Urbanisasi, Ekonomi, dan Lingkungan: Ketika Kota Kehilangan Nafas

Mahasiswi Program Studi Pendidikan Ekonomi Universitas Pamulang
·waktu baca 2 menit
Tulisan dari Alya Rustiyani tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Di Indonesia, kota bukan sekadar tempat tinggal, melainkan magnet bagi jutaan orang yang mencari kehidupan lebih baik. Urbanisasi telah menjadi arus tak terbendung. Setiap tahun, ribuan penduduk desa pindah ke kota dengan harapan hidup yang lebih cerah. Namun, di balik kemegahan gedung dan gemerlap lampu, ada persoalan besar yang sering luput dari perhatian: lingkungan kota yang makin sesak dan tak sehat.
Kota yang Semakin Padat, Tapi Nafas Makin Tersengal
Menurut Badan Pusat Statistik (BPS), lebih dari 57% penduduk Indonesia akan tinggal di wilayah perkotaan pada 2025. Kota besar seperti Jakarta, Surabaya, dan Bandung menjadi pusat ekonomi sekaligus pusat kemacetan. Aktivitas industri dan transportasi meningkat, tetapi udara makin kotor, sungai tercemar, dan ruang hijau semakin menyusut.
Jakarta, misalnya, menjadi jantung ekonomi nasional, tapi kualitas udaranya termasuk yang terburuk di Asia Tenggara. Data IQAir 2024 menunjukkan polusi udara Jakarta beberapa kali melampaui batas aman WHO, mayoritas berasal dari kendaraan bermotor dan aktivitas industri.
Urbanisasi: Harapan yang Membawa Ancaman
Urbanisasi memberikan peluang pekerjaan, pendidikan, dan akses kesehatan yang lebih baik. Namun, urbanisasi tanpa perencanaan matang membuat kota semakin padat. Permukiman di pinggiran kota tumbuh liar, sistem drainase gagal menampung hujan, dan sampah menumpuk.
Sungai yang dulunya bersih kini menjadi tempat limbah, dan ruang terbuka hijau yang seharusnya menjadi paru-paru kota kini digantikan beton dan aspal.
Pertumbuhan Ekonomi yang Mengorbankan Alam
Pembangunan ekonomi sering berbanding terbalik dengan pelestarian lingkungan. Hutan ditebang, lahan hijau menyusut, dan sungai tercemar karena industri baru tanpa sistem pengolahan limbah yang memadai. Tanpa lingkungan yang sehat, pertumbuhan ekonomi kehilangan pijakan. Siapa yang mau tinggal di kota maju tapi penuh polusi, bising, dan rawan banjir?
Menuju Kota yang Lebih Hijau
Beberapa kota mulai menerapkan konsep “green city,” seperti penanaman pohon, perluasan ruang terbuka hijau, dan transportasi publik ramah lingkungan. Partisipasi warga juga krusial: dari tidak membuang sampah sembarangan hingga memilih transportasi ramah lingkungan.
Refleksi: Kota untuk Siapa?
Kota ideal bukan sekadar mal dan gedung tinggi, tapi tempat manusia dan alam hidup berdampingan. Urbanisasi dan ekonomi tak bisa dihentikan, tapi pembangunan harus berpihak pada lingkungan. Dengan keseimbangan itu, Indonesia bisa memiliki kota maju sekaligus layak huni.
