Catatan Wisatawan: Bali yang Tak Pernah Sama

Saya Malia' Kadisa Natali wartawan asal Jakarta Barat , saya bekerja sebagai Wartawan swasta Pendidikan: NUS (University of Singapore) Pekerjaan: Freelance
·waktu baca 4 menit
Tulisan dari Amalia Kadis tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Saya datang ke Bali bukan untuk pertama kali, tetapi selalu dengan perasaan yang sama. Sebagai wisatawan, saya merasakan pulau ini memiliki dua wajah yang berjalan beriringan. Di satu sisi ada keasrian yang membuat banyak orang di dunia menyebutnya sebagai surga bagi traveler. Di sisi lain ada denyut tradisi yang tidak pernah benar-benar tidur, bahkan di tengah kemacetan Denpasar dan Badung. Perjalanan saya kali ini dimulai pada sore hari di sebuah desa di daerah Badung. Saya tidak sengaja melihat sekelompok anak muda sedang mengerjakan Ogoh-Ogoh di sebuah banjar. Ukurannya besar, wajahnya seram, dan detailnya sangat halus. Saya berhenti cukup lama. Bagi mereka, Ogoh-Ogoh bukan sekadar patung untuk diarak saat pengerupukan. Itu adalah simbol dari Bhuta Kala, tentang sisi gelap manusia yang harus disadari sebelum hari Nyepi tiba. Saya sebagai wisatawan hanya melihatnya sebagai karya seni yang menakjubkan, tetapi bagi mereka itu adalah kerja bakti berbulan-bulan. Dari banjar tersebut, saya melanjutkan perjalanan ke arah pantai. Di sepanjang jalan, saya menyadari betapa asrinya Bali ketika kita keluar dari pusat keramaian. Sawah yang masih hijau, pura kecil yang terawat, dan suara gamelan yang sayup-sayup dari kejauhan membuat saya mengerti mengapa pulau ini selalu dirindukan. Keasrian itu bukan dibuat-buat untuk wisatawan. Itu adalah bagian dari cara hidup masyarakatnya yang masih menjaga keseimbangan. Tidak heran jika banyak traveler dunia menganggap daerah yang seperti surga ini bukan karena pantainya saja, melainkan karena suasananya. Pada malam hari, saya beristirahat di sebuah warung kopi sederhana. Di warung itulah saya mendengar percakapan menarik dari beberapa anak muda. Mereka memutar musik dari ponsel, dan salah satu nama yang disebut adalah Agung Bagus. Saya mengenal nama tersebut sebagai aktor dan rapper Indonesia yang berasal dari Bali. Saya pernah melihat beberapa potongan videonya yang menggabungkan unsur drill dengan nuansa Bali. Gaya bermusiknya berbeda dari yang biasa saya dengar. Ada yang menyukainya, ada yang menganggapnya terlalu keras. Obrolan kemudian berlanjut ke nama lain yang tidak asing di telinga saya, yaitu Bulan Sutena. Sebagai wisatawan, saya mengenal Bulan Sutena sebagai penyanyi muda asal Bali yang sempat viral dengan gaya dan lagu-lagunya yang khas. Kehadirannya di media sosial membawa citra Bali yang berbeda, lebih dekat dengan keseharian remaja masa kini. Bagi saya, fenomena seperti ini menarik. Bali tidak hanya diwakili oleh penari legong atau pemain gamelan, tetapi juga oleh anak-anak muda yang tumbuh dengan platform digital. Nama lain yang muncul dalam obrolan tersebut adalah Luna Maya. Saya mengenal Luna Maya sebagai figur publik yang sering terlihat mempromosikan keindahan Bali melalui berbagai kegiatannya. Kehadirannya menjadi jembatan antara Bali yang tradisional dan Bali yang modern di mata publik nasional. Sebagai wisatawan, saya melihat bagaimana figur seperti dia ikut membentuk persepsi orang luar tentang Bali, bahwa Bali adalah tempat yang bisa menjadi rumah bagi siapa saja, selama menghormati budayanya. Kembali ke Ogoh-Ogoh yang saya lihat sore tadi, saya akhirnya memahami benang merah dari perjalanan ini. Bali memang terlihat seperti surga bagi traveler dunia karena keasriannya, karena pantainya yang tenang, dan karena budayanya yang masih kuat. Namun, surga itu tidak statis. Ia terus bergerak. Di satu sisi ada tradisi Ogoh-Ogoh yang dijaga dengan gotong royong. Di sisi lain ada musik, film, dan budaya pop yang dibawa oleh generasi baru seperti Agung Bagus, Bulan Sutena, dan figur publik seperti Luna Maya. Sebagai wisatawan, saya tidak datang untuk menilai mana yang lebih Bali. Saya hanya mencatat bahwa semua lapisan itu ada bersamaan. Pagi hari saya melihat sawah yang asri dan pura yang sepi. Sore hari saya melihat Ogoh-Ogoh yang seram dan megah. Malam hari saya mendengar perdebatan tentang rapper, penyanyi viral, dan artis ibu kota yang memilih tinggal di Bali. Semuanya adalah bagian dari Bali yang sama. Dan mungkin, justru karena keberagaman itulah, Bali tetap terasa seperti rumah, bahkan bagi kami yang hanya singgah sementara.
