Konten dari Pengguna

Ramadan di Persimpangan Karakter Pelajar

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Amartian Bagus tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Ilustrasi siswa, murid, pelajar, SD. (Photo by Bayu Syaits on Unsplash)
zoom-in-whitePerbesar
Ilustrasi siswa, murid, pelajar, SD. (Photo by Bayu Syaits on Unsplash)

Ramadan selalu dipandang sebagai bulan pendidikan moral bagi umat Islam. Puasa tidak hanya mengajarkan manusia menahan lapar dan haus, tetapi juga melatih kesabaran, kedisiplinan, serta kemampuan mengendalikan diri. Dalam konteks pelajar, Ramadan seharusnya menjadi momentum penting untuk memperkuat karakter, memperdalam spiritualitas, dan menumbuhkan kepedulian sosial. Namun jika melihat kondisi pelajar hari ini, Ramadan justru sering memperlihatkan ironi: bulan yang mestinya menjadi ruang pembinaan moral, malah diwarnai berbagai persoalan perilaku remaja.

Beberapa tahun terakhir, fenomena kenakalan pelajar justru kerap muncul pada bulan Ramadan. Tawuran, balap liar, hingga perang sarung menjadi peristiwa yang hampir selalu diberitakan setiap tahun. Komisi Perlindungan Anak Indonesia (KPAI) bahkan menyoroti meningkatnya fenomena kejahatan jalanan yang melibatkan anak selama Ramadan. Aksi tersebut biasanya terjadi pada malam hari setelah salat tarawih atau menjelang sahur, dan sering melibatkan kelompok remaja yang berkendara secara berkelompok di jalanan.

Fenomena ini menunjukkan bahwa sebagian pelajar belum mampu memaknai Ramadan sebagai ruang pembinaan diri. Waktu luang yang seharusnya diisi dengan kegiatan positif seperti, membaca, berdiskusi, atau memperbanyak ibadah justru berubah menjadi ruang bagi aktivitas yang tidak produktif. Bahkan di beberapa kota, pemerintah dan aparat kepolisian harus meningkatkan patroli khusus selama Ramadan untuk mencegah balap liar, tawuran, dan perang sarung yang dilakukan oleh remaja.

Situasi tersebut tidak muncul begitu saja. Ada beberapa faktor yang memengaruhi kondisi pelajar saat ini. Pertama adalah perubahan pola kehidupan generasi muda yang semakin dekat dengan dunia digital. Banyak pelajar yang menghabiskan waktu hingga larut malam dengan bermain gim, menonton video, atau berselancar di media sosial. Akibatnya, ritme kehidupan mereka menjadi tidak teratur. Ketika siang hari di sekolah, rasa lelah dan kurang tidur membuat konsentrasi belajar menurun.

Kedua, lemahnya ruang pembinaan karakter di lingkungan pelajar. Kegiatan keagamaan di sekolah selama Ramadan sering kali bersifat seremonial, seperti pesantren kilat yang berlangsung singkat tanpa tindak lanjut yang jelas. Padahal, pendidikan karakter membutuhkan proses yang berkelanjutan, bukan sekadar kegiatan tahunan yang dilakukan untuk memenuhi agenda sekolah.

Ketiga, kurangnya pengawasan sosial dari lingkungan sekitar. Pemerintah daerah bahkan harus mengeluarkan imbauan kepada masyarakat agar remaja tidak melakukan tawuran atau konvoi selama Ramadan dan mengisi waktu luang dengan kegiatan yang lebih bermanfaat.

Jika kondisi ini terus dibiarkan, Ramadan akan kehilangan fungsi sosialnya sebagai ruang pendidikan moral bagi generasi muda. Padahal, dalam tradisi Islam, Ramadan selalu dipandang sebagai “madrasah kehidupan”. Ia mengajarkan manusia tentang arti pengendalian diri, empati terhadap orang lain, dan tanggung jawab sosial.

Karena itu, perlu ada perubahan cara pandang dalam memaknai Ramadan di kalangan pelajar. Ramadan tidak cukup dipahami hanya sebagai kewajiban ibadah, tetapi juga sebagai momentum pembentukan karakter. Sekolah, keluarga, dan organisasi pelajar perlu menghadirkan ruang-ruang kegiatan yang lebih bermakna: diskusi literasi, gerakan berbagi kepada masyarakat, aktivitas sosial, hingga kegiatan kreatif yang memperkuat solidaritas antar pelajar.

Pelajar juga perlu didorong untuk melihat Ramadan sebagai latihan kepemimpinan diri. Puasa pada dasarnya adalah latihan disiplin: mengatur waktu, mengendalikan emosi, serta menahan diri dari hal-hal yang merugikan. Nilai-nilai ini sangat relevan dengan tantangan generasi muda hari ini yang hidup di tengah arus informasi yang cepat dan distraksi yang tidak terbatas.

Pada akhirnya, masa depan bangsa tidak hanya ditentukan oleh kecerdasan akademik pelajar, tetapi juga oleh kekuatan karakter mereka. Ramadan memberikan kesempatan setiap tahun untuk memperbaiki diri dan membangun generasi yang lebih berintegritas. Jika momentum ini dimanfaatkan dengan baik, Ramadan tidak hanya menjadi bulan ibadah, tetapi juga menjadi ruang pembinaan generasi pelajar yang lebih matang secara moral dan sosial.

Amartian Bagus Pratama (Ketua IPM Jawa Barat Bidang Pengkajian Ilmu Pengetahuan)