Konten Media Partner

Eko Beta, Merawat Lingkungan dengan Daur Ulang Barang Bekas

Ambonnesia

clock
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Eko Beta, Merawat Lingkungan dengan Daur Ulang Barang Bekas
zoom-in-whitePerbesar

Ambon,- Degradasi lingkungan di Ambon yang semakin parah membuat sekolompok anak muda resah. Mereka mencoba menjadi bagian dari pelestarian lingkungan, tapi dengan cara yang tidak biasa.

Ekologi Beta (Eko Beta), nama komunitas yang digagas oleh Supriyadi Kilbaren, Ramlan Tahir, dan M. Saiful Rumakur. Pada November 2017, Eko Beta dideklarasikan sebagai komunitas yang fokus pada masalah lingkungan di Ambon.

Bermodal semangat, mereka berani melangkah. “Sebenarnya keresahan terhadap masalah lingkungan itulah yang memantik ide untuk membuat sebuah wadah atau komunitas. Di dalamnya, kami bertukar pikiran untuk menjaga lingkungan dengan cara kami sendiri,” kata Ramlan Tahir, Direktur Eko Beta kepada Ambonnesia.com, Minggu (13/1).

Literasi Ekologi

Ramlan dan kawan-kawannya mahfum, masalah lingkungan hidup di Ambon sangat beragam dan kompleks. Antara lain sampah, pembukaan lahan untuk permukiman, krisis air, pencemaran teluk, polusi, dan pembuangan limbah.

Masalah-masalah ini tidak bisa diurai dan diselesaikan dalam waktu singkat. Perlu adanya pemahaman dan kesadaran kolektif untuk mencegah atau menyelesaikannya.

Misalnya, meski sudah ada larangan tidak membuang sampah ke sungai atau ke laut, tapi tetap saja dilanggar. Menurut Ramlan, itu disebabkan karena masih minimnya pengetahuan masyarakat mengenai dampaknya.

Oleh karena itu, salah satu fokus Eko Beta adalah literasi. Berbekal pengetahuan lingkungan yang ditimba dari jurusan kehutanan, Unversitas Pattimura (Unpatti), mereka membuat program Literasi Ekologi.

Pada Desember 2018, kelompok ini menggelar kegiatan Eco Camp di pantai Letang, Desa Morella, Kecamatan Leihitu Barat, Maluku Tengah. Puluhan mahasiswa terlibat sebagai peserta dalam kegiatan yang diisi dengan materi mengenai lingkungan, menulis isu lingkungan dan pemanfaatan sampah untuk didaur ulang menjadi barang bernilai ekonomi tinggi.

Tidak hanya itu, literasi ekologi juga dilakukan dalam bentuk Eco Talk dan saat buka lapak buku. Buku-buku mengenai lingkungan, digelar di kampus agar dibaca oleh mahasiswa.

Sebab, bagi mereka, permasalahan lingkungan tidak bisa diatasi hanya memperbaiki hubungan antara manusia dan lingkungannya, tetapi juga dengan melakukan perbaikan nilai, norma, dan etika kehidupan.

Perbaikan-perbaikan itu masuk dalam konsep literasi ekologi, yaitu tentang kesadaran atas kelestarian lingkungan. Orang melek ekologi adalah orang yang memiliki kemampuan untuk memahami sistem alam yang mendukung kehidupan di bumi dan peduli akan pentingnya menjaga lingkungan.

Keterlibatan masyarakat maupun elemen lain untuk melestarikan lingkungan, menurut dia, tidak hanya sebagai petugas ‘pemungut sampah’. Lebih penting daripada itu adalah mampu mengenal jenis-jenis sampah, dampaknya terhadap lingkungan dan bagaimana cara memanfaatkannya.

“Kita harus memiliki pemahaman soal masalah lingkungan. Dengan sendirinya kesadaran lingkungan akan muncul, tanpa harus menggelar workshop atau seminar. Masyarakat tidak akan membuang sampah ke laut, jika tahu dampaknya bisa mengancam keberadaan dan kehidupan biota luat. Lewat literasi ekologi ini, kita ingin membangun kesadaran kolektif itu,” tutur Suryadi, Manajer Program Eko Beta.

Sebagai komunitas mandiri yang baru berumur setahun dan belum mapan, Eko Beta harus berjuang untuk menghidupi diri sendiri. Mereka kemudian mengembangkan usaha sosial (social enterprise) dengan menyulap barang-barang bekas menjadi produk bernilai.

M. Saiful Rumakur dan Ramlan memiliki keahlian di bidang ini. Mereka telah membuat kerajinan tangan seperti kalung kulit kerang, plakat, lampion, gelang, gantung kunci, lukisan dari kardus, dan gantungan kunci serta nama orang.

Bahan-bahannya berasal dari kayu bekas pakai, kulit kerang, batok kelapa, kulit kenari, kardus bekas, dan lain-lain. Bagi mereka, itu salah satu efisien dan ekonomis untuk mengurangi sampah.

“Kami pungut dari pantai dan tempat pembuangan sampah. Ini adalah cara efisien untuk mengurangi sampah, tanpa kita harus perintahkan orang lain. Ini hanya soal keterpanggilan hati,” kata Saiful.

Pemasaran produk-produk tersebut lewat akun media sosial Eko Beta dan Eko Shop, yakni Instagram, Facebook dan YouTube maupun dijual secara langsung. Harganya cukup terjangkau.

Lukisan kardus Rp 150.000 per wajah, gantungan kunci Rp 15.000, ukiran nama dari kayu Rp 50.000, kalung Rp 20.000, dan gelang Rp 15.000.

Pembeli produk Eko Beta tak hanya orang Ambon, tapi orang dari luar negeri pun tertarik. Saiful mengaku, produk yang ia buat pernah dibeli oleh mahasiswa asal Belanda, Jerman, Jepang, India, hingga Hongkong saat datang ke Maluku melakukan penelitian lingkungan dan satwa.

Eko Beta, Merawat Lingkungan dengan Daur Ulang Barang Bekas (1)
zoom-in-whitePerbesar

Bukan hanya penampilannya yang menarik, tetapi produk tersebut dinilai membantu mengurangi sampah dan merawat lingkungan hidup. Bagi Saiful, itu merupakan bentuk apresiasi yang patut dihargai.

Kerajinan tangan dari Eko Beta pernah ikut beberapa event, salah satunya Amboina Farmers Market di lapangan merdeka, pada 15 Desember 2018. Selain itu, proses daur ulang yang mereka lakukan juga dijadikan sebagai bahan presentasi dalam acara Badan Kependudukan dan Keluarga Berencana Nasional (BKKN) di Jakarta.

“Dia adalah Duta Maluku untuk BKKBN Maluku, yang juga teman saya di organisasi pecinta alam. Dia mempresentasikan tentang daur ulang sampah, dan Eko Beta sebagai contoh komunitas yang dipresentasikan, dan dia nenang,” ucap Saiful, koordinator produksi.

Sejak didirikan hingga sekarang, Eko Beta telah memiliki 17 volunteer (sukarelawan). Mereka direkrut secara terbuka dan profesional lewat pendaftaran online dan wawancara.

Hal itu dilakukan untuk memeroleh sukarelawan yang bisa bertahan. Sebab, bagi mereka, Eko Beta bergerak pada dua jalur sekaligus, yakni membangun pehamaman lingkungan bagi masyarakat dan mampu bertahan secara keuangan. Apalagi, dengan rencana pembuatan website yang akan diisi tulisan-tulisan mengenai lingkungan, tentu dibutuhkan sumber daya manusia (human resource) yang kompeten. “Kita ingin mengelola Eko Beta secara profesional,” kata Suryadi.

Untuk bisa bertahan, mereka membagi pendapatan dari hasil penjualan produk. Dengan proporsi 50 persen diberikan kepada pembuat produk, 30 persen anggaran kegiatan sosial, dan 20 persen untuk operasional tim.

Selain membuat dan menjual produk, mereka juga berencana menyewa WiFi yang pembayarannya dengan sampah atau barang bekas. Sampah yang akan diterima sudah dalam kondisi bersih dan masih layak didaur ulang.

Daur ulang sampah menjadi salah satu fokus usaha mereka. Selain mudah didapat, dampaknya juga cukup signifikan, serta dapat mendidik masyarakat untuk peduli terhadap lingkungan. “Sesuai tagline kami adalah Your Garbage is Your Gold (Sampahmu adalah emasmu),”kata Ramlan.

Suryadi, Ramlan, dan Saiful serta sukarelawan lainnya optimis, yang mereka lakukan bisa membangun kesadaran masyarakat. Paling tidak, dimulai dari lingkungan tempat tinggal masing-masing.

Tetapi mereka juga berharap, pemerintah serius mengurus masalah lingkungan hidup di Ambon. Mungkin melalui pembuatan regulasi larangan penggunaan kantong plastik ketika berbelanja atau kantong plastik seperti telah dilakukan oleh pemerintah Kota Denpasar, Bali.

“Saya pernah baca beritnya. Awalnya, saya kira itu di Ambon. Padahal di Denpasar. Mungkin, pemerintah Kota Ambon bisa meniru kebijakan itu,” tukasnya. (Amar)