Lockdown (3)

Dosen Fakultas Ekonomi Universitas Krisnadwipayana, Mahasiswa S3 Ilmu Manajemen Universitas Negeri Jakarta
Tulisan dari Amanda Setiorini W. tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan
Dari Perspektif Siapa?
Mari pikirkan kembali. Apakah kita memikirkan lockdown dengan tetap memesan makanan melalui aplikasi? Dengan tetap bisa berbelanja ke supermarket? Itu sih bukan lockdown, namanya.
Ketika memikirkan lockdown, sudahkah kita melihat dari kacamata mereka yang tinggal di rumah sempit? Mereka yang harus makan dari pendapatan harian? Atau hanya melihat kondisi diri sendiri dan orang-orang di sekitar kita. Ayo, berempatilah sedikit.
Benar bahwa lockdown akan sangat manjur untuk mencegah penularan virus. Tetapi biayanya juga tidak sedikit. Selain itu, juga tidak sesuai dengan karakter orang Indonesia. Kita bukan orang yang betah di rumah membaca buku. Kita terbiasa mendapat stimulasi dari berbagai pusat perbelanjaan dan kegiatan di luar rumah.
Untuk Siapa?
Jadi, lockdown buat siapa? Kalau kita adalah orang yang mampu berdiam di rumah, atau mampu menyediakan rumah yang layak untuk anggota keluarga, atau mampu disiplin bekerja dan belajar dari rumah, marilah kita yang berdiam di rumah. Tujuannya untuk mengurangi kemungkinan terpapar virus. Tapi, biarlah orang lain bekerja seperti seharusnya. Jangan ikut mengurung mereka karena kita takut kena virus.
Di sisi lain, mari terus meningkatkan kebiasaan hidup bersih. Mandi dan membersihkan diri setelah berkegiatan di luar adalah sebuah keharusan. Bagi mereka yang berpakaian rapat dan berkeringat, ingatlah bahwa tubuh berkeringat adalah area lembab yang disukai kuman. Segera membersihkan diri setelah berkegiatan. Kendalikan kebiasaan meludah di tempat umum, bersin dan batuk tanpa menutup mulut, dan lain-lain.
Kalau kita masih sibuk menimbun masker, mencari keuntungan di tengah musibah, saya yakin kita belum mampu memikirkan siapa yang menanggung hidup para pekerja harian jika terjadi lockdown. Karenanya, tulisan ini hanya ingin mengingatkan untuk menguatkan rasa solidaritas di tengah situasi ini. Cobalah melihat dari sudut pandang orang lain, yang berbeda dari kita, dan memahami kesulitan mereka. Sedapat mungkin, cari win-win solution. Bersama, kita bisa.
