Konten dari Pengguna

PETRONAS Memacu Ambisi Global Lewat Formula 1

google
Ikuti kumparan di Google
info
Jadikan kumparan sebagai preferensi terpercayamu di Google
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Amarita Naida Zamiryan tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Mobil Mercedes-AMG PETRONAS melaju di lintasan Formula 1. Sumber: Unsplash
zoom-in-whitePerbesar
Mobil Mercedes-AMG PETRONAS melaju di lintasan Formula 1. Sumber: Unsplash

Hanya beberapa hari lagi, Sirkuit Mandalika akan kembali riuh. Pertamina Grand Prix of Indonesia 2026 dijadwalkan berlangsung pada 9-11 Oktober 2026 di Lombok. Menurut ITDC, kesiapan penyelenggaraan sudah mencapai 95%, dengan 2.200 sukarelawan dan 213 pelaku UMKM terlibat (ITDC, 2026). Nama Pertamina akan terpampang di mana-mana. Pertanyaannya: apakah kehadiran itu sudah menjadi strategi bagi korporasi global? Atau baru sebatas panggung promosi?

Untuk menjawab pertanyaan tersebut, kita bisa melihat dari perusahaan serumpun dari negara tetangga Malaysia, Petronas, yang hampir dua dekade berada di jantung Formula 1.

Perusahaan negara sebagai wajah negara

Dalam kajian hubungan internasional, soft power yang dipopulerkan oleh Joseph Nye merupakan kemampuan sebuah aktor untuk membangun pengaruh lewat daya tarik, bukan melalui paksaan. Selama ini konsep tersebut lebih sering dibahas dalam konteks budaya, diplomasi publik, atau bantuan luar negeri. Padahal perusahaan milik negara (BUMN) juga bisa menjadi pembawanya. Ketika merek sebuah BUMN tampil di panggung global, reputasi negara asalnya tentu juga ikut terbawa.

Petronas dapat menjadi salah satu contoh nyatanya. Perusahaan ini didirikan pada 1974 sebagai perusahaan minyak dan gas nasional Malaysia. Dalam laporan terintegrasinya, Petronas menggambarkan dirinya memikul dua peran sekaligus yaitu menjaga ketahanan energi nasional dan menjadi mitra energi global (PETRONAS, 2025). Ada pula catatan yang menyebut petronas menyumbang lebih dari 15% pendapatan pemerintah Malaysia pada 2015-2020 (Bernama, 2020). Artinya, perusahaan ini menjadi salah satu pilar keuangan negara. Wajar jika kehadirannya di panggung internasional dibaca sebagai kehadiran Malaysia.

Bukan pendatang baru di dunia balap

Keputusan Petronas untuk terlibat dalam F1 merupakan bagian dari proses yang telah berlangsung sejak lama. Perusahaan ini telah mengembangkan lini pelumas Syntium yang berkaitan dengan teknologi F1 sejak tahun 2000. Setahun kemudian, program transfer teknologi tersebut telah melibatkan delapan orang insinyur. Kemitraan dengan Mercedes yang diumumkan pada Desember 2009 dan mulai berlaku pada musim 2010 kemudian menjadi kelanjutan dari proses pengembangan teknologi yang telah dilakukan Petronas sebelumnya.

Kemitraan itu pun terus-menerus diperbarui. Pada 2022, kedua pihak mengumumkan pembaruan kemitraan title dan teknis secara multi-tahun mulai 2026. Saat itu Mercedes sudah meraih delapan gelar konstruktor sejak bermitra dengan Petronas. Sampai kini situs resmi tim masih mencantumkan Petronas sebagai Title Partner.

Dalam dunia olahraga profesional yang sponsornya cepat berganti, konsistensi bisa dibilang cukup jarang, dan konsistensi itulah yang membangun asosiasi merek yang kuat. Identitas Petronas bahkan tertanam di rupa mobil-mobilnya. Saat meluncurkan mobil W17 untuk musim 2026, tim memperkenalkan livery baru dengan garis hijau Petronas yang menyapu rendah di sepanjang badan mobil, menjembatani warna perak khas Mercedes dengan hitam pekat (Mercedes-AMG PETRONAS F1 Team, 2026).

Pengembangan teknologi Petronas melalui Formula 1

Durasi kemitraan saja belum cukup untuk menunjukkan adanya strategi. Petronas masuk ke inti kerja teknis tim. Sebagai mitra teknis sejak 2010, Petronas merancang bersama bahan bakar Primax, oli mesin Syntium, dan fluida gearbox Tutela dengan tim kerja Mercedes serta divisi mesinnya. Sejak 2010 hingga 2017 saja perusahaan ini mengembangkan lebih dari 350 kandidat bahan bakar, pelumas, dan fluida fungsional untuk diuji tim. Petronas juga menempatkan insinyur fluida di lokasi balapan untuk menganalisis kondisi pelumas secara langsung. Di F1, kontribusi seperti ini dinilai secara terbuka: jika fluidanya gagal, mobil berhenti di lintasan (PETRONAS, 2024).

Musim 2026 membuat peran ini semakin penting. Regulasi baru menempatkan bahan bakar berkelanjutan sebagai salah satu perubahan terbesar. Dalam peluncuran mobil W17, tim menyebut bahan bakar yang dipasok Petronas sebagai solusi drop-in, yaitu bahan bakar yang dirancang agar bisa dipakai tanpa mengubah mesin, dengan dampak karbon siklus hidup yang lebih rendah. Eksekutif Petronas yang memimpin bisnis hilir, Datuk Sazali Hamzah, menegaskan bahwa regulasi 2026 memaksa perusahaan merumuskan bahan bakar secara berbeda, mulai dari peforma, efisiensi dan keberlanjutan harus dirancang bersamaan (Mercedes-AMG PETRONAS F1 Team, 2026). Ia juga menekankan bahwa Petronas merumuskan bahan bakar, pelumas, dan fluida sebagai satu sistem performa utuh, bukan produk yang berdiri sendiri.

Di sini terlihat logika ekonomi dari sponsor tersebut. Petronas menyebut kerja di F1 telah menghasilkan lebih dari 10 produk baru untuk pemakaian di jalan raya, mulai dari bahan bakar, oli, hingga lebih fluida fungsional. Balapan dijadikan laboratorium dan hasilnya dijual sebagai produk konsumen. Jaringan riset Petronas pun tersebar lintas negara, dengan pusat riset di Italia, Tiongkok, Brasil, Amerika Serikat, dan Malaysia. Inilah ciri perusahaan multinasional (MNC) fungsi riset dan pasarnya menyebar melampaui negara asal.

Skala yang membuat sponsor ini masuk akal

Skalanya pun bukan perusahaan kecil. Pada 2025, pendapatan Petronas mencapai RM266,14 miliar, dengan laba setelah pajak RM45,39 miliar. Produk minyak bumi menyumbang 29% pendapatan dan LNG 27%. Angka-angka ini turun dari tahun sebelumnya, masing-masing 17% untuk pendapatan dan 18% untuk laba seiring melemahnya harga minyak dan volume penjualan (PETRONAS, 2025). Hal tersebut dapat mengindikasikan bahwa kemitraan F1 dipandang sebagai komitmen jangka panjang, meskipun keputusan sponsorship juga dipengaruhi oleh pertimbangan bisnis lainnya.

Aramco: pola yang sama, aktor yang berbeda

Tidak hanya Petronas, Aramco dari Arab Saudi juga menempuh jalur serupa. Aramco menjadi title partner eksklusif tim Aston Martin sejak 1 Januari 2024, dan juga berstatus Global Energy Partner F1 (Aramco, 2023). Untuk musim 2026, Aramco memasok secara eksklusif ProForce+, bahan bakar yang diklaim 100% berkelanjutan, kepada tim tersebut. Bahan bakar itu diklaim berasal dari komponen yang ditetapkan FIA sebagai advanced sustainable, seperti biomassa nonpangan atau sampah kota, dan dirancang menyatu dengan mesin buatan Honda.

Dua raksasa energi milik negara dari dunia non-Barat sama-sama memakai F1 untuk mengaitkan merek mereka dengan teknologi dan transisi energi.

Bagaimana dengan Pertamina di Mandalika?

Kehadiran Pertamina yang paling menonjol ada di MotoGP, bukan F1. Nama Pertamina melekat pada penamaan Sirkuit Mandalika dan perusahaan ini menjadi sponsor utama setiap gelaran MotoGP selama kontrak berjalan hingga 2026. Pertamina juga tampil sebagai nama tim, yaitu Pertamina Enduro VR46 Racing Team.

Tujuan yang dikedepankan pun tampak berbeda. Direktur MGPA menyebut MotoGP bukan hanya olahraga, tetapi juga sarana promosi yang sangat kuat bagi destinasi wisata Indonesia. Ini merupakan tujuan yang sah dan bernilai bagi Lombok dan ekonomi daerah. Namun fokusnya adalah promosi pariwisata dan kebanggaan merek lokal, belum tentu ekspansi korporasi global.

Pertamina sendiri punya modal untuk bermain lebih jauh. Pada 2024 Pertamina menjadi satu-satunya perusahaan Indonesia yang masuk daftar Fortune Global 500, di peringkat 165 dengan pendapatan US$75,79 miliar pada 2023 (Fortune, 2024). Pada daftar Fortune Southeast Asia 500 tahun 2026, Pertamina juga masuk lima besar kawasan (Fortune, 2026). Skalanya jelas tidak kalah untuk bersaing di panggung internasional.

Lingkungan sponsor Mandalika juga menarik. Daftar mitranya mencakup Pertamina bersama sejumlah bank BUMN seperti BRI, Mandiri, BNI, BSI, dan BTN, di samping merek internasional seperti Airbnb, Red Bull, dan Coca-Cola. Ekosistemnya masih kental diisi korporasi domestik, yang wajar untuk ajang yang menjadi etalase tuan rumah.

Pelajaran bagi BUMN yang ingin mendunia

Dari perbandingan ini, ada tiga pelajaran yang dapat diperhatikan oleh BUMN yang ingin membangun posisi di tingkat global. Pertama, hubungkan sponsorship dengan bisnis inti. Petronas dan Aramco tidak hanya menempatkan logo di kendaraan balap, tetapi juga menghubungkan sponsorship dengan produk dan teknologi yang menjadi bagian dari bisnis mereka. Bahan bakar, pelumas, dan pengembangan teknologi menjadi bagian dari kerja sama tersebut sehingga sponsorship berfungsi sebagai ruang promosi sekaligus etalase kemampuan perusahaan. Bagi Pertamina, hal yang penting bukan hanya seberapa besar eksposur yang diperoleh, tetapi apakah terdapat hubungan yang jelas antara sponsorship, produk, teknologi, dan pasar yang ingin dikembangkan.

Kedua, membangun strategi dalam jangka panjang. Kemitraan Petronas dengan Mercedes telah berlangsung lebih dari satu dekade dan berkembang mengikuti perubahan teknologi serta regulasi F1. Konsistensi tersebut membuat kehadiran Petronas menjadi bagian dari identitas perusahaan di panggung global. Sementara itu, kerja sama Pertamina di Mandalika yang diketahui publik berlaku hingga 2026 dapat menjadi awal dari strategi yang lebih panjang. Kelanjutannya akan menunjukkan bagaimana sponsorship tersebut dikembangkan setelah periode kerja sama berakhir.

Ketiga, kehadiran global membutuhkan nilai yang lebih dari sekadar visibilitas. Di F1, Petronas berada di tengah banyak perusahaan global dengan merek dan kemampuan teknologi yang kuat. Karena itu, logo saja tidak cukup untuk membuat sebuah perusahaan menonjol. Perusahaan perlu menawarkan nilai yang dapat dikaitkan dengan inovasi, teknologi, produk, atau kemampuan bisnisnya. Dengan ini, sponsorship dapat memperkuat posisi perusahaan sebagai pemain yang memiliki kemampuan dan nilai tambah di pasar internasional.

Pada akhirnya, ukuran keberhasilan sponsorship bukan hanya seberapa besar logo terlihat di lintasan, tetapi juga apa yang dapat dibangun di balik logo tersebut: teknologi, produk, jaringan bisnis, dan reputasi yang dapat dibawa ke pasar global.