Baru Gajian, Kok Sudah Bokek? Ini Gaya Hidup Gen Z

Mahasiswa Universitas Pamulang semester 3 jurusan Pendidikan Ekonomi
·waktu baca 5 menit
Tulisan dari Amanda Vira Amelia tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Baru juga menerima uang, tapi saldo rekening sudah mulai menyusut. Kemarin masih merasa aman, hari ini sudah berpikir, “Uang gue ke mana, ya?”
Kondisi seperti ini mungkin terdengar familiar bagi sebagian Gen Z. Bukan karena membeli barang mahal setiap hari, tetapi karena pengeluaran kecil yang dilakukan berulang kali. Ngopi, jajan, pesan makanan online, ongkos transportasi, nongkrong, sampai checkout barang yang sebenarnya tidak masuk daftar kebutuhan.
Awalnya hanya Rp15 ribu. Kemudian Rp25 ribu. Lalu Rp40 ribu. Karena setiap transaksi terasa kecil, kita sering tidak sadar bahwa jika dikumpulkan, jumlahnya bisa mencapai ratusan ribu bahkan jutaan rupiah dalam sebulan.Di sinilah menariknya perilaku ekonomi Gen Z.
“Cuma Rp20 Ribu” yang Diam-Diam Menguras Dompet
Bayangkan dalam satu hari seorang anak muda membeli minuman seharga Rp20 ribu, memesan makanan Rp25 ribu, dan mengeluarkan Rp15 ribu untuk transportasi tambahan totalnya Rp60 ribu.Kalau terjadi selama 20 hari, jumlahnya menjadi Rp1,2 juta.
Tidak ada pembelian yang terlihat terlalu mahal. Tidak ada barang mewah. Tetapi uang tetap terkumpul menjadi pengeluaran yang besar.
Dalam ekonomi mikro, konsumen memiliki pendapatan yang terbatas sehingga harus menentukan pilihan dalam menggunakan uangnya. Setiap keputusan konsumsi memiliki konsekuensi karena uang yang digunakan untuk satu kebutuhan atau keinginan tidak dapat digunakan untuk pilihan lainnya.
Artinya, persoalannya bukan hanya “berapa harga barangnya?”, tetapi juga “seberapa sering kita membelinya?”
Diskon Bikin Hemat atau Malah Tambah Belanja?
Gen Z juga merupakan generasi yang sangat akrab dengan promo digital.
“Gratis ongkir.”
“Flash sale.”
“Diskon 50 persen.”
“Beli 2 lebih murah.”
Kalimat-kalimat tersebut sering kali cukup untuk membuat seseorang membuka aplikasi belanja.
Padahal, sebelum melihat promo tersebut, barangnya mungkin tidak pernah masuk daftar kebutuhan.
Fenomena ini menunjukkan bahwa keputusan konsumen tidak selalu hanya dipengaruhi oleh kebutuhan. Harga, promosi, tren, rekomendasi, dan lingkungan sosial juga dapat memengaruhi permintaan terhadap suatu barang.
Lucunya, kita sering merasa hemat karena mendapatkan diskon, padahal sebenarnya baru saja mengeluarkan uang untuk sesuatu yang tidak direncanakan.
Ketika Media Sosial Ikut Mengatur Isi Dompet
Dulu, seseorang mungkin mengetahui produk dari iklan televisi atau rekomendasi teman. Sekarang, rekomendasi produk dapat muncul berkali-kali dalam sehari melalui media sosial.
Satu video TikTok bisa membuat makanan tertentu mendadak ramai. Satu konten review bisa membuat produk yang sebelumnya tidak dikenal menjadi incaran. Sebuah tempat nongkrong yang terlihat estetik juga bisa masuk ke daftar tempat yang ingin dikunjungi.
Semakin sering melihat sesuatu, semakin familiar produk tersebut. Dari sekadar tahu, kemudian tertarik, lalu muncul keinginan untuk membeli.
Inilah salah satu alasan mengapa perilaku konsumsi Gen Z menarik untuk dibahas. Media sosial tidak hanya memengaruhi apa yang kita lihat, tetapi juga dapat memengaruhi apa yang ingin kita beli.
FOMO: Takut Ketinggalan Tren, Takut Ketinggalan Pengeluaran
Pernah melihat teman membeli sesuatu yang sedang viral, kemudian muncul keinginan untuk ikut membeli?
Itulah salah satu bentuk Fear of Missing Out atau FOMO.
FOMO membuat seseorang merasa perlu mengikuti tren agar tidak merasa tertinggal. Masalahnya, tren di media sosial bergerak sangat cepat. Hari ini makanan tertentu viral, besok sudah berganti dengan produk lain.
Kalau semua tren diikuti, tentu pengeluaran juga ikut bergerak.
Akhirnya muncul pola yang cukup sederhana:
Lihat → tertarik → checkout → senang → muncul tren baru → checkout lagi.
Siklus tersebut terlihat sederhana, tetapi jika terus dilakukan dapat memengaruhi kemampuan seseorang dalam mengatur pendapatan.
Paylater Membuat “Nanti” Terasa Lebih Ringan
Selain promo, kemudahan pembayaran juga ikut mengubah perilaku konsumsi.
Salah satunya melalui layanan paylater. Dengan sistem pembayaran yang ditunda atau dicicil, harga suatu barang dapat terasa lebih ringan pada saat pembelian.
Misalnya, sebuah barang bernilai Rp600 ribu terlihat berat jika harus dibayar sekaligus. Namun, ketika ditampilkan dalam bentuk cicilan beberapa kali pembayaran, konsumen bisa merasa lebih mampu membelinya.
Padahal, kewajiban tersebut tetap ada.
Karena itu, kemudahan pembayaran seharusnya tidak membuat konsumen lupa menghitung total pengeluaran dan kemampuan membayar.
Jadi, Gen Z Memang Boros?
Belum tentu.
Mengeluarkan uang untuk nongkrong, membeli kopi, mengikuti tren, atau menikmati promo tidak otomatis berarti seseorang boros. Konsumsi juga memberikan kepuasan dan menjadi bagian dari kehidupan sosial.
Masalahnya muncul ketika keinginan terus dipenuhi tanpa mempertimbangkan pendapatan dan kebutuhan yang lebih penting.
Gen Z sebenarnya juga memiliki peluang menjadi konsumen yang lebih cerdas. Teknologi dapat digunakan untuk membandingkan harga, membaca ulasan, mencatat transaksi, membuat anggaran, hingga mencari informasi mengenai pengelolaan keuangan.
Jadi, persoalannya bukan “Gen Z tidak boleh konsumtif.”
Persoalannya adalah “Apakah setiap pengeluaran memang sebanding dengan manfaat yang kita dapatkan?”
Sebelum Checkout, Coba Berhenti Sebentar
Kehidupan digital memang membuat membeli sesuatu menjadi jauh lebih mudah. Hanya dengan beberapa kali menekan layar, barang bisa langsung dipesan.
Karena itu, mungkin kita perlu memberikan jeda beberapa detik sebelum checkout.
Tanyakan kepada diri sendiri:
“Kalau tidak sedang promo, apakah saya tetap ingin membelinya?”
“Kalau tidak sedang viral, apakah saya benar-benar membutuhkannya?”
Dan yang paling penting:
“Setelah membeli ini, apakah kondisi keuangan saya masih aman?”
Sebab terkadang yang membuat Gen Z bokek bukan satu pembelian besar.
Melainkan kebiasaan mengatakan:
“Cuma Rp20 ribu, kok.”
Berulang kali.
