Ini dia Anak Maluku yang bakal Berlenggang di Panggung Fashion Week New York

Ambon,- New york adalah salah satu kota yang menjadi pusat mode dunia. Perhelatan fashion tematik dipenuhi para model, perancang busana, pengamat hingga kiritikus fashion.
Tak heran bila new york menjadi kiblat dan 'Sungai Jordan' bagi para designer. Kiprah dan karya mereka bakal diakui dunia bila sudah berlaga di sana. Tahun lalu designer sekaligus pengusaha agensi travel tanah air, Anniesa Hasibuan menjadi satu satunya designer hijab asal Indonesia yang berlenggang di atas runway New York Fashion Week pada awal 2017.
Seolah Indonesia tak kehilangan stok anak bangsa kreatif , Februari ini seorang anak bangsa bakal memeragakan karyanya pada event fashion week di new york, Amerika.
Kali inii giliran Theodora Elsje Adelheid Agustin Matrutty, yang menunjukkan karya adibusana terbaiknya di panggung internasional. Dia adalah mutiara dari Maluku, yang mungkin bakal jadi yang pertama unjuk gigi di sana tanpa pengalaman sebagai perancang busana. "Saya tidak ada dasar seorang designer. Tapi saya koleksi kain tenun," katanya saat ditemui tim Ambonnesia.com di rumah kreatif miliknya di Desa Wayame, kecamatan teluk Ambon.
Koleksi selendang dan kain tenun tanimbar dijadikan material utama busana yang akan diterbangkan ke Amerika. Dengan kimono cutting, Theodora mengawinkan kain tenun dan kain shibori atau jumputan Jepang. Dua pola, tekstur, dan seni berbeda itu terbukti mampu mencuri salah satu penyelenggara event fashion yang mengajaknya ke Amerika itu.
Sesuai rencana, Dia bakal bertolak ke negeri adikuasa tersebut pada 12 Februari mendatang. Ada sekitar 20 baju yang akan ia bawa.
Inspirasi designnya terbilang unik. Yakni dari baju boneka pada masa kecil. "Dulu biasanya saya sering membuat baju boneka sendiri. Modelnya itu saya jadikan baju untuk dipakai sendiri tiap ada acara," ungkapnya.
Baju rancangannya ia beri nama baju 'ana pop' atau baju boneka. Rancangan busana bernuansa colorful Ditambah permainan pattern pada shibori dan tenun adalah kunci keunikan karya Theo. Dosen Fakultas Universitas Perikanan Universitas Pattimura Ambon itu berani bermain dengan bahan plisket serta design turtle neck nan elegan.
Ibu dua anak itu mengakui ide membuat baju mengalir begitu saja dari pembelajaran secara otodidak. Sejak dulu, dia terbiasa memakai baju handmade yang dibuat sendiri. Tujuannya agar tampil beda dari yang lain dan tak pasaran.
Sebelum mengikuti event International Fashion and Arts Week pada 17 Februari , Theo menyiapkan sejumlah asesoris handmade berbahan sisik ikan. "Nanti ada segmen khusus untuk 10 asesoris yang diperagakan model," lanjutnya yang pernah diganjar penghargaan Kartini Award pada 2012 silam.

Theo sendiri akan memakai salah satu dari baju rancanganya. Corak kain tenun hijau dan ungu. Itu merupakan pilihan sang anak. Menurutnya, ide warna lahir dari cerita tokoh fiksi DC Comic, Joker musuh Batman. "Katanya New York seperti Gotham City jadi saya diminta pakai baju seperti musuhnya Batman," katanya lantas tertawa.
Ada harapan sekbalinya dari Amerika, akan diadakan pelatihan shibori. Tujuannya untuk memberi corak baru pada kreasi wastra di Maluku.
Priska Akwila, Rico Hypatia
