Konten dari Pengguna

Mengapa Orang Lebih Berani Menghina di Kolom Komentar?

google
Ikuti kumparan di Google
info
Jadikan kumparan sebagai preferensi terpercayamu di Google
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Alya Azizah tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

sumber : AI
zoom-in-whitePerbesar
sumber : AI

Pernah melihat seseorang menulis komentar yang begitu kasar di media sosial sampai membuat kita bertanya-tanya, “Kalau ngomong langsung, memang dia akan seberani itu?”

Di media sosial, kalimat yang mungkin terasa terlalu kasar untuk diucapkan secara langsung justru dapat muncul dengan mudah di kolom komentar.

Seseorang bisa mengomentari bentuk tubuh orang lain, menghina penampilan, merendahkan pekerjaan, mempertanyakan kehidupan pribadi, bahkan menyerang keluarga seseorang yang sebenarnya tidak mereka kenal.

Menariknya, semua itu bisa dilakukan hanya dengan beberapa ketukan jari.

Tidak perlu berhadapan langsung.

Tidak perlu melihat ekspresi orang yang menjadi sasaran.

Bahkan, dalam banyak kasus, pelaku dan korban mungkin tidak pernah bertemu sebelumnya.

Fenomena tersebut menunjukkan bahwa media sosial bukan hanya mengubah cara manusia mendapatkan informasi, tetapi juga mengubah cara manusia berkomunikasi.

Kita sekarang dapat berbicara dengan siapa saja, kapan saja, dan dari mana saja.

Namun, kemudahan tersebut juga menghadirkan persoalan baru: mengapa sebagian orang justru menjadi lebih berani mengatakan hal-hal yang mungkin tidak akan mereka sampaikan ketika bertemu langsung?

Salah satu konsep dalam kajian komunikasi digital yang dapat membantu menjelaskan fenomena tersebut adalah online disinhibition effect.

Ketika Layar Membuat Seseorang Lebih Berani

Konsep online disinhibition effect diperkenalkan oleh John Suler pada 2004.

Suler menjelaskan bahwa ketika seseorang berkomunikasi melalui internet, ia dapat mengalami kondisi psikologis yang membuat batasan sosialnya menjadi lebih longgar.

Akibatnya, seseorang bisa menjadi lebih terbuka, lebih emosional, atau bahkan lebih agresif dibandingkan ketika berinteraksi secara langsung.

Dalam konteks media sosial, fenomena ini dapat terlihat dari cara seseorang memberikan komentar.

Misalnya, seseorang melihat video orang lain yang dianggap tidak menarik.

Dalam situasi tatap muka, mungkin ia hanya akan diam.

Kalaupun ingin memberikan pendapat, ia kemungkinan akan mempertimbangkan perasaan orang tersebut.

Namun, ketika berada di balik layar, muncul pikiran sederhana:

“Ah, cuma komentar.”

Kemudian komentar diketik.

Dikirim.

Selesai.

Persoalannya, proses yang berlangsung hanya beberapa detik bagi pengirim komentar dapat memberikan dampak yang jauh lebih lama bagi orang yang menerimanya.

Di sinilah komunikasi digital menjadi menarik untuk dibahas.

Layar bukan hanya menjadi alat untuk menyampaikan pesan.

Layar juga menciptakan jarak antara komunikator dan komunisikan.

Kita Tidak Melihat Wajah Orang yang Kita Sakiti

Dalam komunikasi tatap muka, manusia menggunakan berbagai bentuk komunikasi verbal dan nonverbal.

Kita mendengar intonasi suara.

Kita melihat ekspresi wajah.

Kita memperhatikan gestur tubuh.

Bahkan, kita dapat mengetahui seseorang mulai merasa tidak nyaman hanya dari perubahan sikapnya.

Informasi tersebut secara tidak langsung membantu kita mengatur perilaku ketika berkomunikasi.

Bayangkan ketika kita mengatakan sesuatu yang menyakitkan kepada seseorang dan melihat wajahnya langsung berubah.

Ada kemungkinan kita merasa bersalah.

Kita mungkin meminta maaf.

Atau setidaknya berhenti melanjutkan perkataan tersebut.

Situasinya berbeda ketika komunikasi berlangsung melalui layar.

Kita mengetik komentar tanpa melihat ekspresi orang yang membacanya.

Setelah menekan tombol “kirim,” kita bisa langsung meninggalkan aplikasi.

Tidak ada kontak mata.

Tidak ada suara.

Tidak ada reaksi emosional yang terlihat secara langsung.

Karena itu, jarak digital dapat membuat konsekuensi sosial dari sebuah perkataan terasa lebih jauh.

Suler menyebut invisibility sebagai salah satu faktor yang dapat berperan dalam online disinhibition. Ketidakterlihatan tersebut membuat seseorang tidak harus menghadapi reaksi lawan bicara secara langsung.

Selain itu, faktor anonymity juga dapat membuat seseorang merasa identitasnya lebih terlindungi.

Akun dengan nama samaran atau identitas yang tidak jelas dapat memberikan rasa aman tertentu bagi pengguna untuk mengatakan sesuatu yang mungkin tidak berani ia katakan menggunakan identitas sebenarnya.

Namun, bukan berarti setiap akun anonim pasti digunakan untuk melakukan penghinaan.

Anonimitas hanyalah salah satu faktor yang dapat memengaruhi perilaku seseorang di ruang digital.

“Kan Cuma Komentar”

Kalimat “kan cuma komentar” sering kali menjadi pembenaran yang terdengar sederhana.

Padahal, komentar adalah bagian dari komunikasi.

Ketika seseorang menulis sesuatu, ada pesan yang disampaikan dan ada orang lain yang menerima pesan tersebut.

Masalahnya, media sosial membuat satu pesan dapat menjangkau jauh lebih banyak orang dibandingkan percakapan biasa.

Sebuah komentar yang awalnya ditujukan kepada satu orang bisa dibaca puluhan, ratusan, bahkan ribuan pengguna lainnya.

Akibatnya, penghinaan tidak hanya terjadi antara pengirim dan penerima.

Ada penonton yang ikut menyaksikan.

Ada yang memberikan tanda suka.

Ada yang membalas.

Ada pula yang ikut menambahkan komentar serupa.

Dalam kondisi tertentu, kolom komentar akhirnya berubah menjadi ruang yang memungkinkan perilaku negatif berkembang secara berkelompok.

Seseorang yang awalnya hanya membaca komentar kasar dapat terdorong untuk ikut berkomentar karena melihat orang lain melakukan hal yang sama.

Di sinilah norma sosial dalam ruang digital menjadi penting.

Apa yang dianggap “biasa” oleh satu kelompok pengguna belum tentu sehat bagi kelompok lainnya.

Ketika penghinaan sudah terlalu sering muncul di sebuah platform, pengguna dapat mulai menganggapnya sebagai sesuatu yang normal.

Padahal, sering terjadi bukan berarti benar.

Ketika Kritik Berubah Menjadi Penghinaan

Media sosial sebenarnya bukan tempat yang harus bebas dari kritik.

Justru, keberadaan media sosial memungkinkan masyarakat menyampaikan pendapat dengan lebih terbuka.

Kita boleh tidak setuju.

Kita boleh memberikan kritik.

Kita juga boleh mempertanyakan sebuah informasi.

Namun, ada perbedaan antara mengkritik gagasan dan menyerang seseorang secara personal.

Misalnya:

“Menurut saya, pendapat tersebut kurang tepat karena data yang digunakan belum cukup.”

Komentar tersebut masih berfokus pada gagasan.

Berbeda dengan:

“Dasar bodoh, pantas saja ngomong begitu.”

Komentar kedua tidak lagi membahas isi pendapat.

Yang diserang adalah pribadi seseorang.

Perbedaan ini penting karena komunikasi yang sehat bukan berarti semua orang harus memiliki pendapat yang sama.

Komunikasi yang sehat justru memungkinkan perbedaan pendapat tanpa harus menghilangkan rasa hormat kepada orang lain.

Apakah Orang di Internet Menjadi “Diri Aslinya”?

Ada anggapan bahwa ketika seseorang berperilaku buruk di internet, berarti itulah sifat aslinya yang selama ini disembunyikan.

Namun, persoalannya tidak sesederhana itu.

Online disinhibition tidak otomatis berarti internet sedang membuka “kepribadian asli” seseorang.

Perilaku manusia sangat dipengaruhi oleh situasi dan lingkungan tempat ia berinteraksi.

Orang yang biasanya pendiam dalam kehidupan sehari-hari bisa menjadi sangat aktif di media sosial.

Sebaliknya, seseorang yang terlihat ramah ketika bertemu langsung juga dapat menulis komentar yang agresif ketika berada di balik layar.

Suler bahkan membedakan disinhibisi online menjadi bentuk yang bersifat benign dan toxic.

Disinhibisi tidak selalu menghasilkan perilaku negatif.

Ada orang yang justru menjadi lebih berani menceritakan pengalaman pribadi, meminta bantuan, mencari dukungan, atau mengungkapkan perasaan melalui internet karena merasa lebih nyaman dibandingkan ketika harus berbicara langsung.

Artinya, persoalannya bukan semata-mata tentang internet yang membuat manusia menjadi buruk.

Persoalannya adalah bagaimana karakteristik ruang digital dapat memengaruhi cara manusia mengekspresikan dirinya.

Ketika Empati Berhenti di Depan Layar

Salah satu tantangan terbesar dalam komunikasi digital adalah mempertahankan empati.

Empati berarti mencoba memahami bahwa orang lain juga memiliki perasaan, pengalaman, dan batasan.

Sayangnya, ketika kita hanya melihat foto profil dan nama pengguna, keberadaan manusia di balik akun tersebut terkadang menjadi terlupakan.

Kita mungkin melihat seseorang sebagai “konten.”

Kita melihat jumlah pengikutnya.

Kita melihat penampilannya.

Kita melihat videonya.

Kemudian kita merasa memiliki hak untuk memberikan penilaian.

Padahal, orang yang kita komentari juga bisa membaca tulisan tersebut berulang kali.

Ia bisa merasa malu.

Ia bisa merasa tertekan.

Bahkan, komentar yang menurut pengirimnya hanya bercanda dapat memiliki makna yang sangat berbeda bagi penerimanya.

Persoalan inilah yang membuat literasi digital tidak cukup hanya dipahami sebagai kemampuan menggunakan teknologi.

Literasi digital juga berkaitan dengan kemampuan memahami konsekuensi dari komunikasi yang kita lakukan di ruang digital.

Kolom Komentar Bukan Ruang Tanpa Tanggung Jawab

Media sosial memberikan kebebasan kepada siapa saja untuk menyampaikan pendapat.

Tetapi kebebasan berkomunikasi tidak seharusnya dipisahkan dari tanggung jawab.

Kita tidak harus menyukai semua orang yang muncul di media sosial.

Kita tidak harus setuju dengan semua pendapat.

Kita juga tidak harus memberikan komentar positif setiap saat.

Namun, ketidaksukaan tidak harus berubah menjadi penghinaan.

Perbedaan pendapat tidak harus berubah menjadi serangan personal.

Dan keberanian berkomunikasi tidak seharusnya diukur dari seberapa keras seseorang mampu menyakiti orang lain.

Mungkin pertanyaan yang lebih menarik bukan lagi, “Berani nggak ngomong begitu kalau ketemu langsung?”

Tetapi:

Mengapa kita merasa perlu mengatakan sesuatu yang mungkin tidak akan kita katakan ketika berhadapan langsung dengan orang tersebut?

Pertanyaan itu penting karena teknologi komunikasi akan terus berkembang.

Platform baru akan muncul.

Cara kita berinteraksi akan berubah.

Namun, satu hal tetap sama: di balik setiap akun ada manusia.

Di balik foto profil ada seseorang yang memiliki perasaan.

Dan di balik setiap komentar ada pesan yang bisa memberikan dampak.

Karena itu, sebelum menekan tombol “kirim”, mungkin kita perlu mengambil jeda beberapa detik.

Bukan untuk membatasi kebebasan berpendapat, tetapi untuk memastikan bahwa kebebasan tersebut tidak menghilangkan empati.

Sebab, menjadi berani di media sosial bukan berarti berani menghina.

Justru, keberanian yang sebenarnya mungkin adalah ketika kita mampu menyampaikan pendapat dengan tegas tanpa harus merendahkan orang lain.