Tentang KamiPedoman Media SiberKetentuan & Kebijakan PrivasiPanduan KomunitasPeringkat PenulisCara Menulis di kumparanInformasi Kerja SamaBantuanIklanKarir
2025 ยฉ PT Dynamo Media Network
Version 1.100.8
Konten dari Pengguna
Menulis Merupakan Bagian Dari Refleksi Hati dan Pikiran(?)
13 Agustus 2024 16:11 WIB
ยท
waktu baca 2 menitTulisan dari Amanda Rizky Amalia tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan
ADVERTISEMENT
Banyak cara dalam mengaplikasikan perasaan yang terjadi, ada yang melalui media lukisan, tulisan maupun berdiam diri di tengah keramaian. Menulis merupakan salah satu bentuk aplikasi perasaan seseorang yang sering kita temui. Bagi sebagian orang, menulis merupakan bentuk refleksi diri. Kalimat tersebut seolah terdengar sudah tidak asing dan sering kita jumpai di berbagai deretan tips-tips atau kita-kiat untuk menjadikan diri lebih tenang dalam menjalani kehidupan ini.
ADVERTISEMENT
Ya, menulis memang salah satu bentuk refleksi yang sederhana dibanding berbagai bentuk refleksi lainnya, seperti liburan, olahraga, atau kegiatan lain yang menenangkan pikiran.
Menulis bukan hanya sebagai tanda bahwa kita mampu menyusun kalimat yang ada di dalam hati dan pikiran lalu menuangkan ke dalam bentuk tulisan. Lebih dari itu, menulis bisa menjadi salah satu memori yang cukup berharga yang dapat kita baca kembali saat tua nanti.
apa yang pernah kita lalui, kejadian apa yang menyenangkan dan menyedihkan hati, hal-hal memalukan dan membanggakan apa yang pernah kita jalani. Manusia-manusia seperti apa yang pernah kita temui dan masih banyak lagi.
Menulis itu seperti mengajak kita berada pada satu dimensi yang berbeda dengan yang sedang kita jalani. Membaca tulisan kita kembali saat semua hal telah dilalui, rasanya seperti membaca kisah sejarah yang membuat diri sendiri bertanya-tanya, apa betul kita pernah melalui masa-masa itu?
ADVERTISEMENT
Saat kecil mungkin sebagian dari kita memiliki buku diary yang hanya kita sendiri yang mengetahui setiap detail isi. Setelah dibaca ulang kembali, rasanya tragedi yang kita tulis begitu dramatis dan terlihat seperti komedi jika dibaca kembali di masa kini.
Dalam menulis kita juga secara tidak langsung dituntut untuk meluapkan segala isi hati yang hanya diri sendiri yang mengetahui, pemilihan kata dan susunan kalimatnya membuat kita secara tidak sadar belajar tentang pentingnya bahasa di dalam kehidupan.
Tragedi menjadi komedi merupakan kalimat yang pas saat membaca semua tulisan terdahulu. Dimana setiap emosi yang terluapkan, berakhir menjadi sebuah hiburan yang cukup menyenangkan. Menyenangkan untuk dikenang dan tidak akan terulang. Maka, manfaatkan setiap detail moment yang ada dipikiran hingga menjadi suatu tulisan yang kedepannya akan kita baca ulang dan membacanya mampu membuat hati senang.
ADVERTISEMENT