Konten dari Pengguna

Tigray Dalam Krisis: Kekerasan Seksual sebagai Senjata Perang Terhadap Perempuan

Amanda

Amanda

mahasiswi prodi Hubungan Internasional UIN Jakarta

·waktu baca 5 menit

google
Ikuti kumparan di Google
info
Jadikan kumparan sebagai preferensi terpercayamu di Google
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Amanda tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Sumber foto dari website theowp.org
zoom-in-whitePerbesar
Sumber foto dari website theowp.org

Sejak November 2020, Tigray, wilayah utara Ethiopia, telah menjadi saksi salah satu konflik paling brutal di abad ini. Pertikaian antara Pemerintah Federal Ethiopia dan Front Pembebasan Rakyat Tigray (TPLF) tidak hanya menelan ribuan nyawa dan menghancurkan desa-desa, tetapi juga memaksa jutaan orang mengungsi. Namun, di balik angka-angka statistik itu, ada kisah yang jarang terdengar: perempuan menjadi korban utama kekerasan dan pelanggaran hak asasi manusia (HAM).

Ini bukan sekadar cerita tentang perang. Ini tentang bagaimana perempuan diincar, dipaksa menderita, dan sering diabaikan dalam setiap upaya perdamaian. Mereka bukan hanya korban; mereka adalah saksi dan simbol dari tragedi kemanusiaan yang sering dilupakan dunia.

Kekerasan Seksual: Senjata Perang yang Membungkam Suara Perempuan

Salah satu bentuk pelanggaran paling mengerikan adalah pemerkosaan dan kekerasan seksual yang digunakan sebagai senjata perang. Laporan Human Rights Watch dan Amnesty International telah mendokumentasikan ratusan kasus, dan jumlah sebenarnya kemungkinan jauh lebih besar karena stigma sosial membuat banyak korban takut melapor.

Menurut data PBB, lebih dari 2 juta orang Tigray mengungsi, sebagian besar perempuan dan anak-anak menghadapi risiko kekerasan seksual, kelaparan, dan kehilangan akses kesehatan. Bayangkan seorang ibu muda yang menempuh perjalanan berhari-hari ke perbatasan Sudan sambil membawa anaknya yang luka, menceritakan bagaimana desanya dibakar dan suaminya dibunuh. Sepanjang perjalanan, mereka menjadi sasaran pelecehan dan ancaman, menghadapi trauma yang sulit dibayangkan.

Blokade bantuan kemanusiaan memperparah keadaan, membatasi akses perempuan ke pangan, layanan kesehatan, dan perlindungan dasar. Kekerasan seksual di Tigray tidak terjadi secara acak, tetapi digunakan secara sistematis sebagai strategi perang untuk menghancurkan komunitas, menimbulkan trauma psikologis, dan memaksa pengungsian massal.

Dampak Sosial dan Ekonomi: Perempuan Memikul Beban Ganda

Selain kekerasan fisik, perempuan Tigray menghadapi beban sosial dan ekonomi yang luar biasa. Banyak dari mereka kini menjadi kepala keluarga karena laki-laki tewas atau hilang. Mereka harus mencari cara untuk memberi makan anak-anak, menjaga keamanan keluarga, dan melindungi generasi berikutnya semua dalam kondisi darurat kemanusiaan.

Sekolah dan fasilitas kesehatan yang rusak membuat anak-anak perempuan berisiko putus sekolah, pernikahan dini, dan kemiskinan berkelanjutan. Trauma psikologis yang mereka alami juga menimbulkan dampak lintas generasi. Anak-anak yang menyaksikan kekerasan atau kehilangan orang tua menghadapi trauma jangka panjang yang dapat memengaruhi pendidikan, kesehatan mental, dan kualitas hidup mereka di masa depan. Dengan kata lain, penderitaan perempuan tidak hanya individual, tetapi mengancam masa depan komunitas Tigray.

Perspektif Feminist: Mengapa Perempuan Jadi Target

Dari perspektif feminist, konflik tidak netral gender. Perempuan bukan korban pasif; mereka menjadi target spesifik kekerasan untuk menghancurkan komunitas. Pemerkosaan sistematis dan marginalisasi sosial bukan insiden kebetulan, tetapi bagian dari struktur patriarki dan strategi perang.

Analisis feminist menekankan bahwa korban kekerasan seksual sering tidak dilindungi oleh sistem hukum dan tidak dilibatkan dalam proses politik atau rekonstruksi. Hal ini membuat mereka semakin marginal dan memperkuat siklus ketidakadilan. Dari sudut pandang Women, Peace, and Security (WPS), perempuan seharusnya diikutsertakan dalam setiap proses perdamaian dan rekonstruksi agar solusi yang tercipta adil, inklusif, dan berkelanjutan.

Resolusi 1325: Janji yang Belum Terwujud

Resolusi 1325 Dewan Keamanan PBB, yang disahkan pada tahun 2000, menegaskan pentingnya:

1. Perlindungan perempuan dalam konflik

2. Partisipasi perempuan dalam proses perdamaian

3. Pemenuhan hak-hak perempuan sebagai prioritas kemanusiaan

Namun kenyataan di Tigray menunjukkan bahwa janji ini masih jauh dari kenyataan. Perempuan hampir tidak dilibatkan dalam diplomasi atau rekonsiliasi, sementara kekerasan seksual masif terus terjadi. Tanpa perlindungan dan partisipasi perempuan, perdamaian akan rapuh dan ketidakadilan berulang.

HAM, CEDAW, dan Kewajiban Negara

Ada juga dimensi hukum internasional yang tidak bisa diabaikan. Ethiopia dan Eritrea, yang meratifikasi Convention on the Elimination of All Forms of Discrimination Against Women (CEDAW), memiliki kewajiban hukum untuk melindungi perempuan dari kekerasan dan diskriminasi, termasuk dalam situasi konflik.

Pelaporan kekerasan seksual, pengusiran paksa, dan penghilangan terhadap perempuan Tigray jelas melanggar prinsip CEDAW. Meskipun menuntut negara secara langsung masih sulit, prinsip ini memberi dasar hukum yang kuat untuk desakan internasional. Kekerasan terhadap perempuan Tigray bukan hanya tragedi kemanusiaan, tetapi juga pelanggaran hukum internasional yang menuntut respons global.

Kronologi Konflik dan Dampak Terhadap Perempuan

Perang di Tigray dimulai November 2020, dengan serangan militer pemerintah federal terhadap TPLF. Desa-desa dibakar, ribuan warga sipil mengungsi ke Sudan, dan milisi Eritrea terlibat dalam pembunuhan massal, pemerkosaan, dan penghilangan paksa. Blokade pangan memperparah krisis, mengancam hak dasar perempuan atas makanan dan layanan kesehatan.

Perempuan menghadapi risiko ganda: menjadi korban kekerasan langsung dan harus menanggung beban keluarga akibat hilangnya anggota laki-laki. Mereka menjadi penopang ekonomi dan sosial komunitas dalam kondisi yang sangat berat.

Trauma fisik dan psikologis, hilangnya akses pendidikan, serta tekanan ekonomi membuat perempuan lebih rentan terhadap marginalisasi. Anak-anak perempuan terpaksa berhenti sekolah, meningkatkan risiko pernikahan dini dan kemiskinan berkelanjutan. Trauma lintas generasi mengancam stabilitas sosial dan ekonomi Tigray untuk dekade berikutnya.

Feminist perspective menekankan bahwa perlindungan HAM perempuan bukan tambahan, tapi inti dari keamanan dan perdamaian. Tanpa mereka, proses rekonstruksi dan perdamaian akan rapuh dan rentan gagal.

Respons Internasional: Masih Terlalu Lambat

Laporan PBB, Amnesty International, dan Human Rights Watch sudah mendokumentasikan kekerasan dan kejahatan perang. Namun intervensi nyata masih terbatas. Tekanan diplomatik berjalan lambat, dan media global sering fokus pada konflik lain. Akibatnya, krisis perempuan Tigray kurang mendapat perhatian, padahal perlindungan mereka sangat penting untuk perdamaian berkelanjutan. Negara-negara donor dan lembaga internasional perlu meningkatkan respons: mendukung pengungsi perempuan, menyediakan layanan psikologis dan kesehatan, serta menekan pihak konflik untuk menghentikan kekerasan seksual.

Dunia tidak bisa lagi menutup mata. Setiap hari, perempuan Tigray menghadapi risiko kekerasan, kehilangan hak dasar, dan trauma mendalam. Masyarakat global bisa bertindak:

• Menyebarkan informasi agar krisis Tigray mendapat sorotan media yang layak

• Menekan pemerintah dan lembaga internasional untuk memastikan bantuan kemanusiaan sampai ke korban perempuan

• Mendukung organisasi kemanusiaan yang fokus pada perlindungan perempuan dan anak-anak

• Mendorong partisipasi perempuan dalam proses rekonstruksi dan perdamaian

Perempuan Tigray adalah simbol ketahanan dan harapan di tengah kehancuran. Mengabaikan penderitaan mereka berarti mengabaikan masa depan yang damai dan adil. Saatnya dunia menjadi suara mereka, memastikan keadilan, perlindungan, dan perdamaian bukan sekadar janji, tetapi kenyataan yang dirasakan setiap perempuan di Tigray.