Konten dari Pengguna

Kegiatan Organisasi Mahasiswa di Masa Pandemi Covid-19

Ambar Agustina Raslaela

Ambar Agustina Raslaela

Mahasiswa Universitas Islam Negeri Syarif Hidayatullah Jakarta Jurusan Akuntansi

·waktu baca 3 menit

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Ambar Agustina Raslaela tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Ilustrasi ketika sedang berorganisasi. Foto: Unsplash
zoom-in-whitePerbesar
Ilustrasi ketika sedang berorganisasi. Foto: Unsplash

Ketika memasuki dunia perkuliahan, banyak perubahan yang terjadi pada diri saya, dimulai dari cara berpikir, menentukan suatu keputusan, hingga tanggung jawab sangat berbeda dibandingkan ketika saya masih sekolah dulu. Sebelumnya saya adalah seorang mahasiswi semester 4 di salah satu perguruan tinggi negeri di daerah Jakarta.

Perubahan-perubahan ini mulai saya rasakan ketika saya berada di awal semester 2. Banyak senior di kampus saya yang menginspirasi kehidupan saya selama berkuliah, dimulai dari kemampuan berbicara, jaringan yang luas, hingga kemampuan di bidang akademis. Karena hal ini saya mulai berpikir bahwa sebagai seorang mahasiswa di samping memiliki kemampuan di bidang akademis tentunya harus memiliki soft skill yang akan berguna dan bermanfaat sebagai penunjang di dunia perkuliahan.

Rasa haus akan belajar dan keingintahuan yang tinggi membuat saya berpikir. Bagaimana dan apa yang harus dilakukan untuk mengasah dan mempertajam pola pikir saya agar menjadi pribadi yang lebih kritis dan mampu berpikir secara logis.

Dikarenakan rasa ingin tahu yang tinggi, saya penasaran bagaimana rasa nya berada di dalam organisasi yang pada akhirnya menuntun saya pada salah satu organisasi mahasiswa yang ada di kampus saya. Organisasi yang pertama kali saya ikuti adalah Himpunan Mahasiswa Jurusan. Setelah menjadi bagian dari organisasi ini, banyak hal yang saya dapatkan. Dimulai dari kemampuan public speaking saya berkembang, menjadi pribadi yang kooperatif dengan orang lain, hingga mampu menyusun skala prioritas.

Awal maret 2020 adalah terakhir kali saya mengikuti perkuliahan dan organisasi secara tatap muka. Dengan merebaknya isu covid-19, pemerintah mengeluarkan aturan Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB) untuk menekan jumlah penyebaran covid-19. Diberlakukan nya aturan tersebut sangat berdampak pada aspek kehidupan masyarakat secara masif di Indonesia. Dunia pendidikan tidak luput dari dampak pandemi ini, bila biasa nya pembelajaran baik sekolah ataupun kuliah dilakukan secara tatap muka, karena pandemi covid-19 menyebabkan sistem pembelajaran tatap muka berganti menjadi virtual.

Proses perkuliahan secara online berdampak terhadap kegiatan organisasi mahasiswa. Mulai dari rapat hingga menjalankan program kerja semua nya dilakukan secara virtual. Perubahan situasi yang cukup signifikan ini tentunya memberikan dampak positif dan negatif.

Secara pribadi saya merasakan dampak tersebut baik positif maupun negatif. Hal positif yang saya rasakan adalah, saya terbiasa dengan teknologi dan tidak tertinggal dengan kemajuan teknologi. Saya juga menjadi lebih kreatif dalam berpikir dan mampu beradaptasi dengan situasi yang terjadi. Akibat kegiatan organisasi dilakukan secara online, waktu saya pun menjadi lebih fleksibel.

Seperti dua mata koin ada pula dampak negatif yang saya rasakan. Sistem Online yang mengharuskan saya online setiap saat, cukup menguras isi kantong saya. kuota demi kuota saya beli untuk terus mengikuti perkuliahan secara online maupun berorganisasi secara online. Meskipun memiliki kuota,belum tentu internet menjadi lancar dan cepat karena harus tetap didukung dengan sinyal yang stabil.

Jarangnya bertatap muka menyebabkan kerenggangan secara emosional antar individu. Hal tersebut saya alami sebagai anggota organisasi. Kurang nya komunikasi menciptakan jarak antar anggota di dalam organisasi.

Dari kacamata saya sebagai mahasiswi dan organisatoris, pilihan saya tetap pada perkuliahan dan menjalankan organisasi secara tatap muka. Dengan alasan kedekatan emosional yang masih terjaga dikarenakan dapat bertemu, bertukar pikiran, dan saling bersendagurau. Menurut saya kegiatan organisasi yang dilakukan secara offline juga dapat lebih efektif.