Konten dari Pengguna

Modernisasi Pajak: Canggih di Sistem, Kacau di Lapangan

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Alzikri Nursyahbani tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Transformasi digital di dunia perpajakan menjanjikan kemudahan, namun realitas di lapangan menunjukkan banyak hal yang belum siap.

Pajak Era Baru, Masalah Lama

Modernisasi perpajakan di Indonesia digadang-gadang sebagai langkah menuju transparansi dan efisiensi. Pemerintah telah menggelontorkan dana besar untuk membangun sistem core tax administration, e-Faktur, dan berbagai layanan digital lainnya. Namun, seperti pepatah “ganti baju, bukan ganti watak,” perubahan ini masih menyisakan problem klasik: birokrasi lamban, sistem yang sering error, dan pelayanan yang belum sepenuhnya manusiawi.

Di banyak kasus, wajib pajak justru kebingungan menghadapi sistem baru yang belum stabil. Alih-alih mempermudah, digitalisasi seringkali malah membuat proses pelaporan lebih kompleks bagi mereka yang tidak terbiasa dengan teknologi.

Ketika Teknologi Tak Sejalan dengan Kesiapan SDM

Modernisasi pajak tidak hanya tentang mengganti sistem manual menjadi digital, tetapi juga menuntut kesiapan sumber daya manusia baik dari sisi fiskus maupun wajib pajak. Sayangnya, di sinilah titik lemah terbesar. Banyak petugas pajak dan pelaku usaha kecil yang belum sepenuhnya memahami cara kerja sistem digital, sehingga kesalahan input dan gangguan teknis menjadi hal yang lumrah.

Modernisasi tanpa pelatihan yang memadai sama saja seperti memberi mobil mewah kepada orang yang baru belajar mengemudi cepat, tapi berisiko tinggi.

Efisiensi yang Masih Ilusi

Pemerintah memang menargetkan efisiensi dan peningkatan kepatuhan pajak melalui digitalisasi. Namun, jika sistem sering gangguan, proses lambat, dan pengaduan tak kunjung ditangani, kepercayaan publik justru semakin menurun.

Banyak wajib pajak merasa frustrasi karena layanan digital belum sepenuhnya user friendly. Inilah ironi dari modernisasi: sistemnya makin canggih, tapi penggunanya makin lelah.

Modernisasi Harus Disertai Empati

Teknologi seharusnya mempermudah, bukan menakut-nakuti. Jika negara ingin wajib pajak patuh, maka pendekatannya tak bisa hanya berupa sistem digital dan regulasi. Harus ada pendekatan empatik dan edukatif.

Wajib pajak, terutama UMKM, butuh bimbingan, bukan tekanan. Modernisasi pajak yang manusiawi akan melahirkan kepatuhan sukarela bukan kepatuhan karena terpaksa.

Bukan Sekadar Modern, Tapi Efektif

Modernisasi pajak adalah langkah maju yang patut diapresiasi. Namun kemajuan tidak bisa hanya diukur dari teknologi, melainkan dari seberapa besar sistem itu memudahkan rakyat.

Negara memang butuh penerimaan, tapi rakyat juga butuh keyakinan bahwa mereka dilayani dengan baik. Karena pada akhirnya, sistem secanggih apa pun tak akan berarti jika manusia di dalamnya belum siap berubah.