Konten dari Pengguna

Batu Busu Sambun di Desa Tarantang: Kisah Mistis yang Masih Dijaga hingga Kini

Amanda Amelia

Amanda Amelia

Mahasiswa Sejarah Peradaban Islam di Universitas Islam Palangkaraya

·waktu baca 4 menit

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Amanda Amelia tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Batu Busu Sambun di Desa Tarantang, Kapuas. Foto: Dokumentasi pribadi
zoom-in-whitePerbesar
Batu Busu Sambun di Desa Tarantang, Kapuas. Foto: Dokumentasi pribadi

Kisah Batu Busu Sambun di Desa Tarantang, Kecamatan Mantangai, Kabupaten Kapuas, Kalimantan Tengah, telah berlangsung lebih dari 50 tahun dan hingga kini masih dipercaya masyarakat. Batu Busu Sambun dikenal sebagai batu mistis yang dijaga oleh keturunan keluarga serta warga desa.

Asal Usul Batu Busu Sambun di Desa Tarantang

Peristiwa tersebut bermula dari seorang anak muda bernama Ubut bin Umbok, yang bekerja sebagai buruh tani di kawasan Sungai Tabalien, wilayah yang pada masa itu masih dipenuhi hutan rimba. Pada suatu sore, suasana terasa tidak biasa. Langit yang biasanya cerah perlahan berubah menjadi merah gelap, menciptakan kesan mencekam. Dalam kepercayaan masyarakat Dayak, perubahan alam seperti ini sering dianggap sebagai pertanda adanya sesuatu yang tidak lazim.

Meski demikian, Ubut tetap melanjutkan pekerjaannya melakukan manugal atau manaja (melubangi tanah) seorang diri di hutan. Di tengah aktivitas tersebut, ia menemukan sebuah batu berukuran sedang, kira-kira sebesar badan bayi yang baru lahir. Karena dianggap mengganggu, batu tersebut ia lempar jauh ke semak-semak. Namun, saat kembali melubangi tanah di titik lain, batu itu kembali muncul tepat di bawah alat tumbuk kayunya.

Peristiwa Mistis yang Dialami Ubut

Kejadian ini berulang hingga tiga kali, bahkan di lubang yang berbeda. Batu tersebut seolah mengikuti arah pergerakan Ubut saat bekerja. Fenomena ini membuatnya mulai merasa takut sekaligus penasaran. Akhirnya, ia memutuskan untuk membawa batu tersebut pulang.

Batu itu kemudian disimpan di rumah orang tuanya, tepatnya di dalam sebuah guci yang berisi beras. Sejak saat itu, ayah Ubut yang bernama Umbok mulai mengalami sakit yang tidak kunjung sembuh. Kondisinya semakin hari semakin parah dan sering mengalami kasarungan atau kesurupan.

Dalam keadaan kesurupan, Umbok mengucapkan kalimat dalam bahasa Dayak:

“Je ketun manyahukan paharin ikei, nyahang manggau Betau, puna tege ketun manyahuka.”

yang berarti, “Kalian menyembunyikan keluarga kami? Nyahang (Kakak laki-laki) sedang mencari Betau (adik perempuan), jika ada keluarkan.”

Mendengar hal tersebut, seluruh anggota keluarga mulai berkumpul dan menduga bahwa yang dimaksud adalah batu yang dibawa oleh Ubut. Ketika batu tersebut dikeluarkan dari dalam guci beras, Umbok yang sedang dirasuki oleh sosok yang disebut Nyahang menunjukkan reaksi yang berbeda. Ia tampak kegirangan, lalu memeluk, mencium, dan menimang batu tersebut.

Dalam keadaan tersebut, ia kembali berkata:

“Jituh pahari je nggau ikei, ara tuh Busu Sambun, ikei manitip iye melai lewu jituh.”

yang berarti, “Inilah keluarga yang kami cari, namanya Busu Sambun, kami titipkan dia di desa ini.”

Sejak saat itulah batu tersebut dikenal sebagai Batu Busu Sambun. Masyarakat meyakini bahwa batu tersebut bukan sekadar benda mati, melainkan memiliki keterkaitan dengan dunia roh atau leluhur.

Ritual Balian Karunyak dalam Tradisi Dayak

Sebagai bentuk penghormatan dan untuk menjaga keseimbangan antara manusia dan dunia spiritual, keluarga Umbok bersama masyarakat kemudian mengadakan ritual adat yang dikenal sebagai Balian Karunyak. Ritual ini bertujuan untuk menyanjung dan menghormati roh-roh yang diyakini memiliki kekuatan gaib.

Pelaksanaan Karunyak dilakukan dengan diiringi alat musik tradisional katambung dan disaksikan oleh masyarakat. Dalam prosesi ini, masyarakat juga dapat melakukan manasai, yaitu menari bersama sebagai bagian dari ritual.

Dalam pelaksanaan ritual Mangarunya, masyarakat menyiapkan berbagai bentuk sesajen yang dikenal sebagai Panginan Ije Dulang. Sesajen tersebut berupa limun, giling (rokok yang digulung menggunakan daun sirih), serta perlengkapan lainnya yang memiliki makna simbolis sesuai kepercayaan masyarakat setempat.

Hingga kini, Batu Busu Sambun masih dijaga oleh keturunan keluarga Umbok serta masyarakat Desa Tarantang. Tradisi Balian Mangarunya juga terus dilaksanakan setiap tahun, khususnya pada perayaan Tahun Baru, untuk benda-benda yang dipercaya memiliki kekuatan magis di desa tersebut.

Pelaksanaan tradisi ini melibatkan berbagai unsur masyarakat, mulai dari tetua adat yang dikenal sebagai mantir atau ketua adat, hingga warga setempat yang turut berpartisipasi dalam persiapan dan jalannya ritual.

Makna Spiritual Batu Busu Sambun

Kisah Batu Busu Sambun bagi masyarakat Desa Tarantang tidak sekadar benda, melainkan memiliki makna spiritual sebagai titipan dari dunia roh yang berkaitan dengan leluhur. Keberadaannya diyakini sebagai penghubung antara manusia dan dunia tak kasatmata, yang menunjukkan bahwa leluhur masih hadir dan memiliki peran dalam kehidupan masyarakat. Oleh karena itu, batu ini diperlakukan dengan penuh penghormatan karena diyakini dapat memengaruhi keseimbangan hidup.

Selain itu, Batu Busu Sambun juga menjadi simbol penting dalam menjaga adat dan tradisi yang diwariskan secara turun-temurun. Melalui pelaksanaan ritual seperti Balian Karunyak dan Mangarunya, masyarakat tidak hanya menghormati roh leluhur, tetapi juga memperkuat nilai kebersamaan dan identitas budaya mereka. Kepercayaan ini mencerminkan bagaimana masyarakat Desa Tarantang tetap menjaga harmoni antara manusia, alam, dan dunia spiritual hingga saat ini.