Belajar Dari Gaya Hidup Gen Z

Dosen Pendidikan Ekonomi Universitas Pamulang
·waktu baca 4 menit
Tulisan dari Ambar Widya tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Gaya hidup merupakan pola hidup seseorang yang tercermin dalam pengalokasian waktunya pada kegiatan, minat, dan pendapat mengenai hal penting di lingkungan sekitarnya.
Gaya hidup masing-masing konsumen akan berbeda satu sama lainnya. Hal ini karena dengan kenyataannya masing-masing memiliki aktivitas, minat, dan pendapatan yang berbeda pula.
Sedangkan itu, pendapat lain mengatakan bahwa gaya hidup merupakan faktor yang memengaruhi konsumsi dan berhubungan langsung dengan aktivitas sehari-hari.
Dengan gaya hidup yang tinggi, kehidupan masyarakat dapat berubah secara ekstrim, disertai dengan zaman yang terus berkembang, diikuti oleh dunia luar yang bebas, dan mudah diakses. Di sinilah keputusan pembelian seseorang dipengaruhi oleh gaya hidupnya.
Berdasarkan pendapat tersebut, penulis menyimpulkan bahwa gaya hidup atau lifestyle merupakan pola hidup seseorang yang didasarkan pada pemikiran, keyakinan maupun etika yang ada di masyarakat, dan memengaruhi seseorang dalam mengambil keputusan dalam hidupnya.
Di tahun 2025, penulis melakukan penelitian mengenai pengaruh gaya hidup terhadap perilaku keuangan generasi muda saat ini, dari penelitian yang dilakukan diperoleh beberapa hal menarik.
Pertama, Indonesia saat ini masuk dalam bonus demografi. Artinya, masyarakat yang usia produktif jumlahnya lebih banyak dibandingkan masyarakat usia nonproduktif. Berdasarkan data dari Badan Pusat Statistik, penduduk usia produktif berada pada usia 15-64 tahun sebesar 70, 72%, sedangkan usia nonproduktif atau penduduk lansia sebesar 9,78%.
Jika dirinci dari persentase 70,72%, persentase tersebut didominasi oleh Gen Z dan Milenial. Setiap generasi memiliki karakteristik yang berbeda antara satu dengan yang lainnya. Misalkan saja Gen Z dan Generasi Milenial yang tumbuh di era digital, sehingga mereka lebih melek teknologi.
Namun di sisi lain dalam hal keuangan karena kemajuan teknologi yang memberikan kemudahan misalnya dalam transaksi ekonomi sehingga membuat individu (gen z dan generasi mileneal) lebih konsumtif sehingga terkadang membeli sesuatu bukan karena kebutuhan melainkan karena keinginan.
Ketiga, permasalahan keuangan yang dihadapi individu terutama gen z dan generasi milenial antara lain, pendapatan/gaji/ jatah uang bulanan habis sebelum waktunya, tingkat tabungan yang rendah serta perilaku boros dengan pengeluaran yang tidak terkendali, selain itu juga mereka sering menghadapi kredit yang overlimit.
Keempat, generasi muda seringkali menghadapi tantangan keuangan karena kurangnya keterampilan dalam mengelola uang dengan bijak.
Secara teori gaya hidup dapat dilihat dari tiga dimensi yaitu AIO (activities, interest and opinion). Aktivitas (activities) merupakan kegiatan apa saja yang dilakukan seseorang dalam menghabiskan waktunya.
Aktivitas berkaitan dengan kegiatan konsumen sehari-hari yang dapat terlihat dari pekerjaan, hobi, acara-acara social, liburan, hiburan, keanggotan klub, masyarakat, belanja dan olahraga.
Minat (interest) merupakan kondisi dimana seseorang tertarik terhadap suatu objek, aktivitas atau bidang tertentu. Minat merupakan ketertarikan konsumen terhadap sesuatu dimana dapat terlihat pada minatnya terhadap keluarga, rumah, pekerjaan, masyarakat, rekreasi, busana, makanan, media, dan prestasi. Opini atau pendapat (opinion) merujuk pada apa yang mereka pikirkan tentang dirinya, dan dunia sekitarnya.
Pendapat berkaitan dengan opini atau pandangan konsumen terhadap suatu hal, seperti mereka sendiri, masalah social, politik, bisnis, ekonomi, pendidikan, produk, masa depan, dan budaya.
Dimensi Aktivitas, kehidupan gen z sangat akrab dengan teknologi yang dimanfaatkan oleh mereka bukan hanya untuk hiburan, tetapi juga untuk belajar, bekerja, dan membangun identitas diri. Dan menjadi sarana utama untuk mengekspresikan diri, berbagi pengalaman, serta mengikuti tren yang sedang berkembang.
Dimensi Minat (Interest), dari sisi gaya hidup gen z lebih mengutamakan kepraktisan, kecepatan dan fleksibilitas. Sehingga mereka lebih suka layanan berbasis digital seperti belanja online maupun pembayaran non tunai.
Dengan gaya hidup demikian, tanpa dibarengi dengan literasi keuangan yang baik dapat menyebabkan masalah keuangan seperti tingkat tabungan rendah maupun perilaku konsumtif.
Untuk meningkatkan literasi keuangan gen z saat ini , bisa dilakukan dengan cara mudah seperti melihat konten singkat dan aplikatif (misalnya tips mengatur uang saku, investasi pemula, atau bahaya pinjol ilegal) melalui instagram, tiktok, YouTube, dan podcast.
Gaya hidup dibarengi dengan peningkatan literasi keuangan yang baik maka perilaku keuangan positif generasi z pun akan terwujud. Semoga apa yang penulis sampaikan bisa bermanfaat untuk para pembaca semuanya.
