Konten dari Pengguna

Pendidikan Moral di Ujung Tanduk, Mengapa Pelajar Kian Tak Beretika?

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Amartian Bagus tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Ilustrasi pelajar. Foto : dok. Unsplash/Annie Spratt
zoom-in-whitePerbesar
Ilustrasi pelajar. Foto : dok. Unsplash/Annie Spratt

Pendidikan moral di kalangan pelajar Indonesia tengah menunjukkan sinyal-sinyal gawat darurat. Beberapa akhir ini muncul berita tentang seorang siswa sekolah menengah di Kabupaten Lebak yang ditampar oleh kepala sekolahnya karena ketahuan merokok kejadian ini menjadi pemantik mogoknya ratusan murid sebagai reaksi atas sanksi tersebut. Aktor kecil ini sebenarnya hanyalah bagian dari gambar besar kondisi moral pelajar yang semakin mengkhawatirkan. Berdasarkan riset yang dilakukan oleh Institute for Indonesia and Sustainable Development (IISD) bersama Indonesian Public Minds (IPM), sebanyak 27,7% pelajar di tingkat SMP dan SMA pernah merokok, dan 10,67% pelajar sudah aktif merokok. Sementara itu, data dari Kementerian Kesehatan Republik Indonesia (Kemenkes) menyebut bahwa kelompok usia 15-19 tahun merupakan kelompok perokok terbanyak mencapai 56,5% dari seluruh perokok di yang terdatadan pada usia 10-14 tahun tercatat 18,4%. Fakta ini semakin memperjelas bahwa isu moral bukan sekadar subtleties etik tetapi sudah mendekati krisis sosial yang nyata.

Sederet perilaku tidak beretika seperti bullying, tawuran antar pelajar, cyberbullying, dan penyalahgunaan narkoba kian terlihat jelas sebagai bagian dari degradasi moral generasi muda. Misalnya, artikel jurnal menunjuk bahwa banyak penelitian menunjukkan hubungan antara gaya pengasuhan dengan kemerosotan moral di kalangan remaja. Di lingkungan sekolah, media lokal melaporkan bahwa kasus perundungan meningkat signifikan beberapa tahun terakhir. Semua ini menandakan bahwa proses pendidikan karakter di sekolah dan keluarga tidak lagi berjalan selaras dengan tantangan zaman.

Mengapa hal ini bisa terjadi?

Pertama, sekolah sebagai institusi formal pembelajaran seakan kehilangan peran moralnya. Guru dan manajemen sekolah sering terbeban oleh target akademik nilai, ujian, akreditasi sementara aspek karakter dan akhlak menjadi tambahan yang sering tertunda. Ketika pelanggaran seperti merokok di lingkungan sekolah hanya dianggap pelengkap tolak ukur atau dilepas begitu saja, maka pelajar tumbuh tanpa rasa takut terhadap konsekuensi dan tanpa pemahaman bahwa norma sosial berlaku juga pada kehidupan sehari-hari. Insiden siswa yang merokok di seragam bukan sekadar kenakalan, tetapi simbol bahwa norma di lingkungan sekolah telah direndahkan.

Kedua, pengaruh lingkungan sosial dan digital makin memperparah. Pelajar tumbuh di dunia yang penuh visual media sosial, di mana gaya hidup bebas dan berani melawan aturan seringkali ditampilkan sebagai sesuatu yang keren. Tanpa filter dan pembinaan literasi digital yang memadai, pelajar mudah terpengaruh narasi negatif yang melemahkan rasa tanggung jawab, empati, dan rasa malu. Studi menunjukkan bahwa kemerosotan karakter di era digital adalah dampak nyata dari lemahnya pengasuhan moral dalam konteks modern.

Ketiga, aspek keluarga yang mestinya menjadi fondasi utama pendidikan moral banyak yang terkikis oleh perubahan zaman. Orang tua yang sibuk bekerja, kurangnya waktu interaksi dengan anak, hingga minimnya keteladanan secara konsisten. Jika di rumah nilai-nilai seperti kejujuran, penghormatan, dan tanggung jawab tidak dicontohkan, maka sekolah akan berjuang sendirian menghadapi gelombang tantangan moral yang jauh lebih besar.

Kita melihat efek yang mengkhawatirkan pelajar tidak hanya kehilangan adab dasar seperti rasa hormat terhadap guru atau aturan sekolah, tetapi juga tumbuh dengan identitas yang rapuh mencari pengakuan diri lewat perilaku negatif daripada prestasi positif. Jika sekolah, keluarga, dan masyarakat tidak segera bergerak bersama-sama memperkuat pendidikan moral, maka generasi pelajar kita akan terus terperosok dalam lingkaran kenakalan, kehilangan arah, dan potensi menjadi generasi yang pandai secara akademik tetapi rapuh secara karakter.

Walaupun situasi tidak baik, bukan berarti tidak ada titik terang. Pendidikan moral harus ditempatkan kembali sebagai inti dalam sistem pendidikan, dengan sinergi sekolah, keluarga, masyarakat yang nyata. Sekolah perlu menerapkan pembinaan karakter secara konsisten, bukan hanya lewat seremonial tapi melalui praktik sehari-hari yang nyata dan digaris bawahi oleh keteladanan. Orang tua perlu menyadari bahwa membentuk karakter anak bukan cukup dengan memberi nilai bagus atau aktivitas ekstra, tetapi dengan hadir secara aktif menjadi figur yang dapat ditiru, memperlihatkan rasa hormat, tanggung jawab, dan empati di rumah. Masyarakat dan media pun harus berperan, bagaimana dapat mengedepankan konten yang mendukung pembentukan karakter baik, membatasi glamorisasi perilaku merokok, tawuran, bullying.

Kita sedang berada di persimpangan antara membiarkan moralitas generasi muda tergerus atau memperkuat fondasi karakter mereka agar mampu berdiri di tengah dinamika zaman. Pelajar-pelajar yang merokok di sekolah, yang membully teman, atau yang bersikap tidak hormat bukan sekadar masalah siswa saja. Mereka adalah cerminan dari sistem yang gagal memastikan bahwa pendidikan tidak hanya soal kecerdasan tetapi kemanusiaan. Negara dan seluruh komponen pendidikan tidak boleh menunggu lebih banyak kasus viral untuk sadar bahwa sistem pada generasi muda kita masih jauh dari baik. Tugas kita kini adalah mengembalikan pendidikan moral ke panggung utama demi masa depan bangsa.

Amartian Bagus Pratama (Ketua PW IPM Jawa Barat Bidang Pengkajian Ilmu Pengetahuan)