Bukan Malas, Mungkin Kita Hanya Terlalu Lelah

Saya adalah mahasiswi Ilmu Komunikasi di Universitas Pamulang yang menuangkan pikiran dan pengalaman melalui tulisan sederhana namun bermakna.
·waktu baca 2 menit
Tulisan dari Putri Alya Aulia tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan
"Kerjanya cuma kuliah, kok capek?"
Kalimat seperti itu mungkin pernah didengar banyak mahasiswa. Sekilas terdengar sederhana, tetapi bagi sebagian orang, kalimat tersebut justru membuat mereka merasa bersalah karena lelah.
Ada anggapan bahwa rasa lelah hanya pantas dimiliki oleh orang yang sudah bekerja penuh waktu. Sementara mahasiswa sering dianggap masih memiliki banyak waktu luang. Padahal, kenyataannya tidak selalu seperti itu.
Di balik jadwal kuliah, ada tugas yang datang hampir bersamaan, organisasi, pekerjaan paruh waktu, perjalanan pulang pergi ke kampus, hingga tuntutan untuk terus mengembangkan diri. Belum lagi tekanan yang datang dari media sosial. Setiap hari kita melihat teman yang berhasil lolos magang, memenangkan lomba, menjadi penerima beasiswa, atau membuka usaha sendiri. Tanpa sadar, semua itu berubah menjadi standar yang kita buat untuk diri sendiri.
Akhirnya, banyak anak muda merasa harus terus bergerak. Saat sedang beristirahat, muncul rasa bersalah. Saat tidak mengikuti seminar, takut tertinggal. Saat akhir pekan hanya digunakan untuk tidur, muncul pikiran bahwa waktu telah terbuang sia-sia.
Padahal, tubuh memiliki batas.
Kita hidup di masa ketika produktif sering kali dianggap sebagai ukuran keberhasilan. Semakin sibuk seseorang, semakin dianggap hebat. Sebaliknya, orang yang memilih beristirahat justru kadang dicap kurang ambisius.
Menurut saya, pola pikir seperti ini mulai perlu dipertanyakan.
Produktif bukan berarti mengisi setiap jam dengan pekerjaan. Produktif juga bukan berarti memaksa diri tetap bekerja ketika tubuh dan pikiran sudah meminta istirahat. Ada kalanya berhenti sejenak justru membuat kita bisa melangkah lebih jauh.
Saya pernah berada di fase ketika merasa harus menerima setiap kesempatan yang datang. Mengikuti kegiatan, menghadiri seminar, mengerjakan tugas, dan berusaha memenuhi ekspektasi banyak orang. Lama-kelamaan saya menyadari bahwa saya bukan sedang berkembang, melainkan hanya takut tertinggal.
Perasaan itu ternyata dialami banyak anak muda. Kita sering kali lupa bahwa hidup bukan perlombaan dengan garis akhir yang sama. Setiap orang memiliki jalan, waktu, dan tantangannya masing-masing.
Beristirahat bukan berarti menyerah. Menolak satu kesempatan bukan berarti kehilangan masa depan. Tidak selalu menjadi yang paling sibuk juga bukan berarti tidak memiliki tujuan.
Mungkin yang sebenarnya kita butuhkan bukan tambahan motivasi, melainkan keberanian untuk berkata, "Hari ini saya cukup."
Karena pada akhirnya, hidup bukan tentang siapa yang paling cepat sampai. Hidup adalah tentang bagaimana kita tetap bisa menikmati perjalanan tanpa kehilangan diri sendiri.
