Konten dari Pengguna

"Maafkan, Aku Jatuh Suka": Paradoks "Jatuh Suka" dalam Kacamata Stilistika

Siti Rahmah

Siti Rahmah

Siti Rahmah atau yang biasa di kenal Amah adalah mahasiswi Sastra Indonesia di Universitas Mulawarman, Kalimantan Timur. Hobinya menulis puisi dan menari. Melalui dua hal tersebut, ia mengekspresikan perasaan dan pandangannya tentang kehidupan budaya

·waktu baca 2 menit

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Siti Rahmah tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Dokumentasi pribadi Siti Rahmah, September 2025
zoom-in-whitePerbesar
Dokumentasi pribadi Siti Rahmah, September 2025

Di tengah hiruk-pikuk musik pop yang sering kali merayakan jatuh cinta sebagai kegembiraan, Tulus seorang musisi Indonesia justru hadir dengan cara yang berbeda. Lewat lagu "Jatuh Suka", ia membawa kita pada sebuah ruang yang lebih tenang, lebih santun, sekaligus sangat rapuh.

Ada satu diksi yang menarik untuk dibedah melalui kacamata stilistika dalam karya sastra yaitu pada lirik kata "Maafkan." Mengapa seseorang harus meminta maaf hanya karena ia sedang jatuh cinta?

Secara linguistik, "Maafkan" biasanya digunakan saat seseorang melakukan kesalahan atau melanggar batas. Namun, Tulus menempatkannya tepat sebelum pengakuan "Aku jatuh suka." Ini adalah sebuah paradoks.

Jatuh cinta biasanya dianggap sebagai hak asasi setiap perasaan. Namun, dalam stilistika lagu ini, "maafkan" berfungsi sebagai bentuk kerendahan hati yang ekstrem. Tulus memposisikan subjek "aku" seolah-olah telah melakukan "invasi emosional" terhadap ruang privat orang lain. Ia merasa lancang karena telah membiarkan hatinya tanpa sengaja terpikat tanpa permisi.

Ketidaksengajaan ini diperkuat pada lirik "Punya magis perekat yang sekuat itu, Dari lahir sudah begitu."

Diksi "magis" dan "perekat" adalah metafora yang cerdas. Tulus ingin menjelaskan bahwa ia tidak punya pilihan lain selain terikat oleh pesona sang objek yang bersifat alami. Di sini, kata "maaf" menjadi sebuah pembelaan diri.

Stilistika dalam lagu ini juga didominasi oleh citraan penglihatan dan penciuman.

"Bila kau lihat ku tanpa sengaja, Beginikah surga." Kata "tanpa sengaja" menegaskan bahwa ini bukan sebuah rencana. Keindahan yang ia lihat dan yang ia sebut sebagai "surga" datang begitu tiba-tiba sehingga kata-kata yang sudah tertata pun menjadi terkunci. Permintaan maaf tersebut akhirnya menjadi satu-satunya jembatan komunikasi yang tersisa ketika logika sudah tidak lagi sanggup menyusun kalimat yang sempurna.

Pada akhirnya, "Jatuh Suka" bukan hanya soal kekaguman, tapi soal etika dalam mencintai. Melalui pilihan katanya, Tulus mengajarkan bahwa jatuh cinta adalah sebuah proses menghargai keberadaan orang lain.

Meminta maaf saat jatuh cinta bukan berarti kita melakukan kesalahan kriminal melainkan Itu adalah pengakuan bahwa kita sangat menghargai sosok tersebut hingga kita merasa perlu "mengetuk pintu" hatinya dengan cara yang paling halus. Seperti gambar cover artikel ini terlihat seorang yang memotret senja dengan tenang ia hanya ingin hadir di samping keindahan itu, tanpa ingin merusaknya dan sambil berbisik pelan "Maafkan, aku jatuh suka."