COVID-19 dan Manajemen Perubahan (3)

Dosen Fakultas Ekonomi Universitas Krisnadwipayana, Mahasiswa S3 Ilmu Manajemen Universitas Negeri Jakarta
Tulisan dari Amanda Setiorini W. tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan
The New Normal
Jadi, sebelum vaksin ditemukan, memang tidak ada cara selain berdamai dengan COVID-19. Berbagai jenis karantina atau PSBB yang sekarang dilakukan memang tidak mungkin dilakukan sampai vaksin ditemukan. Karantina sebenarnya bukan untuk mencegah penularan penyakit dalam arti tidak ada yang tertular sama sekali. Tujuan karantina adalah mengurangi penyebaran penyakit, agar rumah sakit dan fasilitas kesehatan tidak terlalu penuh. Singkatnya, karantina adalah upaya untuk menekan lonjakan jumlah penderita sehingga perawatan si sakit dapat dilakukan dengan baik.
Sejalan dengan itu, mengatakan bahwa kita mengadopsi herd immunity juga mungkin terdengar sadis. Seolah membiarkan orang sakit dan nantinya akan terseleksi sendiri siapa yang dapat bertahan. Sementara beberapa orang yang tidak memiliki daya tahan terhadap penyakit ini kemungkinan besar tidak dapat sembuh bahkan meninggal dunia. Jadi, apa yang harus dilakukan?
Karantina akan harus dibuka karena berkaitan dengan kegiatan ekonomi yang harus terus berjalan. Negara mana yang sanggup menanggung hidup seluruh penduduknya jika ekonomi tidak berputar? Apalagi Indonesia dengan penduduk seperempat miliar orang. Jika karantina dilanjutkan, orang yang meninggal dunia memang bukan karena COVID-19, tetapi karena tidak mampu hidup secara ekonomi.
Kondisi yang disebut new normal sudah jelas mengisyaratkan bahwa kita tidak akan kembali ke masa sebelum pandemi terjadi. Jangan berharap bisa arisan 20 orang sambil makan-makan di mal. Yang jelas, kerumunan orang harus ditiadakan. Bagaimanapun caranya, menjaga jarak adalah keharusan. Dalam banyak hal, urusan menjaga jarak ini juga terkait dengan kegiatan ekonomi.
Bayangkan sebuah ruangan di bioskop tempat kita biasa menonton film. Jika harus dibuat jaga jarak, setidaknya satu bangku dikosongkan di antara dua orang, berarti bioskop tersebut harus mengurangi kapasitas hingga setengahnya. Demikian juga, kafe atau rumah makan harus mengurangi kapasitas pengunjungnya. Itu baru untuk ruangan yang kecil. Bagaimana mengatur jumlah pengunjung mal? Atau pasar? Di sinilah pekerjaan rumahnya.
Fasilitas Kesehatan
Di sisi lain, fasilitas kesehatan juga harus diperhatikan. Setidaknya alat tes dan pengobatannya harus terjangkau. Selain itu obat-obatan, vitamin, dan alat-alat kesehatan lain harus tersedia untuk masyarakat. Penimbun dan orang-orang yang menghambat distribusi obat dan alat kesehatan perlu mendapat sanksi yang tegas. Disinilah peran negara mengatur agar setiap warga negara mendapatkan perlindungan dan pelayanan kesehatan yang memadai, bukan sekadar ada.
Fungsi puskesmas dikembalikan seperti awalnya: pusat kesehatan masyarakat. Artinya, puskesmas harus dapat mendorong masyarakat di wilayahnya untuk hidup sehat. Bukan mengobati ketika sudah sakit. Kalau sudah sakit, seharusnya itu jatah rumah sakit--sesuai dengan namanya juga, bukan?
Tapi, meski ada bantuan dari berbagai pihak, yang paling penting adalah manusianya. Kita yang pertama kali harus sadar mengenai hidup bersih. Kita yang harus sadar kapan waktunya melakukan karantina mandiri. Kita yang harus tahu bagaimana membantu tetangga yang sakit. Tanpa gerakan dari kita sendiri, segala macam fasilitas yang diberikan tidak akan banyak berguna.
Hindari kerumunan dan mau diatur. Jangan karena harus membeli baju, atau beras sekalipun, kita memaksa masuk ke dalam kerumunan. Belanja juga harus diatur, jangan berbelanja di waktu yang sempit karena membuat kita merasa terpaksa harus melakukannya pada saat itu. Di berbagai pusat perbelanjaan, petugas menghitung jumlah orang di dalam fasilitasnya. Selebihnya harus menunggu di tempat yang telah disediakan--juga dengan tempat duduk yang berjarak. Jangan mengakali petugas lalu menerobos entah dari mana. Atau marah-marah kepada petugas karena merasa keluarga orang penting. Penyakit ini tidak pandang status sosial. Jadi, setiap orang harus mau menahan diri.
Semuanya dimulai dari kita.
---
