Hobi Nyerobot Antrean, Egois Sekali Sih!

Siswa kelas 12 di PENABUR Secondary Kelapa Gading.
·waktu baca 4 menit
Tulisan dari Amanda Rae Josephine tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Keengganan untuk mengantre telah menjadi hal yang wajar di Indonesia. Banyak orang yang memilih untuk menyerobot antrean daripada mengantre secara teratur. Ketika melihat antrean panjang, banyak orang akan mengeluh dan tidak sabar. Padahal, aktivitas masyarakat, seperti menggunakan toilet umum, transportasi umum, berbelanja, dan lainnya, akan berjalan lebih tertib dan lancar jika setiap individu mau mengantre secara teratur.
Seiring perkembangan zaman, banyak orang yang ingin semua serba instan. Tidak lagi berbaris menunggu giliran, buang-buang waktu katanya. Lihatlah sekeliling kita, masih banyak pengendara yang menggunakan jalur busway ketika macet, menerobos lampu merah, dan bahkan melawan arah.
Masih banyak pula orang yang menyelak antrean panjang di pusat keramaian, berpura-pura tidak tahu harus mengantre. Orang-orang ini rela menggunakan cara apa pun untuk mendapatkan apa yang mereka inginkan secara cepat, tidak peduli jika mereka merampas hak orang lain.
Saya sering menjumpai orang-orang yang enggan mengantre saat melakukan beragam aktivitas. Salah satu contoh adalah ketika menggunakan toilet umum di salah satu tempat wisata. Saya sudah mengantre sekitar 10 menit, namun seorang ibu-ibu langsung memanggil ketiga putrinya untuk menyelak antrean. Ibu dan anak-anaknya tersebut seharusnya paham akan budaya antre, tetapi mereka tidak memiliki kesadaran sama sekali.
Individu-individu yang suka menyelak antrean adalah individu yang egois, hanya mementingkan diri sendiri tanpa memikirkan perasaan orang lain. Mereka tidak lagi merasa malu jika harus menyerobot orang-orang di depannya. Peduli setan jika ada yang menegur, yang penting tujuannya tercapai.
Hei, orang-orang yang hobi menyerobot, yang punya kepentingan itu bukan hanya kalian! Kami yang sedang mengantre juga punya tujuan yang sama seperti kalian. Lagipula apa susahnya sih mengantre dengan tertib? Sabar dan ikuti saja aturan yang ada, toh kalian juga akan mendapatkan giliran.
Menurunnya penerapan sistem antre di Indonesia, menurut saya, berakar pada minimnya kesadaran masyarakat. Masyarakat cenderung menormalisasi ketika ada seseorang yang hendak menyelak antrean, dan pada akhirnya, kebiasaan buruk ini menjadi sikap yang lazim di Indonesia. Orang dewasa yang seharusnya paham akan pentingnya menerapkan budaya antre justru menjadi pelaku-pelaku utama pelanggaran aturan mengantre, menjadi contoh buruk bagi generasi-generasi muda.
Selain itu, masyarakat Indonesia kebanyakan masih seperti anak kecil, hanya mengantre secara teratur ketika ada petugas. Jauh berbeda ketika tidak ada petugas, serobot-menyerobot menjadi hal yang lumrah.
Pemahaman tentang pentingnya mengantre secara tertib harus ditingkatkan dalam masyarakat melalui edukasi. Untuk mendorong perubahan jangka panjang, generasi-generasi muda wajib belajar dan menerapkan sistem antrean yang tertib. Anak-anak harus dibiasakan untuk mengantre.
Kebiasaan ini tentu saja dapat dimulai dari hal-hal kecil seperti menunggu giliran bermain di wahana permainan, mengantre saat memesan makanan, atau saat hendak membayar sesuatu di kasir. Dengan demikian, anak-anak akan lebih taat aturan dan dapat tumbuh menjadi individu yang beradab serta bisa menghargai hak orang lain.
Budaya antre dapat sebenarnya dapat mengajarkan kita berbagai hal, loh. Dengan mengantre, kesabaran kita dilatih sehingga kita dapat mengesampingkan ego kita dan menghargai sesama. Sikap sabar dan tidak egois sangatlah penting untuk ditanamkan pada diri masing-masing agar kehidupan sosial dapat berlangsung dengan baik.
Melalui mengantre, anak-anak juga dapat melatih kecerdasan emosional dan sikap kepedulian, sehingga bukan hanya kecerdasan intelektualnya yang berkembang, namun juga akhlak dan perilakunya. Terakhir, budaya antre mendorong suasana tertib dan menanamkan kedisiplinan dalam diri masing-masing.
Tidak hanya kesadaran masyarakat yang kian tergerus, buruknya sistem antrean dan pelayanan publik juga merupakan salah satu alasan orang enggan mengantre. Maka dari itu, kita harus menerapkan sistem antrean yang efisien, baik secara teknologi maupun organisasi.
Sebagai contoh, sebagian besar cabang McDonald’s di Indonesia menggunakan sistem pesan dan bayar sendiri melalui layar sentuh. Pelanggan hanya perlu menunggu sebentar untuk menggunakan mesin untuk memesan, tidak lagi harus menunggu lama di kasir.
Setiap orang harus memiliki kesadaran untuk mengantre agar kehidupan bermasyarakat dapat berlangsung dengan lancar. Untuk mencegah punahnya budaya ini, pentingnya mengantre dan tata cara mengantre yang benar harus diajarkan sedari kecil. Selain itu, sistem yang lebih efektif dapat mendorong masyarakat untuk mengantre secara teratur untuk mencapai tujuan.
Saya berharap generasi muda dapat menjadi agen perubahan serta tumbuh menjadi individu-individu yang lebih beradab, taat aturan, lebih menghargai orang lain, dan mau menunggu giliran dengan tertib.
