Konten dari Pengguna

Rindu Bertemu, Rindu Menuntut Ilmu

Amanda Rizky Amalia
Dari kecil udah suka ngayal, udah gede jadi(?)
29 April 2024 9:48 WIB
·
waktu baca 7 menit
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-link-circle
more-vertical
Tulisan dari Amanda Rizky Amalia tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan
Kredit by : Amanda Rizkya
zoom-in-whitePerbesar
Kredit by : Amanda Rizkya
ADVERTISEMENT
Suara gema takbir berkumandang di seluruh penjuru negeri. Malam itu, seluruh umat islam terutama di Indonesia menyambut kemenangan setelah satu bulan penuh menahan dahaga dan mengendalikan hawa nafsu. Para ibu-ibu mulai menyiapkan berbagai macam olahan makanan yang beraneka ragam khas hari raya idul fitri dan mulai diletakkan di meja makan dan siap dihidangkan. Tak lupa juga memberikan hantaran kepada para tetangga, sebagai bentuk tradisi dan mencerminkan kerukunan dalam kehidupan bertetangga.
ADVERTISEMENT
“ Bu, besok berarti di masjid tidak ada shalat ied ya ? tanya seorang anak usia 14 tahun kepada ibunya.
“ Tidak, nak. Kita sekeluarga shalat ied berjamaah dirumah ya.” Jawab sang ibu kepada anaknya.
Ya, anak tersebut bernama Fauzan Zaidan. Seorang santri kelas dua SMP, yang menuntut ilmu di Pondok Pesantren yang berlokasi di Sawangan, Depok. Sudah dua bulan, ia berada dirumah, karena pesantren tempatnya menuntut ilmu dengan sangat berat hati memulangkan para santrinya. Sebab, wali murid yang semakin khawatir dengan adanya virus corona atau yang sering disebut Covid-19 yang semakin mewabah di Indonesia dan mendesak agar pihak pesantren memulangkan para santri. Di lingkungan rumah, Fauzan merupakan anak yang ceria serta mudah bergaul dengan orang lain. Tak heran, jika saat ia pulang kerumah, banyak teman-temannya yang bertamu ke rumah, karena rindu dengan canda tawa Fauzan. Selama di pesantren, ia banyak belajar banyak tentang ilmu agama. Mulai dari aqidah, fikih dan bahasa arab. Tak heran ketika dirumah, ia sering menggunakan bahasa arab sebagai bahasa sehari-hari dan lupa bahawa keluarganya masih awam dengan bahasa arab.
ADVERTISEMENT
Selama adanya Covid-19 ini, proses pembelajaran yang semula dilakukan dengan rutin di pesantren dan dapat pengajaran langsung dari para guru, terpaksa harus dilakukan secara mandiri dirumah dan dibimbing oleh orang tua. Para santri dari sekolah menengah pertama maupun sekolah menengah atas, diberi kewajiban untuk tetap rutin membaca Al-Qur’an dirumah minimal 2 lembar, selepas shalat shubuh dan maghrib.
Semua itu dicatat dibuku agenda para santri dan dilaporakan ke guru masing-masing saat akhir libur telah usai.
“ Fauzan, tolong bantuin ibu beli garam ya di warung.” Teriak sang ibu sambil menyiapkan bumbu dapur.
“ Sebentar bu, Fauzan lagi isi agenda harian.” Jawab Fauzan yang sedang menulis agenda kegiatan harian rutinnya selama libur dirumah.
ADVERTISEMENT
Selesai menulis agenda harian, Fauzan langsung bergegas mengambil uang yang diberikan ibunya, untuk membeli garam di warung.
“ Ini bu, garamnya”. Ucap Fauzan kepada ibunya, sambil memberikan garam yang telah dibelinya.
“ Iya, makasih ya anak sholeh”. Balas sang ibu dengan nada yang penuh kelembutan.
Memang semenjak menuntut ilmu di pondok pesantren, banyak perubahan yang terjadi pada diri Fauzan. Ia yang dulunya tidak menyukai bahasa arab, sekarang justru mahir dan mendalami bahasa arab. Karena, memang di pesantren tempatnya menuntut ilmu, setiap santri diharuskan memakai bahasa arab di dalam kegiatan sehari-hari. Ibunya pun kagum dengan perubahan yang terjadi pada anaknya yang berproses menjadi lebih baik.
Suara takbir pun semakin menggema dan matahari pun mulai menampakkan sinarnya. Pertanda, shalat idul fitri akan segera dilaksanakan. Namun tahun ini berbeda, masjid-masjid di Indonesia mayoritas belum diizinkan melaksanakan shalat ied berjamaah. Dengan alasan, khawatir penularan virus corona yang semakin merajalela. Tak terkecuali masjid di sekitar rumah Fauzan, yang juga tidak melaksanakan shalat ied berjamaah. Padahal setiap tahun, selalu ramai jamaah yang datang untuk shalat ied dan menyambut hari kemenangan.
ADVERTISEMENT
“ Ayo, kita mulai shalatnya”. Ucap Bapak kepada seluruh anggota keluarga
“ Sebentar pak, Widya wudhu dulu”, jawab widya, kakak perempuan Fauzan.
Setelah seluruh anggota keluarga rapi dan siap melaksanakan shalat ied berjamaah dirumah. Bapak pun bergegas untuk segera memulainya.
Shalat ied berjamaah dirumah pun telah dilaksanakan. Seluruh keluarga merasa sedih sekaligus prihatin dengan keadaan seperti ini. Hari raya umat islam yang biasanya selalu ramai dan dirayakan oleh seluruh umat islam di dunia dengan suka cita, berubah menjadi hari raya yang penuh haru juga bercampur kesedihan. Karena, banyak diantara tetangga Fauzan yang tidak bisa pulang ke kampung halaman dengan alasan pencegahan virus corona ini.
“ Bu, Pak, Maafin Fauzan ya. Maaf kalau Fauzan sering buat ibu dan bapak kesal. Mohon maaf lahir bathin ya.” Ucap Fauzan dengan penuh keharuan sambil memeluk dan salim dengan kedua orang tuanya.
ADVERTISEMENT
“ Iya, maafin ibu dan bapak juga ya. Sering ngomel ke Fauzan, Widya dan Arif”, jawab sang ibu dengan mata yang berkaca-kaca sambil memeluk ketiga buah hatinya.
Selesai meminta maaf satu sama lain, Fauzan dan keluarga pun mulai menyantap hidangan khas idul fitri yang telah disediakan oleh sang Ibu.
“ Hmmmm, pasti enak banget ini. Di pondok pesantren, Ojan jarang makan daging soalnya”, Ucap Ojan, sapaan akrab Fauzan di keluarga dan lingkungan rumahnya.
“ Makan yang banyak, nanti selesai makan, kita ke rumah-rumah tetangga untuk silaturahmi”, Jawab sang Bapak sambil mengambil sayur ketupat yang telah disediakan di meja.
Setelah menyantap makanan dan perut telah terisi dengan penuh, Fauzan dan sekeluarga pun mulai mengunjungi rumah tetangga satu persatu, untuk bersilaturahmi dan saling bermaaf-maafan. Walaupun tidak berjabat tangan satu sama lain, namun silaturahmi haru tetap dijaga.
ADVERTISEMENT
Seluruh tetangga dekat rumah Fauzan pun sudah semua dikunjungi, dan semuanya menyambut dengan baik. Fauzan sekeluarga pun memang dikenal ramah dan selalu menyapa tetangga ketika bertemu. Tak heran, karena sifatnya itulah yang membuat keluarga Fauzan disukai para tetangga, karena keramahan dan kebaikannya terhadap orang lain.
“ Bu, lebaran tahun ini beda banget ya. Ojan merasa ada yang kurang. Apalagi tadi gak shalat di masjid, rasanya sedih banget. Biasanya setiap tahun selalu ramai dan semuanya menyatu”, keluh Fauzan kepada ibunya.
“ Iya, ibu juga merasa ada yang kurang. Tapi kan ini demi kebaikan bersama. Kita berdoa saja ya, semoga virus ini tidak lagi menyebar dan kita semua bisa beraktivitas seperti dulu lagi”, Ucap sang Ibu kepada Fauzan sambil mengusap kepala Fauzan dengan penuh kasih sayang.
ADVERTISEMENT
Hari demi hari berlalu, aktivitas Fauzan selama dirumah dijalaninya dengan positif. Ditambah, dengan adanya agenda harian yang mewajibkannya untuk tetap menjalankan kewajibannya sebagai seorang pelajar.
Tak terasa, waktu libur telah usai. Dan kini, saatnya Fauzan kembali ke pondok pesantren tempatnya menuntut ilmu. Hari yang Fauzan tunggu, namun juga akan menjadi hari yang penuh dengan haru. Di satu sisi, Fauzan rindu dengan teman-teman dan suasana di pondoknya. Tapi juga berat untuk pamit dengan keluarga.
“ Bu, sarung Ojan yang warna biru tidak perlu dibawa ya. Soalnya, lemari Ojan disana sudah penuh”, ucap Fauzan sambil berkemas untuk balik ke pondok.
“ Tapi disana sarung Fauzan kurang gak ?”,sahut Ibu sambil membantu Fauzan berkemas.
ADVERTISEMENT
“ Ngga bu, nanti kan Ojan cuci nya rutin. Jadi bisa gati-gantian”, jawab Fauzan dengan yakin.
“ Ooh yaudah, jangan sampai ada yang ketinggalan ya”, ucap Ibu
“ Siap bu bos”, jawab Fauzan dengan diiringi cengiran khas nya.
Setelah siap berkemas dan dirasa sudah cukup, Fauzan sekeluarga pun segera bergegas menuju mobil dan siap berangkat ke pesantren. Setibanya di pesantren, telah banyak para santri dan orang tuanya yang juga ikut mengantarkan. Suasana haru karena akan berpisah, sangat terasa. Ada juga santri yang memeluk ibunya dengan erat, karena tak ingin berpisah. Sebelum memasuki area pesantren, para santri yang baru datang melakukan beberapa macam tahap protokol kesehatan dari pihak pesantren.
Keluarga yang ikut mengantar, hanya diizinkan mengantar sampai di depan gerbang. Fauzan pun mulai sedih dan tanpa sadar air mata mulai menggenang di matanya.
ADVERTISEMENT
“ Bu, Pak, Kak Widya, Bang Arif. Ojan pamit ya, doain Ojan semoga dipermudah dalam menuntut ilmu”, Ucap Fauzan kepada keluarganya dengan penuh rasa sedih.
Keluarganya yang melihat itu pun satu persatu mulai memeluk Fauzan. Memang sudah dijelaskan oleh pihak pesantren, bahwa keluarga selama Covid-19 ini tidak boleh lagi menjenguk para santri dalam beberapa waktu kedepan. Sampai Covid-19 di Indonesia sudah berkurang penyebarannya. Itu yang membuat keluarga, sekaligus Fauzan sedih. Karena, dalam waktu yang cukup lama mereka tidak bisa bertemu dan akan kembali bertemu saat liburan akhir tahun tiba.
“ Jaga diri baik-baik ya Jan. Ibu sama Bapak selalu doain Fauzan, semoga betah dan lancar belajarnya di pesantren”, Jawab Ibu dan Bapak sambil mengusap kepala Fauzan.
ADVERTISEMENT
Dan Fauzan pun mulai memasuki gerbang pesantren sambil salim dengan keluarganya. Sesekali ia berjalan sambil menengok ke arah keluarganya, dengan mata yang berkaca0kaca. Seakan tersirat bahwa ia masih belum rela untuk berpisah. Namun, di hati kecilnya ia sadar, bahwa ini adalah kewajibannya sebagai seorang anak, yaitu menuntut ilmu dan keluarganya pun melepas Fauzan dengan penuh kesedihan dan rasa bangga.