Ketika Validasi Menggantikan Nilai: Krisis Sunyi Generasi Pelajar Digital

Mahasiswa Fakultas Ilmu Sosial dan Politik Universitas Muhammadiyah Prof. Dr. Hamka. Dengan Prodi Ilmu Komunikasi dan Peminatan Jurnalistik.
·waktu baca 5 menit
Tulisan dari Amartian Bagus tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Ada ironi besar yang sedang kita hadapi hari ini. Generasi pelajar merupakan generasi paling terhubung sepanjang sejarah manusia, tetapi pada saat yang sama menjadi generasi yang paling rentan kehilangan arah. Mereka tumbuh dalam dunia yang serba cepat, serba visual, dan serba dibandingkan. Informasi tidak lagi hadir sebagai kebutuhan, melainkan sebagai banjir yang sulit dibendung. Dalam arus yang deras inilah krisis identitas berkembang perlahan, tidak selalu terlihat, tetapi berdampak jangka panjang.
Secara psikologis, masa remaja memang fase krusial pembentukan jati diri. Erik Erikson menyebut tahap ini sebagai Identity vs. Role Confusion, yakni periode ketika individu berusaha menjawab pertanyaan mendasar: siapa saya, apa nilai yang saya pegang, dan peran apa yang akan saya ambil di masyarakat. Idealnya, proses ini berlangsung melalui pengalaman sosial nyata, interaksi langsung, pembelajaran nilai dari keluarga, sekolah, serta organisasi.
Namun realitas hari ini berbeda. Proses pembentukan identitas tidak lagi sepenuhnya berlangsung di ruang sosial fisik, melainkan sangat dipengaruhi ruang digital. Media sosial menjadi arena baru di mana pelajar membangun, menampilkan, bahkan mengukur dirinya. Identitas tidak hanya dibentuk dari dalam, tetapi juga dari respons luar yang bersifat instan.
Teori Looking Glass Self dari Charles Horton Cooley menjelaskan bahwa manusia membentuk konsep diri berdasarkan bagaimana ia membayangkan orang lain melihat dirinya. Di era digital, bayangan itu berubah menjadi indikator konkret: jumlah likes, komentar, views, dan followers. Penilaian sosial yang dahulu bersifat terbatas kini menjadi terbuka dan masif. Pelajar tidak lagi hanya bertanya, “Siapa saya?” tetapi juga, “Bagaimana saya terlihat?” dan “Apakah saya cukup layak di mata publik?”
Identitas pun bergeser menjadi proyek pencitraan. Banyak pelajar merasa perlu selalu tampil produktif, aktif, dan sukses. Mereka membangun citra diri yang kadang tidak sepenuhnya mencerminkan realitas. Dalam jangka panjang, ketidaksinkronan antara citra digital dan realitas personal dapat memicu tekanan psikologis.
Data menunjukkan bahwa persoalan ini bukan asumsi belaka. Laporan Digital 2024 Indonesia dari We Are Social dan Kepios mencatat penetrasi internet Indonesia telah melampaui 77% populasi. Kelompok usia 16–24 tahun menjadi pengguna paling aktif, dengan rata-rata penggunaan internet sekitar 7–8 jam per hari. Sebagian besar waktu tersebut dihabiskan di media sosial. Artinya, hampir sepertiga waktu sadar pelajar terserap dalam ruang digital.
Paparan yang intens ini memperkuat budaya perbandingan. Leon Festinger melalui Social Comparison Theory menjelaskan bahwa manusia secara alami menilai dirinya dengan membandingkan diri dengan orang lain. Di era media sosial, ruang perbandingan itu tidak lagi terbatas pada lingkungan sekitar, melainkan global. Pelajar di daerah kecil dapat membandingkan dirinya dengan figur publik internasional dalam hitungan detik.
Masalahnya, yang dibandingkan bukanlah realitas utuh. Media sosial cenderung menampilkan sisi terbaik kehidupan: pencapaian tanpa proses, kebahagiaan tanpa perjuangan, dan keberhasilan tanpa kegagalan. Tanpa literasi kritis, pelajar mudah menginternalisasi standar yang tidak realistis. Mereka merasa tertinggal, kurang mampu, atau tidak cukup berharga.
Fenomena ini sejalan dengan konsep information overload yang dipopulerkan Alvin Toffler dalam Future Shock. Ketika individu menerima terlalu banyak informasi dalam waktu singkat, kemampuan untuk memproses, memilih, dan mengambil keputusan dapat terganggu. Pelajar hari ini dihadapkan pada terlalu banyak pilihan jurusan, karier, gaya hidup, hingga ideologi. Bukannya memperluas orientasi, kelebihan informasi justru dapat memicu kebingungan dan kelumpuhan dalam menentukan arah hidup.
Berbagai laporan juga menunjukkan meningkatnya tekanan psikologis pada remaja. UNICEF menyoroti bahwa kelompok usia muda rentan terhadap kecemasan akibat tekanan sosial digital. Di Indonesia, publikasi Kementerian Kesehatan juga mencatat meningkatnya keluhan stres dan gangguan kecemasan pada usia sekolah dalam beberapa tahun terakhir. Walaupun faktor penyebabnya beragam, paparan digital yang intens menjadi salah satu variabel penting.
Krisis identitas pelajar bukan sekadar persoalan kecanduan gawai. Ia menyangkut fondasi pendidikan dan ruang sosial yang kurang memberi tempat pada refleksi nilai. Kita terlalu sering menuntut pelajar untuk berprestasi, tetapi jarang membimbing mereka memahami makna di balik pencapaian. Kita memuji yang viral, tetapi kurang mengapresiasi proses.
Sekolah dan organisasi pelajar sering kali fokus pada target program, lomba, dan capaian administratif. Padahal, ruang dialog tentang kegagalan, kecemasan, dan pencarian makna hidup hampir tidak tersedia secara serius. Pelajar akhirnya terlatih untuk bersaing, tetapi tidak terlatih untuk memahami diri.
Mengapa ini penting? Karena identitas yang rapuh berimplikasi pada masa depan bangsa. Generasi yang gamang akan mudah terombang-ambing oleh opini, propaganda, dan polarisasi digital. Mereka mungkin cerdas secara teknis, tetapi lemah dalam prinsip. Padahal, kepemimpinan masa depan membutuhkan fondasi nilai yang kokoh.
Solusi atas problem ini tidak cukup dengan membatasi durasi layar. Yang lebih mendesak adalah membangun literasi digital yang kritis dan pendidikan karakter yang substantif. Pelajar perlu dibekali kemampuan memahami bias algoritma, membedakan realitas dan representasi, serta mengelola perbandingan sosial secara sehat.
Organisasi pelajar dapat berperan sebagai ruang aman untuk berdialog dan berefleksi. Diskusi tentang makna hidup, tujuan, dan kegagalan harus menjadi bagian dari proses kaderisasi. Pendidikan tidak boleh hanya membentuk kompetensi, tetapi juga kesadaran diri.
Banjir informasi adalah keniscayaan zaman. Kita tidak mungkin menghentikannya. Namun kita bisa memastikan pelajar tidak hanyut di dalamnya. Jika generasi ini mampu membangun identitas yang reflektif, kritis, dan berbasis nilai, maka mereka bukan hanya akan bertahan di era digital mereka akan memimpinnya.
Sebaliknya, jika krisis identitas ini terus diabaikan, kita berisiko melahirkan generasi yang cakap teknologi tetapi kosong orientasi. Dan itulah ancaman sunyi yang jauh lebih berbahaya daripada sekadar kecanduan gawai.
Amartian Bagus Pratama (Ketua IPM Jawa Barat Bidang Pekajian Ilmu Pengetahuan)
