Bedah Buku dan Film Dokumenter Siti Walidah: Nyai Ahmad Dahlan di Museum UAD

Mahasiswa - FEB Universitas Muhammadiyah Yogyakarta - Prodi Manajemen
·waktu baca 3 menit
Tulisan dari Alya Nurjannah tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan
Literasi Sejarah dan Pemberdayaan Perempuan dari Arsip ke Layar

Yogyakarta - Sejarah Indonesia tidak bisa dilepaskan dari tokoh-tokoh perempuan yang berjuang lewat pemmikiran, pendidikann hingga pergerakan sosial. Salah satunya adalah Siti Walidah, tokoh perempuan Muhammadiyah yang lebih dikenal dengan Nyai Ahmad Dahlan. Baca juga : Sejarah K.H. Ahmad Dahlan
Acara ini salah satu hadiah sekaligus memperingati ulang tahun ke 108 'Aisyiyah, sehingga digelar acara Bedah Buku dan Private Screening Film Dokumenter Siti Walidah di Museum Muhammadiyah, Universitas Ahmad Dahlan (UAD) Yogyakarta, pada Kamis, 28 Agustus 2025. Acara ini diinisiasi oleh Lembaga Budaya, Seni dan Olahraga (LBSO) Pimpinan Pusat (PP) ‘Aisyiyah , dengan tujuan memperkenalkan sosok Siti Walidah kepada generasi muda melalui medium literasi dan visual.
Siti Walidah bukan hanya istri dari K.H. Ahmad Dahlan, tetapi juga tokoh sentral dalam lahirnya ‘Aisyiyah, organisasi perempuan Muhammadiyah yang berdiri sejak 1917. Baca juga : sejarah berdirinya 'Aisyiyah
Perannya begitu besar dalam pendidikan, pemberdayaan perempuan, hingga perjuangan melawan buta huruf di kalangan masyarakat. Sesi bedah buku menghadirkan segenap pimpinan ‘Aisyiyah, keluarga besar Muhammadiyah, Tim penulis dari Majellis Pustaka dan Informasi Pimpinan Pusat Muhammadiyah, serta akademisi yang mengulas karya-karya tentang Siti Walidah. Diskusi berjalan interaktif, membahas relevansi gagasan beliau terhadap konteks modern, terutama dalam hal pendidikan dan pemberdayaan perempuan.
Private Screening Dokumenter: Dari Arsip ke Layar
Selain bedah buku, peserta juga berkesempatan menonton film dokumenter yang mengangkat kisah hidup Siti Walidah. Seperti yang disampaikan oleh Ketua Pimpinan Pusat ‘Aisyiyah, “Siti Walidah bukan hanya pendamping Kiai Ahmad Dahlan, tetapi juga sosok perempuan yang menggerakkan pendidikan, memberantas buta aksara, dan membuka ruang publik bagi Perempuan sejak awal abad ke -20”. Film dokumenter ini hanya bisa ditonton oleh peserta yang hadir, sangat terbatas sebelum dirilis secara resmi tahun depan.
“Film ini disusun dengan mangacu pada warisan Sejarah dan tradisi lisan. Bahkan, narasi dakwah Siti Waalidah di Batur bukan haya sekedar cerita, tetapi narasi Sejarah yang bisa di buktikan,” Ujar Ketua LBSO PP ‘Aisyiyah, Widiyastuti dalam sambutannya.
Antusiasme Peserta
Selain Pimpinan, keluarga besar Muahmmadiyah, penulis dan akademisi, acara ini dihadiri oleh mahasiswa, aktivis perempuan, serta masyarakat umum yang tertarik mendalami sejarah tokoh bangsa. Film dokumenter dan buku tentang Siti Walidah memberikan perspektif baru tentang peran Siti Walidah dalam memperjuangkan kesehatan perempuan, pendidikan anak, bahkan kesetaraan gender.
Budi Husada, Kepala Bidang Pemeliharaan dan Pengembangan Sejarah, Bahasa, dan Permuseuman, Dinas Kebudayaan DIY, selaku narasumber berharap buku dan film inni dapat digunakan sebagai sarana edukasi, dan hidarapkan film documenter ini dapat di perlihatkan kepada seluruh pengunjung Museum Muhammadiyah, khususnya anak sekolah. Beliau pun berharap suatu saat adaa generasi muda sebagai penerus Siti Walidah.
Bedah Buku dan Private Screening Film Dokumenter Siti Walidah menjadi ruang refleksi sekaligus inspirasi. Sosok Siti Walidah tidak hanya layak dikenang sebagai istri tokoh besar, tetapi sebagai pemimpin perempuan yang gagasannya tetap relevan hingga kini.
Dengan adanya kegiatan ini, diharapkan semangat literasi dan apresiasi terhadap sejarah perempuan Indonesia semakin tumbuh, khususnya di kalangan generasi muda.
