuh dapat menyebabkan hubungan anak dan orang tua menjadi renggang, bahkan berakhir tragis. Kesedihan seorang ibu yang hanya bisa memaafkan dan penyesalan anak yang datang terlambat menjadi gambaran nyata bahwa mendidik anak bukan hanya soal ilmu, tapi juga soal hati, akhlak, dan nilai kehidupan. Hal tersebut dapat dibuktikan melalui kutipan-kutipan berikut.
Dari kecil Hanafi sudah disekolahkan di Betawi... Sebab ibunya ada di dalam berkecukupan, dapatlah ia menumpangkan Hanafi di rumah orang Belanda yang patut-patut. Maksud orang tua itu ialah supaya anaknya menjadi orang pandai, melebihi kaum keluarga dari kampung. (halaman 27)
“Ibu orang kampung dan perasaan ibu kampung semua.” (halaman 28)
Kutipan tersebut menggambarkan pertentangan antara nilai Timur dan nilai Barat. Sejak kecil, Hanafi sudah disekolahkan di Betawi dan tinggal di rumah orang Belanda agar menjadi anak yang pandai dan lebih unggul dari keluarga kampungnya. Namun, harapan sang ibu justru berbalik arah, pendidikan dan pergaulan modern membuat Hanafi meremehkan asal-usulnya sendiri. Hal ini terlihat dari ucapannya yang menyebut ibunya sebagai “orang kampung” yang menunjukkan adanya perubahan sikap dan pandangan hidup Hanafi terhadap nilai-nilai tradisi yang sebelumnya dijunjung.
Hanafi yang sejak kecil disekolahkan di lingkungan Barat, tumbuh menjadi pribadi yang merasa lebih tinggi dari ibunya sendiri. Ia menjadi anak yang durhaka, bahkan menyalahkan ibunya atas kesengsaraan hidupnya. Padahal, ibunya menyayangi Hanafi sepenuh hati dan berusaha mengampuni segala perlakuan buruk anaknya. Perbedaan nilai antara cara berpikir modern Hanafi dan nilai-nilai kasih sayang serta pengorbanan ibunya menunjukkan betapa besarnya pengaruh pendidikan dan lingkungan terhadap sikap seseorang. Kisah ini menjadi gambaran bahwa pendidikan yang tidak seimbang dengan nilai-nilai tradisi dan budi pekerti dapat menimbulkan perpecahan dalam keluarga. Hal tersebut digambarkan melalui kutipan berikut.
“... Ingatlah anakku hanya engkau seorang saja, ayahmu sudah sampai ajalnya, tidak lain hidupku hanyalah buat engkau sendiri saja.” (halaman 30)
Itulah yang hendak diselesaikan oleh orang tua itu, waktu ia memberani-beranikan hati pula bertukar pikiran dengan anak yang durhaka itu. (halaman 37)
“...Hanafi, mudah-mudahan Tuhan yang bersifat murah akan mengampuni juga segala dosamu, sebagai ibumu yang engkau durhakai ini dengan lillahi ta’ala sudah pula mengampuni dikau.” (halaman 109)
“...Pada hematku Ibulah juga yang banyak bersalah atas diriku, sudah tentu dengan tidak sengaja, melainkan karena pendapat yang berlain-lain juga. Oleh karena perintah Ibu saja, maka aku sampai begini sengsaranya.” (halaman 109)
Hanafi terpenjarat mendengar kata-kata nyonya, yang selama ini disangkanya bersifat lemah itu. Insaflah ia bahwa ia tidak berhadapan lagi dengan ibunya, yang boleh dikalahkannya dengan melahirkan ilmu kehidupan, secara tidak dapat diartikan oleh ibunya. ( halaman 92)
Terdapat perubahan sikap dan perubahan perilaku Hanafi terhadap orang-orang terdekatnya, terutama ibu dan istrinya. Hanafi menjadi kasar dan tidak menghargai istrinya, bahkan memandangnya seperti babu, bukan sebagai pasangan hidup. Ibunya merasa sangat sedih melihat sikap anaknya, tapi ia memilih diam agar tidak memperburuk keadaan. Meski begitu, hatinya tetap terluka. Ia sadar bahwa anak yang telah ia besarkan, tumbuh menjadi pribadi yang jauh berbeda, seolah-olah asing dan tak lagi memiliki pandangan serta perasaan yang sama dengan keluarganya. Hal tersebut dibuktikan melalui kutipan berikut.
Hanya ibu Hanafi saja yang makan hati, melihat perangai anak yang demikian kejam kepada istrinya. Hanya ia segan akan menimbulkan pertengkaran dengan anaknya sepanjang hari, takut kalau-kalau anak itu makin durhaka. (halaman 95)
Hanafi makin lalu-lalang kepada Rapiah, yang akhirnya dipandangnya bukan lagi “istri”, melainkan “babu” yang diberikan kepadanya dengan paksa. (halaman 95)
“Kedua budakmu sedang menyediakan makanan buat junjungannya, Hanafi!” sahut ibunya dengan tajam, “Coba-cobalah barang sekali menggantikan pekerjaan perempuan atau bujang, supaya tahu menghargakan peluh orang keluar dalam berhambakan diri itu. Jika engkau takut bahwa rongkongan anak itu akan belah, ambillah sebentar.” (halaman 99 dan 100)
“... Memang sebaik-baiknya kami bercerai-cerai, sia-sia jualah bila berkumpul-kumpul. Bagaimana akan dapat minyak dibaurkan dengan air? Memang ia anak yang ku kandung, kulahirkan sendiri! Darah dagingku sendiri, Piah! Tapi apa boleh buat! Entah karena salah asuhan entah karena salah campuran, tapi anak itu sangat mengasingkan hidupnya. Berlainan pemandangannya dengan kita, berlain pendapatnya, berlain perasaannya.” (halaman 163)
“... Yakinlah engkau Rapiah! Ibu tahu akan hina dan bodoh Ibu. Tetapi meskipun demikian, anak yang tersesat itu tiadalah akan Ibu cari-cari, melainkan hendak Ibu nantikan sampai ia mendapatkan ilham dan pulang sendiri mencari ibunya...” (halaman 164)
Terdapat sikap salah asuhan dari Ibu Hanafi yang dibuktikan dalam kutipan berikut.
Salah benar Ibu mengasuh Hanafi masa dahulu, karena sedikit pun ia tidak diberi pelajaran agama, sedang dari kecilnya ia sudah mengasingkan diri daripada pergaulan bangsanya. Mudah-mudahan anak yang seorang ini janganlah hendaknya menurut jejak ayahnya. (halaman 245)
“Janganlah salah hendaknya mengasuh yang seorang ini, supaya fiil ayahnya tidak menurun pula kepadanya.”
“Fiil itu mudah berubah, Bu, asal tidak salah asuhan. Hanafi sungguh berfiil buruk, tapi hatinya lurus. Itulah yang menyenangkan hatiku terhadap kepada anaknya ini. Asal ia diasuh baik, insya Allah, Syafei akan menjadi tempat kita bergantung di hari kemudian.” (halaman 246)
...Sedang segala kebiasaan orang Timur yang buruk-buruk boleh dibuangnya dan digantinya dengan adat kebiasaan Barat yang baik, tapi sebab ia orang Timur, hendaklah asuhannya itu tetap cara Timur juga... Semua sudah dipikirkan oleh Hanafi, hanya bagi dirinya sendiri tersalah, bahwa ia tak akan berkuasa mengubahnya lagi, karena asuhannya sudah nyata salah dari bermula. (halaman 294 dan 295)
Apakah yang salah padanya? Entahlah. Jika dipikirkannya dalam-dalam, insaflah ia bahwa di dalam asuhannya ada yang bersalah. Masih sangat kecil, ia pun sudah ditinggalkan oleh ayahnya. Mulanya ibunya memelihara akan dia seolah-olah menantang minyak yang penuh. Sesudah itu enyahlah ia dari asuhan Ibu, diasuh di rumah orang Belanda, putus dari pergaulan segala orang Timur. (halaman 303)
Kutipan-kutipan tersebut menggambarkan bahwa kesalahan dalam cara mendidik dan membesarkan anak bisa berdampak besar terhadap pembentukan kepribadian dan arah hidupnya. Hanafi dianggap sebagai contoh nyata dari anak yang tumbuh tanpa pondasi agama dan budaya bangsa sendiri karena sejak kecil sudah dijauhkan dari nilai-nilai Timur dan diasuh dengan cara hidup Barat. Ibunya pun akhirnya menyadari bahwa kurangnya pendidikan agama dan keterputusan dari lingkungan bangsa sendiri merupakan kesalahan besar dalam mengasuh Hanafi. Kini, mereka berharap agar kesalahan itu tidak terulang pada anak Hanafi, yaitu Syafei. Harapannya, dengan pola asuh yang benar, Syafei bisa tumbuh menjadi pribadi yang baik dan tidak mewarisi sifat-sifat buruk ayahnya. Kesadaran ini menunjukkan bahwa asuhan yang salah bisa menghancurkan, tetapi asuhan yang benar bisa menjadi harapan untuk masa depan yang lebih baik.
Terdapat penyesalan mendalam dari Hanafi yang menyadari kesalahan pengasuhan yang ia alami dan bagaimana pengasuhan yang salah telah membawanya pada kehancuran. Sebelum meninggal, Hanafi merasa bersalah dan khawatir bahwa anaknya, Syafei, akan mengikuti jejak hidupnya yang penuh kesalahan. Ia berharap agar Syafei diberi pengasuhan yang benar dan tidak terjerumus pada jalan yang sama. Ibunya, yang telah lama memaafkan Hanafi, memberi penghiburan dengan mengatakan bahwa ia telah memaafkan dosa-dosa Hanafi dan meminta agar ia mengingat Tuhan dan Rasul, sebagai petunjuk untuk menyelamatkan dirinya. Hal ini mencerminkan betapa pengaruh pengasuhan yang salah, baik dari orang tua maupun lingkungan, dapat berdampak besar pada kehidupan seseorang, tetapi ada harapan untuk memperbaiki generasi berikutnya melalui pengasuhan yang benar.
“Pompalah, Dokter... kasihan ibuku... Dokter... jangan dikatakan... aku ini mi... num sublimat.” Sebutir tablet sublimat sudah cukup akan menewaskan kuda. Hanafi sudah menelan empat butir, dua belas jam yang lalu. (halaman 325)
Dengan bimbang hati, mendekatlah ibunya ke kepalanya, lalu Hanafi berkata dengan suara lemah lembut, “Ibu... ampuni... akan dosa... ku... Syafei pelihara... baik-baik. Jangan diturutnya... jejakku....”
Ya , Anakku! Sudahlah lama engkau aku ampuni. Hal anakmu janganlah engkau risaukan. Mengucaplah, Hanafi. Kenangkanlah nama Tuhan dan Rasul, rupanya lurus jalanmu.”
Hanafi memandang dengan sedih kepada ibunya, berkata “Lailaha illallah. Muhammad dar Rasulullah!”
Dalam berjabatan tangan dengan ibunya, melayanglah jiwa Hanafi. (halaman 327)
2. Masalah Kawin Paksa
Dalam kehidupan Hanafi, perkawinan bukanlah hasil dari pilihan hati, melainkan karena tekanan dan kewajiban yang datang dari keluarga dan tradisi. Hanafi dipaksa untuk menikahi Rapiah, seorang wanita yang dipilihkan untuknya oleh ibunya, meskipun hati dan perasaannya tidak setuju. Perkawinan itu bukanlah pilihan dari keduanya, melainkan sesuatu yang harus diterima karena utang budi dan kewajiban dalam adat. Hanafi merasa bahwa pernikahannya dengan Rapiah tidaklah layak disebut sebagai pernikahan sejati, karena itu lebih kepada kewajiban yang dipaksakan. Bahkan, ia tidak memedulikan Rapiah sebagai istrinya, dan hubungan mereka tidak bisa dianggap sebagai hubungan suami istri yang penuh cinta dan keikhlasan. Dalam keadaan seperti ini, masalah kawin paksa sangat jelas terasa, tidak hanya merenggangkan hubungan mereka, tetapi juga menambah beban emosional yang dalam bagi kedua belah pihak. Hal tersebut dapat dibuktikan melalui kutipan-kutipan berikut.
“... Demikian pula maksud mereka hendak memperumahkan engkau sudah Ibu habisi dengan menyatakan tidak boleh jadi.” (halaman 31)
“... Pada yang lain-lain itu aku tidak berutang piutang!” (halaman 31)
“... Tapi engkau barangkali mengetahui juga arti suatu peribahasa kita orang Melayu: utang emas dibayar dengan emas, utang uang dibayar dengan uang, dan utang budi dibayar dengan budi... Utang itu pun dimaksudkan tidak akan menjadi utang uang, tapi ia mengharap dan menantikan engkau buat anaknya yang seorang itu saja: buat Rapiah” (halaman 33)
“... Sekarang Bunda hendak bertanya kepadamu, sukakah engkau menerima Rapiah menjadi istrimu, Hanafi?” (halaman 35)
“Itulah yang kusegankan benar hidup di tanah Minangkabau ini, Bu. Di sini semua orang berkuasa, kepada semua orang kita berutang, baik utang uang maupun utang budi. Hati semua orang mesti dipelihara dan laki-laki perempuan itu digaduh-gaduhkan dari luar buat menjadi suami istri.” (halaman 35)
Kutipan tersebut menggambarkan situasi di mana Hanafi merasa terjebak dalam sebuah pernikahan yang tidak sepenuhnya atas kehendaknya. Dalam budaya dan tradisi yang berlaku, terutama dalam masyarakat Minangkabau, terdapat konsep utang budi yang harus dibayar. Dalam hal ini, utang itu berkaitan dengan pernikahan. Hanafi merasa bahwa ia harus menerima Rapiah sebagai istri sebagai bentuk tanggung jawab sosial dan budaya yang harus dipenuhi, meskipun ia tidak sepenuhnya ingin atau siap untuk menikah dengan Rapiah. Terdapat tekanan dari pihak keluarga yang membuatnya merasa bahwa keputusan ini bukan sepenuhnya pilihannya, tetapi lebih sebagai kewajiban yang harus dipenuhi untuk menjaga kehormatan keluarga dan membayar utang budi. Hal ini mencerminkan adanya perkawinan paksa yang sering kali mengabaikan keinginan pribadi yang terlibat.
Hanafi merasa terpaksa menikahi Rapiah. Meskipun secara resmi dia menikah, Hanafi tidak mencintai Rapiah dan tidak merasa ada ikatan emosional dengan istrinya. Dia melihat pernikahannya sebagai sesuatu yang harus diterima, bukan pilihan dari hati. Hanafi juga tidak peduli dengan anaknya, Syafei, karena dia menganggap Syafei lebih sebagai anak Rapiah, bukan anaknya sendiri. Hanafi merasa menyesal dan kecewa karena ibunya yang memilihkan Rapiah sebagai istrinya, dan dia merasa terbebani dengan pernikahan itu. Hal ini ditunjukkan pada kutipan berikut.
Dalam dua tahun hidup beristri itu, Rapiah dipandangnya sebagai seorang “istri diberikan” kepadanya. Segala kewajiban sebagai suami adalah diturutnya, demikian ia berkata, tapi akan hatinya Rapiah tidak berhak. (halaman 89)
Hanafi sekali-kali tidak memedulikan pula anaknya; Syafei ialah ‘anak Rapiah. (halaman 91)
Tapi patutlah saya menerangkan bahwa perkawinan saya dengan Rapiah tidaklah boleh dipandang sebagai ‘perkawinan sejati’ secara arti ‘kawin’ itu diartikan oleh bangsa Eropa. Kawin saya kepada Rapiah kawin terpaksa, tidak dapat saya mencurahkan hal ihwal rumah tangga saya... (halaman 93)
“Oh, Ibu, jika Ibu hendak menyesal, janganlah aku Ibu sesali, baiklah Ibu menyesali diri sendiri. Siapakah yang memberikan istri serupa itu kepadaku?” (halaman 104)
“Astagfirullah, Hanafi! Turutkanlah ibumu mengucap menyebut nama Allah, supaya lapang bumi Allah bagimu dan tidak akan bertutur lagi dengan sejauh itu tersesatnya. Dosa ibu padamu hanyalah karena memilihkan istri yang serupa Rapiah untukmu.” (halaman 104)
Kutipan lain yang menunjukkan tema perkawinan paksa dibuktikan pada kutipan berikut.
“Surat keputusan,” katanya mengeluh. (halaman 160)
“... Engkau kehilangan suami, Rapiah! Ibu kehilangan anak! Sudikah engkau menggantikan tempat Hanafi di rumah tangga Ibu di Koto Anau? Marilah kita ke kampung. Di sana kita akan melupakan segala bencana yang sudah menimpa diri kita selama ini.” Rapiah menerima perkataan menantunya dengan menundukkan kepala. (halaman 161)
Kutipan tersebut menggambarkan bahwa perkawinan yang terpaksa menciptakan ketegangan dan ketidakselarasan dalam rumah tangga. Ibu Hanafi berharap Rapiah dapat menggantikan posisi Hanafi di rumah mereka, namun kenyataan bahwa pernikahan mereka terpaksa dan tidak bahagia mencerminkan ketidakberlanjutan hubungan tersebut. Pada akhirnya, pernikahan yang terpaksa tersebut mengarah pada perceraian, karena kedua belah pihak tidak dapat hidup dalam keharmonisan dan kesepakatan yang tulus.
3. Masalah Penolakan “Payung” (Kebangsaan Sendiri)
Hanafi tumbuh sebagai seorang yang lebih merasa dekat dengan budaya Barat dibandingkan dengan akar bangsanya sendiri. Ia lebih memilih cara hidup dan pergaulan ala Eropa, hingga menganggap adat Melayu dan ajaran Islam tidak menarik serta patut dihindari. Ia begitu jauh dari jati dirinya sebagai Bumiputra, bahkan merasa malu dan menyesali bahwa ia dilahirkan sebagai orang Indonesia. Pandangannya terhadap bangsanya sendiri dipenuhi dengan cemoohan dan rasa rendah diri. Dalam pikirannya, menjadi bagian dari bangsa Eropa adalah kebanggaan, sedangkan menjadi Bumiputra adalah kutukan. Penolakan terhadap identitas kebangsaannya ini bukan hanya menciptakan jurang antara dirinya dan masyarakat sekitar, tapi juga menggambarkan krisis identitas yang dalam akibat pendidikan dan pergaulan yang menjauh dari akar budaya sendiri. Hal tersebut dapat dibuktikan melalui kutipan-kutipan berikut.
Segala hal ikhwal yang berhubungan dengan orang Melayu, dicatat dan dicemoohkannya, sampai kepada adat lembaga orang Melayu dan agama Islam tidak mendapat perindahan serambut juga.
Makin lama makin bimbanglah hatinya melihat anak yang kebelanda-belandaan itu. Pakaiannya cara Belanda, pergaulannya dengan orang Belanda saja.
“Seindah-indahnya negeri ini, bila tak ada ibuku, niscaya sudah lamalah ku tinggalkan.” (halaman 29)
... Hanafi sendiri benci pada bangsanya, Bumiputera. Pelajarannya, tingkah lakunya, perasaannya, semua sudah menurut cara Barat... Sebab bencinya pada bangsanya sendiri, sudah tentu ia suka minta disamakan dengan bangsa Eropa. (halaman 38)
Hanafi menyumpahi dirinya, karena ia dilahirkan sebagai Bumiputra! (halaman 64)
Anak itu sudah buta dan tuli akan segala yang baik di dalam kehidupan dan pergaulan bangsanya sendiri. Rupanya ia memandang buruk saja, asal sudah berhubungan dengan keBumiputraan. (halaman 106)
Hendak dikatakan bahwa kawan-kawan itu benci pada Hanafi karena ia Bumiputra, tak boleh jadi pula, karena di antara kawan-kawan itu banyaklah pula orang Bumiputra, bujang atau suami istri, yang senantiasa dibawa bergaul oleh kawan-kawan bangsa Eropa itu. (halaman 193)
Melalui kutipan tersebut, Hanafi menunjukkan penolakan terhadap identitas dan kebudayaan bangsanya, yaitu orang Melayu, bahkan sampai benci terhadap statusnya sebagai Bumiputra. Ia memandang segala hal yang berhubungan dengan kebudayaan dan adat Melayu dengan rendah, bahkan mencemoohnya. Ini juga tercermin dalam cara hidup dan pandangannya yang lebih condong kepada budaya Barat, serta kebenciannya terhadap bangsanya sendiri. Hanafi merasa terasing dengan kebudayaannya, lebih memilih meniru gaya hidup dan pola pikir orang Eropa. Penolakan Hanafi terhadap kebangsaannya juga terlihat dari kecenderungannya untuk menjauhkan diri dari budaya Melayu dan lebih memilih bergaul dengan orang Belanda. Ia tidak hanya menolak adat dan agama Melayu, tetapi juga merasa malu dan kecewa atas kelahirannya sebagai orang Bumiputra, yang ia anggap rendah. Ini menggambarkan konflik identitas yang dialami oleh Hanafi, yang terjebak dalam ketidakpuasan terhadap kebudayaannya sendiri, sementara pada saat yang sama, ia tidak sepenuhnya diterima dalam budaya Eropa yang ia impikan.
Hanafi melakukan penolakan terhadap kebangsaan dan budaya Melayu yaitu Bumiputra yang menjadi asal-usulnya. Hanafi dengan tegas menyatakan bahwa ia lebih memilih dan merasa lebih cocok dengan kebudayaan Barat karena sejak kecil ia sudah diasuh dalam pergaulan Eropa. Ia merasa bahwa adat dan kebiasaan bangsa Eropa jauh lebih sesuai dengan dirinya, bahkan menganggap adat Melayu, yang dianggapnya lebih sederhana, sebagai sesuatu yang tidak sesuai dengan dirinya. Pernyataan Hanafi yang merasa dirinya sudah “keluar dari bangsa Bumiputra” dan “dipersamakan dengan bangsa Eropa” menunjukkan bahwa ia tidak hanya menolak kebudayaan Melayu, tetapi juga merasa terasing dan lebih mengidentifikasi dirinya dengan kebudayaan Barat. Hal ini menggambarkan konflik identitas yang mendalam, Hanafi berusaha untuk menghindari akar kebangsaannya, meskipun secara biologis ia tetap seorang Bumiputra. Hal tersebut dibuktikan melalui kutipan berikut.
Hanafi sudah memegang “adat Belanda”, dan ia sudah “masuk Belanda”, tentulah tak akan senang menumpang di rumah orang Bumiputra, yang pada sangka Hanafi “tak pandai membedakan antara sendok dengan garpu. (halaman 250)
“Sekali-kali aku tidak menghinakan atau merendahkan bangsaku, bangsa Indonesia, hanya adat dan kebiasaannya yang tidak sekali-kali berkenan pada hatiku, karena dari kecil aku dididik dan diasuh di dalam pergaulan bangsa Eropa saja. Tapi, meskipun aku sesungguhnya dilahirkan sebagai orang Indonesia, bukankah adat lembaga, laku perangaiku sudah sejalan benar dengan bangsamu bangsa Eropa, apakah lagi yang akan mengganggu perindahan mereka atas diriku? Bukankah pula aku sudah keluar dari bangsa---Bumiputra, dan sudah dipersamakan dengan bangsa Eropa? (halaman 261 dan 262)
4. Masalah Perkawinan Antarbangsa
Perkawinan antarbangsa digambarkan sebagai sebuah hubungan yang penuh lika-liku, tidak hanya karena perbedaan budaya dan latar belakang, tetapi juga karena pandangan masyarakat yang penuh prasangka dan diskriminasi. Hubungan Hanafi dan Corrie menjadi cermin yang sulit bahwa cinta saja tak cukup untuk menjembatani jurang antara Timur dan Barat. Penolakan, tekanan sosial, hingga konflik batin membuat cinta mereka perlahan terkikis oleh kenyataan. Masyarakat menilai, bukan dari kasih sayang yang tulus, melainkan dari asal-usul darah dan bangsa. Di balik impian akan kebebasan memilih pasangan, tersembunyi luka dan perih akibat “kesombongan bangsa” yang mencengkeram kuat. Perkawinan campuran bukan sekadar menyatukan dua insan, tetapi juga dua dunia yang kerap tak saling menerima. Hal tersebut dibuktikan dalam kutipan berikut.
“Kawin campur itu sesungguhnya banyak benar rintangannya, yang ditimbulkan oleh manusia juga, Corrie! Karena masing-masing manusia dihinggapi oleh penyakit “kesombongan bangsa”. Sekalian orang, masing-masing menyalahi akan bangsanya, yang menghubungkan hidup kepada bangsa yang lain, meskipun kedua orang menjadi suami istri itu sangat berkasih-kasihan. (halaman 16 dan 17)
Timur tinggal Timur, Barat tinggal Barat, dan tidaklah keduanya akan menjadi satu. (halaman 25)
Perkawinan campuran antara barat dan timur –Hanafi kawin dengan Corrie, setelah sebelumnya menceraikan Rapiah, dan hal itu (ditambah dengan makna kedua) menyebabkan mereka tersisih sehingga memicu munculnya masalah konflik.
“Oh! Anak Belanda dengan orang Melayu, bagaimana boleh jadi!” (halaman 38)
Kutipan-kutipan tersebut menggambarkan konflik dalam perkawinan antarbangsa, terutama antara Timur (Melayu) dan Barat (Belanda). Meskipun Hanafi dan Corrie saling mencintai, masyarakat dan tradisi menganggap perbedaan budaya mereka sebagai hambatan besar. “Kesombongan bangsa” menunjukkan bagaimana kebanggaan terhadap budaya masing-masing mempersulit penerimaan pernikahan tersebut. Kalimat “Timur tinggal Timur, Barat tinggal Barat” menekankan betapa sulitnya menyatukan dua budaya yang berbeda, baik dalam kehidupan pernikahan maupun dalam pandangan sosial masyarakat.
Alangkah jauhnya tersesat Hanafi itu, bila ia beristrikan nyonya Belanda pula! (halaman 63)
Benar sekali kata Corrie, bahwa pergaulan orang Barat sebaratnya dan orang Timur setimurnya, sungguh sama-sama tidak menyukai hubungan suami istri. (halaman 70)
“... Dengan kekuatan Wet aku sudah sebangsa dengan engkau. Mulai dari waktu ini kubelakangi bangsaku sama sekali, Hanafi sudah hilang, segala jejakku yang tinggal di belakang kita hapuslah--- sudilah engkau menjadi istriku Corrie!” (halaman 169)
“...Pada mulanya ayah itu sangat gembira hendak merayakan pertunangan sahabat anaknya... Sesayang-sayangnya kepadaku pada mulanya, setelah mendengar bahwa aku bertunangan dengan seorang Melayu yang ‘masuk Belanda’, maka perindahannya kepadaku berubah...” (halaman 176 dan 177)
“Hendak pulang saja ke Betawi. Di situ kita kawin dengan diam-diam saja.”
“... Tapi sedianya aku hendak merakannya juga pertunangan kita secara sederhana, buat sekali saja seumur hidup, meskipun sebenarnya sudah ku maksud juga hendak kawin diam-diam saja. Ingatlah, kita tak mempunyai kaum keluarga, tak mempunyai sahabat yang karib. Hanya yang seorang itulah yang kupandang sebagai sahabat karibku.” (halaman 177)
“Dan lusa sore kita ada di Sukabumi!” kata Hanafi dengan gembira. “Dan engkau sudah menjadi istriku, milikku, junjunganku, buat seumur hidup! Hura!” (halaman 187)
“Benar Han, sebab aku bersuamikan orang Melayu, maka dunia menjadi sempit bagiku. Itu suatu kebenaran, yang tidak dapat dibantah-bantah, karena sudah terbukti...” (halaman 197)
Kutipan-kutipan tersebut menggambarkan konflik dan tantangan yang dihadapi dalam perkawinan antarbangsa, khususnya antara Hanafi dengan Corrie. Meskipun mereka saling mencintai, perbedaan budaya dan pandangan masyarakat membuat hubungan mereka penuh rintangan. Hanafi berusaha menghapus jejak kebangsaan dan identitasnya demi menyatu dengan Corrie. Konflik ini menunjukkan betapa beratnya menghadapi diskriminasi dan prasangka, meskipun ada cinta di antara mereka. Perkawinan antarbangsa ini berujung pada rasa terasing dan kesulitan yang mendalam, baik bagi Hanafi maupun Corrie, karena mereka terjebak dalam konflik budaya dan sosial yang ada di sekitarnya.
Ketika pernikahan mereka dihadapkan pada masalah dan tuduhan, komunikasi antara mereka menjadi semakin buruk. Hanafi yang cenderung menuduh, sementara Corrie merasa tertekan dan ingin mengakhiri hubungan tersebut. Perceraian menjadi ancaman nyata dalam hubungan mereka yang mencerminkan perbedaan latar belakang dan budaya bisa memperburuk permasalahan dalam sebuah pernikahan. Meskipun keduanya terikat dalam ikatan pernikahan, perbedaan cara pandang dan tekanan mendorong mereka menuju perceraian, yang menambah kesulitan dalam hubungan antarbangsa ini. Hal tersebut dibuktikan pada kutipan berikut.
Sepatah pun Hanafi tidak suka “memeriksa” melainkan “menuduh” saja... Pada pagi hari air muka suaminya yang semakin kusut dan bertambah panaslah hatinya. Hari itu juga ia hendak minta selesai; jika suaminya tetap menuduh akan bercerailah mereka. (halaman 212 dan 213)
“Nah, kalau begitu terima kasih! Kaukumpulkanlah bukti-bukti dan saksi-saksi buat Road van Justutie, supaya disahkan perceraian kita oleh pengadilan negeri. Buat saat ini aku hendak mendahului perceraian itu. Semenit pun aku tak sudi serumah lagi dengan engkau!”
“Sebelum kita bercerai beri tahu dahulu siapakah orang itu? Supaya aku, sebagai laki-laki melunaskan rekening dengan dia!” (halaman 216)
Kutipan lain juga menggambarkan masalah perkawinan antarbangsa yang dibuktikan melalui teks berikut.
“Haruslah engkau menaruh kasihan kepada seorang laki-laki yang sudah membuang diri ini!”
“Membuang diri? Seorang nona Eropa bersuamikan orang Melayu—itu namanya membuang diri, Meneer Han! Lihatlah keadaanku sekarang. Badanku rusak, uangku habis, bangsaku melihat kepadaku sebagai kepada najis, itulah namanya ‘membuang diri’. Tapi Meneer Han rupanya berasa lebih rugi daripada aku? Oh, oh!”
Hanafi tidak kuat menahan hati, lalu berkatalah ia, “Apakah keuntunganku masuk dipersamakan dengan bangsa Eropa? Bangsaku sendiri bangsa Melayu, menjauhkan diri daripadaku. Bangsamu, bangsa Eropa, memandang jijik kepada diriku. Jangankan bangsamu masuk lapisan di atas, sedang penduduk kampung, asal tersebut masuk bangsa Eropa, memandang dirinya jauh di atas diriku, dan tiadalah mereka suka bergaulan aku.”
“Salahmu sendiri. Dahulu tidaklah kurang bangsaku, meskipun berpangkat dan suka menerima engkau di rumahnya.” (halaman 217)
Kutipan ini menggambarkan Hanafi yang merasa terasingkan karena meskipun ia berusaha menyesuaikan diri dengan budaya Eropa, ia tetap tidak diterima oleh bangsanya sendiri maupun oleh orang Eropa. Ia merasa bahwa ia tidak dihargai oleh siapa pun, meskipun ia telah mengubah identitasnya. Sementara itu, istrinya yang berasal dari Eropa juga merasa pernikahan mereka tidak menguntungkan bagi keduanya. Ia sadar bahwa meskipun mereka menikah, hubungan mereka justru membawa masalah dan membuat mereka merasa tidak diterima di masyarakat masing-masing. Hal ini menggambarkan salah satu masalah besar dalam perkawinan antarbangsa, yaitu kesulitan dalam mencari penerimaan sosial, yang akhirnya membuat hubungan mereka penuh dengan konflik dan kekecewaan.
Hanafi merasa bahwa perceraian adalah jalan satu-satunya untuk meringankan beban hidupnya, meskipun ia tetap mencintai Corrie. Namun, setelah perceraian itu terjadi, Corrie meninggal dunia. Kematian Corrie membawa kedamaian pada akhirnya, tetapi juga memperlihatkan betapa sulitnya menjalani pernikahan antarbangsa pada masa itu yang penuh dengan penolakan dan prasangka. Hal tersebut dibuktikan pada kutipan berikut.
“Bersyukurlah kita kepada Tuhan, bahwa kita sudah berjumpa pula, Hannatje. Hanya aku mesti mendahului engkau berpindah ke negeri itu (Corrie menunjuk loteng), aku nantikan engkau di sana. Hannatje, kita mesti bercerai, hanya perceraian serupa ini yang akan bisa meringankan jalanku. Han... ampunilah segala dosaku!” (halaman 276)
“Sudah berpindah ke negeri yang kekal,” sahut suster dengan amat belas kasihan, “ia berpulang dengan selesai dan sudah memberi ampun. Lihatlah air mukanya yang seaman itu; ia senyum manis dalam berpulang.” (halaman 277)
Hanya dua orang saja di antara bangsa Eropa yang menyatakan tak ada keberatannya tentang kawin campuran itu, tapi kebanyakan sudah membatalkan, dan---memusuhi sekeras-kerasnya. (halaman 294)
Teknik Pelukisan Tokoh dalam novel Salah Asuhan
1. Tokoh Hanafi
Teknik Cakapan
Tokoh Hanafi sangat kuat digambarkan melalui cakapan atau dialognya yang emosional dan penuh ketegangan. Melalui kata-kata yang diucapkannya, terlihat adanya perubahan karakter Hanafi yang awalnya tampak teguh, tetapi seiring berjalannya waktu, mulai terbawa oleh keraguan, kemarahan, dan penyesalan. Dialognya yang keras dan tajam, seperti ketika ia menuduh Corrie dengan tuduhan yang menghancurkan, mencerminkan sifatnya yang cepat marah dan penuh prasangka. Di sisi lain, ungkapannya yang penuh penyesalan dan pengakuan dosa, seperti dalam kalimat “Aku yang celaka, aku yang salah,” menunjukkan sisi lembut dan penuh kesadaran diri, meskipun tak mampu mengatasi konflik dalam dirinya. Hanafi yang terperangkap dalam masalah besar antara kehormatan, emosi, dan keputusan-keputusan yang membawa kehancuran dalam hidupnya. Hal tersebut dibuktikan melalui kutipan-kutipan berikut.
“Sepanjang ingatanku, belumlah pernah saya meminjam uang satu sen pun kepada mereka.”... “Dari ibu, dari siapa lagi?” (halaman 32)
Hai, Buyung! Antarkan anak itu dahulu ke belakang!” kata Hanafi dengan suara bengis dari jauh. “Dari manakah engkau bawa anak itu? Bukankah kebun ini sampai luas buat pesiar-pesiar dengan kereta? Sudah berapa kali aku berkata, setiap aku ada tamu, engkau tidak boleh jauh. Serupa ada yang menyuruh-nyuruh menghindar, bila kawan-kawanku datang berkunjung. Engkau kugaji buat kesenanganku dan bukan buat bermalas-malas.” (halaman 99)
Dalam kutipan-kutipan tersebut, tokoh Hanafi digambarkan sebagai sosok yang emosional dan penuh konflik batin. Ia tampak keras dan menghakimi, terutama dalam kata-katanya yang bengis terhadap orang lain, seperti saat berbicara dengan Buyung, bahkan ia berani melawan perkataan ibunya. Hanafi termasuk pada bagian anak yang durhaka kepada orang tua.
“Corrie! Besar benar dosaku, karena aku berkehendak engkau menjadi istriku. Aku jualah yang celaka, aku yang salah.” (halaman 198)
“Bumi langitmu ialah suamimu, bumi langitku adalah engkau. Cor. Sama-sama kita piatu, sama-sama sebatang kara, sama-sama kita terbuang, bukankah seharusnya perhubungan antara kita berdua semakin rapat? Tiadakah kita senasib tidakkah kita seperuntungan? Yang harus menghiburkan hatimu hanyalah aku seorang.” (halaman 200)
“Corrie!” katanya dengan suara gemetar, dada yang sesak, “kebetulan sekali buku Spaarbank-mu terbawa-bawa olehku dalam tas, jadi mustahil engkau dapat membeli barang yang berharga beratus. Rupanya rumahku ini sudah menerima tamu-tamu hartawan!”
“Aku menuduh engkau berlaku hina di dalam rumahku ini!”
“Tidak usah bertanyakan ini dan itu, bukti sudah sampai cukup!
“Aku menuduh engkau berzina!” (halaman 210 dan 211)
“Kawin tak boleh, bercerai tak boleh! Serba salah.” (halaman 256)
“Terlalu keji, terlalu busuk!” kata Hanafi sambil menggoyang-goyangkan kepalnya. (halaman 260)
Melalui kutipan tersebut, tokoh Hanafi digambarkan sebagai sosok yang penuh kontradiksi dan berjuang dengan perasaan bersalah, penyesalan, serta kemarahan. Dalam kalimat seperti “Besar benar dosaku, karena aku berkehendak engkau menjadi istriku,” Hanafi menunjukkan penyesalan yang mendalam terhadap keputusannya menikahi Corrie, merasa dirinya telah membuat kesalahan besar. Di sisi lain, ketika ia mengungkapkan “Aku menuduh engkau berzina!” dan “Terlalu keji, terlalu busuk!” terlihat sisi emosionalnya yang meledak, mencerminkan ketegangan dalam hubungannya. Hanafi juga tampak bingung dan terjebak dalam situasi, seperti saat berkata “Kawin tak boleh, bercerai tak boleh! Serba salah,” menunjukkan keterpurukannya dalam perasaan yang tak terpecahkan.
Teknik Tingkah Laku
Tokoh Hanafi digambarkan melalui tingkah lakunya yang penuh kontradiksi dan emosional. Dalam banyak situasi, Hanafi menunjukkan sikap keras dan dominan, seperti ketika ia merasa berhak untuk mengatur segala hal dalam hidupnya, termasuk istrinya, tanpa memberi ruang untuk perasaan atau pendapat orang lain. Ia sering kali melampiaskan kemarahannya tanpa alasan yang jelas, dan membuat orang di sekitarnya, seperti Rapiah dan Corrie, merasa tertekan dan tersakiti. Misalnya, saat ia marah tanpa sebab yang jelas kepada Rapiah, meskipun istrinya sabar dan tunduk, Hanafi justru semakin melampiaskan amarahnya. Melalui tingkah lakunya, dapat dilihat bahwa karakter Hanafi terkadang penuh kasih, namun sering kali terjebak dalam kebanggaan dan emosi negatif yang menghancurkan hubungan di sekitarnya. Hal tersebut dapat dibuktikan melalui kutipan-kutipan berikut.
Sebab terpaksa—ah! Ia, Hanafi, sampai terpaksa --senanglah hatinya mendengar sifat “sabar dan tahu diri” itu. Sebab ia tidak hendak menyiksa hidupnya dengan mengawini seorang perempuan yang tidak disukainya, yang tengkar dan keras kepala. (halaman 82)
Demikian pula tentang kemerdekaannya, Hanafi berkata hendak menentukan batas-batasnya sendiri, dengan tidak memberi hak kepada Rapiah buat turut menentukannya... Apa yang disukai oleh Hanafi, Rapiah harus membenarkannya. (halaman 89 dan 90)
Ibu Hanafi pun tidak tahan melihat perangai anaknya kepada Rapiah... Sudah sekali dua kali ia memperkatakan hal Rapiah dengan Hanafi, tapi jangankan hendak diperbaikinya, perangai bengisnya kepada istrinya makin menjadi, karena dituduhnya Rapiah sudah mengadu kepada ibunya. (halaman 91)
Engkau berkata tahu benar pada adat Belanda. Secara perangaimu kepada istrimu itu, seolah-olah menjadi penghinaan akan adat Belanda itu. Dan belumlah layak engkau menggosok sepatu orang Belanda, jika demikian laku perangaimu! (halaman 92)
Setiap hari asal saja sudah menimbulkan amarahnya, perkara itu sudah dipakainya buat melepaskan sakit hatinya kepada Rapiah. Tetapi istrinya yang sabar itu sudah tunduk menangis saja, bagaikan insaf akan dirinya. (halaman 95)
“Hanafi! Anakku, tahulah engkau apa hukuman anak yang durhaka pada ibunya?” (halaman 110)
Melalui kutipan tersebut, Hanafi digambarkan sebagai sosok yang keras dan egois. Ia cenderung memaksakan kehendaknya kepada istrinya, Rapiah, dan tidak peduli dengan perasaan orang lain. Hanafi sering marah-marah dan menyalahkan Rapiah, meskipun istrinya sudah sabar dan tunduk. Ia juga tidak mendengarkan nasihat ibunya dan terus berperilaku kasar. Sikapnya yang selalu menyalahkan orang lain dan tidak bisa mengontrol emosinya menunjukkan bahwa Hanafi adalah orang yang tidak bertanggung jawab dan egois dalam hubungan rumah tangga.
Selain itu, tokoh Hanafi digambarkan sebagai sosok yang penuh amarah, kasar, dan tidak menghargai perasaan istrinya. Ia sering marah besar hingga berkata-kata kasar, bahkan menuduh istrinya berbuat salah. Hanafi tidak mencintai Rapiah karena menganggapnya terlalu pasif dan lemah, sementara ia lebih tertarik pada perempuan yang kuat dan berani seperti Corrie. Sikapnya yang sombong dan sulit diajak bicara juga terlihat dari caranya memperlakukan ibunya. Hal tersebut dibuktikan pada kutipan di bawah ini.
Jika dada Hanafi sudah terlalu sesak melihat perangai istrinya yang serupa itu, maka marahlah ia dengan tidak ketentuan apa yang dikatakannya. Corrie mengangkat kepalanya, menentang sejurus pada suaminya... (halaman 194)
“Hai laki-laki pengecut! Apakah engkau hendak melakukan kekerasan kepada seorang istri tak berdaya?” (halaman 215)
“Han!” kata Corrie sambil gemetar seluruh tubuhnya, “Tetapkah engkau menuduh istrimu?”
“Lebih dari menuduh!” (halaman 216)
Adakah cintanya kepada Rapiah? Tidak, cinta sungguh tak ada dirasainya pada istri yang passief itu. Hanafi hanya bisa cinta kepada istri yang “liar”, yang “gagah”, yang.. pitting dan actief sebagai Corrie! Rapiah boleh diumpamakan dengan “bubur manis” yang terletak di piring buat disudu, tidak, Hanafi tak akan dapat cinta kepada perempuan sebagai itu, melainkan ia hanya dapat menaruh kasihan kepadanya. (halaman 251 dan 252)
Perangai Hanafi sudah cara dahulu pula, yaitu pendiam dan tinggi hati. Dalam bertutur dengan ibunya tak ada sepatah jua kata-kata yang tidak berarti. Pemandangannya sudah tenang, air mukanya selesai. (halaman 316)
Teknik Pikiran dan Perasaan
Tokoh Hanafi digambarkan melalui pikiran dan perasaannya yang sering kali penuh dengan kebingungannya sendiri. Ia terjebak dalam perasaan yang saling bertentangan, terutama dalam hubungan dengan kedua istrinya, Corrie dan Rapiah. Meski ia merasakan cinta yang mendalam terhadap Corrie, perasaan itu selalu dibayangi oleh rasa bersalah dan keraguan, sehingga ia merasa tidak bisa membahagiakan wanita yang dicintainya. Di sisi lain, Hanafi membandingkan Corrie dengan Rapiah, merasa bahwa Rapiah lebih “sesuai” dengan keinginannya untuk memenuhi harapan ibunya, meski perasaannya tidak sekuat kepada Corrie. Ketegangan batin ini muncul saat ia menyadari bahwa semua kekacauan dalam hidupnya berasal dari keputusan dan sikapnya sendiri yang salah, sehingga ia merasa menjadi korban dari kesalahan asuhannya. Pikiran dan perasaan Hanafi yang kacau mencerminkan konflik batin yang berat dalam dirinya, antara cinta, tanggung jawab, dan penyesalan. Hal tersebut dibuktikan melalui kutipan-kutipan berikut ini.
Bersalahlah sekarang, cinta Hanafi tidak dapat ditolaknya, selama ia berhampiran dengan laki-laki itu. Pandangan Hanafi, suaranya, tingkah lakunya, jika ia sedang menyatakan cintanya, semuanya sungguh membawa hanyut kepada Corrie. Itu tak disangkal lagi. Tapi Corrie ‘tidak suka’ akan menjadi istrinya, karena ‘tidak boleh’!
“Itulah perasaan hati yang menindih segala pikiran sehat.” (halaman 57)
Di dalam kalbunya seolah-olah timbullah jerit yang seni, yang tidak keluar dari mulut. Sekonyong-konyong terasa pedihlah jantungnya bagai diiris-iris.
Pada beberapa hari lalu, dalam sakit di tempat tidur, telah dicoba-cobanya pula membenarkan dan memaafkan perbuatan Corrie atas dirinya... Tercerainya mereka hanyalah sebab perasaan dan pendapat orang di luar saja! (halaman 79)
Lalu, dibanding-bandingkannya antara Corrie dengan Rapiah. Corrie anak terpelajar dan oleh karena itu takabur... Belum lagi jadi istrinya, kata penghinaan sudah lalu-lalang saja dikeluarkannya. Di sebelah kiri Corrie berdiri Rapiah. Pelajarannya sederhana, tentu ia insaf akan dirinya... Sebenarnya di dalam halnya serupa ini, serupa Rapiah itulah yang patut menjadi istrinya. Sebab ia tidak mengharapkan lagi akan istri yang setuju dengan cita-citanya, jadi ia mesti kawin juga, penyenangkan hati ibunya hanyalah Rapiah yang boleh diambilnya. Sekalian buat melunaskan utang...! (halaman 80)
Hanafi berasa, bahwa di antara kedua istrinya itu, sungguh tak ada seorang jua berkekurangan, walau tentang budi dan derajat, meski tentang mencintai suami sekalipun. Hanya si suami jualah yang salah mengasuhnya, karena si suami itu telah menjadi orang tanggung, sebab salah asuhannya sendiri. Kedua istri itu sudahlah menjadi korban daripada kesalahannya itu. (halaman 104)
Melalui kutipan-kutipan tersebut, tokoh Hanafi digambarkan sebagai seseorang yang mengalami konflik dan kebingungan dalam menentukan pilihan hidupnya. Ia menyadari bahwa dirinya sangat mencintai Corrie, namun terhalang oleh norma dan pandangan masyarakat. Di sisi lain, ia merasa Rapiah adalah pilihan yang lebih patut dan dapat diterima oleh lingkungan, meskipun cintanya tidak sebesar kepada Corrie. Pikiran Hanafi dipenuhi oleh penyesalan, pertentangan antara logika dan perasaan, serta rasa bersalah karena menyadari bahwa kedua perempuan tersebut menjadi korban dari keputusan dan ketidaktegasan dirinya sendiri.
2. Tokoh Corrie du Bussee
Teknik Cakapan
Tokoh Corrie du Bussee menunjukkan sikap tegas dan emosional. Kata-kata Corrie sering kali mencerminkan ketegangan dan kekecewaan yang ia rasakan dalam hidupnya. Corrie memiliki sifat yang tidak segan untuk menyampaikan keinginannya dengan jelas, bahkan dalam situasi yang agak terburu-buru dan penuh perasaan. Selain itu, ungkapan tentang perceraian yang ia alami mencerminkan kedalaman emosionalnya, seperti perasaan terluka, kecewa, dan bingung dengan nasib yang menimpanya. Melalui teknik cakapan ini, dapat dilihat bahwa Corrie merupakan sosok yang kuat, berani mengungkapkan perasaan, meski sering kali dikelilingi oleh konflik batin dan emosi yang mendalam. Hal tersebut dapat dibuktikan melalui kutipan-kutipan berikut ini.
“Simin!” kata Corrie, dengan suara keras dan nyaring.
“Minta es... sama sirop asam... oh, tidak sirop vanili saja...” Sejurus lagi, “Simin, ah, minta air Belanda saja!”
“Apa engkau hendak menanti sampai aku mati sebab haus, Simin? Lekas dan toh, es banyak!” (halaman 15)
“Habis, binasalah kau satin!” (halaman 16)
“Dengan kodrat Tuhan aku diceraikan dari ayahku, setiap kuingat akan perceraian itu rasa terhamburlah daraku, rasa pilulah hatiku. Sekarang engkau dengan sengaja menceraikan diri dari ibumu?” (halaman 168)
Melalui kutipan tersebut, tokoh Corrie du Bussee digambarkan sebagai sosok yang emosional, tegas, dan cenderung keras dalam bertutur kata. Ia tampak tidak sabaran, menyuruh-nyuruh dengan nada tinggi, bahkan memaki pelayan rumahnya. Gaya bicaranya mencerminkan sifat arogan dan terbiasa memerintah. Namun, dalam kutipan lain, Corrie juga menunjukkan sisi rapuh dan emosional ketika mengingat perpisahan dengan ayahnya dan menegur seseorang yang ingin menjauh dari ibunya. Hal ini menunjukkan bahwa Corrie adalah pribadi kompleks yang keras di luar, tetapi menyimpan luka dan perasaan mendalam.
Teknik Tingkah Laku
Tokoh Corrie du Bussee melalui tindakan-tindakannya mencerminkan sifat dan perasaannya. Tindakannya yang tampak tergesa-gesa dan penuh kemarahan mencerminkan ketegangan dalam dirinya. Saat ia berbicara dengan Hanafi, terlihat bahwa Corrie memiliki sifat yang penuh pertimbangan, berusaha sabar dan memberi ruang bagi suaminya. Namun, ada juga sisi keras dalam dirinya, seperti ketika ia mengakui bahwa ia menjadi lebih keras kepala dan tidak mudah mengampuni dosa suaminya. Perubahan perilakunya setelah menikah menunjukkan betapa ia berusaha menyesuaikan diri dengan peran barunya sebagai seorang istri, meskipun pada akhirnya sifat hati batunya tetap ada. Teknik tingkah laku ini berhasil menggambarkan karakter Corrie sebagai sosok yang penuh emosi, dan selalu berusaha menjaga kehormatan dirinya dalam situasi yang penuh tekanan. Hal tersebut dibuktikan melalui kutipan-kutipan berikut.
Setelah ia duduk di atas sofa, maka dilemparkannya raketnya sampai ke sudut; dengan cepat dibukanya kedua belah sepatu tenisnya, lalu dilemparkannya pula sejauh-jauhnya. Maka menghempaslah ia tidur di atas sofa, tanpa berkata sepatah jua. (halaman 15)
“Luar biasa. Sabarlah sedikit. Rupanya ada yang tidak berkenan pada hatimu.” (halaman 16)
“... Semakin lanjut umurku, semakin nyatalah bagiku sifat-sifat dan fiilku yang sungguh jauh daripada baik. Lihatlah, aku ini keras kepala--- serupa dengan engkau. Lain daripada itu, bahwa hatiku tidak tetap, sebentar begini, sebentar begitu. Dari kecil hidupku dimanjakan, dan belum pernah aku hidup berkekurangan; jadi kata orang aku ini ‘berkepala besar’...” (halaman 171 dan 172)
“Mudah-mudahan, Han, percayalah aku akan ikhtiarmu.” (halaman 191)
Sebabnya tak lain hanyalah karena Corrie, setelah bersuami seolah-olah sudah bersalin rupa... gadis itu sebagai istri Hanafi sudah mengganti fiil dengan seketika. Kepada suaminya tak sekali-kali tidak berkekurangan tentang adab dan tertib atau ramah-tamahnya... Istrinya hamlir tak pernah membantah segala kehendaknya. (halaman 194)
Hanya saja Corrie berhati batu, tidak mengampuni dosa kesalahan orang, yang sudah diterimanya menjadi suaminya. (halaman 251)
Dalam kutipan tersebut digambarkan sebagai pribadi yang emosional, keras kepala, dan manja akibat hidup dalam kemewahan sejak kecil. Tindakan melempar raket dan sepatu menunjukkan sifat temperamental dan impulsifnya. Namun, seiring berjalannya waktu, Corrie mengalami perubahan sikap setelah menjadi istri Hanafi. Ia digambarkan sebagai istri yang ramah, patuh, dan penuh tata krama terhadap suaminya. Meski begitu, ia tetap menunjukkan keteguhan prinsip, terutama dalam hal memaafkan yang menandakan bahwa Corrie adalah sosok yang sulit melupakan kesalahan besar dan tetap tegas dalam mempertahankan harga dirinya.
Teknik Pikiran dan Perasaan
Tokoh Corrie du Bussee digambarkan memiliki pergulatan batin dan penuh penyesalan. Corrie mulai merasakan kebingungan dan ketidakpuasan terhadap keputusannya untuk menikahi Hanafi. Meskipun ada rasa kasihan yang mendalam terhadap suaminya, perasaan tersebut bukanlah bentuk cinta sejati, melainkan lebih karena rasa terpaksa dan pengaruh lingkungan. Seiring berjalannya waktu, ia mulai merasa terasing dari dunia yang ia kenal dan semakin terperangkap dalam pernikahan yang ia rasa membatasi kebebasannya. Rasa sesal atas pilihan hidupnya semakin menguasai pikirannya, seperti yang tampak pada pengakuannya bahwa ia terpaksa menerima Hanafi sebagai suami karena rasa kasihan, bukan cinta. Perasaan Corrie semakin tertekan oleh ketajaman kata-kata suaminya yang sering melukai hati, dan ia merasa dunia yang sempit semakin diperburuk dengan situasi tersebut. Konflik batin yang ditunjukkan melalui teknik ini menggambarkan karakter Corrie yang penuh keraguan, kesedihan, dan perasaan terperangkap dalam keputusan hidupnya. Hal tersebut dapat dibuktikan melalui kutipan-kutipan berikut.
...Maka tersurat segala nasihat ayahnya dalam kalbunya. Pendeknya yakinlah ia, bahwa secara pergaulan hidup dan perasaan sesama manusia sekarang, akan melaratnya kawin campur itu, daripada manfaatnya. (halaman 57)
“...Janganlah engkau tidak mengetahui, bahwa pada saat ini, boleh dikatakan aku tak mempunyai sahabat seorang jua, lain daripada engkau... Kasihanilah aku Hanafi! Di dalam sepekan dua pekan di sini, hatiku ingin hendak bergaul dengan sahabat, dengan saudara, secara dahulu kita lakukan.” (halaman 122)
“Sebenarnya adalah hatiku menyesal sedikit, bahwa keadaanmu sebagai laki-laki, tidak berbeda dengan keadaan laki-laki yang lain... Entahlah! Pada laki-laki lain memang aku takut, geli, dan jijik buat bersinggungan kulit. Hanya berpegangan tangan dengan engkau saja aku tak geli.” (halaman 172 dan 173)
Menyesalkah ia, bahwa ia sudah menyerahkan untungnya ke tangan laki-laki itu?... Hanya yang diketahuinya, bahwa ia sebagai... “setengah terpaksa” menerima Hanafi jadi suaminya, karena... “kasihan”! Ya---cinta Corrie kepada Hanafi semata-mata hanya berdasar kepada kasihan. (halaman 182)
Tapi dunia yang sudah sempit bagiku, karena keadaan kita berdua, tambah kaupersempit lagi, karena ketajaman kata-katamu sewaktu-waktu terhadap kepada istrimu.” (halaman 197)
Corrie duduk di atas kursinya sebagai terpaku... Sakit hatinya, karena orang lain berasa berhak akan menanyai di dalam suatu hal yang demikian kejinya. Tidak! Sekali-kali ia tidak suka memperkatakan hal busuk itu dengan orang sembarangan saja. Hal “memperkatakan” itu sudah dipandangnya “hina” bagi dirinya. (halaman 223)
Melalui kutipan tersebut, tokoh Corrie du Bussee digambarkan sebagai sosok yang rumit dan sedang mengalami konflik batin. Ia merasa kesepian, ragu, dan kecewa dengan keadaan pernikahannya. Awalnya, Corrie menikahi Hanafi bukan karena cinta, tetapi karena rasa kasihan. Corrie juga merasa sakit hati karena Hanafi sering berkata tajam dan mempersempit hidupnya yang sudah terasa sempit.
3. Tokoh Rapiah
Teknik Cakapan
Tokoh Rapiah digambarkan sebagai seorang perempuan yang penuh kesadaran diri, tegas, dan memiliki pendirian yang kuat. Rapiah tidak mudah terpengaruh oleh godaan atau perasaan yang datang begitu saja. Ia dengan tegas menolak ide untuk menggantikan Hanafi, meskipun situasi hidupnya sedang sulit dan penuh ketidakpastian. Melalui kata-katanya, Rapiah menunjukkan bahwa ia memiliki prinsip yang kuat mengenai nasib dan masa depannya. Ia tidak merasa perlu untuk mengorbankan integritasnya hanya demi memenuhi harapan orang lain, dan bahkan meragukan kemampuannya untuk menerima seseorang sebagai pasangan setelah mengalami kesulitan dalam pernikahannya. Karakter Rapiah yang penuh pemikiran ini tercermin dalam cakapan-cakapannya yang lugas, yang mencerminkan perasaan dan sikapnya terhadap situasi yang sedang ia hadapi, serta keteguhannya untuk tetap setia pada diri sendiri. Hal tersebut dapat dibuktikan melalui kutipan-kutipan berikut ini.
“Ibu!... Jika sungguh-sungguh Ibu hendak mengambil aku pengganti Hanafi, bawalah aku ke mana kehendak Ibu. Hanya bila Ibu rindu hendak ke Betawi, antarkanlah kami ke Bonjol.” (halaman 163)
“Ya Bu, seteguh-teguh iman, sesuatu ketika timbul jualah setan dan iblis menggoda manusia. Hampir tiga tahun ia sudah berjalan; entah pun mati, tidak kabar tidak berita. Sekedar anaknya saja sepatutnya diketahuinya juga hendaknya!” (halaman 234)
“Ah Ibuku! Janganlah Ibu sebut-sebut juga pasal hendak mengganti Hanafi itu, karena tak ada sesaat juga hatiku sudi “memikirkan” hal yang serupa itu. Tambahan lagi---seorang perempuan semacam ini, yang sudah pula mempunyai anak, siapakah konon yang masih hendak kepadanya?” (halaman 235)
Melalui kutipan-kutipan tersebut, tokoh Rapiah digambarkan sebagai sosok yang tulus, patuh, dan tegar dalam menghadapi kenyataan hidup. Ia menunjukkan ketulusan dan kepatuhan terhadap ibu mertuanya dengan bersedia mengikuti kehendaknya, termasuk bila harus menggantikan posisi Hanafi dalam keluarga, asalkan mertuanya bahagia. Namun, Rapiah juga realistis dan penuh kesadaran diri, seperti terlihat saat ia menyatakan kekecewaannya karena Hanafi pergi tanpa kabar selama bertahun-tahun. Meskipun demikian, ia tetap memahami bahwa manusia bisa tergoda melakukan kesalahan. Ketika ibu mertuanya membicarakan kemungkinan mencari pengganti Hanafi, Rapiah dengan tegas menolaknya karena merasa dirinya sudah tidak layak, sebagai perempuan yang telah ditinggal suami dan memiliki anak. Hal ini menunjukkan bahwa Rapiah adalah perempuan yang menjaga harga diri, sabar, dan kuat dalam menghadapi penderitaan.
Teknik Tingkah Laku
Tokoh Rapiah digambarkan sebagai seorang istri yang sabar, patuh, namun juga penuh rasa rendah diri dan ketakutan terhadap suaminya. Meskipun ia tidak merasa dicintai oleh Hanafi, Rapiah tetap menunjukkan kesetiaan dan kepatuhan yang luar biasa. Di balik keteguhannya, Rapiah adalah sosok yang memahami perannya sebagai istri dengan sepenuh hati, meski ia tidak bisa mengharapkan cinta dari suaminya. Teknik tingkah laku ini menunjukkan betapa Rapiah adalah seorang wanita yang terperangkap dalam perasaan kasihan dan ketakutan, namun tetap berusaha melakukan yang terbaik dalam peran yang diberikan kepadanya. Hal tersebut dapat dibuktikan melalui kutipan-kutipan di bawah ini.
Rapiah, yang tahu arti “misbruik” itu, menundukkan kepala, alamat bersyukur atas kemurahan hati junjungan itu. Suaminya itu sungguh-sungguh sudah dipandangnya sebagai junjungan. Berasalah ia akan kecilnya, hinanya, dan bodohnya di sisi suaminya yang dipandangnya sebagai orang terpandai dan sebenarnya tidak sejodoh dengan dia. (halaman 90)
Kalau suaminya ke kantor atau keluar rumah, lapanglah dadanya, nyaring suaranya, tapi kalau Hanafi ada di rumah, mulutnya bagai diketam. Ia tak benci pada suaminya, melainkan takut. (halaman 91)
Rapiah, yang sedang memandang pula keluar jendela segera berpaling kepada ibunya, lalu gelak terbahak-bahak, menekan-nekan perutnya... “Aduh, Bu!” demikian akhirnya berkata sambil menyapu-nyapu matanya dengan bajunya, “Aduh! Sudah sekian lama keadaan di dalam rumah kita sebagai negeri dialahkan garuda saja. Gerak yang sekeras ini rasanya selama ini amat menjauh dari tempat kita!” (halaman 235)
“Mudah-mudahan Tuhan akan mengabulkan kehendakmu itu, Piah. Manusia yang sesabar dan seiman engkau yang tak luput daripada karunia Allah.” (halaman 246)
Rapiah---seorang istri yang sabar dan yakin kepada suami. Benar, “cinta” Hanafi kepadanya tidak ada, tak mungkin akan diperoleh oleh Rapiah. Tapi kasihan---pilu rasa hatinya, apabila dikenangnya akan nasib perempuan yang semalang itu, yang senantiasa adab dan yakin kepada suami...Rapiah benar berhati mulia... Benar emas Rapiah itu... (halaman 267)
Melalui kutipan-kutipan tersebut, tokoh Rapiah digambarkan sebagai seorang istri yang penuh kesabaran, rendah hati, dan sering kali merendahkan diri di hadapan suaminya, Hanafi. Ia merasa dirinya kecil, hina, dan bodoh dibandingkan dengan suaminya yang dipandangnya sebagai orang terpandai. Ketika suaminya tidak ada di rumah, Rapiah merasa lebih bebas dan lapang, tetapi saat Hanafi ada, ia cenderung menahan diri dan diam, bukan karena benci, melainkan karena takut. Meskipun demikian, Rapiah tetap bersabar dan menerima nasibnya dengan tulus, bahkan dalam situasi yang penuh tekanan dan ketidakbahagiaan. Di sisi lain, meskipun cinta Hanafi tidak pernah hadir untuknya, Rapiah tetap berusaha menjaga kesetiaan dan keyakinannya terhadap suami. Ia juga menunjukkan sikap humoris dan ringan dalam beberapa situasi, seperti saat ia tertawa terbahak-bahak bersama ibunya, meski di dalam hatinya tetap ada rasa pilu atas nasibnya. Rapiah merupakan sosok yang memiliki hati mulia, sabar, dan berusaha menerima keadaan dengan lapang dada meskipun hidupnya jauh dari kebahagiaan yang diidam-idamkan.
Teknik Pikiran dan Perasaan
Tokoh Rapiah digambarkan sebagai seorang wanita yang dihantui perasaan cemas, ketidakpastian, dan kepasrahan yang mendalam. Ketika menghadapi hinaan dari suaminya, Rapiah memilih untuk diam, menyembunyikan rasa sakit meskipun hatinya terluka. Perasaan cemas ini semakin mempengaruhi fisiknya, yang terlihat dari penurunan kondisi tubuhnya, hingga ia merasa bahwa perasaan buruk yang ia alami ada kaitannya dengan firasat atau takhayul yang diyakininya. Dalam situasi yang penuh ketidakpastian ini, Rapiah berusaha untuk tetap tegar demi anaknya, meski di dalam hatinya, ia merasa semakin hancur. Teknik ini menunjukkan betapa Rapiah, meskipun tertekan, tetap berjuang dengan cara yang halus, menghadapi rasa sakit dengan diam, dan mencoba untuk menjaga ketenangan di depan orang lain, bahkan ketika dirinya diliputi oleh keraguan dan kekhawatiran.
Secara rupa, Rapiah waktu itu, di tengah-tengah kedua perempuan bangsa Barat yang berpakaian segala indah, patut benarlah ia dinamakan koki Hanafi pemberian ibunya. Rapiah memang sudah kehilangan gentar atau malu, memperlihatkan rupa secara itu ke muka sahabat-sahabat suaminya... Sambil merentakkan anak itu ke tangan ibunya, dikatainyalah istrinya di muka kawan-kawannya dengan segala nista dan penghinaan, hingga ketiga tamu itu menjadi resah dan tidak berketentuan rasa lagi... Rapiah tunduk, tidak menyahut hanya air matanya saja yang berhamburan. (halaman 101)
“...Setiap engkau menghinakan dia dengan tidak ada salahnya, ia hanya menerima kekerasan engkau dengan tersenyum dan muka yang jernih saja...” (halaman 104)
“Entah apakah sebabnya Bu, darahku tak senang. Pada perasaanku perceraian ini akan lebih dari tiga pekan lamanya.” (halaman 112)
“... Tetapi hatiku cemas-cemas saja... Hampir setiap malam aku bermimpi yang buruk-buruk saja...” (halaman 143)
“Mimpi asalnya dari kenang-kenangan, Piah! Setiap hari engkau mengenangkan Hanafi saja, sampai tubuhmu menjadi kurus...” (halaman 143)
“... Entah alamat apa yang sudah datang pada diriku, aku tak dapat mengatakannya; tetapi perasaanku sudah lain. Kata orang, kita tidak boleh percaya akan takhayul, tapi banyak pula orang yang berkata, jika sanggul rambut terlepas sedang makan, alamat suami hendak direbut orang. Benarkah demikian ibu?” (halaman 144)
“Sudah tiga Kamis kita menanti-nanti, Bu. Pada hari ini besar sungguh keyakinanku, bahwa surat itu akan datang. Tetapi, terlebih besar pula keyakinanku, bahwa kabar buruk akan kita terima.” (halaman 146)
Sekonyong-konyong terdengarlah Syafei menjerit dengan tidak tentu apa sebabnya... “Meskipun ia masih belum berpengetahuan, tapi yang sedang dirasainya takkan jauh ubahnya dan yang sama kita rasai, Bu,” demikian kata Rapiah sambil menangis. (halaman 151)
“Surat keputusan,” katanya mengeluh. Sejurus lamanya kedua perempuan itu berpandang-pandangan dengan tidak berkata sepatah jua. Hanya air mata mereka saja yang jatuh bercucuran."(halaman 160)
Rapiah pun insaf benar bahwa anaknya sedang menghiburkan hatinya. Tapi jangankan hibur, semakin pilulah hatinya melihat perangai anaknya yang serupa itu. Hanya sekadar janganlah menyedihkan hati anaknya saja, dipaksa-paksanyalah dirinya tersenyum lalu menyapu-nyapu kepala anaknya. (halaman 243)
Melalui kutipan tersebut, Rapiah digambarkan sebagai seorang istri yang sangat menderita secara emosional, tertekan oleh perlakuan buruk suaminya, Hanafi, dan merasa sangat rendah diri. Meskipun dihina dan diperlakukan dengan kekerasan, ia hanya bisa menerima perlakuan itu dengan diam dan air mata, tanpa melawan. Dalam pikirannya, Rapiah sering kali merasa cemas dan tidak tenang, bahkan hingga mimpi buruk menghantui tidurnya yang menunjukkan betapa besar kekhawatirannya terhadap nasib rumah tangganya. Ia merasa bahwa kehidupan pernikahannya penuh dengan ketidakpastian, dan setiap harinya dipenuhi dengan rasa takut, ketegangan, dan kebingungan. Selain itu, Rapiah juga merasa terisolasi dan tak punya banyak harapan. Ia sering kali merasakan ketidaknyamanan dalam kehidupan rumah tangga yang didominasi oleh ketegangan dan ketidakbahagiaan, sehingga perasaan cemas dan putus asa sering kali muncul dalam pikirannya. Meski begitu, Rapiah berusaha keras untuk menahan rasa sakitnya demi anaknya, meskipun hatinya semakin pilu melihat anaknya yang juga merasakan penderitaan yang sama. Keputusannya untuk tersenyum dan menghibur anaknya hanya sebagai upaya untuk menenangkan perasaan anaknya, meskipun dirinya sendiri terluka dan terpuruk. Perasaan rapuh, bingung, dan tertekan ini menunjukkan kedalaman penderitaan emosional yang dialami oleh Rapiah.
Daftar Pustaka
Moeis, Abdoel. (2009). Salah Asuhan. Jakarta: PT. Balai Pustaka (Persero).
Nurgiyantoro, Burhan. (2018). Teori Pengkajian Fiksi. Yogyakarta: Gadjah Mada University Press.
