Konten dari Pengguna

Anxiety Disorder: Menjaga Kesehatan Mental di Tengah Wabah COVID-19

Amalia Agustina

Amalia Agustina

Mahasiswa Universitas Muhammadiyah Malang

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Amalia Agustina tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Ilustrasi cemas atau khawatir
zoom-in-whitePerbesar
Ilustrasi cemas atau khawatir

Dalam kurun waktu kurang lebih empat bulan, dunia dan seluruh belahan negara tak terkecuali Indonesia dihebohkan dengan kemunculan virus COVID-19. Terhitung sejak dari pertama kali kasus COVID-19 dikonfirmasi di Wuhan, Tiongkok pada Desember 2019 lalu, setidak nya terdapat ribuan orang di berbagai negara baik yang positif terinfeksi maupun yang menjadi korban meninggal dunia dari keganasan COVID-19.

Selain itu, angka keberhasilan orang yang sembuh dari virus COVID-19 juga cukup tinggi. Beragam media massa menyuguhkan berita terbaru dari perkembangan kasus COVID-19.

Terlepas dari berbagai pemberitaan mengenai COVID-19, terdapat suatu kondisi yang luput dari perhatian publik. Yakni, mereka yang memiliki gangguan kesehatan mental Anxiety Disorder atau yang sering disebut dengan gangguan kecemasan.

Tanpa kita sadari, kemunculan pemberitaan mengenai COVID-19 yang terus-menerus memberikan dampak negatif kepada para penderita Anxiety Disorder. Pemberitaan yang tiada henti mengenai COVID-19 bagi beberapa orang merupakan hal yang wajar dan sebaiknya memang dilakukan untuk mengetahui perkembangan kasus Covid-19 yang sedang terjadi.

Namun, bagi penderita Anxiety Disorder berita-berita tersebut layaknya bumerang yang sewaktu-waktu dapat menyerang kesehatan mental mereka.

Anxiety Disorder merupakan gangguan kecemasan atau keadaan khawatir berlebih yang mengeluhkan bahwa sesuatu yang buruk akan terjadi (Nevid, dkk 2005). Selain itu, Anxiety adalah bentuk stres yang dialami oleh seseorang baik secara fisik, emosional, maupun sudut pandang mereka terhadap lingkungan yang mencakup munculnya serangan panik yang berulang dan tidak terduga.

Mereka, para penderita Anxiety juga merasakan serangan-serangan panik yang melibatkan munculnya reaksi kecemasan secara intens disertai dengan simtom-simtom fisik, seperti napas cepat, kesulitan bernapas, merasa pusing dan lemas, jantung berdebar-debar, serta banyak mengeluarkan keringat (Nevid, dkk, 2005).

Para penderita Anxiety didasarkan oleh kejadian traumatis yang terjadi di masa lalu yang sangat berbekas pada diri mereka, sehingga membuat penderita trauma dan menjadi khawatir akan kejadian traumatis tersebut. Bermula dari rasa khawatir yang normal, berujung pada rasa khawatir dan kecemasan yang berlebihan. Anxiety tidak mengenal usia dan dapat terjadi kepada siapa saja.

Lantas Bagaimana Cara untuk Mengatasi Anxiety Disorder di Tengah Wabah COVID-19?

Selektif dalam memilih berita dan bacaan mengenai COVID-19

Mengikuti perkembangan berita mengenai Covid-19 tidak ada salahnya bagi penderita Anxiety Disorder. Namun, alangkah baiknya ketika melihat dan membaca berita hendaknya memilih satu sumber yang dianggap terpercaya dalam mengabarkan kasus COVID-19, seperti laman resmi pemerintah atau otoritas kesehatan.

“Kecemasan akan kesehatan didorong dan ditandai dengan pengecekan informasi secara konstan. Batasi interupsi hari Anda dengan mematikan alarm dari aplikasi berita.” Kata Meg Arroll, psikolog, mengutip dari www.stylist.co.uk.

Serta batasi waktu dalam membaca atau menonton segala sesuatu yang tidak akan membantu Anda merasa lebih baik.

Istirahat dari media sosial

Selain perasaan cemas yang berlebihan, penderita Anxiety juga akan mengalami berpikir yang berlebihan ketika melihat postingan di media sosial. Jika perasaan ini sudah muncul, ada baiknya Anda segera melakukan istirahat dari media sosial.

Jika dirasa tidak bisa lepas dari kebiasaan mengakses media sosial dalam seharian, Anda dapat mengurangi kebiasaan tersebut sedikit demi sedikit.

“Tidak ada salahnya Anda membatasi diri sejenak, dengan menutup pintu komunikasi yang tak kunjung berhenti di berbagai grup dan platform media sosial yang membahas tentang COVID-19 ini.” tuturnya.

Tetap terhubung dengan dengan orang-orang tercinta

Dengan diterapkannya sistem PSBB (Pembatasan Sosial Berskala Besar) di beberapa wilayah, membuat Anda beserta keluarga tidak dapat bertemu hingga batas waktu yang ditetapkan oleh pemerintah. Hal ini bisa saja membuat Anda merasa kesepian dan stres.

Menjalin komunikasi denga melakukan telepon atau video call bersama dengan orang-orang yang Anda sayangi, keluarga, dan teman-teman termasuk cara efektif yang bisa Anda lakukan untuk tetap terhubung dan menjaga kesehatan mental. Rasa takut, cemas, panik, dan lelah, yang Anda rasakan perlahan akan terasa jauh berkurang.

Menjaga kesehatan dengan baik

Di tengah wabah COVID-19 ini, salah satu hal yang wajib Anda lakukan yakni, dengan menjaga kesehatan dengan menerapkan pola hidup yang sehat. Ketika Anda tidak begitu memperhatikan kondisi kesehatan dengan cukup baik, Anda mungkin akan merasa lebih takut tertular.

Maka dengan ini, mulai terapkan pola hidup sehat dengan cara :

• Mengonsumsi makanan sehat dan bergizi.

• Minum air putih yang cukup.

• Berolahraga dan tetap aktif seperti biasa.

• Berpikir positif.

• Memiliki jam tidur yang cukup, setidaknya 7-9 jam.

• Rajin mencuci tangan danmenggunakan masker ketika keluar rumah.

Dalam kondisi yang terjadi seperti sekarang ini, di samping pentingnya untuk meningkatkan kewaspadaan dan kesehatan diri. Juga penting untuk menjaga kesehatan mental agar tidak timbul kecemasan yang berlebih terlebih untuk para penderita Anxiety.