Ketika Orang Utan Kehilangan Rumah: Krisis Hutan Kalimantan Semakin Nyata

Siti Rahmah atau yang biasa di kenal Amah adalah mahasiswi Sastra Indonesia di Universitas Mulawarman, Kalimantan Timur. Hobinya menulis puisi dan menari. Melalui dua hal tersebut, ia mengekspresikan perasaan dan pandangannya tentang kehidupan budaya
·waktu baca 2 menit
Tulisan dari Siti Rahmah tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Hutan Kalimantan bukan hanya sekadar kumpulan pepohonan hijau, tetapi juga rumah bagi ribuan makhluk hidup yang bergantung padanya. Salah satunya adalah orang utan Borneo (Pongo pygmaeus) yang kini berstatus Critically Endangered menurut IUCN. Populasi mereka diperkirakan tinggal 55.000–104.000 individu, dan jumlahnya terus menurun akibat perburuan, kebakaran, serta rusaknya habitat. Selain orang utan, ada bekantan, macan dahan, gajah kerdil Borneo, beruang madu, hingga burung enggang, semuanya adalah simbol keanekaragaman hayati yang kini terancam punah.
Data dari Radar Tarakan (2024) dan Auriga Nusantara menyebutkan kalau sepanjang tahun 2024, deforestasi di Kalimantan sudah tembus angka 124.896 sampai 129.896 hektare, atau sekitar 59 persen dari total deforestasi nasional. Bayangin aja, Kalimantan Timur menyumbang paling besar dengan 44.483 hektare, disusul Kalimantan Barat dan Kalimantan Tengah yang masing-masing kehilangan 39.598 dan 33.389 hektare.
Apa penyebab utamanya? Ekspansi kebun kayu, pertambangan, dan perkebunan sawit yang sebagian besar dilakukan di kawasan konsesi. Bahkan Kutai Kartanegara kehilangan lebih dari 16 ribu hektare hutan cuma dalam setahun.
Menurut saya, kerusakan ini bukan hanya karena lemahnya pengawasan, tetapi juga karena kurangnya kesadaran manusia akan pentingnya keseimbangan alam. Banyak yang menganggap hutan hanyalah sumber uang, bukan sumber kehidupan. Padahal, menjaga hutan berarti menjaga masa depan kita semua.
Pemerintah, perusahaan, dan masyarakat perlu bekerja bersama misalnya memperketat izin pembukaan lahan, melarang pemburuan satwa yang dilindungi, meningkatkan program reboisasi, dan memberi ruang bagi masyarakat adat untuk mengelola wilayah mereka secara lestari.
Kalimat “Menjaga hutan berarti menjaga kehidupan” bukan sekadar kalimat, melainkan kenyataan yang harus kita sadari. Ketika hutan Kalimantan benar-benar hilang, bukan hanya orang utan atau bekantan yang punah, tapi juga keseimbangan alam yang menopang kehidupan kita. Mungkin satu pohon terlihat kecil, tapi ketika jutaan pohon ditebang, dunia akan ikut kehilangan napasnya.
