Siswa SD di Medan Diduga Dirundung Teman karena Tak Punya Ayah, Ini Kata Sekolah

Seorang siswa berinisial MAP (8) di salah satu SD swasta di Medan diduga menjadi korban perundungan oleh teman-temannya.
Ibunya, berinisial NI (48), menceritakan bahwa anaknya diduga telah menjadi korban perundungan sejak kelas dua SD. Teman-teman sekelas MAP mengejek dirinya karena tidak mempunyai ayah.
Kejadian itu kemudian berulang kembali saat MAP beranjak ke kelas tiga dan memasuki pembelajaran baru pada Juli 2026. Menurut MI, anaknya sampai menangis diejek oleh teman-temannya karena tak mempunyai ayah.
"Kenapa nak? Adik enggak punya bapak. Adik disoraki enggak punya bapak (kata anaknya)," ucap NI saat ditemui di kediamannya di Medan, Rabu (2/9).
Ayah MAP telah bercerai dengan NI sejak MAP berusia dua bulan. Ayahnya kabur dari rumah mereka dan saudara dari ayah MAP mengatakan bahwa MAP bukan anaknya.
NI pun mendatangi sekolah MAP dan menceritakan kejadiannya sambil menangis. "Jadi saya konfirmasi ke sekolah. Pihak sekolah tidak ada pembelaan untuk anak saya," kata NI.
Menurutnya, sang anak tidak mau ke sekolah sejak 11 Agustus 2026 karena trauma dan malu dirundung oleh teman-temannya. Saat itu, MAP sempat berkelahi dengan teman sekelasnya karena alat penghapus milik MAP dirusak oleh temannya. Lalu, temannya juga mengejek MAP karena tidak punya bapak.
NI juga mengatakan bahwa pihak sekolah menyuruh MAP untuk keluar dari sekolah.
Akhirnya, NI memindahkan anaknya ke sekolah lain. Namun, berkas pemindahan MAP masih tertahan di sekolah sebelumnya.
Selanjutnya, NI melaporkan sekolah ke Komnas hingga Dinas Pendidikan terkait dugaan perundungan terhadap anaknya.
"Saya sudah lapor ke Komnas, wali kota, Dinas Pendidikan. Tinggal menunggu kabar dari mereka. Lalu, saya besok Insya Allah mau ke Departemen Agama," ujar NI.
Respons Pihak Sekolah
Wakil Kepala Sekolah berinisial MYN, mengatakan bahwa pihaknya telah mempertemukan teman-teman MAP yang diduga merundungnya.
Teman-temannya pun menceritakan bahwa awalnya mereka saling mengejek nama ayah masing-masing. Mereka pun sudah berdamai dan saling meminta maaf.
"Sudah suruh saling bermaafan," ucap MYN.
MYN mengatakan dia juga memberikan nasihat kepada siswa-siswinya agar tidak saling mengejek dan membuat orang tua sedih dan menangis.
"Saya nasihatilah semuanya. Saya nasihati 'Bapak tidak mau siswa itu mengejek temannya, mengejek orang tuanya. Bapak tidak mau lagi tampak siswa buat orang tuanya susah, buat orang tuanya sedih, buat orang tuanya menangis," ucap MYN.
MYN membantah menyuruh MAP untuk keluar dari sekolah. Ia hanya mengingatkan saat itu MAP berperilaku kurang baik atau nakal karena mengganggu temannya. MYN kemudian memanggil MAP dan mengatakan bahwa MAP harus berubah menjadi lebih baik.
"Abang masih mau sekolah?, 'Masih' kata MAP. Abang mau berubah?, 'Mau Pak'. Kalau memang Abang tidak mau berubah, Abang tidak mau mendengarkan nasihat, Abang enggak usah lagi sekolah," imbuh MYN.
Sementara itu, Kepala Sekolah berinisial SIP mengatakan bahwa MAP bukan merupakan korban perundungan. Sebab, teman-teman lainnya juga diejek oleh MAP.
"Perundungan enggak, karena sama-sama saling ngejek. Kalau perundungan kan berarti dia yang korban aja satu, tapi dia tidak melakukan pembalasan. Sementara dia duluan lho yang mengejek temannya," ucap SIP.
Soal pemindahan MAP, SIP mengatakan bahwa dibutuhkan surat rekomendasi dari sekolah barunya. Berkas pemindahan telah disiapkan oleh pihak sekolah. Namun, orang tua MAP belum mau mengambil berkas tersebut.
Pihak sekolah telah melakukan mediasi antara orang tua MAP dengan teman-teman sekelasnya dan mereka sudah saling memaafkan.
