Konten dari Pengguna

Berani Bicara, Berani Berkembang: Mengapa Public Speaking Penting bagi Mahasiswa

google
Ikuti kumparan di Google
info
Jadikan kumparan sebagai preferensi terpercayamu di Google
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari amaliaika288 tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Kredit Gambar : Ilustrasi public speaking, dibuat menggunakan canva
zoom-in-whitePerbesar
Kredit Gambar : Ilustrasi public speaking, dibuat menggunakan canva

erasa gugup ketika harus berbicara di depan kelas? Tiba-tiba lupa apa yang ingin disampaikan, suara menjadi pelan, atau bahkan merasa takut ketika semua orang melihat ke arah kita? Jika pernah mengalaminya, sebenarnya hal tersebut sangat wajar.

Berbicara di depan orang lain atau *public speaking* merupakan kemampuan yang tidak selalu mudah dilakukan. Namun, kemampuan ini semakin penting bagi mahasiswa, terutama di tengah dunia pendidikan dan dunia kerja yang semakin membutuhkan kemampuan komunikasi.

Public speaking bukan sekadar kemampuan berbicara di depan banyak orang. Lebih dari itu, public speaking adalah bagaimana seseorang mampu menyampaikan ide, informasi, maupun pendapat dengan cara yang jelas dan dapat dipahami oleh orang lain.

Public Speaking Bukan Hanya untuk Orang yang Percaya Diri

Banyak orang berpikir bahwa seseorang yang pandai public speaking harus memiliki sifat percaya diri sejak awal. Padahal, kemampuan berbicara di depan umum dapat dilatih.

Seorang mahasiswa yang awalnya merasa takut melakukan presentasi dapat menjadi lebih percaya diri setelah sering berlatih. Begitu juga seseorang yang awalnya berbicara terlalu cepat dapat belajar mengatur intonasi dan tempo berbicara.

Artinya, kemampuan public speaking bukan hanya tentang bakat, tetapi juga tentang kebiasaan dan latihan.

Mengapa Mahasiswa Perlu Menguasai Public Speaking?

Kehidupan mahasiswa sangat dekat dengan aktivitas yang membutuhkan kemampuan komunikasi. Mulai dari presentasi tugas, diskusi kelompok, organisasi, seminar, hingga kegiatan di luar kampus.

Kemampuan berbicara juga akan semakin dibutuhkan ketika mahasiswa memasuki dunia kerja. Dalam pekerjaan, seseorang mungkin harus melakukan presentasi kepada atasan, menjelaskan ide kepada rekan kerja, berkomunikasi dengan pelanggan, atau mengikuti wawancara kerja.

Karena itu, memiliki nilai akademik yang baik saja belum tentu cukup. Mahasiswa juga perlu memiliki kemampuan untuk menyampaikan apa yang mereka ketahui.

Tidak Harus Menghafal Semua Materi

Salah satu kesalahan yang sering dilakukan ketika melakukan presentasi adalah berusaha menghafalkan seluruh materi. Cara tersebut justru dapat membuat seseorang semakin panik ketika lupa satu bagian.

Lebih baik memahami inti dari materi yang akan disampaikan. Buat beberapa poin penting sebagai panduan, kemudian jelaskan menggunakan bahasa sendiri.

Misalnya ketika membahas literasi keuangan, daripada membaca definisi panjang dari slide, pembicara dapat memberikan contoh sederhana:

"Pernah nggak uang bulanan baru pertengahan bulan, tapi sudah hampir habis?"

Pertanyaan sederhana seperti ini dapat membuat audiens merasa lebih dekat dengan topik yang dibahas.

Kenali Audiens Sebelum Berbicara

Public speaking yang baik bukan hanya tentang bagaimana pembicara menyampaikan materi, tetapi juga bagaimana audiens dapat menerima pesan tersebut.

Karena itu, penting untuk memahami siapa yang menjadi pendengar. Cara berbicara kepada anak sekolah tentu berbeda dengan cara berbicara kepada mahasiswa, dosen, maupun profesional.

Semakin kita memahami audiens, semakin mudah menentukan bahasa, contoh, gaya penyampaian, dan cara berinteraksi yang tepat.

Latihan adalah Kunci

Tidak ada pembicara yang langsung sempurna pada penampilan pertamanya. Kemampuan tersebut berkembang melalui proses.

Latihan dapat dilakukan dengan cara sederhana, misalnya berbicara di depan cermin, merekam diri sendiri menggunakan kamera handphone, atau meminta teman memberikan masukan.

Dari latihan tersebut, kita dapat mengetahui apakah suara terlalu kecil, berbicara terlalu cepat, terlalu sering menggunakan kata "eee", atau kurang melakukan kontak mata.

Kesalahan dalam latihan bukan sesuatu yang harus ditakuti. Justru dari kesalahan tersebut kita dapat mengetahui bagian mana yang perlu diperbaiki.

Public Speaking di Era Digital

Saat ini, public speaking tidak hanya dilakukan secara langsung di depan ruangan. Perkembangan media sosial membuat kemampuan komunikasi juga dibutuhkan dalam membuat video, menjadi content creator, melakukan live streaming, podcast, webinar, maupun membuat konten edukasi.

Artinya, kemampuan menyampaikan pesan menjadi semakin luas. Kita tidak hanya berbicara kepada orang yang berada di depan kita, tetapi juga kepada audiens yang mungkin berada di berbagai tempat.

Hal ini menjadi peluang bagi mahasiswa untuk melatih kemampuan komunikasi sekaligus membangun personal branding di dunia digital.

Berani Bicara adalah Awal dari Perkembangan Diri

Pada akhirnya, public speaking bukan tentang siapa yang paling pintar berbicara atau siapa yang paling percaya diri. Public speaking adalah tentang bagaimana kita mampu menyampaikan sesuatu dengan jelas dan membuat orang lain memahami pesan yang kita bawa.

Rasa gugup mungkin tetap ada. Namun, jangan sampai rasa gugup membuat kita memilih untuk diam.

Mulailah dari hal kecil. Berani bertanya di kelas, berani menyampaikan pendapat dalam diskusi, berani melakukan presentasi, dan berani mencoba berbicara di depan orang lain.

Karena terkadang, kesempatan untuk berkembang dimulai dari satu hal sederhana: berani berbicara.

"Tidak harus langsung menjadi pembicara yang hebat. Yang penting, berani memulai, terus berlatih, dan tidak takut untuk berkembang."

Kredit Gambar : Ilustrasi public speaking, dibuat menggunakan Canva.

Sumber Referensi Artikel : Kumparan.com dan sumber lain yang digunakan dalam penulisan