Tari Enggang dan Krisis Identitas Generasi Z Kalimantan Timur

Siti Rahmah atau yang biasa di kenal Amah adalah mahasiswi Sastra Indonesia di Universitas Mulawarman, Kalimantan Timur. Hobinya menulis puisi dan menari. Melalui dua hal tersebut, ia mengekspresikan perasaan dan pandangannya tentang kehidupan budaya
·waktu baca 2 menit
Tulisan dari Siti Rahmah tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Di tengah arus globalisasi dan modernisasi, Generasi Z Indonesia, khususnya di Kalimantan Timur, menghadapi tantangan besar berupa krisis identitas dan potensi terasing dari akar budaya lokal mereka. Namun, di antara hiruk pikuk perubahan, seni tari tradisional Dayak tampil perkasa, tidak hanya sebagai penanda identitas, tetapi juga sebagai jembatan yang menghubungkan masa lalu, kini, dan masa depan.
Seni tari Dayak, seperti Tari Enggang adalah arsip hidup yang mengandung filosofi, spiritualitas, dan narasi hubungan antara manusia, alam, dan leluhur. Gerakan lembut yang menirukan kepakan sayap burung Enggang, burung yang melambangkan keanggunan, bukan sekadar keindahan visualnya, ia adalah manifestasi spiritualitas dan kearifan lokal.
Fakta ini didukung oleh temuan dari Studi Resiliensi Budaya dan Generasi Z di Kaltim (2024) yang dilakukan oleh Pusat Kajian Etnografi Universitas Mulawarman. Data menunjukkan adanya peningkatan minat Gen Z (usia 18-24 tahun) terhadap seni tari daerah sebesar 40% dalam kurun waktu lima tahun terakhir. Analisis mendalam terhadap partisipan aktif dalam sanggar tari Dayak mengungkapkan bahwa lebih dari 70% dari mereka menyatakan tari telah membantu mereka dalam memproses isu krisis identitas, kecemasan akan masa depan, dan tekanan akademis/sosial.
Menurut saya, Tari Enggang tidak hanya dilihat sebagai sebuah tarian, melainkan identitas budaya yang bisa dimaknai sebagai doa dan penghormatan kepada leluhur. Setiap gerak tari memiliki artinya sendiri, yang menceritakan hubungan manusia dengan alam dan Tuhannya. Ketika menari, berarti sedang menghidupkan kembali roh leluhur dan menjaga akar budaya Dayak yang kuat.
Seni tari Dayak Kalimantan Timur bukan sekadar warisan masa lalu tapi juga aksi nyata yang membuktikan ketahanan identitas bangsa di tengah gempuran globalisasi. Melalui ekspresi bahasa tubuh yang kaya makna dari lambaian tangan hingga hentakan kaki. Generasi Z Kalimantan Timur melatih kembali jati diri mereka. Tari Dayak kini berfungsi sebagai moral dan budaya, secara aktif memandu generasi penerus untuk berdiri tegak, memancarkan kebanggaan, dan mempertahankan keautentikan di panggung dunia.
