Konten dari Pengguna

Batu Rosetta, Kunci Penerjemahan Aksara Hieroglif Mesir

Amanda Tia Ifada

Amanda Tia Ifada

Mahasiswa Sastra Inggris Universitas Jember

·waktu baca 2 menit

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Amanda Tia Ifada tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Batu Rosetta. Sumber: Getty Images
zoom-in-whitePerbesar
Batu Rosetta. Sumber: Getty Images

Sebuah prasasti batu unik yang pertama kali ditemukan pada tahun 1799 di Mesir ini telah menghebohkan banyak ilmuwan. Prasasti granodiorit berukuran tinggi 1.123 mm, lebar 757 mm, dan tebal 284 mm serta berbobot 760 kg ini berukirkan sebuah pengumuman atas nama Raja Ptolemaios V yang berasal dari Memfis, Mesir pada tahun 196 SM. Diketahui bahwa prasasti ini dibuat pada masa dinasti Ptolemaik.

Pada tahun 1799, seorang tentara Prancis Pierre-François Bouchard berhasil menemukan kembali prasasti ini ketika ia sedang ditugaskan dalam tugas militer Prancis di Mesir dan Suriah.

Diyakini oleh ilmuwan bahwa prasasti ini pada mulanya dipajang di sebuah kuil, di sekitar kawasan Sais. Hingga kemudian pada masa pemerintahan Mamluk atau Abad Kuno Akhir dipindahkan untuk digunakan sebagai material bahan bangunan dalam mendirikan sebuah benteng di dekat kota Rashid yang berada di wilayah Delta Nil.

Hal yang menjadi keunikan dari prasasti batu tersebut terdapat pada ukirannya yang ditulis dalam tiga versi yang berbeda.

Pada bagian atas teks dituliskan dalam bahasa Mesir Kuno menggunakan aksara hieroglif, sementara pada bagian tengah teks diduga ditulis dengan Syriac, tetapi kemudian dikonfirmasi kembali sebagai aksara demotik, lalu pada bagian akhir teks dituliskan dengan bahasa Yunani Kuno.

Prasasti batu ini kemudian menjadi penemuan prasasti batu dwibahasa Mesir Kuno pertama di era modern.

Batu Rosetta di British Museum. Sumber: Getty Images

Batu Rosetta memberikan angin sejuk bagi dunia penelitian sebab membantu para ilmuwan dalam menguraikan aksara hieroglif yang hingga prasasti ini ditemukan belum ada yang berhasil menerjemahkan.

Penemuan prasasti ini membangkitkan kembali ketertarikan masyarakat terhadap Egiptologi.

Pada tahun 1801 pasukan Inggris berhasil mengalahkan pasukan Prancis di Mesir. Kemudian terjadilah peristiwa Penyerahan Iskandariyah yaitu sebuah peristiwa di mana pasukan Prancis melarikan diri ke Iskandariyah ketika dikepung oleh pasukan Inggris. Jenderal Prancis Abdullah Jacques-François Menou pada 30 Agustus 1801 menawarkan penyerahan di mana di dalamnya termasuk menyerahkan Batu Rosetta.

Prasasti batu tersebut kemudian diboyong ke London dan di pamerkan di British Museum mulai tahun 1802 hingga saat ini. Batu Rosetta menjadi salah satu koleksi dari British Museum yang paling banyak dikunjungi.