Konten dari Pengguna

Strukturalisme Genetik dalam ‘Peringatan’ dan ‘Malu (Aku) Jadi Orang Indonesia'

Alya Nuraini

Alya Nuraini

Mahasiswa Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia, Fakultas Ilmu Tarbiyah dan Keguruan, UIN Syarif Hidayatullah Jakarta.

·waktu baca 9 menit

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Alya Nuraini tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Ilustrasi Buku Terbuka. (Sumber: https://www.pexels.com)
zoom-in-whitePerbesar
Ilustrasi Buku Terbuka. (Sumber: https://www.pexels.com)

Puisi merupakan kata-kata indah atau ungkapan perasaan pribadi. Selain itu, puisi juga menjadi cerminan realitas sosial dan sejarah yang dialami pengarang. Dalam konteks Indonesia, karya Wiji Thukul 'Peringatan' dan Taufiq Ismail 'Malu (Aku) Jadi Orang Indonesia' menunjukkan pengalaman hidup di tengah tekanan politik dan krisis sosial membentuk cara pengarang memandang dunia. Melalui puisi, Wiji Thukul menegaskan keberanian rakyat yang harus bersuara dan melawan penindasan pada era Orde Baru pertengahan 1980-an, sementara Taufiq Ismail merekam kekecewaan generasi yang menyaksikan moral dan hukum bangsa runtuh menjelang krisis ekonomi dan politik tahun 1998. Kedua karya ini menjadi suara kolektif masyarakat yang menangkap konflik nilai, ketidakadilan, serta aspirasi perubahan yang nyata di lapangan.

Strukturalisme genetik dikemukakan oleh Lucien Goldmann, seorang filsuf dan sosiolog asal Rumania–Prancis. Gagasan mengenai strukturalisme genetik tersebut diperkenalkan Goldmann melalui bukunya yang berjudul The Hidden God: A Study of Tragic Vision in the Pensées of Pascal and the Tragedies of Racine yang pertama kali terbit dalam bahasa Prancis pada tahun 1956. Teori strukturalisme genetik yang dirumuskan oleh Lucien Goldmann hadir sebagai pendekatan yang melengkapi keterbatasan strukturalisme murni. Strukturalisme murni hanya menempatkan karya sastra sebagai bangunan unsur intrinsik semata, tanpa mempertimbangkan bahwa karya sastra lahir dari latar belakang pengarang yang tidak terpisahkan dari realitas sosialnya. Oleh karena itu, strukturalisme genetik dipandang sebagai pendekatan yang lebih terbuka karena melibatkan unsur ekstrinsik dalam pembacaan karya sastra serta memperhatikan latar belakang pengarang sebagai bagian dari proses penciptaannya.

Tulisan ini akan membahas pandangan dunia yang dapat dipahami sebagai cara pandang yang utuh dalam melihat dunia beserta persoalan-persoalan yang menyertainya. Pandangan dunia pengarang juga dapat dimaknai sebagai bentuk perantara antara struktur sosial masyarakat dengan unsur-unsur yang membangun karya sastra. Pandangan dunia tersebut lahir dari kesadaran kolektif terhadap situasi dan kondisi sosial yang sedang dihadapi, kemudian mendorong munculnya keinginan untuk menghadirkan perubahan ke arah yang lebih baik. Selain itu, teori ini juga memuat konsep fakta kemanusiaan sebagai unsur lain dalam pendekatan strukturalisme genetik. Fakta kemanusiaan merujuk pada berbagai bentuk aktivitas manusia yang mencakup tindakan dan kegiatan dalam kehidupan sehari-hari, yang selanjutnya dikelompokkan ke dalam fakta individual dan fakta sosial. Tulisan ini juga membahas tiga fakta kemanusiaan yang dikemukakan oleh Lucien Goldmann. Fakta kemanusiaan ditampilkan melalui aspek sosiologis, historis, dan ideologis.

Melalui tulisan perbandingan ini, kedua puisi dibaca sebagai respons pengarang terhadap kenyataan yang mereka alami bersama masyarakat. Dengan cara ini, puisi dipahami sebagai suara yang mewakili kegelisahan banyak orang. Pada puisi 'Peringatan' karya Wiji Thukul, pembacaan diarahkan untuk menangkap suara rakyat yang hidup dalam tekanan. Ketika kritik dianggap berbahaya dan perbedaan pendapat tidak diberi ruang, puisi menjadi medium untuk menyampaikan perlawanan. Tujuan analisis puisi ini adalah menunjukkan bahwa ajakan melawan lahir dari pengalaman sehari-hari menghadapi ketidakadilan.

Sementara itu, pada puisi Malu (Aku) Jadi Orang Indonesia, analisis diarahkan untuk membaca perubahan perasaan masyarakat Indonesia dari rasa bangga menuju kekecewaan. Taufiq Ismail menuliskan kegelisahan generasi yang pernah percaya penuh pada janji kemerdekaan, tetapi kemudian menyaksikan hukum, moral, dan keadilan semakin rapuh. Kritik yang disampaikan tidak hadir secara meledak-ledak, melainkan sebagai renungan panjang tentang jauhnya cita-cita bangsa dari kenyataan. Puisi ini membantu pembaca memahami suasana batin masyarakat menjelang tahun 1998, ketika kepercayaan terhadap negara mulai runtuh. Melalui tulisan ini, puisi dipahami sebagai ruang bersama untuk menyampaikan kritik, membangun kesadaran, dan menumbuhkan harapan akan perubahan yang lebih adil.

Pandangan Dunia

Dalam puisi Wiji Thukul, pandangan dunia lahir dari posisi rakyat kecil yang hidup di bawah kekuasaan yang represif. Ia tidak berbicara dari nostalgia masa lalu, melainkan dari tekanan nyata yang dirasakan setiap hari oleh rakyat yang suaranya dibungkam. Larik:

“Kalau rakyat bersembunyi

Dan berbisik-bisik

Ketika membicarakan masalahnya sendiri”

Menunjukkan realitas ketika kritik dianggap berbahaya dan ruang bicara publik dipaksa seragam. Dalam konteks Orde Baru era 1980-an, pemerintah sangat membatasi kebebasan berekspresi dan mengawasi setiap kritik sebagai ancaman, sehingga pandangan dunia Wiji terfokus pada ketidakadilan yang terus-menerus dan keterpaksaan rakyat untuk menyuarakan keresahan secara tersembunyi. Puisi ini mencapai klimaks pada seruan:

“Maka hanya ada satu kata: lawan!”

Menggambarkan bahwa dalam pandangan Thukul, ketika dialog ditutup dan aspirasi rakyat dibungkam, satu-satunya pilihan yang tersisa adalah perlawanan sebagai respons kolektif terhadap tekanan politik. Sementara itu, dalam puisi Taufiq Ismail, pandangan dunia tumbuh dari pengalaman masa muda yang penuh optimisme, lalu bergerak menuju kekecewaan tajam terhadap realitas bangsa. Pada bait awal, Taufiq menggambarkan kebanggaan sebagai bagian dari generasi revolusi:

“Aku gembira jadi anak revolusi Indonesia”

“Dadaku busung jadi anak Indonesia”

Menunjukkan cara pandang yang pernah percaya bahwa kemerdekaan membawa martabat dan harapan. Namun, seiring waktu, pandangan tersebut berubah ketika ia menyaksikan kemerosotan moral dan hukum di tanah air, sebagaimana tercermin dalam larik:

“Langit-langit akhlak rubuh, di atas negeriku berserak-serak

Hukum tak tegak, doyong berderak-derak.”

Perubahan cara pandang ini berkaitan langsung dengan kondisi Indonesia pada tahun 1998, ketika rezim Orde Baru mengalami krisis legitimasi, disertai protes mahasiswa, kerusuhan, dan runtuhnya kepercayaan publik terhadap negara. Puisi ini mencerminkan pandangan dunia seorang intelektual yang melihat kegagalan sistem dalam mewujudkan keadilan dan martabat, sehingga rasa bangga berubah menjadi rasa malu dan kritik sistemik terhadap negara yang oleng dan rusak. Perbedaan pandangan dunia keduanya menunjukkan posisi sosial dan konteks sejarah yang berbeda. Wiji Thukul, yang menulis pada masa ketika perlawanan masih menjadi pilihan berani menghadapi penindasan, menampilkan pandangan dunia yang langsung dan konfrontatif. Pernyataan:

“Kebenaran pasti terancam… Maka hanya ada satu kata: lawan!”

Menegaskan bahwa baginya, dunia adalah medan perjuangan yang menuntut tindakan. Sebaliknya, Taufiq Ismail, yang menulis pada masa akhir Orde Baru yang penuh kegelisahan moral, menampilkan pandangan dunia yang reflektif dan kritis terhadap kondisi bangsa. Dalam baris:

“Mengapa sering benar aku merunduk kini,”

Rasa malu dan introspeksi terasa kuat sebagai bentuk kritik terhadap bangsa yang kehilangan arah. Kedua pandangan dunia ini, meskipun berbeda, sama-sama berakar pada pengalaman kolektif masyarakat Indonesia di bawah Orde Baru. Wiji Thukul menegaskan bahwa ketika suara rakyat ditekan dan ruang kritik ditutup, pandangan dunia yang muncul adalah kebutuhan untuk berjuang dan melawan. Taufiq Ismail menunjukkan bahwa ketika negara gagal memenuhi janji moralnya, cara pandang masyarakat bergeser menuju rasa malu dan keprihatinan yang mendalam. Melalui keduanya, puisi hadir sebagai kesadaran sosial dan panggilan perubahan, baik melalui aksi maupun refleksi.

Fakta Kemanusiaan

1. Fakta Sosiologis

Puisi 'Peringatan' karya Wiji Thukul dan 'Malu (Aku) Jadi Orang Indonesia' karya Taufiq Ismail sama-sama lahir dari pengalaman sosial pengarang, tetapi menampilkan cara pandang yang berbeda terhadap kondisi masyarakat. Wiji Thukul menulis 'Peringatan' pada tahun 1986, masa ketika Orde Baru sudah cukup mapan dan sistem politik sangat membatasi ruang kritik rakyat. Rezim Soeharto saat itu menerapkan kontrol ketat terhadap media, kebebasan berpendapat, dan gerakan mahasiswa yang sering dipandang sebagai ancaman terhadap stabilitas. Dalam puisinya, Wiji Thukul menulis:

“Kalau rakyat bersembunyi

Dan berbisik-bisik

Ketika membicarakan masalahnya sendiri,

Penguasa harus waspada dan belajar mendengar.”

Larik ini menunjukkan bahwa rakyat hidup dalam ketakutan karena kritik dianggap berbahaya. Fakta sosial yang ditampilkan adalah kondisi masyarakat yang tertekan secara politik, sehingga kebebasan berbicara tidak hadir secara terbuka. Sikap rakyat kemudian ditegaskan melalui seruan:

“Maka hanya ada satu kata: lawan!”

Memperlihatkan bahwa ketika kebebasan berpendapat dibungkam, rakyat terdorong untuk melawan ketidakadilan. Suara rakyat dalam puisi ini muncul dari pengalaman sehari-hari menghadapi represi politik, sehingga Wiji memotret fakta sosial secara langsung dan tegas. Sementara itu, dalam puisi Taufiq Ismail, fakta sosiologis ditampilkan melalui gambaran ketimpangan sosial dan praktik curang menjelang akhir 1990-an. Ia menulis:

“Di negeriku, sekongkol bisnis dan birokrasi berterang-terang

curang susah dicari tandingan,”

Menunjukkan kolusi antara birokrasi dan bisnis yang merugikan rakyat. Taufiq juga menyoroti perlakuan istimewa terhadap anak pejabat:

“Di kedutaan besar anak presiden, anak menteri, anak jenderal … dilayani seperti presiden.”

Gambaran ini memperlihatkan ketimpangan sosial nyata, di mana status dan relasi lebih menentukan daripada keadilan. Dari sini, pembaca dapat merasakan rasa malu dan kekecewaan yang dialami Taufiq Ismail sebagai cerminan kekecewaan masyarakat luas. Jika dibandingkan, Wiji Thukul menekankan perlawanan dan keberanian rakyat menghadapi tekanan, sedangkan Taufiq Ismail menekankan refleksi dan rasa kecewa terhadap ketimpangan sosial. Wiji Thukul mendorong pembaca untuk tidak diam, sementara Taufiq Ismail mengajak pembaca merenung atas runtuhnya keadilan dan moral sosial.

2. Fakta Historis

Dalam kerangka fakta historis, puisi ini menunjukkan bagaimana peristiwa-peristiwa besar di sekitar waktu penulisannya membentuk kesadaran kolektif masyarakat. Puisi 'Peringatan' karya Wiji Thukul (1986) dan 'Malu (Aku) Jadi Orang Indonesia' karya Taufiq Ismail (1998) lahir dari situasi historis yang berbeda, tetapi sama-sama merekam realitas sosial sejarah bangsa. Wiji Thukul menulis puisinya ketika Orde Baru telah mapan dan menerapkan kontrol ketat terhadap kebebasan berekspresi. Dalam puisinya, ia menulis:

"Kalau rakyat bersembunyi

Dan berbisik-bisik

Ketika membicarakan masalahnya sendiri.”

Kutipan ini mencerminkan realitas historis ketika kritik terhadap penguasa berisiko penindasan. Ia melanjutkan:

“Dan bila omongan penguasa

Tidak boleh dibantah

Kebenaran pasti terancam.”

Menunjukkan situasi politik represif pada pertengahan 1980-an. Puncaknya, larik:

“Maka hanya ada satu kata: lawan!”

Kutipan tersebut menjadi penanda semangat historis rakyat untuk menegakkan keadilan. Sementara itu, puisi Taufiq Ismail muncul pada tahun 1998, saat Indonesia mengalami krisis moneter Asia 1997–1998 yang berujung pada lengsernya Presiden Soeharto. Dalam puisinya, Taufiq menulis:

“Langit langit akhlak rubuh, di atas negeriku berserak-serak

Hukum tak tegak, doyong berderak-derak.”

Menangkap kondisi bangsa yang kehilangan arah moral dan hukum. Praktik korupsi, kolusi, dan nepotisme terlihat semakin terbuka di tengah krisis ekonomi, konsisten dengan situasi nyata akhir masa Orde Baru. Ungkapan:

“Mengapa sering benar aku merunduk kini.”

Ungkapan ini merepresentasikan suara kolektif generasi yang dulu bangga sebagai “anak revolusi” tetapi kini harus merunduk karena menyaksikan konflik sosial, demonstrasi mahasiswa, dan kerusuhan besar, termasuk Tragedi Mei 1998. Puisi ini menunjukkan kekecewaan terhadap janji kemerdekaan yang tak lagi terasa dalam praktik kehidupan nyata. Taufiq menggunakan puisinya untuk merekam sejarah bangsa, di mana moral dan hukum yang menjadi fondasi negara justru tampak runtuh.

Secara historis, kedua puisi ini menunjukkan cara pandang yang berbeda terhadap Orde Baru pada lintasan waktu yang berbeda. Wiji Thukul dengan 'Peringatan', menyoroti pengalaman hidup di bawah kekuasaan represif, di mana kritik bukan lagi sekadar wacana, tetapi risiko yang harus diperjuangkan. Sementara itu, Taufiq Ismail melalui 'Malu (Aku) Jadi Orang Indonesia', mengekspresikan kekecewaan kolektif saat krisis ekonomi dan politik membuat moral dan hukum bangsa runtuh. Pandangan ini muncul dari sejarah keruntuhan rezim yang selama puluhan tahun tampak kuat tetapi akhirnya rapuh.

Kedua puisi ini menjadi cerminan sejarah sosial Indonesia. Wiji Thukul menegaskan bahwa ketika suara rakyat dibungkam oleh kekuasaan yang represif, perlawanan menjadi sebuah keharusan, sedangkan Taufiq Ismail menggambarkan janji kemerdekaan berubah menjadi realitas menyakitkan. Wiji Thukul mengingatkan represi politik pada 1980-an menuntut rakyat untuk bersuara dan melawan ketidakadilan, sedangkan Taufiq Ismail mengajak kita menyadari krisis moral bangsa pada akhir 1990-an. Keduanya menunjukkan bahwa puisi mampu merekam sejarah sosial dengan cara yang hidup dan menggerakkan kesadaran masyarakat.

3. Fakta Ideologis

Dalam fakta ideologis, 'Peringatan' karya Wiji Thukul menampilkan ideologi perlawanan rakyat terhadap kekuasaan yang menindas. Larik:

“Kalau rakyat bersembunyi

Dan berbisik-bisik

Ketika membicarakan masalahnya sendiri.”

Wiji Thukul menunjukkan realitas historis bahwa kebebasan berpikir dan berbicara dibatasi, sehingga rakyat harus menyalurkan suara secara sembunyi-sembunyi. Ideologi yang diterapkan penguasa adalah dominasi tunggal, di mana kritik dianggap subversif dan berisiko. Ia menegaskan:

“Dan bila omongan penguasa

Tidak boleh dibantah

Kebenaran pasti terancam.”

dan puncaknya:

“Maka hanya ada satu kata: lawan!”

Kutipan ini menjadi seruan ideologis, menekankan pentingnya perlawanan rakyat terhadap ketidakadilan yang sistemik. Ideologi yang muncul dari rakyat adalah untuk menegakkan keadilan sosial dan membongkar kekuasaan yang menindas, berlawanan dengan ideologi resmi negara yang represif. Sementara itu, 'Malu (Aku) Jadi Orang Indonesia' karya Taufiq Ismail menampilkan konflik ideologis antara cita-cita moral bangsa dan realitas sosial. Larik

“Langit langit akhlak rubuh, di atas negeriku berserak-serak

Hukum tak tegak, doyong berderak-derak.”

Taufiq Ismail mengungkapkan rasa malu dan kecewa atas runtuhnya nilai moral dan hukum di negeri sendiri. Ini bukan sekadar refleksi pribadi, tetapi suara kolektif rakyat yang selama puluhan tahun hidup di bawah sistem Orde Baru mulai mempertanyakan janji kemerdekaan dan keadilan sosial. Ideologi yang dahulu mengedepankan moral, kebenaran, dan hukum sebagai fondasi negara, kini terasa hampa. Ketika Taufiq Ismail menulis:

“Mengapa sering benar aku merunduk kini.”

Terlihat jelas pergeseran ideologi kolektif, yakni generasi yang dulu bangga menjadi “anak revolusi” kini harus menunduk melihat realitas sosial yang penuh ketidakadilan, korupsi, kolusi, dan nepotisme. Puisi ini menjadi alat untuk merekam konflik ideologis antara cita-cita bangsa dan kenyataan yang ada, sekaligus membangun kesadaran pembaca tentang rapuhnya moral sosial saat itu.

Jika dibandingkan, Wiji Thukul dan Taufiq Ismail mengekspresikan fakta ideologis yang berbeda sesuai konteks sejarahnya. Wiji Thukul menampilkan ideologi perlawanan rakyat pada masa Orde Baru pertengahan 1980-an dengan nada tegas dan menyeru, di mana kritik sosial adalah tindakan berani menghadapi risiko nyata. Sebaliknya, Taufiq Ismail menyoroti pergeseran ideologi moral dan politik di puncak krisis Orde Baru akhir 1990-an, menggunakan nada reflektif dan melankolis untuk menyampaikan kekecewaan atas rapuhnya hukum dan moral.

Keduanya menggunakan puisi sebagai ruang ideologis untuk merekam konflik antara cita-cita sosial dan praktik nyata, tetapi dengan cara yang berbeda. Wiji Thukul menekankan keberanian rakyat untuk melawan dominasi dan penindasan, sementara Taufiq Ismail menekankan rasa malu kolektif dan introspeksi moral bangsa. Kedua puisi ini menegaskan bahwa ideologi dalam karya sastra bukan sekadar teori atau wacana, tetapi hasil nyata dari pengalaman sosial masyarakat yang dihadapi penyair di lapangan. Wiji Thukul menegaskan bahwa perlawanan terhadap penindasan 1986 adalah bagian dari ideologi rakyat, sedangkan Taufiq Ismail memperlihatkan ketidakselarasan antara moral dan hukum di masa krisis 1998. Keduanya membuktikan bahwa puisi bisa merekam suara kolektif, konflik nilai, dan perlawanan ideologis yang hidup di masyarakat.

Simpulan

Puisi bukan hanya ungkapan perasaan pengarang, tetapi juga gambaran kehidupan sosial dan sejarah yang dialami masyarakat. Wiji Thukul melalui 'Peringatan' menegaskan keberanian rakyat kecil untuk bersuara dan melawan penindasan pada era Orde Baru pertengahan 1980-an. Sementara itu, Taufiq Ismail melalui 'Malu (Aku) Jadi Orang Indonesia' menunjukkan kekecewaan generasi terhadap runtuhnya hukum, moral, dan keadilan menjelang krisis 1998. Perbedaan cara bicara Wiji Thukul yang tegas dan Taufiq Ismail yang reflektif menunjukkan bahwa kondisi sosial membentuk suara pengarang. Puisi berperan penting dalam menyuarakan kritik, membangun kesadaran, dan mendorong perubahan sosial, baik melalui perlawanan maupun perenungan.

DAFTAR PUSTAKA

Faruk. (1999). Pengantar Sosiologi Sastra: Dari Strukturalisme Genetik Sampai Post Modernisme. Yogyakarta: Pustaka Pelajar.

Goldmann, L. (2013). The Hidden God: A Study of Tragic Vision in the Pensees of Pascal and the Tragedies of Racine. Ozon: Routledge.