Mengabadikan Warna dalam "Monokrom": Catatan Stilistika atas Kerinduan Tulus

Siti Rahmah atau yang biasa di kenal Amah adalah mahasiswi Sastra Indonesia di Universitas Mulawarman, Kalimantan Timur. Hobinya menulis puisi dan menari. Melalui dua hal tersebut, ia mengekspresikan perasaan dan pandangannya tentang kehidupan budaya
·waktu baca 2 menit
Tulisan dari Siti Rahmah tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Dalam hiruk-pikuk musik pop Indonesia yang sering kali terjebak pada diksi "cinta" yang itu-itu saja, Tulus seorang musisi Indonesia hadir seperti seorang pelukis yang menggunakan kata-kata sebagai palet warnanya. Lewat lagu "Monokrom", ia bukan sekadar bernyanyi melainkan sedang melakukan kurasi memori.
Jika dibedah melalui kacamata stilistika yaitu studi tentang gaya bahasa dalam karya sastra, kita akan menemukan bahwa "Monokrom" adalah sebuah bukti bagaimana bahasa mampu menghidupkan kembali apa yang telah mati oleh waktu.
Judul "Monokrom" sendiri adalah sebuah ironi yang cantik. Secara visual, monokrom berarti ketiadaan spektrum warna selain hitam dan putih. Namun, Tulus justru membuka lagu dengan sebuah upaya pemberontakan terhadap keterbatasan visual tersebut, seperti pada lirik "Lembaran foto hitam-putih, Aku coba ingat lagi warna bajumu kala itu."
Secara stilistika, ini adalah penggunaan teknik oksimoron. Tulus membenturkan objek yang tak berwarna (foto hitam-putih) dengan ingatan kognitif yang penuh warna. Ia seolah ingin mengatakan bahwa mata boleh saja melihat masa lalu yang pudar, tetapi hati memiliki "resolusi" sendiri untuk menghadirkan kembali merah, kuning, atau birunya kenangan.
Keunggulan Tulus dalam lagu ini adalah kemampuannya menggunakan citraan sensoris yang sangat kuat. Ia tidak hanya mengajak kita melihat, tapi juga menghirup dan merasakan.
Lirik "Aku coba ingat lagi wangi rumah di sore itu" adalah penggunaan citraan penciuman. Dalam psikologi, penciuman adalah indra yang paling kuat memicu memori masa lalu. Dengan menyebutkan "wangi rumah", "kue cokelat", dan "balon warna-warni", Tulus berhasil membangun suasana ruang yang konkret. Kita tidak lagi sekadar mendengar lagu, kita sedang bertamu ke masa kecil Tulus yang hangat.
Salah satu puncak estetika bahasa dalam lagu ini terdapat pada lirik "Kau melukis aku."
Penggunaan metafora ini mengubah hubungan antara subjek "Aku" dan "Kalian" menjadi sesuatu yang sangat artistik. Tulus tidak memposisikan dirinya sebagai manusia yang tumbuh dengan sendirinya melainkan ia adalah "kanvas kosong" dan orang-orang di sekitarnya seperti orang tua atau sahabat adalah pelukisnya.
Diksi "melukis" menyiratkan sebuah proses yang penuh ketelitian, kasih sayang, dan waktu yang lama. Ini adalah pengakuan eksistensial bahwa identitas kita hari ini adalah akumulasi dari kebaikan-kebaikan orang lain yang "menggoreskan" warna di hidup kita.
Pada lirik yang menceritakan kesulitan tidur, Tulus menulis "Kembali teringat malam, kuhitung-hitung bintang, Saat mataku sulit tidur... Suaramu buatku lelap."
Di sini, suara seseorang ditempatkan sebagai obat penenang. Gaya bahasa yang digunakan cenderung minimalis namun efektif dalam menggambarkan rasa aman. Repetisi gumam "mm-mm" di akhir baris bukan sekadar pelengkap nada, melainkan bentuk onomatope yang meniru suara senandung pengantar tidur, memperkuat suasana yang tenang.
Pada akhirnya, "Monokrom" adalah sebuah pengingat tentang kefanaan. Lirik "Kita tak pernah tahu berapa lama kita diberi waktu." Melalui perubahan gaya bahasa dari deskriptif ke arah reflektif, Tulus mengajak pendengar untuk segera mengungkapkan terima kasih sebelum "warna" itu benar-benar hilang.
Lagu ini juga membuktikan bahwa stilistika bukan sekadar permainan kata-kata rumit. Di tangan Tulus, gaya bahasa adalah jembatan untuk menghubungkan masa lalu yang hitam-putih dengan masa kini yang penuh syukur. "Monokrom" adalah sebuah perayaan atas cinta yang meski fotonya telah usang, warnanya tetap abadi di dalam hati.
