Jamu Yu Parti dan Ramuan Sehat yang Bertahan di Tengah Tren Fusion

Mahasiswa Ilmu Komunikasi Universitas Atma Jaya Yogyakarta.
·waktu baca 4 menit
Tulisan dari Amazia Grace tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Jamu menjadi salah satu minuman yang memiliki banyak peminat mulai dari generasi muda hingga generasi tua. Mengutip dari Katadata, jamu merupakan minuman tradisional Indonesia yang diracik dari bahan-bahan alami. Istimewanya, jamu telah diakui secara resmi sebagai Warisan Budaya Takbenda (WBTb) ke-13 Indonesia oleh UNESCO (United Nations Educational, Scientific and Cultural Organization).
Belakangan ini, berbagai jenis jamu bermunculan dengan beragam inovasi. Jamu dalam kemasan modern biasanya dipadukan dengan berbagai buah-buahan tanpa mengurangi khasiat alaminya. Jurnal Gaya menyebutkan bahwa jamu dalam bentuk ini kerap disebut sebagai jamu fusion, dan umumnya ditujukan untuk menarik minat generasi muda.
Meskipun berbagai inovasi terus dikembangkan dalam dunia minuman jamu, masih banyak masyarakat yang setia menikmati jamu dalam bentuk tradisional. Di Yogyakarta, terdapat beragam merek jamu tradisional yang menyuguhkan minuman khas dengan cita rasa dan khasiat masing-masing. Namun, salah satu bentuk penjualan yang kini semakin jarang dijumpai di kawasan perkotaan adalah jamu yang dijajakan secara keliling dengan cara dipikul.
Jamu Yu Parti merupakan salah satu penjual jamu keliling yang beroperasi di wilayah Jarah III RT 54 RW 15, Banjarejo, Tanjungsari, Gunungkidul. Ia menjajakan lima jenis jamu tradisional, yaitu Kunyit Asam, Beras Kencur, Pahitan, Sirih, dan Temulawak. Yu Parti menjelaskan beberapa bahan yang dibutuhkan untuk membuat jamu, salah satunya jamu Pahitan, “Jamu pahitan merupakan jamu yang terbuat dari empon-empon seperti temulawak dan temu ireng, ada sambiloto, sama daun-daun berkhasiat lainnya,” jelasnya.
Keunikan Jamu Yu Parti terletak pada penggunaan rempah-rempah alami serta pemanis yang masih menggunakan gula asli. “Penting untuk menjaga keaslian bahan-bahan agar khasiat jamu tetap terjaga, sekarang banyak penjual yang menggunakan pemanis yang tidak asli gula jawa, itu nanti terasa kalau pakai pemanis di lidah dan tenggorokan akan terasa beda,” jelas Yu Parti. Ia juga memaparkan beberapa manfaat dari jamu yang dibuatnya. Misalnya, jamu temulawak bermanfaat untuk meningkatkan daya tahan tubuh; jamu sirih yang baik untuk perempuan, membantu mencegah bau badan dan melancarkan haid; jamu beras kencur berguna untuk meredakan batuk dan menambah stamina; jamu pahitan dapat membantu menurunkan kadar gula darah; dan terakhir, jamu kunyit asem berkhasiat untuk meningkatkan daya tahan tubuh serta melancarkan pencernaan.
Satu lagi jenis jamu yang tidak selalu diproduksi oleh Yu Parti adalah jamu Gepyokan. Ia menjelaskan bahwa jamu ini kini tidak dibuat setiap hari karena permintaannya yang tidak stabil. Jamu Gepyokan cocok untuk ibu menyusui karena dapat membantu melancarkan produksi ASI. Namun, karena hanya sedikit ibu menyusui yang membeli jamu ini dan mereka pun tidak selalu ada di sekitar area tempat Yu Parti berjualan produksinya pun menjadi tidak rutin.
Sejak tahun 2007, Yu Parti merintis usaha jamu sebagai sumber penghasilan tambahan selain berladang. Ia memulai dengan berjualan di depan SD Muhammadiyah Jarah, lalu perlahan memperluas jangkauan dengan berkeliling di wilayah Jarah I hingga Jarah III, yang merupakan padukuhan di Gunungkidul. Selama 18 tahun menjalani usaha ini, tentu tidak mudah bagi Yu Parti untuk mempertahankannya, terutama di tengah munculnya berbagai inovasi dan perkembangan zaman yang kerap kali berada di luar jangkauannya sebagai pelaku usaha tradisional.
Yu Parti sebenarnya pernah mencoba memasarkan jamunya ke luar wilayah Gunungkidul. Beberapa kali, ia bersama anak laki-lakinya, Awan, berupaya mendistribusikan jamu ke kota Yogyakarta dengan menitipkannya ke sejumlah toko. Namun, upaya tersebut belum cukup efektif untuk memperluas jangkauan penjualan. Salah satu kendala utama terletak pada proses produksi yang masih dilakukan secara tradisional, sehingga membutuhkan waktu yang cukup lama. Selain itu, daya simpan jamu yang relatif singkat turut membatasi distribusinya ke luar daerah.
Namun, usaha Yu Parti dalam memasarkan jamunya tidak berhenti begitu saja. Perkembangan media sosial, seperti Instagram, menjadi salah satu cara baru yang ia manfaatkan agar usahanya tetap eksis dan relevan. Melalui akun Instagram @jamu_yuparti, pembeli dapat melihat informasi mengenai berbagai varian jamu yang dijual, serta menemukan nomor kontak jika ingin memesan jamu untuk diantar atau membuat janji berkunjung ke rumah produksi Jamu Yu Parti.
Harapan sederhana dari Yu Parti mencerminkan keteguhan seorang peracik jamu tradisional yang tetap setia pada warisan leluhur di tengah arus modernitas, “Semoga usaha saya lebih maju meskipun dengan keterbatasan saya saat ini, saya tetap berdoa semoga jamu ini dapat memiliki banyak peminat dan banyak berguna bagi banyak orang,” jelasnya. Di balik setiap botol jamu yang ia buat, tersimpan harapan agar ramuan alami itu tak hanya bermanfaat bagi kesehatan, tetapi juga membawa usahanya terus tumbuh dan dikenal lebih luas.
