Konten dari Pengguna

Ikhlas Ya, Katanya

Alya Azzahra Jaya

Alya Azzahra Jaya

Mahasiswi Jurusan Psikologi Universitas Pembangunan Jaya

·waktu baca 2 menit

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Alya Azzahra Jaya tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Ilustrasi pemakaman. Sumber: iStockphoto
zoom-in-whitePerbesar
Ilustrasi pemakaman. Sumber: iStockphoto

Ditinggal pergi oleh orang yang kita sayang secara tiba-tiba bukanlah hal yang mudah. Banyak duka yang mendalam setelah orang tersebut hilang, contohnya hilang karena kematian. Kita harus bergelut berhari-hari dengan isi otak sendiri memikirkan sebenarnya ini sebuah realita atau mimpi belaka. Semua terasa jelas tapi kita masih membayangkan kalau kejadian ini sebenarnya tidak nyata.

Tidak ada satu orang pun yang siap dengan kematian, tapi kematian pasti terjadi oleh setiap makhluk yang bernyawa. Kematian pun bisa datang kapan saja dan di mana saja. Sebenarnya kematian pun tidak selalu menjadi hal yang buruk karena bisa menjadi hal yang baik juga, contohnya saat kita tidak lagi melihat orang yang kita sayang hidup dengan rasa sakit.

Setelah adanya duka dengan kematian, wajar saat kita merasa sedih yang berlarut. Menangis berhari-hari di waktu yang tidak dapat ditentukan. Banyak orang yang menyuruh kita ikhlas. Ya memang seharusnya kita harus ikhlas, tapi ya tentunya tidak semudah itu. Membayangkan banyak hari-hari indah yang sudah dilewati, tiba-tiba kini kita harus sendiri, tak ada lagi dia di sisi kita.

Orang yang sudah meninggal masih bisa melihat aktivitas yang kita lakukan, tapi tidak dengan kita. Tentunya hal ini meninggalkan duka yang mendalam bagi kita. Orang yang sebelumnya bisa kita temui keberadaannya kapan saja atau sebatas call di aplikasi WhatsApp kini tidak lagi dapat kita temui. Semuanya terasa hampa, semuanya berubah. Bahkan sikap kita sendiri pun bisa mendadak berubah sehabis peristiwa ini.

Tapi tetap, pada akhirnya kita harus ikhlas. Hidup kita tidak berhenti di sini. Kita harus menjalankan kehidupan kita dengan normal seperti sedia kala. Untuk masih merasa sedih pun merupakan hal yang wajar. Bahkan saat kita sudah di sampai tahap ikhlas sekalipun sedih itu masih bisa saja datang. Karena ikhlas bukan berarti tidak bisa sedih lagi, kan?