Konten dari Pengguna

Kerokan: Kalau Kulit Memerah, Benarkah Angin Keluar?

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Alzena Arya Levia tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Ilustrasi: pribadi
zoom-in-whitePerbesar
Ilustrasi: pribadi

“Kerokan aja, nanti anginnya keluar”

Kalimat tidak asing yang mungkin pernah kita dengar sejak kecil. Ketika badan terasa pegal, masuk angin, atau tidak enak badan, seseorang di rumah mungkin segera mengambil koin dan minyak, lalu menggosokkannya ke punggung hingga kulit berubah merah. Setelah itu, warna merah yang muncul sering dianggap sebagai tanda bahwa “angin” sudah keluar dan tubuh akan segera terasa lebih baik.

Tradisi ini begitu akrab dalam kehidupan sehari-hari hingga jarang dipertanyakan. Mengapa kulit menjadi merah? Benarkah ada “angin” yang keluar dari tubuh? Atau jangan-jangan warna merah itu hanya merupakan respons tubuh terhadap gesekan?

Secara medis, warna tersebut muncul akibat respons pembuluh darah kecil di bawah kulit terhadap gesekan, termasuk pelebaran pembuluh darah dan perdarahan kecil. Tidak ada bukti bahwa warna merah tersebut menunjukkan “angin” keluar dari tubuh. Meski demikian, keyakinan ini tetap bertahan dari generasi ke generasi.

Persoalannya bukan semata-mata tentang kerokan. Yang lebih penting adalah cara kita menerima sebuah klaim kesehatan: apakah kita mempercayainya karena memang terbukti secara ilmiah, atau hanya karena sudah sering didengar dan dianggap benar selama bertahun-tahun?

Logika yang Sama, Medan yang Berbeda

Jika kepercayaan tentang kerokan dahulu menyebar dari mulut ke mulut selama puluhan tahun, informasi kesehatan di era digital dapat menyebar melalui algoritma dalam hitungan menit.

Penelitian yang dilakukan oleh tim peneliti Massachusetts Institute of Technology (MIT) dan dipublikasikan dalam jurnal Science pada 2018 menganalisis sekitar 126.000 rumor yang tersebar di Twitter selama 11 tahun. Penelitian tersebut menemukan bahwa berita palsu cenderung menyebar lebih cepat, lebih jauh, dan lebih luas dibandingkan berita benar. Temuan ini berlaku pada berbagai kategori informasi, bukan hanya kesehatan.

Di sinilah terdapat kesamaan pola: sebuah klaim dapat dipercaya bukan karena memiliki dasar ilmiah yang kuat, tetapi karena terasa masuk akal, mudah dipahami, sering diulang, atau datang dari orang yang dipercaya. Perbedaannya, media digital membuat proses tersebut berlangsung dengan kecepatan dan jangkauan yang jauh lebih besar.

Ladang Subur untuk Hoaks Kesehatan

Kondisi ini menjadi semakin penting karena masyarakat semakin bergantung pada internet untuk mencari informasi kesehatan. Berdasarkan survei Asosiasi Penyelenggara Jasa Internet Indonesia (APJII), internet telah menjadi salah satu sumber masyarakat dalam memperoleh berbagai informasi, termasuk informasi kesehatan.

Tingginya kebutuhan terhadap informasi kesehatan sebenarnya merupakan peluang besar untuk meningkatkan edukasi masyarakat. Namun, ruang digital juga dapat dipenuhi klaim yang belum terverifikasi. Konten yang sederhana, sensasional, atau menawarkan solusi instan sering kali lebih mudah menarik perhatian dibandingkan penjelasan medis yang membutuhkan konteks, bukti, dan nuansa.

Masalahnya bukan hanya apakah suatu informasi benar atau salah. Persoalan yang lebih mendasar adalah kemampuan seseorang untuk menilai kualitas informasi sebelum mempercayai dan menyebarkannya.

Kenapa Kita Perlu Bersikap Kritis?

Dampak dari kebiasaan “percaya dulu, pertanyakan belakangan” tidak berhenti pada kesalahan memahami tubuh sendiri. Dalam konteks kesehatan, informasi yang keliru dapat memengaruhi keputusan seseorang untuk mencari pertolongan, memilih pengobatan, atau bahkan menghentikan terapi yang sebenarnya diperlukan.

Seseorang yang percaya bahwa suatu penyakit dapat disembuhkan hanya dengan ramuan tertentu, misalnya, dapat menunda pemeriksaan atau pengobatan yang dibutuhkan. Karena itu, kemampuan membedakan informasi yang kredibel dari informasi yang menyesatkan bukan sekadar keterampilan digital, tetapi juga bagian penting dari literasi kesehatan.

Di sinilah tenaga kesehatan, termasuk mahasiswa kedokteran, memiliki peran penting. Edukasi kesehatan tidak lagi cukup dilakukan di ruang praktik. Ketika masyarakat semakin sering mencari informasi kesehatan melalui internet dan media sosial, tenaga kesehatan juga perlu hadir di ruang digital dengan informasi yang mudah dipahami, berbasis bukti, dan mampu menjawab kekhawatiran masyarakat.

Kerokan mungkin terdengar sepele. Namun, keyakinan bahwa sesuatu pasti benar hanya karena sudah lama dipercaya merupakan cerminan dari tantangan literasi kesehatan yang lebih besar di era digital.

Melawan hoaks kesehatan bukan semata-mata tugas dokter atau pemerintah. Setiap orang memiliki peran, dimulai dari kebiasaan sederhana: berhenti sejenak sebelum percaya, mencari tahu dari mana sebuah klaim berasal, memeriksa sumbernya, dan mempertanyakan apakah klaim tersebut benar-benar didukung oleh bukti ilmiah.

Karena di tengah derasnya arus informasi kesehatan, kemampuan untuk berkata “benarkah?” mungkin merupakan langkah pertama untuk melindungi diri sendiri dan orang lain.