Konten dari Pengguna

80 Tahun Indonesia: Kemerdekaan Ada di Tangan Pelajar

Amartian Bagus
Mahasiswa Fakultas Ilmu Sosial dan Politik Universitas Muhammadiyah Prof. Dr. Hamka. Dengan Prodi Ilmu Komunikasi dan Peminatan Jurnalistik.
19 Agustus 2025 22:09 WIB
·
waktu baca 3 menit
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical
Kiriman Pengguna
80 Tahun Indonesia: Kemerdekaan Ada di Tangan Pelajar
Tahun 2025 menandai delapan puluh tahun perjalanan Indonesia sebagai bangsa merdeka. Usia yang matang ini adalah hasil dari perjuangan
Amartian Bagus
Tulisan dari Amartian Bagus tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan
Sumber: Unsplash/mufid majnun
zoom-in-whitePerbesar
Sumber: Unsplash/mufid majnun
ADVERTISEMENT
Tahun 2025 menandai delapan puluh tahun perjalanan Indonesia sebagai bangsa merdeka. Usia yang matang ini adalah hasil dari perjuangan panjang para pahlawan yang dengan keberanian dan pengorbanan telah meletakkan dasar kebebasan bangsa. Namun, kemerdekaan yang diwariskan bukanlah hadiah yang selesai begitu saja, melainkan amanah yang harus terus dijaga dan dihidupi. Pertanyaannya, bagaimana generasi pelajar hari ini memaknai dan mengisi kemerdekaan di usia bangsa yang ke-80?
ADVERTISEMENT
Jika dulu para pejuang menghadapi penjajahan fisik, kini pelajar berhadapan dengan tantangan yang berbeda. Penjajahan zaman modern hadir dalam wujud rendahnya literasi, derasnya arus informasi yang membanjiri ruang digital, serta godaan untuk terlena pada hal-hal yang menjauhkan dari semangat belajar. Kemerdekaan yang hakiki hari ini tidak lagi sebatas bebas dari belenggu asing, tetapi juga kebebasan berpikir, kebebasan untuk menuntut ilmu, dan keberanian untuk berkarya serta memberi manfaat.
Pelajar adalah cermin masa depan Indonesia. Dalam diri mereka, tersimpan potensi untuk menentukan arah bangsa beberapa dekade mendatang. Apabila pelajar gagal menyiapkan diri dengan ilmu, keterampilan, dan karakter, maka cita-cita Indonesia emas 2045 hanya akan menjadi sekadar wacana. Tetapi jika generasi ini tumbuh dengan semangat belajar, kejujuran, dan kepedulian sosial, maka kemerdekaan yang diperjuangkan dengan darah para pahlawan akan menemukan maknanya.
ADVERTISEMENT
Di tengah derasnya perkembangan teknologi, pelajar dituntut untuk tidak sekadar menjadi pengguna, tetapi juga pencipta. Mengisi kemerdekaan berarti menghadirkan karya, gagasan, dan solusi bagi persoalan bangsa. Itu bisa dimulai dari hal sederhana: rajin membaca, memanfaatkan teknologi dengan bijak, menjaga semangat gotong royong di sekolah maupun masyarakat, serta berani menyuarakan kebenaran meski dengan cara sederhana. Semua itu adalah bentuk nyata bahwa pelajar tidak hanya menjadi penerima warisan kemerdekaan, tetapi juga penghidup nilai-nilainya.
Kemerdekaan sejati harus diisi dengan ilmu pengetahuan yang mendalam dan karakter yang kokoh. Kecerdasan tanpa akhlak akan melahirkan generasi yang rapuh, sementara akhlak tanpa pengetahuan membuat langkah pembangunan terhambat. Keduanya harus berjalan seiring agar pelajar mampu menjadi generasi yang tidak hanya unggul secara akademis, tetapi juga tangguh dalam moral.
ADVERTISEMENT
Perayaan 80 tahun Indonesia merdeka bukan semata seremoni yang berhenti pada pengibaran bendera atau lomba tujuhbelasan. Ia seharusnya menjadi ruang refleksi, bahwa pelajar memiliki tanggung jawab besar untuk melanjutkan perjuangan. Jika para pendiri bangsa dahulu percaya bahwa generasi berikutnya akan menjaga kemerdekaan, maka hari ini kepercayaan itu berada di tangan para pelajar.
Maka, 80 tahun kemerdekaan Indonesia harus menjadi momentum untuk menyadarkan bahwa pelajar bukanlah penonton dalam perjalanan bangsa. Mereka adalah aktor utama yang akan menentukan wajah Indonesia ke depan. Dari ruang kelas hingga ruang digital, dari interaksi sederhana hingga gagasan besar, pelajar memiliki kekuatan untuk menjaga dan melanjutkan api kemerdekaan. Sebab pada akhirnya, benar bahwa kemerdekaan Indonesia ada di tangan pelajar.
ADVERTISEMENT
Amartian Bagus Pratama (Ketua Ikatan Pelajar Muhammadiyah Jawa Barat Bidang Pengkajian Ilmu Pengetahuan)