Konten dari Pengguna

Sastra Bandingan Nusantara: Jejak Budaya dan Cerita yang Menyatukan Keragaman

Alya Nuraini

Alya Nuraini

Mahasiswa Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia, Fakultas Ilmu Tarbiyah dan Keguruan, UIN Syarif Hidayatullah Jakarta.

·waktu baca 8 menit

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Alya Nuraini tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Kumpulan Buku di Perpustakaan. Sumber: (https://www.pexels.com).
zoom-in-whitePerbesar
Kumpulan Buku di Perpustakaan. Sumber: (https://www.pexels.com).

Indonesia adalah salah satu negeri yang kaya sebagai sumber penelitian sastra bandingan. Tidak semua bahasa yang tumbuh di Indonesia memiliki aksara, tetapi berbagai tradisi lisan yang berkembang justru menjadi kekayaan yang tak habis-habisnya untuk dikaji dalam konteks sastra bandingan. Sastra sebagai bagian dari kebudayaan sangat dipengaruhi oleh geografi dan sumber daya alam yang sekaligus membentuk struktur masyarakat dan tata nilai. Semua hal tersebut terekam dan ditanggapi secara kreatif dalam karya sastra. Berbagai dongeng yang diciptakan oleh nenek moyang, yang hingga kini masih tersisa dalam ingatan kolektif, perlu dibandingkan agar dapat memberikan gambaran yang lebih jelas mengenai persamaan dan perbedaan budaya serta cara pandang masyarakat dari masa ke masa.

Dalam sebuah makalahnya, A. Ikram (1990) menawarkan studi perbandingan yang didasarkan pada sastra-sastra yang berkembang di Nusantara, sebuah gagasan yang sangat relevan dengan situasi kebahasaan di kawasan ini. Dalam makalah tersebut, ia mengelompokkan masalah berdasarkan konsep-konsep yang ditawarkan oleh Clements (1978), yaitu genre dan bentuk, periode, aliran dan pengaruh, serta tema dan mitos. Pendekatan ini memberikan kerangka yang sistematis untuk menelaah kekayaan sastra Nusantara secara komprehensif.

A. Genre dan Bentuk dalam Sastra Nusantara

Beberapa genre berkembang di Indonesia dan tradisi sastra Nusantara memiliki kekayaan genre yang khas atau tidak dimiliki banyak bangsa. Di kawasan ini, dapat ditemukan genre wiracarita dalam berbagai bentuk, seperti syair, kidung, kakawin, hikayat, teater rakyat, dan penglipur lara. Kisah kepahlawanan menjadi genre penting yang berkembang dalam bentuk-bentuk yang berasal dari luar, misalnya syair dan hikayat yang aslinya dari bahasa dan kebudayaan Arab, serta kakawin yang bentuk aslinya dari India. Genre wiracarita yang ditulis dalam beragam bentuk ini juga muncul dalam wahana berbeda, misalnya pertunjukan teater rakyat. Perbandingan antara kisah kepahlawanan dalam hikayat dan yang muncul dalam teater menjadi aspek penting dalam studi sastra bandingan.

Kakawin ditulis dalam bahasa Jawa Kuna, sedangkan hikayat menggunakan bahasa Melayu. Perbandingan antara keduanya dapat mengungkap banyak hal mengenai cara pengungkapan dan pilihan yang digunakan pengarang. Dalam penelitian semacam ini, kendala utama adalah bahasa. Sastra bandingan menekankan pentingnya penggunaan bahasa asli. Oleh karena itu, peneliti yang membandingkan kakawin dan hikayat harus menguasai kedua bahasa dengan baik. Terjemahan dapat mempermudah, tetapi hanya terjemahan yang teliti dan setia pada naskah asli yang layak dijadikan bahan bandingan.

a. Jenis Genre dalam Sastra Nusantara

a) Sastra Didaktik

Genre yang digemari di Indonesia adalah sastra didaktik. Sifat didaktik memang sulit dihindari dalam sastra tradisional karena masyarakat lama masih menganggapnya sebagai inti dari setiap karya sastra. Bentuknya beragam, mulai dari syair, hikayat, cerita berbingkai, kidung, sastra tanya jawab, hingga cerita binatang. Semuanya digunakan sebagai wahana untuk menyampaikan nasihat.

Dalam sastra Jawa klasik, tembang pun kerap dipergunakan untuk menyampaikan pesan moral atau nasihat. Dapat dikatakan bahwa fungsi tembang sebagai penyampai amanat tidak bisa dilepaskan dari bentuknya. Tokoh dalam genre ini bisa berupa manusia maupun binatang. Cerita binatang yang ditemukan di berbagai tradisi, diciptakan terutama untuk memenuhi fungsi didaktiknya. Berbagai jenis binatang digunakan untuk menyampaikan pesan mengenai keagamaan, adat, dan etika kehidupan bermasyarakat. Cara penyampaiannya pun bervariasi, ada yang lugas, terselubung, bahkan disalut dengan kelakar, sehingga pesan moral dapat diterima dengan cara yang menarik bagi pembaca atau pendengar.

b) Sastra Sejarah

Sastra sejarah merupakan genre yang tersebar di berbagai masyarakat, misalnya kebudayaan Melayu telah menghasilkan Sejarah Melayu, sebuah kitab yang dianggap sangat penting oleh sebagian orang Melayu sehingga kerap dipandang sebagai catatan sejarah otentik, meskipun sisi fiksinya sering terlupakan. Begitu pula kebudayaan Jawa yang melahirkan sejumlah besar babad yang oleh sebagian masyarakat Jawa juga dianggap sebagai sejarah.

Sastra sejarah biasanya dihasilkan oleh masyarakat yang pernah memiliki kerajaan, karena salah satu fungsinya adalah mencatat apa yang telah dilakukan suatu dinasti dalam membangun dan memerintah kerajaannya. Sebagai alat legitimasi kekuasaan, sastra sejarah yang panjang dan lengkap sering menjangkau asal-usul masyarakat tersebut, mulai dari zaman prasejarah hingga zaman sejarah. Dalam upaya menelusuri asal-usul itu, sastra sejarah kerap dimulai dengan mitologi yang menjelaskan terbentuknya suatu bangsa, sehingga menggabungkan unsur historis dan cerita mitos dalam satu kesatuan yang kaya makna.

c) Mantra

Genre lain yang selalu hadir dalam berbagai kebudayaan adalah mantra yang dimiliki oleh seluruh suku bangsa di Indonesia. Mantra merupakan bagian dari tradisi lisan yang digunakan sebagai wahana untuk mencapai berbagai maksud dan tujuan. Dalam masyarakat lama, mantra diyakini mampu menimbulkan atau menghasilkan berbagai hal, sekaligus mendukung niat untuk mencapai suatu tujuan tertentu. Fungsi mantra pun tidak terbatas, yaitu dapat dipergunakan untuk memikat atau mencelakakan orang, menolak bala, mendatangkan hujan, menyukseskan perburuan, hingga mengobati penyakit. Dalam konteks sastra bandingan, mantra menjadi sumber penelitian yang sangat kaya karena genre ini ditemukan di mana saja dan kapan saja, tidak hanya di Indonesia dan tidak terbatas pada tradisi lisan saja.

b. Bentuk Sastra Nusantara

Studi mengenai bentuk sastra juga memiliki ruang yang luas meskipun tidak sebesar kajian tentang genre. Bentuk sastra Nusantara, antara lain:

a) Tembang

Di Jawa, Sunda, dan Bali, terdapat bentuk-bentuk tembang yang hampir serupa. Perbandingan bentuk-bentuk ini dapat memberikan pemahaman mengenai perkembangan yang terjadi dalam setiap bentuk serta strategi yang digunakan masing-masing suku bangsa dalam mengembangkannya.

b) Pantun

Bentuk lain yang menarik untuk diteliti adalah pantun, tradisi lisan yang ditemukan di beberapa daerah di Indonesia. Di Jawa, pantun dikenal sebagai parikan. Penelitian perbandingan dapat mengungkap persamaan dan perbedaan di antara keduanya, bagaimana orang Melayu mengembangkan pantun, dan bagaimana orang Jawa memanfaatkan parikan dalam berbagai genre dan teater tradisional. Pantun dalam kebudayaan Melayu dipergunakan sebagai bentuk sastra resmi dalam kegiatan sosial, termasuk pantun agama, pantun adat, dan pantun orang tua yang berfungsi mendidik masyarakat. Sementara itu, parikan di Jawa biasanya muncul dalam teater tradisional seperti ludruk, berisi ungkapan ringan yang berfungsi sebagai hiburan.

c) Sastra Tanya Jawab

Bentuk lain yang bisa menjadi bahan penelitian penting adalah sastra tanya jawab (Ikram, 1990:10). Sastra tanya jawab dapat dipelajari dalam kaitannya dengan sastra di Indonesia, juga hubungannya dengan bentuk serupa dalam kesusastraan Arab dan Sansekerta. Bentuk ini sangat digemari oleh sastrawan yang menghasilkan karya sastra didaktik karena fleksibilitasnya dalam menyampaikan pesan. Selain itu, bentuk cerita berbingkai juga menunjukkan kelenturan yang tinggi dan menarik untuk diteliti, karena mampu menampung berbagai cerita di dalam satu narasi sehingga memperkaya tradisi sastra yang ada.

B. Periode, Aliran, dan Pengaruh dalam Sastra Nusantara

Penelitian mengenai genre dalam sastra Nusantara seringkali tidak bisa dipisahkan dari kajian tentang pengaruh. Dalam konteks ini, pengaruh mencakup perubahan bentuk, saduran, dan terjemahan yang terjadi ketika sebuah karya berpindah dari satu budaya ke budaya lain. Contohnya, cerita Amir Hamzah yang aslinya ditulis dalam bahasa Arab telah mengalami transformasi yang signifikan ketika diadaptasi ke dalam sastra Bugis, Sasak, Melayu, dan Jawa. Perubahan ini menyangkut bahasa, gaya penyampaian, struktur cerita, dan cara tokoh digambarkan, menyesuaikan dengan konteks budaya masing-masing masyarakat.

Fenomena semacam ini menunjukkan karya sastra bukan hanya teks statis, melainkan hidup dan berkembang sesuai dengan lingkungan sosial dan budaya yang menerimanya. Transformasi itu memperkaya khasanah sastra Nusantara sekaligus mengungkapkan cara masyarakat memahami, menyaring, dan mengolah karya dari luar agar relevan dengan nilai-nilai lokal. Selain itu, kisah-kisah Nabi Muhammad yang tersebar di berbagai daerah pun mengalami perubahan serupa, meskipun inti ceritanya tetap sama. Dalam banyak hal, kisah-kisah ini menyerupai cerita-cerita tentang wali, yang menunjukkan adanya adaptasi yang menekankan relevansi sosial, moral, dan religius bagi masyarakat setempat.

Dengan kata lain, studi sastra bandingan menggambarkan perbedaan bentuk dan gaya, juga menelusuri bagaimana pengaruh lintas budaya membentuk aliran, periode, dan karakteristik sastra Nusantara. Proses transformasi ini menjadi jendela untuk memahami dinamika budaya, yakni sastra berperan sebagai media yang menyatukan, mengubah, dan menyesuaikan nilai-nilai asing ke dalam konteks lokal.

C. Tema dan Mitos

Studi mengenai tema dan mitos dalam sastra Nusantara sangat erat kaitannya dengan cara masyarakat menafsirkan kisah-kisah klasik. Tema besar yang mendukung karya agung seperti Mahabharata berkembang di Indonesia dalam berbagai bentuk, kemudian diolah kembali oleh pengarang modern untuk menanggapi masalah-masalah yang muncul dalam kehidupan sehari-hari. Tokoh-tokoh Mahabharata seperti Arjuna, Bima, dan Sita, bahkan tokoh universal seperti Oedipus dan Nasruddin, tampil dalam wajah baru sesuai konteks zaman dan budaya.

Contoh menarik yang menunjukkan kaitan tema dan mitos adalah kisah yang berdasarkan konsep Oedipus Kompleks, yakni hubungan asmara antara ibu dan anak. Kisah semacam ini muncul di banyak kebudayaan, termasuk di Indonesia, misalnya dalam cerita Prabu Watugunung di Jawa dan Sangkuriang di Sunda. Membandingkan tema dan mitos semacam ini membantu kita memahami lebih dalam tentang kehidupan psikologis manusia serta bagaimana masyarakat memandang hubungan, moral, dan konflik batin. Melalui pengolahan lokal, kisah-kisah ini menjadi karya sastra unik yang berbeda jauh dari versi aslinya di Yunani, namun tetap memuat nilai-nilai budaya dan pemahaman manusia universal.

Daftar Pustaka

Damono, Sapardi Djoko. (2015). Sastra Bandingan. Ciputat: Editum.

Rafiek, M. (2017). Mencari Tanah Hangat (Panas) dan Berbau Harum: Kisah Migrasi Empu Jatmaka dalam Hikayat Raja Banjar atau Empu Jatmika dalam Tutur Candi (Kajian Sastra Bandingan Nusantara). Litera (Jurnal Penelitian. Bahasa, Sastra, dan Pengajarannya). 341-357.