Konten dari Pengguna

Menyelamatkan Seni yang Hampir Mati, Sidik Bangun Studio Keramik di Tengah Kota

Alysha Ramaniya

Alysha Ramaniya

Mahasiswa Jurnalistik Universitas Padjadjaran

·waktu baca 4 menit

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Alysha Ramaniya tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Sidik Pemilik Lost in Clay (Foto: Alysha Ramaniya)
zoom-in-whitePerbesar
Sidik Pemilik Lost in Clay (Foto: Alysha Ramaniya)

Ketika aku mempelajari pottery, ternyata bisa jadi sarana terapi, sarana healing.

Bandung – Di tengah hiruk pikuk dan padatnya penduduk Kota Bandung, pemuda lulusan Antropologi membuka studio keramik di sudut kawasan hutan kota yang sejuk dan penuh dengan kehijauan. Dari kejauhan, terdengar suara tawa pengunjung dan roda yang berputar. Semakin mendekat, terlihat karya-karya penuh cerita bergantungan di dinding dan bongkahan tanah liat di atas meja. Tempat itu bernama Lost in Clay, sebuah studio keramik sederhana di sudut Babakan Siliwangi yang menjadi pelarian anak muda untuk healing dan mencoba hal baru.

Mengutamakan Proses Bukan Hasil

Di balik berdirinya studio ini, terdapat pemuda bernama Sidik (29), lulusan Antropologi dari Universitas Padjadjaran. Ia bukan seniman, maupun pengrajin keramik profesional. Tetapi, ia memutuskan untuk memilih jalan yang berbeda dari bidang yang ia pelajari semasa kuliah dan membuka studio keramik miliknya.

Ia tidak pernah menyebutkan dirinya sebagai ahli dalam seni tanah liat. Ia hanya ingin menciptakan tempat dimana siapa pun bisa datang, menyentuh tanah liat, dan membentuk karya hasil jari jemari mereka. Baginya, seni tidak harus selalu estetik dan sempurna. Tetapi, tujuan utamanya adalah proses dan pengalaman yang didapat saat menjalaninya. Ia juga mengatakan, bahwa seni tanah liat tidak membutuhkan pemahaman yang luas layaknya profesional, hanya dengan niat dan keinginan untuk belajar, setiap orang dapat menghasilkan karya dari tanah liat.

“orang-orang tuh nganggep seni harus estetik, harus indah. Kalo kita ngejarnya experience, yang penting orang-orang pada ngalamin bagaimana cara berproses kesenian. Jadi gak ngejar bentuk,” ujar Sidik (18/5).

Menghidupkan Kembali yang Hampir Mati

Sebagai lulusan Antropologi, Sidik juga mempelajari sejarah perkembangan keramik di Indonesia yang sesungguhnya sangat kaya dan pasarnya yang sudah mendunia, salah satunya di daerah Babakan Sari, Kecamatan Kiaracondong, Kota Bandung. Tempat itu dahulu dikenal sebagai sentra industri keramik. Namun, pada tahun 2023, saat Sidik kembali ke tempat yang dikenal sebagai sentra industri keramik itu. Nyatanya, tempat tersebut sudah berubah, para pengrajin keramik sudah beralih profesi menjadi tukang bangunan.

“Waktu tahun 2023, aku kesana dan si pengrajinnya sudah beralih profesi jadi tukang bangunan. Kenapa hal seperti itu gak bisa dirawat?,” ujarnya (18/5).

Pertanyaan-pertanyaan mulai bermunculan di pikiran Sidik. Sebuah tempat yang dulunya bersejarah, kini berbeda dan jauh dari apa yang ia harapkan. Dari fenomena itulah, Sidik terdorong untuk ikut merawat kerajinan yang perlahan mulai ditinggalkan. Ia melakukan segalanya demi menghidupkan kembali seni tanah liat yang nyaris dilupakan, mulai dari belajar teknik dasar secara otodidak hingga kini membuka studio keramik di dua kota besar, Bandung dan Jakarta.

Ia pun memperkenalkan seni tanah liat melalui kolaborasi antara Lost in Clay dengan komunitas di Bandung. Kedepannya ia berharap dapat berkolaborasi dengan komunitas berpuisi Bandung, komunitas musik, dan komunitas lainnya.

Berbagai cara yang Sidik lakukan untuk tetap menghidupkan seni tanah liat berhasil menyentuh salah satu pengunjung Lost in Clay.

“Jujur seru! Karena bisa jadi stress relief dan jadi lebih leluasa karena ownernya ramah. Apalagi gak terpaku sama bentuk yang bagus dan suasananya comfy, sejuk,” ujar Naurah (18/5).

Menemukan Diri dengan Tanah Liat

Pengalaman Sidik dalam mendalami seni tanah liat, menjadikannya sarana terapi dan meditasi. Apalagi, penggunaan alat-alat yang masih tradisional dan manual, serta membutuhkan keserasian antara kaki, tangan, dan konsentrasi. Dari situlah ia merasa tenggelam dalam seni tanah liat, sesuai dengan nama studio miliknya, Lost in Clay.

“Ketika aku mempelajari pottery, ternyata bisa jadi sarana terapi, sarana healing. Bahkan, bisa jadi sarana meditasi juga karena kita pakai alat-alat yang masih manual, masih tradisional,” ujar Sidik (18/5).

Meski menghadapi kesulitan dalam mencari sumber daya manusia, Sidik tidak pernah menyerah dalam menjalani studio keramiknya. Bahkan, ia ingin studionya untuk berkembang dan dapat memperkenalkan tanah liat yang masih asing untuk banyak orang.

Harapan kedepannya, Sidik ingin Lost in Clay dapat berkembang menjadi studio art and craft di Bandung dan Jakarta. Tak hanya berfokus pada tanah liat, tetapi juga merambah ke seni lukis, seni musik, dan berkolaborasi dengan lebih banyak komunitas di Bandung.

Di Lost in Clay, tidak ada waktu yang mengejar dalam berkreasi tanah liat. Kebebasan semuanya milik pengunjung tanpa ada yang menuntut hasil baik. Hanya membutuhkan niat dalam prosesnya.