Konten dari Pengguna

"In This Economy ?" Humor Anak Muda di Tengah Sulitnya Hidup

google
Ikuti kumparan di Google
info
Jadikan kumparan sebagai preferensi terpercayamu di Google
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Amanda Vira Amelia tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Ilustrasi by Nataliya Vaitkevich on pexels
zoom-in-whitePerbesar
Ilustrasi by Nataliya Vaitkevich on pexels

“In this economy?”

Kalimat tersebut mungkin terdengar sederhana. Namun, bagi banyak anak muda hari ini, tiga kata itu bisa menjadi jawaban untuk hampir segala sesuatu.

Diajak nongkrong? In this economy? Ditanya kapan menikah? In this economy? Diajak membeli barang yang sedang tren? In this economy?

Bahkan ketika melihat harga kebutuhan sehari-hari yang semakin membuat dompet menipis, responsnya bisa berubah menjadi candaan. Alih-alih mengeluh panjang lebar, anak muda memilih tertawa.

Di media sosial, kondisi ekonomi yang tidak selalu mudah sering kali justru dikemas menjadi meme, video pendek, komentar lucu, atau istilah-istilah yang terdengar ringan. Kesulitan hidup seolah menjadi sesuatu yang bisa ditertawakan bersama.Tetapi, sebenarnya apa yang sedang terjadi?

Ketika Kesulitan Ekonomi Menjadi Bahan Candaan

Budaya “in this economy” bukan sekadar tren bahasa di media sosial. Di balik candaan tersebut terdapat realitas sosial yang cukup serius. Banyak anak muda sedang berhadapan dengan berbagai tuntutan kehidupan: biaya pendidikan, kebutuhan sehari-hari, harga tempat tinggal, transportasi, gaya hidup, hingga tekanan untuk memiliki pekerjaan dan penghasilan yang stabil.

Pada saat yang sama, media sosial terus memperlihatkan standar kehidupan yang terlihat ideal.

Ada yang liburan ke luar negeri. Ada yang membeli kendaraan baru. Ada yang menikah di usia muda. Ada yang memiliki rumah. Ada pula yang terlihat sukses membangun bisnis sendiri.

Sementara sebagian anak muda lainnya masih harus berpikir berkali-kali sebelum membeli makanan di luar.Perbedaan tersebut kemudian melahirkan humor sebagai salah satu cara untuk menghadapi kenyataan.Ketika belum mampu membeli sesuatu, kita membuat lelucon tentangnya.

Ketika belum mampu membeli rumah, kita bercanda bahwa “nanti saja kalau sudah kaya”.

Ketika harga kebutuhan naik, kita membuat meme tentang isi dompet.

Tawa akhirnya menjadi semacam bahasa bersama.

Bukan Berarti Mereka Tidak Serius dengan Masa Depan

Menariknya, budaya ini tidak selalu menunjukkan bahwa anak muda malas atau tidak memiliki ambisi.Justru sebaliknya. Banyak anak muda tetap memiliki keinginan untuk memiliki pekerjaan yang baik, rumah sendiri, kehidupan yang nyaman, bahkan keluarga. Hanya saja, mereka menyadari bahwa jalan menuju ke sana tidak sesederhana yang sering digambarkan generasi sebelumnya.

Dulu, bekerja keras dianggap sebagai jalan utama menuju kehidupan yang mapan. Sekarang, bekerja keras saja belum tentu memberikan kepastian.

Karena itu, muncul semacam kesadaran baru: “Aku ingin punya kehidupan yang baik, tetapi aku juga sadar bahwa kondisi sekarang tidak mudah.”

Daripada berpura-pura semuanya baik-baik saja, mereka memilih menertawakannya. Humor kemudian menjadi cara untuk mengatakan bahwa mereka sadar terhadap situasi yang sedang dihadapi.

Dari “Self Reward” ke “Self Control”

Ada perubahan menarik dalam cara anak muda memandang konsumsi.

Media sosial sebelumnya banyak mempopulerkan budaya self reward. Setelah bekerja keras, seseorang dianggap pantas membeli sesuatu untuk dirinya sendiri. Namun, di tengah tekanan ekonomi, muncul kesadaran bahwa tidak semua keinginan harus dipenuhi saat itu juga.

Muncullah istilah-istilah seperti “lagi hemat”, “tanggal tua”, “nabung dulu”, atau tentu saja “in this economy?”.

Menunda membeli sesuatu bukan lagi selalu dianggap sebagai kegagalan menikmati hidup. Bagi sebagian orang, justru menjadi bentuk kontrol terhadap diri sendiri.

Mereka tetap ingin menikmati hidup, tetapi tidak ingin kesenangan sesaat membuat kondisi keuangan semakin berat.

Ketika Menikah dan Punya Rumah Ikut Dipertanyakan.

Salah satu dampak budaya “in this economy” juga terlihat dalam cara anak muda memandang pencapaian hidup.

Menikah, membeli rumah, memiliki kendaraan, atau membangun keluarga yang dahulu dianggap sebagai tahapan kehidupan yang relatif umum kini semakin sering dipertanyakan.

Bukan berarti anak muda tidak menginginkannya. Sebagian justru menginginkannya, tetapi merasa perlu menunggu sampai kondisi lebih memungkinkan.

Pertanyaan seperti “Kapan menikah?” yang dahulu mungkin dianggap biasa, kini bisa terasa seperti pertanyaan yang cukup berat.

Bagaimana mau menikah kalau biaya hidup saja masih harus dihitung?

Bagaimana mau membeli rumah jika harga rumah dan kemampuan penghasilan terasa semakin berjauhan?

Pada akhirnya, candaan “in this economy?” sering kali menyimpan pertanyaan yang jauh lebih serius tentang masa depan.

Tertawa Adalah Cara Bertahan, tetapi Bukan Solusi

Ada sesuatu yang sehat dari kemampuan manusia untuk menertawakan kesulitan.

Humor dapat membuat seseorang merasa tidak sendirian. Ketika sebuah meme tentang dompet tipis mendapatkan ribuan komentar, kita menyadari bahwa ternyata banyak orang sedang mengalami hal yang sama.

Ada rasa lega ketika mengetahui bahwa masalah yang kita hadapi bukan hanya milik kita sendiri.

Namun, kita juga perlu berhati-hati.

Jangan sampai karena terlalu terbiasa menjadikan kesulitan sebagai bahan candaan, kita justru menganggap kondisi tersebut sebagai sesuatu yang harus diterima begitu saja.

Harga kebutuhan meningkat bukan sekadar bahan meme.

Sulit mendapatkan pekerjaan bukan sekadar konten lucu.

Sulit membeli rumah bukan sekadar punchline.

Di balik semua itu ada persoalan sosial dan ekonomi yang nyata.

Humor dapat membantu kita bertahan, tetapi humor tidak seharusnya membuat kita berhenti mempertanyakan keadaan.

Anak Muda Tidak Sedang Menyerah, Mereka Sedang Beradaptasi

Mungkin budaya “in this economy” sebenarnya merupakan bentuk adaptasi.

Anak muda belajar membedakan kebutuhan dan keinginan. Mereka mencari penghasilan tambahan. Mereka menunda keputusan besar. Mereka membangun karier lebih lama. Mereka memilih hidup sederhana ketika memang diperlukan.

Dan di sela-sela semua itu, mereka membuat lelucon.

Sebab mungkin memang ada saatnya seseorang tidak bisa mengubah keadaan, tetapi masih bisa memilih bagaimana cara menghadapinya.

Kalimat “in this economy?” akhirnya bukan hanya berarti “aku tidak punya uang”.

Ia bisa berarti:

“Aku tahu keadaan sedang sulit, jadi aku harus lebih realistis.”

“Aku tetap punya mimpi, tetapi aku harus menyesuaikannya dengan keadaan.”

“Aku ingin menikmati hidup, tetapi aku juga harus bertahan.”

Dan mungkin, itulah wajah anak muda hari ini.

Mereka bukan generasi yang tidak punya mimpi. Mereka hanya tumbuh di masa ketika untuk mewujudkan mimpi tersebut, seseorang harus berkali-kali menghitung kemampuan diri.

Jadi, jika suatu hari kita melihat seseorang menjawab sebuah ajakan dengan, “In this economy?”, jangan buru-buru menganggapnya tidak mampu atau tidak mau berusaha.

Bisa jadi, di balik candaan itu ada seseorang yang sedang berusaha keras menjaga hidupnya tetap berjalan.

Karena terkadang, ketika hidup terasa semakin mahal, tertawa adalah salah satu cara paling sederhana untuk mengatakan: “Ya sudah, kita jalani dulu.”