Lockdown (2)

Dosen Fakultas Ekonomi Universitas Krisnadwipayana, Mahasiswa S3 Ilmu Manajemen Universitas Negeri Jakarta
Tulisan dari Amanda Setiorini W. tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan
Koneksi Internet
Bekerja dan belajar jarak jauh, dewasa ini, membutuhkan kestabilan koneksi internet. Koneksi yang terputus-putus menyulitkan kita berkomunikasi dengan rekan kerja. Pembicaraan jadi terpotong-potong, video banyak terjeda, unggah atau unduh berkas menjadi lama.
Memang benar bahwa koneksi internet di Indonesia semakin baik dari tahun ke tahun. Juga jauh lebih murah daripada koneksi internet di negara lain, misalnya Australia. Tapi hal ini tidak berarti bahwa kualitasnya sudah dapat digunakan untuk bekerja dan belajar sepanjang hari. Kalaupun bisa, biayanya cukup memberatkan. Ini masalah keempat.
Untuk melakukan kelas online dengan video conference selama 2 jam, mahasiswa saya melaporkan pemakaian kuota 300-900 MB. Itu baru untuk satu mata kuliah. Dalam seminggu, mereka biasanya mendaftar untuk 5-7 mata kuliah. Silakan dihitung berapa biaya yang dibutuhkan sesuai dengan tarif yang diberikan oleh masing-masing penyedia jasa internet.
Siapa yang menanggung biaya tersebut? Tentunya masing-masing orang maupun rumah tangga. Jika selama ini kita jarang menghitung pemakaian internet selama sebulan, mungkin sekarang saatnya untuk memperhatikan berapa banyak kebutuhan kita atas internet. Atau, apakah mungkin para penyedia jasa internet memberikan potongan harga sementara banyak pekerja dan pelajar yang dirumahkan?
Beberapa penyedia aplikasi belajar yang biasanya berbayar mulai memberikan potongan harga untuk mendukung proses belajar dari rumah. Semoga segera diikuti oleh semua penyedia jasa internet. Tentunya dengan tidak menurunkan kualitas. Sekali lagi, semua pihak seharusnya tidak menari diatas penderitaan orang lain.
Faktor Psikologis
Masalah kelima, terkait dengan kondisi psikologis seseorang yang "terkurung" di rumah, tanpa dapat keluar sama sekali. Satu minggu mungkin masih baik-baik saja. Tapi lebih dari itu, rasanya orang akan mulai bosan.
Itu sebabnya ketika belajar di rumah diterapkan, banyak orangtua sibuk mencarikan kegiatan untuk anak-anaknya, sesuai dengan usianya. Setelah kegiatan belajar usai, apa yang harus mereka lakukan agar tidak bosan? Masalahnya, jika sudah bosan, siapapun akan menjadi lebih sulit mengatur emosi.
Memang benar, ini kondisi khusus, dimana setiap orang diminta untuk "berkorban". Tetapi tekanan ini adalah juga kondisi psikologis yang wajar terjadi, dan tentu saja perlu disiapkan cara penanganannya. Apalagi untuk orang Indonesia yang terbiasa bersosialisasi dengan beragam orang: reuni, arisan, pengajian, sekolah, kerja, les, dan lain-lain. Berdiam di rumah bisa menjadi tekanan sendiri.
Oke, ini mungkin terjadi pada kelas menengah yang telah memiliki rumah yang ideal. Maksudnya, masing-masing anak memiliki kamar, dan ada ruangan lain yang layak untuk kebutuhan sebuah keluarga. Lalu, bagaimana dengan keluarga menengah ke bawah yang masih tinggal beramai-ramai dalam rumah yang relatif sempit? Jelas bahwa tekanannya akan semakin besar.
Seorang kepala sekolah SMA Negeri di Jakarta pernah bercerita bagaimana ia menyurvei kondisi anak didiknya yang tinggal di perumahan sempit di bilangan Senen. Untuk tidur saja mereka harus bergantian karena jumlah penghuni rumah tidak sesuai dengan luas rumah. Dan, yang seperti ini jumlahnya tidak sedikit. Bagaimana mereka harus tinggal di rumah dan tidak boleh keluar rumah selama beberapa waktu? Jangan-jangan mereka harus tidur sambil berdiri? Sudah pasti tekanan psikologisnya semakin besar.
Tidak Semua Bisa
Tentunya kita sudah menyadari bahwa ada pekerjaan yang tidak bisa dilakukan dari di rumah. Bagaimana dengan penjual makanan atau ojek daring? Apakah mereka juga tidak bisa bekerja? Lalu, darimana mereka akan mendapat uang untuk biaya hidup? Adakah yang mau menanggung hidup mereka?
Jika terjadi lockdown dan kita bahkan tidak bisa membeli keperluan untuk hidup, itu berarti pemerintah harus menyediakan segala kebutuhan tersebut. Makanan atau bahan makanan harus dibagikan setiap hari ke setiap rumah. Siapa yang menyiapkan makanan? Siapa yang membagikan? Bagaimana pengaturannya? Bisa-bisa, begitu ada pengumuman lockdown, masyarakat kalap dan menjarah toko bahan makanan. Kerusuhan pun tidak terelakkan. Tentu, bukan itu yang kita inginkan.
Penjagaan juga harus ditempatkan untuk menjaga agar orang benar-benar diam di rumah dan tidak menyebarkan virus. Atau melakukan penjarahan. Atau melampiaskan tekanan karena berdiam di rumah dengan mengganggu orang lain.
Kalau sudah begitu, berapa banyak tenaga pengamanan yang akan diterjunkan untuk mengawasi Jakarta saja? Bagaimana dengan daerah lain? Atau daerah di pelosok yang sulit dijangkau?
Next: Dari Perspektif Siapa? https://bit.ly/2U9btAM
