Melestarikan Budaya Sowan

Mahasiswi UIN Sayyid Ali Rahmatullah, Tulungagung
Tulisan dari Amam Maisur Sindhi Zahro tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan
Pesantren adalah lembaga pendidikan Islam tertua di Nusantara yang digagas oleh para missionaris Islam pertama atau dikenal dengan sebutan Walisongo. Tujuannya adalah untuk meningkatkan kualitas pendidikan agama, mencetak generasi Islami yang tidak hanya berkecimpung pada materi dan teori saja, tapi juga penerapan dalam kehidupan sehari-hari. Pendidikan karakter di pesantren meskipun tidak direncanakan, tapi berlangsung begitu kuat dan konsisten. Sikap tawadlu’, qana’ah, rendah hati, sederhana senantiasa terpancar pada diri seorang santri sebagai cerminan dari kepribadian sang guru atau kiai yang dijadikan sebagai figur tauladan.
“Santri nderek kiai” sepertinya sudah menjadi kalimat yang tidak asing lagi di telinga kita. Lebih-lebih di kalangan masyarakat Indonesia yang di dalamnya terdapat tradisi, suku, dan budaya yang beraneka ragam, salah satunya yakni suku Jawa. Setiap suku yang berbeda pastinya memiliki tradisi maupun budaya yang berbeda pula. Budaya masyarakat Indonesia yang kian dominan bisa dilihat dari semakin tersebarnya pesantren di berbagai penjuru dunia. Berbicara tentang pesantren pastinya tidak luput dari yang namanya sowan. Mata lensa pesantren meletakkan budaya sowan dalam tabaqah (tingkatan) yang cukup mulia.

Sowan bisa bermakna menghadap, dan bersilaturahmi. Siapa yang dihadap dan dikunjungi? Kenapa harus menggunakan kata lain (sowan) bukan menghadap atau mengunjungi saja saat mengucapkannya? Jawabannya, tak lain dan tak bukan adalah pada saat itu kita menghadap kepada orang yang mulia dan harus dihormati seperti raja, guru, atasan, dan orang tua. Sowan dalam tradisi pesantren, dilakukan ketika orang tua ingin menitipkan putra-putrinya untuk memperdalam ilmu di pondok. Matur (meminta izin) kepada pengasuh atau yang kerap dipanggil dengan Kiai pesantren tersebut. Biasanya datang ke ndalem Kiai dengan membawa sesuatu yang sekiranya pantas untuk tujuan menghormati sang guru. Bisa berupa bahan makanan pokok, ageman (pakaian) untuk Abah dan Ibu Nyai, dan lain-lain.
Selain untuk niat menitipkan putra-putrinya di pesantren, sowan kerap kali ditujukan untuk bersilaturahmi, mendapatkan berkah dan doa dari Kiai. Sowan bisa juga dilakukan ketika seseorang ingin mendapatkan ilmu, ijazahan, amalan, dari sang Kiai tapi tidak dengan mondok, melainkan matur secara langsung untuk meminta dan izin menerapkan ilmu, ijazah, ataupun amalan tersebut dalam kehidupan sehari-hari.
Tujuan lain dari tindakan sowan yang dilakukan oleh orangtua santri, kiranya mampu untuk membantu meningkatkan keta’dziman putra-putri mereka ketika berhadapan dengan sang guru, pengasuh, ataupun Kiai. Jadi, budaya sowan tidak hanya dipraktekkan oleh kedua orangtua, namun juga ditanamkan sejak dini kepada para generasi muda millennial agar mereka terbiasa untuk bersikap demikian.
Di bulan-bulan pilihan yang diagungkan oleh umat Islam seperti bulan Syawal, Sya’ban, dan Ramadhan menjadikan sowan sebagai hal yang utama dan penting dikalangan para santri. Sama halnya dengan berkunjung kepada keluarga dan orang tua, sowan para alumni untuk berkunjung kepada Kiai juga tak kalah penting. Mengingat santri tetaplah santri. Dimanapun kita menuntut ilmu, kepada siapa pun itu, dan berpindah kemanapun tempat kita menuntut ilmu, sanad keilmuan tetaplah bersambung dari Kiai pertama kita menuntut ilmu.
Saya ingat dawuh (perkataan) Kiai Yusuf—pengasuh Pondok Pesantren Ma’hadut Tholabah Kandangan Kediri—mengatakan bahwa ketika kita berpindah tempat menuntut ilmu, kita tidak sedang ganti guru melainkan tambah guru. Kita harus berniat tambah guru, agar mata rantai sanad kita bertambah dan keilmuan kita semakin berkah.
Dalam hal menjenguk santri, setiap pesantren pastinya memiliki kekhasan tersendiri dalam melayani atau menerima para tamu yang ingin berkunjung atau sowan. Mulai dari yang secara tertutup hanya untuk dari kalangan pihak keluarga santri atau hanya mahram-nya yang diperkenankan menjenguk sampai yang terang-terangan memperbolehkan orang luar (bukan dari keluarga santri) namun harus didampingi oleh mahram-nya.
Berbicara tentang sowan pastinya tidak terlepas dari mencium tangan Kiai. Mencium tangan orang mulia dengan ketawadlu’an seperti mendapat recharger atau isi ulang energi untuk menjalani kehidupan di masa depan. Hati terasa tenteram seakan permasalahan yang kita adukan kepada Kiai untuk mencari pencerahan atau solusi hilang dalam sekejap.
Sowan menjadi pengaruh kuat Kiai terhadap santrinya. Baik yang masih mondok maupun yang sudah alumni dan mengenyam kehidupan ditengah-tengah masyarakat umum. Faktor yang melatarbelakangi budaya sowan bisa datang dari faktor internal maupun faktor eksternal.
Di antaranya seperti panggilan dari hati kita sendiri ingin mengunjungi ndalem kiai sebagai sosok yang berjasa dalam kehidupan kita. Menuntun kita pada kebaikan dan meninggalkan kebatilan, meningkatkan kualitas Islam dan iman kita agar menjadi insan yang bermanfaat didunia dan akhirat. Faktor lain bisa karena masih adanya ikatan formal antara santri alumni dan kiai akibat menitipkan anak mereka kepesantren tersebut. Saat pesantren mengadakan acara haflatul imtihan, saat orangtua menjenguk sang anak, saat orangtua mendapat laporan tentang perilaku anaknya ketika dipesantren, sowan pasti dilakukan oleh orang tua atau wali mereka.
Sowan menjadikan kita semakin dekat dengan sang Kiai. Begitu beruntungnya orang yang menjadi tangan kanan kiai, berkah hidup terus mengalir pada diri orang tersebut. Banyak cerita dari berbagai kalangan yang nyantri dan nderek (ikut) kiai, tak sedikit yang akhirnya mengikuti jejak kiainya. Banyak dari mereka yang menjadi panutan di tengah-tengah masyarakat umum, banyak dari mereka menjadi ustaz, bahkan kiai yang diberi amanah oleh Allah untuk mendirikan pondok pesantren.
